Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Cinta Deon


__ADS_3

"Kau bersiap- siap lah." pinta Deon sembari mengambil pakaian dari dalan lemari


"Untuk apa." tanya Ara kebingungan


"Aku akan mengajak mu keluar." jawab Deon


"Hmm. Tumben sekali. Apa dia kira aku benar- benar cemburu. Dan dia mau mencoba menghibur ku dengan mengajak ku keluar. Haha. Aneh sekali rasa nya." gumam Ara dalam hati nya


"Kenapa diam saja."


"Cepat lah. Aku tidak punya banyak waktu." ujar Deon membuyarkan pikiran Ara


"Dasar pria tidak waras. Aku kira dia tulus mau mengajak ku jalan. Rupanya. Hmm. Apa akan menyenangkan nanti nya." gumam Ara lagi dalam hati nya


Deon yang merasa kesal melihat Ara terus diam sedari tadi, Ia pun menarik tubuh Ara. Melepas paksa baju yang di kenakan Ara.


"Dasar pria mesum. Apa yang sedang kau lakukan." teriak Ara mencoba menghindar dari Deon


"Kau itu sedang memikirkan apa sih."


"Cepat pakai baju ini." lanjut Deon sembari memberikan baju di tangan nya pada Ara


Tak berpikir lama, Ara pun pergi ke kamar mandi. Ia mengganti pakaian dengan pakaian yang sudah dipilihkan Deon untuk nya.


Setelah selesai berganti pakaian, Ia pun keluar dan mendekati Deon yang sedang terduduk di atas ranjang kamar menunggunya.


"Kau akan mengajak ku kemana." tanya Ara mendekati Deon


"Berdandan lah sedikit. Apa kau sama sekali tidak bisa dandan." lirik Deon ke arah Ara


"Apa aku tidak terlihat cantik bagi mu." rayu Ara


"Hmm. Ya sudah lah. Ayo kita jalan." ujar Deon menggandeng tangan Ara


"Apa kita akan mengajak Kia." tanya Zahra


"Tidak." jawab Deon


"Kenapa. Memang nya kita mau kemana." tanya Ara sekali lagi


"Diam lah. Kau jangan banyak bertanya." jawab Deon ketus


Mereka pun berjalan meninggalkan apartemen setelah sebelumnya berpamitan pada Kia. Dan Deon, terus saja menggandeng tangan Ara sampai masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Kali ini mereka pergi hanya berdua. Tanpa seorang supir, dan tanpa seorang pun ajudan.


Rupanya Deon ingin memberikan waktu berduaan bersama Ara. Ia ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan nya. Dan ia berharap secepatnya Ara bisa mengerti akan cinta nya yang tak pura- pura.


🕗 Setelah satu jam perjalanan, mereka pun sampai ke tempat tujuan. Deon yang masih terduduk di kursi kemudi hanya bisa menatap wajah ayu Ara yang masih tertidur sedari perjalanan.


"Kau. Pria mesum." teriak Ara mencoba menyingkirkan wajah Deon dari hadapan nya


"Akhirnya kau bangun juga. Rasanya lelah sekali menunggumu terbangun dari tidur." ujar Deon sembari turun dari mobil nya


"Cepat lah kau turun." teriak Deon yang pergi meninggalkan Ara sendiri dalam mobil


Ara pun turun dari mobil. Ia berlari mengejar Deon yang sudah berjalan di depan.


Di pandang nya sekelilingnya. Terlihat hamparan pasir putih yang luas. Sontak, ia pun merasa takjub dan tak percaya. Rupanya Deon membawa nya ke pantai.


Di hirup nya udara pantai yang segar. Rasanya sudah lama sekali ia tak pernah melihat pantai. Dan kali ini, ia tak pernah mengira bahwa lelaki di samping nya akan membawanya kesini.


"Apa kau senang." tanya Deon pada Zahra yang masih mengagumi keindahan pantai


"Tentu saja. Aku tak pernah menyangka bahwa kau akan mengajak ku ke sini. Aku sangat berterima kasih atas hal ini." jawab Ara sambil terus memandang sekelilingnya


"Ayo kita duduk di sana." Deon menggandeng tangan Ara menuju sebuah bangku yang tak jauh dari tempatnya berdiri


Mereka pun duduk di sebuah bangku di tepi pantai. Ditemani sepoi- sepoi angin dan deru ombak lautan. Sedangkan mentari, terlihat akan tenggelam di arah barat.


"Ara." ujar Deon menghilangkan keheningan diantara ke duanya


"Deon. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hati ku saat aku berada di sini." sahut Ara yang merasakan perasaan aneh sedari tadi


"Kau tak perlu memikirkan banyak hal." Deon pun memegang ke dua tangan Ara. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik- baik saja


Tiba- tiba, air mata Zahra pun mengalir tak terbendung. Deon yang tak tau apa yang terjadi, hanya bisa berpindah duduk dan memeluk tubuh Ara.


"Apa yang terjadi." tanya Deon mengawali


"Tidak ada yang perlu kau takutkan." tambah Deon berusaha terus menenangkan Ara


"Deon. Apa kau akan tetap berada di sisiku sampai kapanpun." tanya Ara lirih yang terus menenggelamkan diri nya dalam pelukan Deon


"Apa kau meragukan aku." balik tanya Deon


"Astaga. Bagaimana aku bisa bertanya seperti ini dan menangis di pelukannya."

__ADS_1


"Sadar Zahra. Sadar." gumam Zahra menyadarkan dirinya bila ada yang salah dalam dirinya


Ia pun segera melepaskan pelukan Deon dan beranjak bangkit dari duduk nya.


"Kau seharusnya tak meragukan ku. Karena kau adalah satu- satunya wanita yang ada dalam hati ku." ujar Deon yang mengikuti Zahra dan memeluk nya dari belakang


"***Kenapa hati ku berdebar seperti ini. Seharusnya tak ada masalah dengan ucapannya. Tak seharusnya aku memperdulikannya." gumam Zahra dalam hati nya


"Semua ini hanya sandiwara. Kau tak boleh termakan bujuk rayunya. Sadarlah. Balas dendam mu itu lebih penting. Dan lagi, pria mesum itu pasti hanya bersandiwara. Setelah anak ini lahir, dia pasti akan mengambilnya dan mencampakkan mu***."


Segudang pertanyaan muncul di pikiran nya. Hal itu benar- benar membuat Zahra gundah.


Ya. Niat hati ingin membalas dendam pada Deon, ia palah terperangkap dengan sandiwaranya sendiri.


Berpura- pura baik dan penurut di hadapan Deon, lalu pergi meninggalkan nya bersama anak yang dikandung. Rupanya, semua yang sudah disetting dari awal mulai goyah.


"Apa kau baik- baik saja." Deon yang melihat Zahra hanya terdiam dalam pelukannya pun membalikan tubuh Zahra hingga tatapan diantara keduanya bertemu


"Tentu. Aku baik- baik saja." Zahra melepaskan pelukan Deon dan menjauh dari tatapan nya


"Sampai kapan Ara kau akan membohongi hati mu. Aku tau kau juga memiliki perasaan yang sama pada ku." gumam Deon dalam hatinya


Hari pun semakin sore. Perlahan, senja pun mulai menghilang. Namun kebisuan diantara mereka berdua masih belum berkesudahan.


Zahra masih saja asyik sendiri dengan ombak di tepi pantai nya. Sedangkan Deon hanya terus mengawasi tingkah lucu gadis polosnya dari kejauhan.


Dalam hatinya, ia berharap. Bahwa Zahra adalah wanita terakhir dalam hidup nya.


Dan lewat angin juga senja yang mulai berganti malam, ia titipkan rasa cintanya. Semoga, secepatnya Zahra dapat menyadari perasaan dalam hatinya.


***puisi


Kau di sana, Aku di sini


Waktu memisahkan kita saat ini


Tapi itu bukan masalah


Karena kau dan aku masih di bawah bulan yang sama


Gadis ku,


Bila kau masih ingin bertahan di sana

__ADS_1


Biarlah hati ini selalu menjaga perasaan yang sama


Mencintai mu sampai ujung usia


__ADS_2