
Wajah seseorang merah padam menatap Vira yang duduk disana, bersama satu rekan wanita nya dan juga satu rekan pria yang baru saja bergabung bersama mereka. Pria itu adalah Indra. Saat lewat tadi tanpa sengaja dia melihat Fahmi duduk di meja yang sama denga Vira.
Entah mengapa hal itupun memancing Indra untuk terus memantau mereka. Melihat apa yang akan mereka lakukan disana, dan juga pembahasan apa yang akan mereka bicarakan. Indra menguntit, dengan duduk di salah satu meja yang berada tak jauh dari meja Vira, atau lebih tepat nya di belakang pojokan meja Vira saat ini.
Posisi duduk Indra sangat menguntungkan untuknya. Selain jarak yang tak terlalu jauh, suara Vira yang terdengar begitu jelas, disana juga terdapat sebuah pot bunga yang lumayan besar sehingga menghalang orang melihat langsung kearah Indra. Sementara itu, Indra dengan jelas memantau pergerakan mereka.
“Jadi penasaran, sebenarnya rayuan maut apa yang di lakukan Vira sehingga bisa begitu menarik perhatian Fahmi saat ini.” Lirih Indra.
Di perhatikannya terus pergerakan yang ada disana.
Sementara itu.
“Tuan Fahmi dan Vira sudah lama saling kenal?” Tanya Tya penasaran, karena melihat dari gelagat yang di tunjukkan Fahmi saat ini seolah-olah ia dan Vira sudah sangat akrab sekarang.
“Hah, eng-enggak kok!” jawab Vira langsung.
Tya menoleh mengerutkan dahinya.
“Kita baru kenal, kemarin.” Timpal Fahmi seraya melirik kearah Vira. “Karena Vira orang nya ramah dan juga baik, jadi ya kita cepat akrab nya.” Mengangkat kedua bahunya.
Tya tersenyum setelah nya.
“Tuan Fahmi benar. Selain pintar, Vira ini juga baik dan ramah. Saya sendiri senang berteman dengannya.” Tya mengulas senyum nya. Saat ini ia berbicara apa adanya, toh memang seperti itukan.
“Kak Tya.” Vira membelalakkan matanya. “Jangan di puji, entar telinga Vira jadi naik.” Ujar nya malu.
“Nggak apa-apa naik, ntar aku turuni pake tangga.” Fahmi mengedipkan matanya.
“Hahahahahah!” disusul tawa Tya kini. “Tuan Fahmi suka bercanda juga ya.” katanya kemudia.
“Ya, lumayan.” Fahmi mengangguk pelan, di iringi dengan senyum merekah nya.
“Tuan, emang nya bendera di turuni.” Raut wajah Vira terlihat manja.
“Ya, memang bendera. Bendera yang bisa membuat hatiku berkibar karena nya.” tambah Fahmi seray mengedipkan mata.
__ADS_1
“Hahahah!” lagi-lagi hal itu ternyata memancing Tya untuk tertawa.
Mendapat gombalan Fahmi membuat wajah Vira memerah seketika. Sementara Indra yang melihat nya, merasa panas hingga akhirnya keluar dari persembunyian-nya.
Indra mendatangi meja yang di duduki Vira saat ini. Aura dingin yang ada di dirinya kini seolah menerpa ke seluruh ruangan. Vira sendiri saat melihat Indra yang datang secara tiba-tiba dan langsung duduk di samping nya membuat Vira membelalakkan matanya.
“Tu-tuan, se-sedang apa Anda disini?” tanya Vira dengan terbata-bata.
Begitupula dengan Tya, mata nya juga ikut melotot saat melihat Indra yang tiba-tiba saja ikut bergabung dengan mereka. Sementara Fahmi, hanya tersenyum melihat nya.
“Tuan Indra ternyata cukup dekat juga dengan pegawainya ya.” ucap Fahmi sopan seraya tersenyum riang.
“Ini kantor ku. Jadi terserah aku mau duduk dimana saja.” Indra melirik kearah Vira tanpa menggubris ucapan Fahmi tadi. Berlagak seolah-olah telinga nya peka sehingga tak melihat nya.
“Masuk akal juga sih.” Terlihat berpikir dengan pikiran nya. “Tuan kan yang punya kantor ya, hehehe.” Disusul tawa kecil setelahnya.
Ya Tuhan… kenapa bisa Vira berbicara seperti itu di depan Bos Indra. Tidakkah dia melihat, jika saat ini wajah Bos terlihat sedang tidak senang.
Raut wajah Tya terlihat khawatir sekarang.
“Iya Dong, Tuan Indra ini adalah Presdir fenomenal di kota ini. Di usianya yang terbilag sangat muda, dia sudah bisa membawa nama perusahaan nya kedalam salah satu perusahaan yang di segani di luar negeri.” Tukas Fahmi. Masih mencoba bersikap ramah sebaik mungkin, meninggikan Indra sekarang. berharap mood lelaki itu bisa sedikit lebih baik dari sebelumnya.
“Hah, Sa-saya yang bikin?” masih gugup disana.
“Terus siapa lagi?” Tanya Indra menatap dingin. Membuat raut wajah Vira berubah seketika.
“Tapi kan Tuan bisa pesan saja disini.” Memberanikan diri untuk menjawab.
“Aku lebih suka kopi buatan mu.” Tekan Indra.
Vira tertegun mendengar pengakuan Indra. Bagaimana bisa kopi buatan nya di bandingkan dengan pembuat kopi profesial yang ada disana. Sungguh sangat-sangat tidak masuk akal kan. Masih tak bergeming di tempat nya, Tya kini malah menatap nya dengan tatapan isyarat.
Segera bangkit, pergi buatkan kopi sesuai permintaan Bos.
Isyarat itu di berikan melalui lirikan mata nya.
__ADS_1
“Kenapa masih duduk disini? Apa tidak ingin membuatkan aku kopi!” tekan Indra lagi.
“Hah, tentu saja ingin!” reflek, Vira pun bangkit dari tempat nya. “Se-segera Sa-saya buatkan kopi sesuai permintaan Tuan.” Menundukkan kepala, lalu melangkah pergi dari sana.
Tya bernafas lega, sementara Fahmi terlihat tak senang melihat Vira yang di perlakukan seperti itu oleh Indra. Bagaimana pun sekarang masih jam nya makan siang, dan Vira juga belum menghabiskan makanan nya. jadi, seharusnya Indra tidak bersikap seperti itu kepada Vira.
“Tuan Fahmi, kenapa menatap Saya seperti itu, tidak senang kah?” Indra memicingkan mata nya. pergerakan Fahmi yang sedari tadi terus memperhatikan dirinya saat sedang menyuruh Vira membuat nya risih.
“Tidak senang? Siapa bilang. Justru Saya senang sekali karena Tuan Indra yang terhormat bisa menyempat waktu untuk ikut gabung satu meja dengan kita.” Senyum palsu di sunggingkan Fahmi.
“Hmm, benarkah? Saya fikir, tadi sepertinya seseorang menatap tak senang saat Saya menyuruh asisten bodoh itu pergi membuatkan kopi.” Sindir Indra tajam.
Fahmi kembali tersenyum, menatap kearah Indra.
“Siapa? Apakah itu kamu sekeretaris Tya.” Fahmi mengerlingkan matanya kearah Tya.
Apa aku? Bagaimana bisa.
Bingung, namun Tya berusaha memberanikan diri untuk menjawab.
“Hah, bagaimana bisa. Sa-saya tidak pernah berpikir seperti itu.” Jawan Tya cepat. Berhubung makan yang ada di piring nya juga telah habis, Tya pun kini segera bangkit dari sana. “Tuan Indra, Tuan Fahmi. Berhubung makan
siang Saya sudah selesai, maka dengan segela kerendahan hati Saya memohon izin pamit kembali ke ruangan Saya, melanjutkan pekerjaan Saya sekarang.” menundukkan kepala lalu berbalik dan pergi dari sana. Tanpa ingin mendengar jawaban apapun dari keduanya.
Fiuh! Akhirnya aku bisa meninggalkan tempat itu juga.
Bernafas dengan lega seraya mengusap dada nya pelan.
Sepertinya tadi itu Pak Bos sengaja bersikap seperti itu dengan Vira. Apa jangan-jangan Pak Bos…
Tya mulai menerka-nerka apa yang sedang terjadi saat ini. Hingga sebuah pikiran gila muncul di benak nya dan membuatnya tersenyum.
Aaaa… Vira!
Berlari kecil dari sana segera mencari Vira sekarang.
__ADS_1
NB. Jangan lupa tinggalkan jejak Like, dan Komentar nya ya. Bantu Ra untuk memajukan karya Ra yang ini. Terimakasih^^
TBC.