Ternyata Ini Cinta

Ternyata Ini Cinta
Pertemuan dengan Klien


__ADS_3

Mobil melaju membelah jalanan kota Jakarta siang itu dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit lamanya. Kini mereka akhirnya tiba di restoran yang mereka tuju.


“ Cepat turun, dan pelajari berkas-berkas itu secepatnya. Karena nanti kau yang akan menyampaikan persentase nya disana.” Kata Indra sembari melempar sebuah map kearah Vira, yang berisikan tentang persentase mereka.


Apa! Secepat itu! Apa dia sudah gila? Bagaimana aku bisa mempelajari serta menghafal semuanya ini dalam waktu singkat. Kenapa juga dia tidak dari tadi menyerahkan Map ini kepadaku, agar aku bisa sedikit mempelajarinya selama di perjalanan. Mungkinkah saat ini dia sedang mengujiku? Semangat Vira, kamu pasti bisa. Jangan sampai kamu di permalukan olehnya, buat lah dia terpukau dengan pernampilanmu. Maka setelah itu, dia tidak akan berani menindasmu seperti ini lagi di kemudian hari.


Vira menyemangati dirinya sendiri, ia tak mau jatuh begitu saja di hadapan pria yang selalu menyepelekan nya serta menganggap rendah dirinya. Karena mungkin ini kesempatan baginya untuk membuktikan jika dirinya bisa di andalkan.


Dengan mengikuti langkah Indra, kini ia pun ikut masuk kedalam restoran itu.


***


Setibanya di meja yang mereka pesan, disana belum terlihat klien yang akan bekerjasama dengan mereka. Sehingga kini Indra dan Vira pun duduk disana menunggu kedatangan mereka.


Haha, untung saja para klien itu belum tiba. Jadi dengan seperti ini, aku bisa mempunyai sedikit waktu untuk mempelajari semua ini


Gumam Vira.


Sepuluh menit kemudian.

__ADS_1


Para klien datang, mereka ada tiga orang. Satu diantaranya seorang wanita, sedankan duanya lagi adalah pria. Kini sembari menunggu makanan yang di pesan datang, Vira memulai persentase nya. Setiap gerakan bibirnya, dan


juga tutur kata yang di sampaikan nya, semuanya terdengar begitu ringan dan santai. Sehingga membuat para klien mudah mengerti dengan apa yang disampaikan olehnya.


“ Sungguh Nona Vira adalah gadis muda yang begitu berbakat.” Puji salah satu klien yang bertubuh gempal.


“ Terimakasih atas pujian nya Tuan. Sungguh saya bukan apa-apa jika tanpa pengajaran langsung dari Tuan presdir saya.” Sambut Vira dengan senyum hangat.


“ Wah, Tuan Indra ternyata mengajarkan langsung Asisten nya. Pantas saja, Nona Vira terlihat begitu lihai dan percaya diri saat menjelaskan semua ini. Saya suka, suka sekali.” Puji pria betubuh kurus, yang duduk di samping pria betubuh gempal tadi. “ Dengan ini saya memutuskan untuk menerima tawaran kerjasama ini.” Pria itu kemudian mengulurkan tangan nya kearah Indra.


Indra dengan cepat menyambut uluran tangan tersebut, dan kini tercapailah kesepakatan sesuai yang diinginkan.


***


“ Ayo pulang.” Indra mulai berdiri dari duduk nya.


“ Tunggu, aku belum makan sama sekali.” Kata Vira.


“ Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan jika saat ini kau sedang diet?” Kata indra.

__ADS_1


Lagi-lagi tatapan nya terlihat tak begitu menyenangkan.


“ Maafkan aku, tadi itu aku berbohong di hadapan mereka jika aku sedang diet. Namun, sejujurnya aku tidak mengerti dengan cara makan kalian yang menggunakan pisau dan garpu saat memakan makanan itu.” Jujur Vira dengan wajah polos.


“ Puffft!” Indra tersenyum di buatnya, lalu kini secepat kilat ia kembali memasang wajah datar menatap kearah Vira.


“ Yasudah, makanlah. Aku akan menunggumu disini.” Tukas Indra seraya menapaki kembali kursinya.


“ Benarkah? Baiklah.”


Dengan segera Vira mengambil makanan yang ada disana dengan tangan nya. Tanpa menunggu lagi serta tanpa rasa sungkan, kini ia melahap makanan nya hanya dengan menggunakan jari tangan saja.


“ Hah, orang kampung tetap saja orang kampung, meskipun di bawa ke tempat mewah seperti ini nggak akan bisa menutupi diri yang sesungguhnya jika dirinya adalah orang kampung!” Cibir Indra.


“ Tuan tidak akan mengerti, bagaimana enaknya jika kita makan langsung menggunakan tangan seprti ini tanpa menggunakan alat makan apapun, dengan tangan seperti jauh tiga kali lebih enak dibandingkan menggunakan peralatan seperti Tuan dan yang lainnya lakukan.” Kata Vira penuh percaya diri.


Berhubung saat Vira sangat lapar, maka ia tidak terlalu menggubris pria sombong yang duduk di depan nya. Dalam pikiran nya saat ini hanyalah, bagaimana mengahbiskan jatah makanan nya ini tanpa sisa sediktpun.


Indra yang melihat nya, tersenyum sendiri di buatnya. Sementara itu Andi yang memperhatikan nya, juga ikut tersenyum saat melihat Tuan nya yang sudah lama tidak pernah menunjukkan senyuman itu kini akhirnya tersenyum karena gadis kampung yang suka di cibir nya saat ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2