Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Strategi Deon


__ADS_3

Setelah perjalanan jauh nan melelahkan ditempuh, akhirnya sampailah kembali Deon dan juga Zahra di mansion.


Deon membopong tubuh Zahra yang masih terlihat lemas. Dibawanya menuju kamar, dan dibaringkan dengan hati- hati.


"Ara. Kau istirahatlah. Aku akan pergi untuk menyelesaikan pekerjaan ku." pinta Deon


"Apa kau tak ingin istirahat dulu." tanya Zahra pada Deon yang akan segera pergi meninggalkannya dengan dalih pekerjaan


"Aku bisa istirahat nanti." jawab Deon dengan tatapannya seraya membelai rambut Zahra


"Apa kau akan pergi lama."


"Tidak. Hanya sampai pekerjaan ku selesai." jawab Deon


"Tapi kau tak perlu khawatir. Jika kau perlu sesuatu, kau bisa memintanya pada Kia atau pelayanan yang lain." lanjutnya


"Baiklah. Kau pergi saja." ujar Zahra


"Iya." jawab Deon dengan anggukan


"Kau. Jaga dirimu dan kandungan mu. Jangan sampai kelelahan." kata Deon lagi


"Kau tak perlu mengkhawatirkan soal itu."


"Ya sudah. Aku pergi dulu." izin Deon.


Ia pun segera melangkahkan kakinya menjauh dari Zahra.


Namun, belum sempat ia membuka pintu kamar, suara Zahra memanggil.


"Deon." panggil Zahra


"Apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan." Deon berbalik dan berjalan kembali mendekati Zahra yang tengah berbaring di ranjang


"Tentang hari pernikahan." ujar Zahra lirih


"Apa yang kau katakan di tempat ayah adalah benar. Pernikahan kita akan dilaksanakan minggu depan." tanya Zahra penasaran


"Benar. Kita akan melangsungkan pernikahan minggu depan."


"Kenapa kau tak bilang padaku terlebih dahulu."


"Untuk apa."


"Seharusnya kau meminta pendapat dariku juga."


"Itu tak perlu. Apa kau mau menunggu perutmu semakin membuncit. Atau, kau ingin kita menikah setelah anak dalam kandungan mu terlahir." jawab Deon sinis


"Hmm." Zahra tak mampu menjawab pertanyaan Deon


"Ya sudah. Aku pergi dulu." Deon pamit untuk kedua kalinya. Lantas ia berjalan pergi meninggalkan Zahra sendirian.

__ADS_1


...****************...


"Al. Apa semuanya sudah siap." tanya Deon pada Al


"Sudah, tuan. Kita bisa berangkat sekarang." jawab Al


Hari ini, Deon akan kembali ke Eropa. Menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum tiba hari pernikahan.


Dan juga, menyelesaikan urusannya dengan saudara ayahnya, tuan Demian yang terhormat.


Deon dan Al langsung berangkat ke bandara untuk melakukan penerbangan hari ini juga.


Walaupun lelah mereka rasa, tapi pekerjaan adalah hal yang terpenting bagi mereka.


🕗 Singkat Cerita


Akhirnya sampailah mereka di Eropa.


Bergegaslah mereka menuju mansion utama tempat tinggal keluarga Jeven Sasaga.


Di sana, Deon disambut dengan hangat oleh orangtuanya.


"Putra ku. Akhirnya kau sampai juga." sapa mommy Liyana sumringah seraya memeluk erat putra semata wayangnya


"Deon, akhirnya kau datang juga. Daddy sudah menunggumu." ujar tuan Jeven


"Iya, Daddy. Maaf Deon datang terlambat." ujar Deon seraya bergantian memeluk tuan Jeven


"Baik, Daddy." jawab Deon


"Daddy. Kau itu tidak punya perasaan sekali. Putra ku baru saja sampai. Seharusnya kau mempersilahkannya untuk istirahat terlebih dahulu." protes mommy Liyana


"Kau tak perlu ikut campur Liyana. Putra ku itu kuat dan tangguh." ujar tuan Jeven pada istrinya


"Mommy. Tak perlu khawatir. Deon sudah istirahat selama perjalanan." hibur Deon pada mommy nya dan bergegas pergi mengikuti langkah sang Daddy.


Sampailah Deon dan tuan Jeven di ruang kerja. Dimana sebuah ruang yang tak boleh ada seorangpun masuk tanpa izin dari tuan Jeven terlebih dahulu.


"Apa yang akan kau lakukan pada Demian." tanya tuan Jeven pada anaknya


"Tidak ada."


"Maksudmu. Tidak ada, atau kau belum tau apa yang harus kau lakukan." tanya tuan Jeven lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit kesal karena mendengar jawaban dari sang anak


"Kau dalam bahaya Deon. Demian beraninya terang- terangan mengirim mata- mata untuk mu sampai ke negara Asia."


"Dan kau. Kau tetap santai seperti ini."


Tuan Jeven terus menceramahi anaknya. Tak mengerti dengan sikap dari anaknya ini. Ini tak biasa dengan tabiatnya yang selalu tak mau kalah.


"Kau tau. Beberapa klien mengadu pada Daddy. Mereka mengancam akan menarik kerjasama mereka dengan perusahaan kita."

__ADS_1


"Tentunya dengan alasan yang tak masuk diakal. Mereka bilang, tak mau jika kau yang memimpinnya."


"Padahal kan beberapa proyek besar ditandatangani oleh mu. Tapi tetap, ada beberapa perusahaan yang tak setuju bila diteruskan oleh mu."


"Dan pastinya kau ingat kan. Tinggal satu bulan lagi. Daddy benar- benar akan lepas tangan dari semua pekerjaan."


"Jika seperti ini terus. Bagaimana Daddy bisa melepaskan dengan tenang. Perusahaan pasti akan mati bila mereka serius memutus kerjasama yang sudah di bangun."


"Mereka sudah menanamkan benih- benih ketidakpercayaan nya pada mu, Deon."


Tuan Jeven terus berbicara tak hentinya. Ia merasakan kekhawatiran yang teramat akan perusahaan yang ia bangun begitu lama.


"Daddy tak perlu khawatir." ujar Deon memotong perkataan tuan Jeven


"Bagaimana Daddy tidak khawatir. Kau saja tak tau apa yang harus kau lakukan."


"Kau tau. Masalah perusahaan dengan mata- mata yang Demian kirimkan untuk mu itu besar kaitannya."


"Kau harus selalu berhati- hati pada Paman mu itu."


"Sudah berapa kali dia mau menjatuhkan Daddy."


"Tak terhitung Deon."


"Tapi, tak pernah sekalipun usaha paman mu itu berhasil."


"Karena apa. Itu tentu karena Daddy tak pernah menyerah dan selalu punya rencana untuk mengatasi orang- orang seperti paman mu itu."


"Tapi kau, yang jelas-jelas di depan mata mu dia berani mengirimkan mata- matanya. Kau palah masih tenang tak punya rencana."


Tuan Jeven meluapkan amarahnya pada putra semata wayangnya itu.


"Jika kau belum siap memimpin perusahaan. Lebih baik kau katakan saja. Daddy tak mau usaha Daddy membangun perusahaan kita selama ini menjadi sia- sia." ujar tuan Jeven yang sudah merasakan di puncak amarahnya


"Deon memang masih tenang, bahkan terlihat belum punya rencana. Tapi Daddy tak perlu khawatir. Deon tidak akan mundur." ujar Deon menenangkan ayahnya itu


"Kau terus saja bilang seperti itu. Tidak perlu khawatir. Tapi kau tak punya gambaran rencana." jawab tuan Jeven


"Deon diam. Tapi Deon mengikuti permainan paman. Dan saat tiba waktunya nanti. Deon akan membalasnya." kata Deon pada ayahnya


"Daddy. Percayalah pada Deon. Deon bisa membawa perusahaan kita lebih maju."


"Tapi Deon minta tolong sama Daddy. Berpura-pura lah bahwa perusahaan ada masalah. Daddy, tolong iyakan semua permintaan para klien."


"Tidak lama Daddy. Hanya sampai hari pernikahan Deon."


Deon meminta tuan Jeven agar lebih bersabar.


"Pernikahan. Apa kau hanya akan menjadikan pernikahan mu sebagai ajang melawan musuh-musuh perusahaan." tanya tuan Jeven seketika Deon menyebut bertahan sampai hari pernikahan


"Daddy pasti akan tau semua jawabannya nanti." jawab Deon tanpa penjelasan yang lebih detail

__ADS_1


__ADS_2