Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Sandiwara Zahra


__ADS_3

"Dimana Ara." tanya Deon yang baru saja kembali dari kantor nya


"Ahh. Tuan sudah kembali. Nona ada di kamarnya tuan."


"Apa dia belum bangun juga."


"Tadi nona sudah bangun tuan, tapi sekarang tidur lagi."


"Ya sudah. Kau boleh istirahat sekarang."


"Untuk sementara kau tidurlah disini. Besok akan ku datang kan seseorang untuk menata kembali ruangan ini."


"Tidak apa- apa tuan saya istirahat di sini. Terimakasih sebelumnya untuk kebaikan tuan."


"Ya. Istirahat lah."


"Baik tuan."


Deon melangkahkan kaki nya menuju kamar dimana Zahra tidur. Sedangkan Kia, ia mulai membaringkan tubuh nya di atas sofa.


Ia mendekati Zahra yang tertidur di atas ranjang. Ditatapnya dengan serius wanita yang sedang mengandung anak nya. Wanita yang juga kini telah mengobati lara dari patah hati sebelumnya.


"Kau." ucap Zahra terbangun dari tidurnya


"Apa aku sudah membangunkan tidur mu." tanya Deon sembari membelai wajah ayu Zahra


"Ahh. Tidak. Aku juga menantimu sedari tadi."


"Benarkah."


"Apa kau merindukan ku."


"Cih. Merindukanmu. Rasanya ingin sekali aku muntah di depanmu." ujar Zahra dalam hatinya


"Ahh tentu saja aku merindukan mu." jawab Zahra


"Aku juga sangat merindukan mu. Kerja pun aku tak bisa fokus."


"Bodoh amat." ujar Zahra dalam hati


"Apa kau sudah makan?"


"Aku belum makan. Aku menunggumu sedari tadi. Anak ini ingin disuapi oleh ayahnya."


"Apakah benar yang ibu mu katakan nak." ucap Deon sembari mengelus perut Zahra


"Tentu saja benar. Mana mungkin jika aku yang meminta nya."


"Jika kau yang mau juga tidak salah." ujar Deon mengelus kepala Zahra


"Kau mau makan apa." lanjut Deon


"Seadanya saja."


"Sebutkan saja yang ingin kau makan. Aku akan mencarikan nya."


"Yasudah. Aku mau makan bakso saja."


"Hanya Bakso."


"Iya bakso saja."


"Baiklah. Tunggu di sini."


"Kau mau kemana."

__ADS_1


"Mencarikan yang kau mau."


"Tunggu disini. Aku akan kembali sepuluh menit lagi." ujar Deon sembari mengelus rambut Zahra dan bergegas turun dari lantai atas


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Di tempat lain Almaz, orang kepercayaan Deon menerima panggilan disaat dirinya ingin merebahkan tubuh nya.


"Astaga siapa yang telepon di waktu istirahat ku." gumam Al kesal


"Tuan Deon. Kenapa dia menelepon di jam segini." Al langsung mengangkat panggilan tuan nya


"Hallo tuan."


"Kenapa kau lamban sekali mengangkat telepon ku."


"Maaf tuan. Aku baru saja mau istirahat."


"Nanti saja kau istirahat nya."


"Maksud tuan."


"Sekarang cepatlah kau kesini. Bawakan aku Bakso terenak 3 porsi."


"Tapi tuan."


"Tidak ada tapi- tapian. Aku tunggu kau sepuluh menit di lobby."


"Sepuluh menit." sontak Al terbelalak dengan waktu yang diberikan tuan nya untuk nya


"Ta, tapi tuan." lanjut Al


Namun belum selesai Al berbicara, panggilan sudah ditutup oleh tuan nya yang tak lain adalah Deon.


"Bagaimana tuan bisa menyuruhku seperti ini. Tak biasanya kelakuan tuan seperti ini. Apa karena wanita itu." gumam Al dalam hati nya sembari terus mengemudi mobil nya


🕗 Tak lama kemudian, Al mendapatkan bakso yang di minta tuan nya. Ia pun segera mengantarkan pesanan Tuan nya itu ke tempat yang sudah di janjikan.


"Tuan. Ini pesanannya." ujar Al


"Ahh. Kenapa kau lama sekali. Kau telat 5 menit. Kau sudah membuat Zahra menunggu lama."


"Maaf tuan. Itu karena."


Lagi lagi saat Al belum juga selesai menjelaskan, Deon sudah melangkah meninggalkan nya


"Astaga tuan. Kau ini sudah seperti diperbudak oleh wanita saja." ujar Al sembari mengelus dada nya. Tak percaya dengan sikap tuan nya yang terlihat tak seperti biasanya. Ia pun segera pergi untuk kembali beristirahat di apartemen nya.


"Ara. Maafkan aku yang sudah membuatmu menunggu lama." ujar Deon sesampai nya di kamar


"Kau sudah kembali. Tak ku sangka, kau kembali dengan cepat."


"Ayo makan lah sekarang. Aku sudah membawakan bakso yang kau mau."


"Baik lah." jawab Zahra sembari turun dari atas ranjang


"Kau beli berapa porsi." tanya Zahra


"Aku memesan tiga porsi."


Zahra pun berjalan mendekati Kia yang sudah tertidur di atas sofa.


"Kia. Bangun lah."


"Ahh nona. Maaf nona. Apa ada yang perlu saya bantu."

__ADS_1


"Hihi. Kau itu lucu sekali. Apa aku benar- benar mengagetkan tidur mu. hihi." ujar Zahra


"Tidak nona. Nona perlu bantuan apa."


"Bangun lah. Ayo kita makan sama- sama. Pria tidak waras itu sudah memesankan bakso untuk kita." bisik lirih Zahra sembari menunjuk Deon yang tengah menuangkan bakso ke dalam mangkuk


"Baik lah nona." jawab Kia


"Deon Sasaga. Cepatlah kemari. Anak ini sudah tak sabar ingin menghabiskan bakso nya. Hihihi." teriak Zahra memanggil Deon sambil tertawa kecil


"Iya iya. Ini sudah siyap." Deon menghampiri Zahra dan juga Kia yang tengah menunggu nya


"Ayo cepat makan lah." Deon duduk di samping Zahra dan mulai menyuapinya


"Kia. Cepat lah makan." ujar Zahra sembari menyodorkan satu porsi mangkuk bakso pada Kia


"Terimakasih nona, tuan." jawab Kia dan langsung melahap bakso di depan matanya


"Emm. Enak sekali. Kau memang hebat ya." puji Zahra pada Deon


"Tak perlu seperti itu memuji ku. Pokoknya apapun yang kau mau pasti akan ku berikan. Bahkan jika kau mau membeli semua bakso di kota ini, pasti akan ku kabulkan."


"Ahh. Kau sangat berlebihan. Makan satu mangkuk saja aku pasti sudah kenyang. Tak perlu membeli semua bakso yang ada di kota ini."


"Kau itu. Bagaimana aku tak menyukai mu. Kau begitu polos." ujar Deon sembari mengelus kepala Zahra


"Kau beda dari wanita yang selama ini ku kenal." lanjut Deon


"Apa nya yang beda. Aku sama- sama perempuan kan."


"Kepolosan mu itu yang tak dimiliki oleh wanita lain."


"Haha. Apa benar begitu."


"Benar Ara." jawab Deon dengan mencubit dagu Zahra


"***Mereka benar- benar romantis. Baru pertama kali ini aku melihat Tuan memperlakukan wanita selembut itu. Bahkan mantannya yang sudah berhubungan selama empat tahun, tak pernah diperlakukan seperti itu." gumam Kia dalam hati


"Tapi kenapa nona bisa menyebut tuan dengan sebutan pria yang tidak waras ya."


"Jelas- jelas saat berdua, mereka terlihat sangat serasi."


"Ahh. Mungkin hanya khayalan ku saja. Tak mungkin lah nona berpura- pura mencintai tuan. Mana mungkin sih ada wanita yang mau menolak cinta tuan. Secara kan dia pewaris Sasaga Corp. Keluarganya adalah bangsawan di tempat nya tinggal." lanjut Kia terus saja mengomentari nona dan tuan nya***


"Kia. Kenapa kau melamun. Apa sudah selesai makan nya."


"Ahh, iya nona. Aku sudah selesai." jawab Kia yang terkejut dengan spontan


"Ya sudah. Kau lanjut istirahat saja."


"Aku juga sudah selesai dan akan kembali ke kamar." ujar Zahra sambil merapihkan sisa makanan nya


"Nona. Biar aku saja yang membereskan semua nya. Nona istirahat saja dengan tuan." jawab Kia dengan merebut mangkuk yang ada di tangan Zahra


"Tidak apa- apa biar aku saja."


"Tidak nona. Biar aku saja."


"Ahh, yasudah. Setelah ini kau langsung istirahat saja ya."


"Baik nona."


Zahra pun beranjak masuk ke kamar nya. Disana terlihat Deon yang sudah menunggu nya di atas ranjang.


"Kemarilah Ara." pinta Deon sambil mengulurkan kedua tangan nya

__ADS_1


__ADS_2