
"Ara. Kenapa kau diam saja. Apa kau tak bisa menjawab pertanyaan ku." ketus Deon kesal melihat tingkah Ara yang hanya terdiam saat ditanya
"Itu bukan urusan mu." jawab Zahra pura- pura sibuk dengan hape nya
"Kenapa bukan urusanku."
"Kau harus ingat ya. Semua yang menyangkut dengan diri mu adalah urusanku." ujar Deon
"Dih. Emang siapa kamu." ketus Ara
"Apa perlu aku jelaskan lagi kedudukan ku." ujar Deon melirik Ara
"Tak perlu. Ujung- ujungnya pasti anak yang jadi alasan."
"Lagian, ngapain sih kamu ada disini. Bukan nya kamu bilang mau meeting." tanya Zahra sembari melirik tajam balik ke arah Deon yang sedang duduk di depan nya
"Meeting nya sudah selesai." jawab Deon santai
"Haha. Benarkah. Secepat itu."
"Kenapa memang nya."
"Tidak. Hanya saja tak ku sangka. CEO perusahaan besar bisa melakukan meeting di tempat keramaian dan hanya dengan seorang wanita."
"Apa ada yang salah." tanya Deon
"Tidak juga." jawab Zahra
"Ahh aku baru tau. Bagaimana kau bisa tau aku bertemu dengan seorang wanita. Apa kau mengikuti ku." ujar Deon
"Haha. Ngikutin. Ga usah ke GR an deh. Emang ga ada kerjaan lain apa."
"Kok sewot."
"Siapa juga yang sewot."
"Aku tau, kau sedang cemburu kan."
"Cemburu. Haha. Apa kau tidak punya bahan candaan yang lebih bermutu."
"Tak perlu menyangkal. Aku tau itu. Makanya aku bergegas pulang agar kau tak berfikir yang tidak- tidak." ujar Deon
"Kenapa juga aku harus menyangkal. Memang kenyataannya aku tidak cemburu." bantah Zahra
"Benarkah dia bergegas pulang hanya untuk ku." gumam Zahra dalam hati
"Baik lah kalo memang tidak cemburu."
Mendengar jawaban Zahra, Deon pun beranjak pergi dari kamar nya.
"Ehh. Kau mau kemana." tanya Zahra menghentikan langkah Deon
"Kembali ke kantor. Bukan nya tidak ada yang perlu di jelaskan lagi." ujar Deon
"Bukannya kau bilang sudah selesai meeting." tanya Zahra
"Bukannya pekerjaan ku juga masih banyak." jawab Deon santai
"Ohh itu." ujar Zahra ragu
"Itu. Apa kau tidak mau aku meninggalkan mu." ledek Deon
"Tidak juga." ketus Zahra
"Benarkah." Deon mencoba menghampiri Zahra yang sedang duduk di tepi ranjang
"Kau. Mau apa kau."
"Sudah sana kembali bekerja saja." usir Zahra
__ADS_1
"Ahhh.. Aku rasa hari ini ada yang sedang cemburu dan juga merindukan ku." ujar Deon sembari merebahkan tubuh nya di pangkuan Zahra
"Kau." ujar Zahra beranjak dari duduk nya
"Aku tak pernah bilang begitu pada mu." lanjut Zahra
"Aku juga tak pernah bilang bahwa kau yang cemburu dan merindukan ku."
"Kau itu memang menyebalkan." ketus Zahra
"Kau mau kemana." tanya Deon sembari menahan tangan Zahra yang akan beranjak pergi
"Bukan urusan mu."
Deon menarik tubuh Zahra hingga terjatuh tepat di atas tubuh nya.
"Awww."
"Lepaskan aku." teriak Zahra
"Diam lah." menenggelamkan wajah Zahra dalam pelukan nya
"Apa yang akan kau lakukan di siang hari seperti ini." tanya Zahra tanpa memberontak
"Menurut mu."
"Jangan lakukan apapun. Pintu nya terbuka."
"Apa kau sedang bilang bahwa aku boleh melakukan apapun jika pintu sudah di tutup."
"Ihh, bukan begitu. Kau itu memang mesum." ujar Zahra sembari melepas pelukan Deon
"Haha. Memang apa yang aku perbuat. Kau itu lucu sekali." ujar Deon sembari beranjak menutup pintu kamar dan menguncinya
"Kau. Apa yang akan kau lakukan." tanya Zahra curiga melihat Deon mengunci pintu nya
"Bukan kah ini yang kau mau. Menutup dan mengunci pintu." ujar Deon mendekati Zahra
"Apa yang akan kau lakukan." tanya Zahra curiga
"Bukankah ini yang kau mau." membawa tubuh Zahra sampai ke tembok
"Apa yang akan kau lakukan." tanya Zahra sekali lagi
"Membuat mu senang." senyum sinis muncul di ujung bibir Deon
"Kau."
"Minggir." teriak Zahra
Seketika, kedua bibir mereka telah menyatu. Deon terlihat melakukan nya dengan lembut. Namun tak seperti biasanya, Zahra yang selalu tak bisa menghindar dari Deon, akhirnya bisa menghindar dengan menggigit bibirnya dengan keras.
"Kau. Apa yang kau lakukan pada ku." ujar Deon sambil mengelap bibir nya yang berdarah
"Itu. Aku tidak sengaja."
"Apa kau sedang mencoba merayuku."
"Merayu mu. Pria mesum. Mana mungkin aku merayu mu." ujar Zahra
"Heh. Lucu sekali gadis kecil ku." gumam Deon lirih sembari membaringkan tubuh nya di atas ranjang. Menatap kepergian Zahra yang meninggalkan nya sendiri di ruang kamar.
Sedangkan Zahra, ia pergi menghampiri Kia yang tengah asyik dengan gawai nya.
"Kia." ujar Zahra mengagetkan Kia
"Ahh. Maaf nona. Aku tidak tau kedatangan nona." ujar Kia
"Tidak papa. Kau sedang apa." tanya Zahra
__ADS_1
"Ini hanya, membuka sebuah pesan nona."
"Apa itu dari kekasih mu."
"Dari kekasih ku. Itu tidak mungkin nona."
"Kenapa tidak mungkin. Apa kau."
"Aku belum punya kekasih nona."
"Kenapa begitu."
"Kau cantik dan pintar. Mana mungkin."
"Emm. Andai nona tau. Aku terikat kontrak dengan tuan. Aku tak bisa menjalin hubungan dengan lelaki mana pun. Sampai waktu yang belum tuan tentukan untuk ku." gumam Kia dalam hati nya
"Kenapa kau melamun Kia." ujar Zahra membangunkan lamunan Kia
"Ahh. Maaf nona."
"Tidak apa- apa."
"Kau sebaik nya istirahat saja." ujar Zahra
"Aku baik- baik saja nona." jawab Kia
"Tapi kau terlihat sedang tidak baik- baik saja."
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku." tanya Zahra curiga
"Emmm. Itu..."
Belum juga selesai Kia bercerita, suara Deon memanggil Ara membuyarkan keseriusan diantara ke duanya.
"Ara."
"Kemarilah." ujar Deon memanggil Ara dari pintu kamar
"Kenapa kau selalu menggangguku. Apa kau tidak tau aku sedang mengobrol dengan Kia." ujar Ara kesal
"Nona. Sebaik nya nona datangi tuan dulu." bujuk Kia pada Ara
"Ahh ya sudah lah. Tapi janji kau nanti ceritakan apa sebenarnya yang terjadi." pinta Ara
"Ehemmmm." Deon memberikan isyarat dengan berdehem
"Baik lah nona. Cepat lah pergi." pinta Kia sekali lagi
Zahra pun beranjak meninggalkan Kia dan mendekati Deon yang sedang menanti nya di depan pintu kamar.
"Kau itu. Kenapa selalu mengusik ku." ujar Ara kesal
"Kamu itu. Jangan suka ikut campur urusan orang." ujar Deon sembari menjentikkan jari nya di kening Ara
"Aww. Sakit." rintih Ara
"Lagian siapa juga yang ikut campur urusan orang." lanjut Ara
"Masih belum sadar juga kau." ujar Deon sembari menjentikkan jari nya di kening Ara sekali lagi
"Aww. Kau itu. Memang tidak waras ya." protes Ara
"Makanya ga usah kepo sama masalah orang." ujar Deon
"Aku ga kepo. Aku cuma pengen tau apa yang terjadi pada Kia. Itu saja." bantah Ara
"Itu sama saja." jawab Deon
"Beda lah. Yang suka ikut campur itu kamu. Lagian ngapain kamu nguping pembicaraan aku sama Kia. Apa itu kalo bukan namanya kepo." protes Ara
__ADS_1
"Kau itu."
"Kenapa kau begitu menggemaskan Ara." ujar Deon sembari menarik ke dua pipi Ara