Ternyata Ini Cinta

Ternyata Ini Cinta
Asisten Pribadi (3)


__ADS_3

“ Kau, berdiri disini disebelahku. Karena aku akan memperkenalkan mu kepada seluruh karyawanku.” Ucap Indra.


“ Baik Kak.” Angguk Vira.


Indra menghentikan langkahnya.


“ Kau tadi memanggilku apa? Kak?” Indra mengerutkan dahinya.


“ Ya.” Angguk Vira pelan.


“ Sejak kapan aku menjadi kakakmu!” Seru nya. “ Lagipula kau tidak pantas menjadi Adikku! Ganti!”


“ Hah, ganti?” Tersirat kebingungan dari raut wajah Vira.


“ Ia, panggil aku Tuan.” Jelas Indra.


“ Ba-baik! Tu-tuan.” Vira terlihat gugup saat mengucapkannya.


Cih! Ingin sekali dipanggil Tuan.


Gumam Vira.


“ Bagus, sekarang mari kita masuk kedalam.” Lanjut Indra sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam perusahaan nya.


“ Selamat Pagi Tuan.” Sapa seorang pria paruh baya yang berpakaian layaknya security sembari membungkukkan badan nya.


“ Hmm.” Indra mengangguk pelan sembari terus berjalan masuk kedalam.


Wah.. besar sekali tempat ini.


Vira tampak melirik keseluruh tempat.


“ Hei! Jaga matamu, jaga sikapmu. Jangan sampai membuatku malu disini.” Ketus Indra.


“ Eh, i-iya.” Vira kembali memposisikan dirinya seperti semula.


Cuma lihat saja tidak boleh huh!


Tanpa sepengetahuan Indra, Vira memonyongkan mulutnya kearah Indra dari belakang.


Indra terus melangkahkan kakinya hingga kini tibalah mereka didepan  sebuah tempat dimana terlihat banyak para karyawan yang mengantri disana. Ya, pada pagi hari para karyawan mengantri didepan lift untuk naik ke lantai atas.


Sedangkan Indra tanpa perlu mengantri, kini ia terlihat mulai memencet tombol lift agar pintunya terbuka. Ting pintu lift terbuka, dengan langkah pasti Indra pun masuk kedalam diikuti Vira di belakang nya.


“ Wah.. gadis itu siapa ya? Kok bisa satu lift dengan Tuan, bikin iri saja.” Kata seorang pegawai wanita  kepada teman yang lainnya.


 


Pintu lift yang di naiki Indra pun kemudian tertutup.


 


Sepertinya gadis-gadis itu tadi sedang berbisik tentangku.


Gumam Vira.


 

__ADS_1


Lalu kini ia mulai mengerling kearah sekitar lift.


 


Tempat apa ini? Kenapa begitu sempit?


Pikirnya.


 


Lalu saat lift yang mereka masuki mulai beroperasi tiba-tiba saja.


“ E-eh!”


Vira terkejut sehingga membuatnya terbentur kebelakang. Namun tanpa ia sadari kini adalah, ia menarik tangan Indra hingga membuat lelaki itu hampir saja jatuh menimpa nya. Untung saja Indra masih bisa menahan, sehingga kini membuat keduanya saling bertatap muka. Dengan posisi Vira yang bersender di dinding lift sementara Indra menahan tangan nya di permukaan dinding sembari menatap kearah nya.


 


 


Gadis kampung ini, ternyata terlihat jauh lebih cantik saat aku lihat dari jarak dekat seperti ini.


Gumam Indra.


Namun, seketika Indra pun tersadar.


“ Kau sengaja menggodaku ya?” tanya nya dengan tatapan dingin.


“ Hah, eng-enggak.” Vira terlihat begitu gugup sehingga membuatnya mengeluarkan keringat dingin.


“ Ta-tadi itu a-aku tidak sengaja.” Kata Vira.


“ Kau….”


Saat Indra ingin mengucapkan kalimatnya tiba-tiba saja pintu lift terbuka.


Ting!


Beberapa karyawan yang lewat seketika berhenti saat melihat Indra dan Vira yang terlihat seperti orang yang hampir berpelukan.


 “ Wah, itu Bos bersama siapa? Pacar barunya kah?” Bisik salah seorang karyawan kepada rekan nya.


“ Entahlah, aku juga baru melihatnya. Tapi, wanita itu terlihat sangat cantik.” Balas yang lainnya.


“ Ehm-ehm.” Indra kini sudah berdiri dengan tegak dihadapan mereka, bersama dengan Vira yang berdiri belakang nya. “ Kalian masih ingin bekerja disini?” Tanya nya sembari menatap dingin kearah para karyawan nya yang saat ini sedang menonton nya.


“ Ma-masih Tuan.” Kata salah seorang karyawan yang berdiri tak jauh dari Indra.


“ Kalau masih, cepat sana pergi kerjakan pekerjaan kalian!” Tegas Indra. “ Jika masih ada yang berdiri disini siap-siap menerima surat pemberhentian kerja sekarang juga!” Tambahnya kemudian.


Tentu saja mendengar kalimat itu membuat para karyawan yang tadinya berdiri disana kini berhambur pergi meninggalkan tempat itu.


Kini Indra terlihat menarik nafas dalam-dalam dan perlahan menghembuskan nya.


“ Huh, masih pagi sudah bikin orang emosi saja.” Katanya sembari melangkah pergi dari sana.


Vira pun kembali mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Dasar, bos sombong! Baru dilihat seperti itu saja marahnya sampai segitu.


***


Setibanya didepan ruangan kerjanya. Indra kini membuka pintu lalu kemudian masuk kedalam. Tentu saja melihat itu membuat Vira juga mengikutinya masuk kedalam. Disana ia melihat ruang kerja Indra yang sangat besar, dua kali lipat dari kamar nya.


“ Sudah cukup lihat nya?” Tanya Indra yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping nya.


“ E-eh, su-sudah Pak!”


“ Apa kau bilang, Pak?” Indra kembali mengerutkan dahinya.


Ia merasa tak suka dengan panggilan Vira barusan, yang memanggilnya dengan sebutan Pak.


“ Hei, gadis kampung. Sini!” Indra tampak mengibaskan tangan nya kearah nya agar Vira mendekat.


Melihat gerakan itu, Vira pun kemudian menghampiri Indra dan mendekat kearah nya.


“ Pasang kupingmu baik-baik ya. Panggil aku Tuan, bukan Pak, ataupun Kaka, karena aku tidak setua itu dan juga aku tak sudi punya Adik sepertimu.” Jelas Indra.


Ditarik nya sebeleh telinga Vira dan memperjelas suaranya disana. Membuat Vira meringis kesakitan karena tarikan nya yang begitu keras.


“ Tu-tuan, telinga saya sakit!” Ringis Vira sembari mengusap-usap telinga nya.


“ Sakit ya? maka dari itu, mulai sekarang kau janagn pernah salah lagi dalam memanggilku.” Kata Indra kembali memperingatkan.


“ Iya!” Sungut Vira dengan emosinya.


“ Sekarang bekerjalah, meja mu ada disana, tepatnya diluar ruangan ku. Nanti aku akan menyuruh sekretarisku untuk menunjukkanmu tempat nya.” Kata Indra.


Ia kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Vira, menuju kearah meja kerjanya dan kemudian meraih telepon nya. Di tekan nya telepon tersebut, layaknya sedang menelpon seseorang. Lalu kemudian saat telepin nhya dijawab, Indra berkata.


“ Sekretaris Tya, segera datang ke ruangan ku untuk menunjukkan ruangan Asisten pribadiku kepada karyawan baru.” Perintah Indra.


Lalu tanpa menunggu balasan, ia pun segera menutup telepon nya seenak nya.


Entah karena memang ruangan Indra yang tak terlalu berjauhan dengan ruangan sekretarisnya. Kini tanpa sampai dua menit, sekretaris Tya yang baru saja di hubungi Indra telah tiba disana.


“ Permisi Tuan, saya datang karena Tuan yang memanggil.” Ucap Tya dengan begitu sopan.


Vira melirik kearah gadis yang baru saja masuk itu.


Ya Tuhan, sekretaris nya Indra cantik sekali.


Gumam Vira.


Dasar gadis kampung! Bisa-bisanya dia menatap ke sesama wanita dengan cara seperti itu.


Indra menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan jalan


pikiran Vira.


BERSAMBUNG


 


 

__ADS_1


__ADS_2