
Indra kembali menarik nafas nya dalam-dalam dan mengeluarkan nya perlahan.
“ Hmm, sudahlah. Aku sudah tak ingin mendengar lagi jawaban mu. Sekarang, mana dokumen yang sudah kau kerjakan. Apakah sudah siap?” Tanya Indra. Tangan nya juga terulur sebelah, meminta dokumen yang di kerjakan Vira. Sementara sebelah lagi, terlihat berada dikening nya memegang kepalanya yang di buat pusing oleh Vira.
Vira menyerahkan dokumen yang telah selesai di kerjakan nya. Indra pun mengambil nya, lalu membukanya, membaca dan memeriksa nya. Tak ada kata yang terucap, hanya sedikit anggukan kecil dari Indra yang membuat Vira bertanya-tanya.
Ada apa dengannya? Apakah kepalanya sangat pusing sehingga mengangguk terus seperti itu?
Batin nya.
Vira pun tak berani bertanya. Memilih diam dan menyaksikan setiap apa yang di lakukan Indra.
Hmm, untung dia pintar dalam menjalankan tugasnya. Jika saja dia bodoh, maka habislah sudah. Tak ada lagi yang bisa ku harapkan darinya.
Gumam Indra.
Di tutup nya kembali dokumen yang telah di bacanya. Lalu kini Indra bangkit dari duduk nya dan melangkah menuju kearah pintu ruangan nya.
Vira masih berdiam diri disana. Menunggu perintah Indra selanjutnya. Sedangkan kini Indra telah tiba di depan pintu, berhenti sejenak dan menoleh kearah nya.
Gadis kampung itu ngapain masih berdiri disana?
Tanya Indra pada diri sendiri.
Vira masih berdiri disana. Menantikan perintah Indra selanjutnya. Membuat Indra yang kini berdiri di depan pintu tak sabar melihatnya.
“ Hei! Gadis kampung!” seru Indra dari tempat nya.
Vira pun menoleh kearah Indra dengan wajah polos nya.
“ Iya Tuan.” Jawab Vira cepat.
“ Kenapa masih berdiri disana?” Tanya Indra dengan tatapan kesal.
“ Menunggu perintah selanjutnya dari Anda.” Jawab Vira polos.
Indra pun menarik nafas nya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Kembali mencoba meredam emosinya, ia tak habis pikir dengan Vira. Yang begitu pintar dalam mengerjakan tugas yang di berikan olehnya. Namun sangat lamban dalam menangkap apa yang di inginkan nya.
“Apa kau sudah tidak ingin bekerja denganku lagi!” sentak Indra seraya membelalakkan matanya.
Sontak saja hal itu membuat Vira terkejut karenanya.
Apa salahku? Kenapa dia mengatakan hal itu kepadaku?
Masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
“ Sa-saya sangat menginginkan pekerjaan ini Tuan.” Menjawab cepat dengan tegas.
“ Kalau begitu kenapa masih berdiri disana! Sini cepat ikut denganku!” sentak Indra lagi.
Namun kali ini wajah nya sudah terlihat memerah karena amarah nya.
Sementara itu, Vira dengan cepat bergegas menyusul Indra yang kini sudah duluan pergi keluar.
***
Di kantin.
Vira duduk dengan melipat kedua tangan nya dan menempelkan nya di atas meja. Dagu nya ia letakkan di atas kedua lipatan tangan nya seraya memajukan bibir nya.
“ Hufft! Semakin lama semakin malas saja rasanya.” Ucap Vira mengutarakan ke kesalan nya.
Tya yang melihat ekspresi dan juga mendengar kalimat yang di ucapkan Vira pun seketika mengerutkan dahinya.
“ Kamu kenapa Vir?” Tanya Tya seraya menepuk bahu Vira yang saat ini duduk di samping nya.
“ Kak Tya, memang nya Pesdir itu setiap hari kerjaan nya marah terus ya?” Tanya Vira yang kini mulai menatap kearah Tya.
“ Dari dulu dia itu nggak pernah senyum Vir.” Kata Tya.
“ Benarkah? Kenapa bisa seperti itu?” Vira mulai penasaran.
“ Terus seperti apa? Apakah dia pernah tersenyum?” Tanya Vira. Gadis itu uga mulai memakukan diri menatap kearah Tya tanpa bergeming.
“ Pernah, tapi udah….”
Belum lagi Tya sempat menyelesaikan kalimat nya, tiba-tiba saja mereka di kejutkan oleh seseorang dari arah samping.
“ Hai Vir!” seru seorang pria seraya menepuk pelan bahu Vira. Membuat gadis itu menoleh kearah nya.
“ Tuan Fahmi.” Memicingkan mata saat melihat nya. “Tuan sedang apa disini?” Tanya Vira kemudian.
“ Makan siang.” Dengan cepat Fahmi menjawab.
Aaaa… pria tampan, gagah sekali.
Wajah Tya merona merah melihat nya. Lalu kini Tya menyenggol bahu Vira, seraya tersenyum. Lalu ia memberikan Vira kode melalui gerakan matanya, yang bermaksud.
Vir, suruh dia duduk.
Begitulah maksud Tya.
__ADS_1
Namun Vira sama sekali tak mengerti. Hingga akhirnya…
“ Vir, boleh aku ikut gabung dengan kalian?” Tanya Fahmi mewakilkan perasaan Tya untuk mempersilahkan nya duduk disana.
“ Silahkan Tuan, kursi di depan kita juga kosong.” Langsung di sergah oleh Tya, tak ingin Vira mengacaukan semuanya.
Jarang-jarang kan mereka bisa makan siang bersama pria tampan, Presdir pula.
Vira menoleh kearah Tya, yang di balas senyuman oleh nya.
Sementara Fahmi, tanpa menunggu jawaban dari Vira, kini ia sudah duduk di kursi yang ada di hadapan nya.
“ Kamu sekeretaris Tya kan?” Tanya Fahmi mengulas senyuman.
“ Iya, Anda benar.” Tya membalas senyuman yang di lemparkan Fahmi kepadanya.
“ Hmm, kenalin aku Fahmi.” Mengulurkan tangan nya kearah Tya.
“ Sebenarnya saya sudah kenal, Anda kan Presdir perusahaan Mitra. Kenalin saya Tya.” Menyambut uluran tangan Fahmi dengan segera.
“ Hai Vira.” Sapa Fahmi seraya memalingkan wajahnya kearah Vira.
Vira tersenyum membalasnya.
Sementara itu dari kejauhan seseorang kini terlihat sedang memperhatikan mereka.
Cih! Dasar gadis penggoda.
Umpatnya.
BERSAMBUNG
Assalamu'alaikum^^
Hi gusy! Jangan lupa tinggalkan jejak di karya Ra, dengan cara Like, komen dan Vote. Terimakasih^^
Karya.
1. Ternyata ini Cinta
2. Ceo pelyboy jatuh Cinta
3. Pengantin yang tak Dirindukan (1)
__ADS_1
4. Pengantin yang tak Dirindukan (2)
Silahkan mampir^^