
Setelah kejadian yang menimpanya malam ini. Membuat Vira tak dapat tidur dengan tenang. Wajah Indra selalu terbayang di benak nya. Entah karena ia merasa sangat kesal dengan Indra akan sikap nya yang sungguh keterlaluan saat ini. Atau karena pesona Indra yang begitu memikat sehingga membuat nya tak bisa berhenti memikirkan nya.
“ Aaaa.. kenapa sih wajah lelaki sial itu selalu terbayang di benakku!” Seru Vira.
Ia lalu berusaha kembali memejamkan matanya.
“ Ya tuhan.. ada apa denganku. Kenapa pikiranku jadi seperti ini.” Keluh nya.
Entah berapa kali ia mencoba memejamkan matanya. Namun bayangan Indra seolah menari-nari di benak nya. Hingga membuat Vira tak bisa tidur dengan nyenyak.
Waktu terus berlalu, jam dinding terus berjalan. Tanpa terasa kini kegelapan mulai hilang. Berganti pagi yang disambut oleh kicauan burung kenari dari sangkar.
Vira perlahan bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kearah kamar mandi yang tak seberapa jauh dari ranjang nya. Setibanya disana, ia mencuci muka nya dengan air yang mengalir dari kran tempat cuci muka.
“ Hmm, tubuhku terasa lemas karena tak tidur dengan nyenyak dari semalam.” Lirihnya. “ Sepertinya aku harus mandi agar rasa kantuk ini segera hilang, dan juga agar tubuhku lebih fresh.” Ucap nya lagi.
Kini Vira berniat kembali melangkah kembali kedalam kamar untuk mengambil handuk nya. Namun, belum lagi ia sempat keluar dari sana. Di sebelah pintu masuk kamar mandi sudah tersedia sebuah handuk yang berwarna putih disana.
“ Eh, ini ada handuk. Aku pakai saja lah!” Kata Vira.
Vira kemudian membasuh tubuhnya dengan air yang sudah diisinya kedalam bathup yang ada disana. Setelah merasa cukup kini Vira pun kembali masuk kedalam kamar nya. Ia kemudian berjalan kearah lemari dan mengambil pakaian yang biasa ia kenakan sehari-hari di desa.
Setelah memakai nya, kini ia melangkahkan kakinya menuju kearah meja rias yng ada disana. Tak ada alat kosmetik disana, ataupun sebuah sisir. Untung sebelum berangkat ke kota, Vira tak lupa memasukkan sisir kedalam tas nya. Sisir usang yang biasa ia pakai.
“ Hmm, untung saja aku membawamu.” Lirih nya.
Ia kini mulai menyisir rambutnya perlahan dan kemudian mengikatnya dengan ikat rambut yang biasa ia pakai.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“ Siapa ya?”
Vira tampa berfikir, kira-kira siapa yang sedang mengetuk pintu kamar nya pagi-pagi begini.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
“ Tante.” Sapa Vira.
“ Selamat pagi Vira.” Balas Lisna seraya tersenyum.
__ADS_1
“ Silahkan masuk Tante.” Kata Vira sopan.
“ Hmm, enggak deh. Tante tuh kesini mau ngajak kamu sarapan bersama. Kelihatan nya kamu udah rapi nih. Kalau begitu yuk kita langsung sarapan bersama.” Ajak Lisna.
Lisna juga langsung menarik tangan Vira untuk segera keluar dari kamar nya. Membuat Vira tak bisa menolak.
“ Eh-eh, bentar Tante. Vira tutup dulu ya pintu kamar nya.” Katanya sembari berbalik dan menutup pintu nya.
“ Sudah?”
“ Sudah Tante.” Jawab Vira.
“ Kalau begitu, yuk kita segera keruang makan.” Kata Lisna.
Kini merekapun tampak berjalan beriringan bersama menuju kearah meja makan.
***
Di meja makan.
Vira sama sekali tak melihat ada nya nasi disana. Yang ada hanyalah roti, susu putih dan juga aneka ragam buah buahan.
Dilihat nya, Lisna kini mulai membalikkan piring yang awal nya berada dalam posisi terbalik. Sesudah itu Lisna kini tampak mengambil selembar roti dan sesuatu benda yang terlihat seperti pisau kecil untuk mengambil selainya dan mengoleskan nya diatas roti.
Gumam nya.
Sementara itu Lisna yang sedari tadi merasa di perhatikan oleh Vira kini menoleh kearah nya.
“ Loh Vir, kok enggak diambil rotinya.” Ucap Lisna sembari terus mengoleskan selainya.
“ Eh, i-iya Tante.” Angguk Vira.
Ia lalu mulai mengulurkan tangan nya dan mengambil selmbar roti yang ada diata meja.
“ Nih, kamu olesi selainya pake ini.” Lisna memberikan pengoles selai yang ia gunakan kepada Vira.
“ Makasih Tante.” Angguk Vira sopan.
Sementara Vira mulai mengolesi selainya. Disisi lain seseorang juga tengah memperhatikan nya.
“ Ma! Ngapain perempuan ini duduk bersama kita!” Seseorang itu adalah Indra Kartadinata. Indra yang saja tiba diruang makan tersebut kini tampak berjalan menuju kesana dan duduk tepat disamping Lisna dan juga berhadapan langsung dengan Vira.
Vira tak menggubris. Ia terus mengolesi selai di rotinya tanpa perduli dengan kehadiran Indra.
__ADS_1
“ Selamat pagi sayang.” Senyum Lisna kepada anaknya Indra.
Ibu dan anak ini tampak begitu berbeda. Tante Lisna baik dan juga sangat ramah, sedangkan anaknya seperti ini
Vira tampak melirik dengan ujung matanya kearah Indra.
“ Kenapa kau menatapku seperti itu! Apa kau tidak senang denganku!” Seru Indra.
Namun Vira tak membalas.
“ Hus, nggak boleh ngomong seperti itu Indra.” Suara Lisna terdengar begitu lembut.
“ Ma! Gembel ini benaran kerabat Mama?” Indra menatap serius kearah Lisna.
“ Indra jaga ucapanmu, jangan mengatai Vira seperti itu. Vira ini kerabat Mama dari desa dan mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita disini.” Kata Mama tegas.
“ Oh, shiit!” Indra terlihat kesal. Bagaimana bisa Mama nya lebih membela gadis kumal ini dari pada dirinya anak kandung nya sendiri. “ Ma! Indra udah kenyang, Indra akan berangkat kantor dulu.” Ujar Indra seraya bangkit dari duduk nya.
Namun saat ia mulai melangkahkan kakinya tiba-tiba saja Mama memanggilnya.
“ Indra, tunggu!”
“ Ada apa Ma?” Tanya Indra yang kini telah menghentikan langkah nya.
“ Ajak Vira bersamamu. Jadikan dia asisten pribadimu.” Kata Lisna.
“ Apa Ma! Indra nggak salah dengar?” Indra mengerutkan dahinya. “ Mama lihat saja penampilan nya, pakaiannya, mana pantas dia yang berpenampilan seperti ini bisa jadi asisten Indra! Nggak bisa Ma!” Indra keberatan dengan permintaan Mamanya.
“ Hanya masalah penampilan kan? Kalau begitu sekarang kamu tunggu saja diluar. 30 menit Mama akan menyusul kamu kesana bersama Vira.” Kata Mama. “ Vira, kamu sudah selesai sarapan Nak?”
Vira yang baru saja menghabiskan selembar rotinya itu kini mengangguk dengan cepat.
“ Eh, i-iya Tante, Vira sudah selesai.”
“ Kalau begitu sekarang kamu ikut Tante.” Kata Lisna seraya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
Vira pun kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Lisna dari belakang. Sedangkan Indra tampak menatap tak senang kearahnya.
Kesal ya kesal saja, lagipula aku juga sama sekali tidak menginginkan hal ini. Siapa juga yang mau jadi asisten pribadi dari pria arrogant seperti kamu.
Gumam Vira.
BERSAMBUNG
__ADS_1