
Setelah permainan buas nan panas Deon, Zahra pun terlelap tidur karena lelah menguasai sekujur tubuhnya.
Hingga tak terasa matahari mulai terbenam.
"Ara. Bangun lah. Kau tidur terlalu lama." ujar Deon membangunkan Zahra
"Hiks. Hiks."
"Hei. Kau menangis." ujar Deon ketika tau rupanya Zahra sedang menangis
"Ara. Kau kenapa. Ayo ayo bangun." ujar Deon lagi setelah tak mendapatkan jawaban dari Zahra
Lantas dibantunya Zahra untuk bangun dan bersender di tempat tidur.
"Ara. Katakan. Kau kenapa." ujar Deon dengan lembut seraya menyilakan rambut panjang yang menutupi wajah Zahra
"Apa kau menangis sedari tadi." tanya Deon pada Zahra yang masih membisu
"Matamu terlihat sembab. Berhentilah menangis."
"Ayo katakan padaku apa yang terjadi." ujar Deon berusaha menghibur
"Kau. Kau tak punya perasaan. Hiks." ungkap Zahra dengan terbata
"Aku. Katakan lebih jelas Ara." jawab Deon tak mengerti dengan ucapan Zahra
"Kau tak punya perasaan. Kau terus saja membuatku gila. Hiks." jawabnya
"Cup cup cup. Kemari lah." ujar Deon hendak memeluknya. Namun ditolak mentah-mentah oleh Zahra
"Kau itu bukan hanya pria tidak waras. Kau itu mes*m. Kau selalu memperlakukan diri ku dengan seenaknya. Kau meniduri ku berulang kali dengan paksa. Hiks. Hiks." jawab Zahra dengan marah
"Apa hanya untuk ini kau mencariku. Membawaku kemari dan mengunciku di sini. Apa aku ini budak nafsu mu." lanjutnya lagi
"Apa tidak cukup bagimu menghancurkan masa depan ku."
"Aku harus mengandung di usiaku yang masih muda karena ulah mu."
"Dan lebih parahnya. Semua ini terjadi di luar pernikahan. Hiks. Hiks." Zahra terus menuangkan isi hatinya yang sudah lelah dengan perlakuan Deon.
Deon hanya terdiam mendengarkan perkataan Zahra. Ia merasa dirinya memang sudah sangat keterlaluan selama ini. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Dan disaat keheningan menyelimuti, handphone di saku celana Deon bergetar. Ia segera mengambil dan menjawab sebuah panggilan yang masuk.
"Katakan Al." ujar Deon memulai pembicaraan lewat handphone nya
"Tuan dan Nona bisa berangkat besok. Hanya ada waktu dua hari untuk tuan bisa menemani nona kembali ke kampung halamannya." ujar Al memberitahukan jadwal tuannya
__ADS_1
"Baik. Persiapkan semuanya dengan baik. Kita akan berangkat sebelum matahari terbit." ujar Deon pada Al yang langsung mematikan teleponnya sepihak
Dan kembali pada Zahra yang masih terlihat menangis sendu.
"Ara. Apa kau percaya aku mencintaimu." tanya Deon dengan mendekatkan dirinya lebih dekat pada Zahra
"Awal pertemuan kita memang tidak bisa dikatakan indah. Tapi dari sanalah, aku mulai jatuh cinta padamu." ungkap Deon
"Dan untuk masalah yang terjadi tadi. Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tidak bisa mengontrol diriku sendiri." lanjutnya menerangkan pada Zahra
"Hiks. Hiks. Aku tidak percaya kalo kau yang begitu kasar memperlakukan ku palah mencintai ku." jawab Zahra yang tak percaya dengan perkataan pria di depannya
"Aku tidak mungkin membawa mu kembali jika aku tak mencintaimu Ara."
"Bukan mencintai ku. Tapi anak dalam kandungan ku yang kau inginkan dari ku."
"Ara. Kapan kau akan percaya pada ku. Aku mencintaimu." jawab Deon
"Dan tak mungkin aku meniduri mu jika aku tak mencintaimu." lanjut Deon
"Bagiku kau seperti candu." ungkap Deon
Zahra hanya bisa diam membisu mendengar ucapan- ucapan Deon. Dan cinta, bukanlah menjadi kata yang hanya sekali dua kali diungkapkan nya pada Zahra. Semua kata- kata Deon membuatnya semakin gila dan bimbang.
"Ara. Percayalah pada ku. Bukan hanya anak dalam kandungan mu yang ada dalam hati ku. Tapi kau, jauh lebih dahulu tinggal di relung hati." ungkap Deon membuyarkan lamunan Zahra
"Kau harus percaya pada perkataan ku." ujar Deon seraya tangannya menggenggam erat tangan Zahra
"Besok sebelum matahari terbit, kita akan berangkat menuju kediaman orangtuamu." ungkap Deon
"Kau serius." tanya Zahra tak percaya
"Tapi untuk apa." lanjutnya
"Untuk membicarakan hari pernikahan kita." jawab Deon yang seketika membuat Zahra terbelalak
"Kau serius." tanya Zahra memastikan bahwa Deon tidaklah sedang bercanda
"Ya. Aku serius Ara. Al sudah mengatur perjalanan kita untuk besok."
"Tapi." ujar Zahra ragu
"Tapi apa."
"Aku belum mau menikah. Apalagi dengan mu. Aku tidak mencintaimu." ungkap Zahra dengan tatapan menunduk
"Kau tidak mencintai ku. Apa aku tidak salah dengar. Aku tuan muda Sasaga Corp Ara. Apa aku kurang tampan bagi mu." ujar Deon merasa terhina dengan ucapan Zahra. Ya, karena selama ini ia mengira bahwa tak mungkin ada wanita yang mampu menolak cintanya. Termasuk Zahra yang hanya gadis desa. Ditambah dia kini sedang mengandung anaknya. Bagaimana mungkin tak mencintai tuan muda.
__ADS_1
Blakk...
Zahra melemparkan bantal ke arah Deon, hingga mengenai tepat di wajahnya yang tampan itu.
"Ara." ujar Deon dengan tatapan tajam
"Kau tau. Kau itu bukan hanya tidak waras. Kau mes*m. Kau kasar. Dan kau terlalu percaya diri." ungkap Zahra
"Tidak begitu juga. Tapi kurasa kau berbohong jika kau tak mencintai ku." ujar Deon dengan percaya dirinya
"Terserah kau saja."
"Baiklah. Jadi..." ujar Deon dengan tatapan serius
"Apa."
"Sekarang kau sudah tidak sedih kan." tanya Deon dengan tatapan serius nan lembut
"Tidak begitu juga."
"Kemari lah." Deon segera mendekat dan mendekap tubuh mungil Zahra dengan erat.
Zahra pun tak menolak. Ia hanya bisa pasrah berada di pelukan pria tinggi kekar. Entah kenapa, hatinya langsung saja luluh setelah mendengar perkataan Deon tadi. Ya, walaupun ia tak mau mengakuinya. Tapi hatinya benar-benar tak bisa menolak. Ia terhanyut dalam bujuk rayu Deon.
Dan tanpa disadari. Jantungnya pun berdegup begitu cepat dari biasanya.
"Ara. Kau baik-baik saja." tanya Deon menyadari ada sesuatu yang terjadi
"Aku baik- baik saja." jawabnya dengan mengangguk
"Jantung mu berdegup begitu kencang. Aku bisa merasakannya."
"Benarkah. Ah. Hanya perasaan mu saja." jawab Zahra yang segera menyadari nya lantas melepaskan diri dari pelukan Deon.
Tapi Deon tak ingin melepaskan pelukannya. Ia pun segera menarik kembali tubuh Zahra yang mencoba menjauh dari dirinya.
"Tetaplah seperti ini." pinta Deon
"Aku risih." jawab Zahra beralasan
Mendengar perkataan Zahra, Deon lantas sedikit melonggarkan pelukannya. Dan memandang wanita berada tepat dibawah wajahnya.
"Benarkah kau risih." ujar Deon yang lagi- lagi dengan tatapannya yang membuat Zahra tak mampu menatap nya balik
"Iya." jawabnya dengan menunduk
Deon menarik dagu Zahra ke atas. Hingga bertemulah tatapan mereka.
__ADS_1
"Aku tak mau mendengar kata risih kau ucapkan lagi padaku."
"Kau adalah milik ku." ujar Deon yang dengan tanpa basa basi langsung mencium bibir wanita dalam pelukannya.