
Setibanya di kediaman Lisna, yang merupakan kediaman Indra dan juga Vira saat ini. Mobil kemudia masuk kehalaman rumah dan menuju kearah perkiran khusus mobil. Setelah Andi menghentika mobilnya yang sudah terparkir disana, kini Indra turun dari dalam mobil diikuti Vira di belakang nya.
Tak ingin berlama-lama berada disana, Indra kini mempercepat langkahnya masuk kedalam rumahnya. Namun, saat setibanya didepan pintu Vira memanggil dirinya.
“ Indra!” Serunya memanggil nama asli nya.
Kaki Indra yang awalnya mulai masuk kedalam rumah kini di hentikan nya saat mendengar Vira memanggilnya.
“ Kau tadi memanggilku apa? Coba katakana sekali lagi.” Aura dingin kian terpancar dari sana.
“ Indra.” Celetuk Vira santai.
Oh, Nona Vira, bisa-bisanya anda memancing emosinya Tuan saat ini. Tidakkah kau lihat auranya di wajahnya, layaknya singa yang ingin menerkam mangsanya.
Gumam Andi.
“ Berani-beraninya kau memanggilku dengan sebutan nama seperti itu.” Indra menggeram kesal.
“ Memang nya kenapa? Bukankah saat ini kita tidak sedang berada didalam kantor? Jadi aku tidak harus memanggilmu dengan sebutan Tuan kan?” Ucap Vira polos.
Jujur, sebenar nya Vira hanya ingin bisa membina hubungan yang akrab dengan Indra. Mengingat status mereka yang tinggal di satu atap yang sama, dan juga hubungan kerja yang mulai terjalin, membuat Vira ingin menjalin hubungan yang baik dengan Indra.
Namun, sayang nya niat baik itu tidak langsung bisa di mengerti oleh Indra. Mengingat sikap nya yang selama ini angkuh dan terkesan menutup diri terhadap oraang lain, membuatnya tak bisa menyadari niat baik yang di maksud oleh Vira.
“ Jangan pernah memanggil namaku, kita tidak akrab. Panggil aku Tuan, layaknya kita sedang di kantor, meskipun saat ini kita sudah berada dirumah.” Tegas Indra.
“ Hmm, baiklah, Tuan.” Vira mengalah. “ Tuan, saya ingin bicara sesuatu.” Katany lagi.
“ Bicara apa? Cepat katakana!” Indra terlihat tidak sabar lagi saat ini. Rasa-rasanya, sekarang juga ia ingin segera lari dari sana dan masuk kedalam kamar nya.
__ADS_1
“ Ini, saya dengar dari salah satu karyawan di kantor. Kerjasama kali ini yang sudah terjalin antar perusahaan kita dan juga perusahaan S itu bukanlah hal yang mudah.”
Vira mulai mengutaraka maksudnya.
“ Hmm, terus apa maumu?”
“ Heheh, sepertinya Tuan sudah mengerti tentang maksud saya.”
“ Hmm, cepat katakan!”
“ Ini Tuan, karena saya sudah berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan S itu. Maka sebagai hadiah nya saya meminta Tuan kembali mengajak saya makan di restoran tadi siang.” Permintaan yang terdengar sederhana kini telah berhasil di sampaikan Vira terhadap nya.
Membuat Indra tersenyum sinis mendengar nya.
“ Jangan mimpi! Aku tidak akan membawa mu lagi kesana, apalagi pergi berdua dengamu. Membuat ku malu saja.”
Sehaarusnya aku tidak meminta apapun kepadanya.
Wajah Vira seketika berubah menjadi kesal.
“ Tuan, hanya permintaan kecil, kabulkan saja. Lagipula hari ini dia sudah membantu banyak di perusahaan, bahkan perusahaan kita berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan S itu semua berkat Nona Vira.” Sambung Andi.
“ Diam kau!” Seru Indra.
“ Eh-eh, ada ap ini? Kok ribut-ribut seperti ini sih?” Tanya Lisna yang kini datang menghampiri mereka.
Lalu, setibanya disana, Lisna bertanya kepada Vira.
__ADS_1
“ Vir, ada apa? Kalian berdua bertengkar lagi?”
“ Eh, eng-enggak Tante, Vira dan Indra hanya sedang berbicara mengenai makanan di restoran. Tadi siang Indra
mengajak Vira makan di restoran sembari bertemu dengan klien, dan alhamdulillah kerjasama itu berhasil Tante. Sekarang Vira sedang mengajak Indra untuk merayakan kemenangan itu bersama-sama di retoran tadi Tante.” Jelas Vira kepada Lisna.
“ Nona Vira benar Nyonya, tadi karena kecerdasaan Nona Vira lah makanya perusahaan S langsung menyetujui untuk bekerjasama dengan perusahaan kita. Nona Vira sangat hebat dalam meyakinkan klien kita tadi, sehingga tanpa berpikir panjang mereka langsung menerima tawaran kerjasama kita.” Sambung Andi.
“ Andi, sebenarnya siapa Tuanmu sekarang? Aku atau dia?” Lirik Indra sinis kearah Vira, tatapan nya juga terlihat begitu kesal kearah Andi.
“ Andalah Tuan saya Tuan.” Kata Andi sopan.
“ Jika begitu, kenapa kau terkesan malah membelanya? Apa kau benar0benar sudah tak ingin lagi gajimu?”
“ Saya tidak berani Tuan.” Andi menundukkan pandangan nya.
“ Hmm, sudahlah, tidak usah di perpanjang. Lagi pula, Vira hanya mengajak mu makan di restoran itu kan? Kenapa
nggak kamu bawa saja nanti malam, toh dengan seperti itu siapa tau hubungan kalian bisa semakin dekat.” Kata Lisna.
“ Ma! Indra nggak mau.” Indrat mengertukan dahinya kesal.
“ Ndra, pergi sajalah, toh hari ini Vira juga sudah bekerja dengan sangat baik kan? Hitung-hitung sebagai hadiah untuknya agar dia bisa lebih bersemangat bekerja nantinya.” Bujuk Lisna.
“ Tapi Ma, nanti anak kampung ini bisa ngelunjak.” Indra masih tidak bisa menerimanya.
“ Ini perintah Mama Ndra, jadi kamu jangan menolaknya.” Tegas Lisna.
“ Nanti malam, pukul setengah delapan kau harus sudah siap dan menunggu ku di teras. Jika tidak, maka aku tidak akan pernah mengajakmu kemana-mana!” Ketus Indra sembari membalikkan badan nya dan pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG