Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Cemburu


__ADS_3

Drt drt drt


Deon mengambil hape nya yang terasa bergetar di saku celana nya. Rupanya ada satu pesan masuk, yang tak lain adalah pesan dari Zahra.


"Rupanya kantor mu sudah pindah ya. Dan meeting yang kau maksud itu adalah berduaan dengan seorang wanita"


"Apa Ara melihatku dengan Zifana. Tapi, dimana dia." Deon mencoba mencari di sekelilingnya, namun ia tak juga melihat kehadiran Ara di sekitar


"Wanita itu. Selalu saja membuatku bingung dengan perasaannya." gumam Deon dalam hati nya


"Deon. Apa terjadi sesuatu." ujar Zifana


"Aku harus segera kembali ke kantor. Ada meeting penting yang akan segera di mulai."


"Tapi Deon. Bagaimana dengan ku."


"Aku akan menelepon supir ku untuk mengantar mu pulang."


"Bukan itu maksud ku Deon. Yang tadi aku bicarakan."


"Aku yakin kau masih sangat mencintai ku. Aku yakin, aku adalah satu- satu nya wanita yang ada dalam hatimu. Aku juga merasa seperti itu Deon."


"Deon. Maaf kan lah aku. Masalah itu, aku hanya terpaksa harus menuruti kemauan ayah ku."


"Kau tau kan jika aku tak mau menuruti kemauan nya. Dia pasti akan menyiksaku dan membuang ku" rayu Zifana


"Kau kan juga tau bahwa kau satu- satu nya wanita dalam hatiku. Pasti kau juga tidak lupa siapa aku kan. Aku pasti akan melakukan apapun untuk mu."


"Tapi apa yang ku dapat dari mu. Hanya penghianatan."


"Sudah lah. Lupakan saja. Anggap saja kita tak pernah berhubungan." jawab Deon


"Tidak. Itu tidak mungkin."


"Aku masih mencintaimu. Aku mau perbaiki hubungan kita. Ini hanya kesalahpahaman."


"Tidak ada kesalahpahaman. Kesalahan mu memang sudah fatal."


"Setelah ini. Jangan pernah hubungi ku lagi."


"Apa ada wanita lain yang sudah menggantikan ku."


"Aku harap seperti itu."


"Deon. Tidak mungkin. Aku tidak percaya. Aku tau hanya aku yang ada di hatimu." teriak Zifana


"Kau. Rendahkan suara mu. Ini tempat umum."


"Biar saja. Biar semua orang tau."


"Cepat katakan padaku siapa wanita itu." ujar Zifana sembari terus memukul Deon


"Kau sudah gila ya. Lepaskan aku. Aku tidak ada urusan lagi dengan mu."


"Deon Deon. Tunggu. Jawab aku Deon."


"Deon jangan tinggalkan aku. Buka pintu nya Deon."


Deon pun meninggalkan Zifana. Ia melajukan mobil nya dengan perasaan yang tak karuan.


Zifana adalah wanita yang dulu sangat ia cintai, namun akhirnya mengkhianati nya. Dan sekarang ia memohon untuk kembali lagi.


"Cih. Wanita itu memang sudah gila. Apa dia tak punya harga diri."


"Seperti nya dia sengaja memintaku untuk bertemu di tempat umum hanya untuk mempermalukan ku." gumam Deon kesal


"Ahh ya, Ara. Tadi dia mengirim pesan pada ku. Aku harus menelepon nya." Deon pun meraih gawai nya dan mencoba menghubungi Zahra


Tut Tut Tut


"Astaga, kenapa tidak mengaktifkan nomer nya."


Deon bergegas menghubungi Kia setelah mencoba menghubungi Zahra namun tak bisa.

__ADS_1


"Hallo tuan." sapa Kia dari seberang telepon


"Kia. Dimana Ara."


"Nona ada di kamar nya tuan."


"Apa dia sedang tidur."


"Sepertinya tuan. Tadi sepulang dari taman, sikap nona terlihat berbeda. Yang tadi nya bahagia, langsung minta kembali ke apartemen. Dan sekarang masih belum keluar juga dari kamar nya sejak sampai tadi."


"Taman. Kau membawa Ara ke taman."


"Iya tuan."


"Apa ini alasan nya. Apa tadi Zahra melihat aku dengan Zifana." gumam Deon dalam hati nya


"Ahh ya sudah. Mungkin dia kelelahan. Biar saja dia istirahat."


"Baik tuan."


"Ara Ara. Apa mungkin tadi kau melihat ku di taman. Dan sekarang kau sedang cemburu. Lucu sekali kau itu."


"Tapi ini terlihat menarik." gumam Deon dalam hati nya


Ia merasa bahwa Zahra juga memiliki perasaan yang sama terhadap nya. Hanya saja, Zahra masih terus menutupi nya.


"***Akan ku buat kau benar- benar jatuh cinta pada ku."


"Kau harus menjadi milik ku Ara." ujar Deon dalam hatinya


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***


Di tempat lain, terlihat Zahra yang menggulung tubuh nya dengan selimut.


"Zahra. Apa yang sedang kau perbuat. Kenapa kau jadi tak karuan seperti ini." ujar Zahra


"Deon. Aku benci sekali terhadap mu."


"Ahhh... menyedihkan sekali nasib ku." gerutu Zahra


"Andai saja tak ada hari itu. Aku pasti saat ini sedang bekerja dengan santai."


"Ahh ya, Nia. Apa kabarnya. Aku sama sekali belum menghubungi nya semenjak Deon membawa ku kesini."


Zahra pun bangkit dari ranjang nya. Diraih nya hape yang ada di atas meja. Ia pun langsung memencet nomor Nia, dan mencoba melakukan panggilan.


"Nia." sapa Zahra


"Zahra. Apa ini benar kau." ujar Nia


"Ahh Nia. Maaf, aku baru bisa menghubungi mu."


"Kau. Kau benar- benar membuat ku khawatir."


"Hehe. Maaf kan aku. Kau tak perlu khawatir lagi."


"Kau itu. Hampir saja aku akan melapor ke polisi."


"Jika saja kau tak menghubungi ku hari ini. Aku pasti akan langsung membuat laporan."


"Hehe. Sekarang tidak perlu Nia. Aku sudah menghubungi mu."


"Dimana kau sekarang." tanya Nia


"Aku ada di apartemen."


"Apa kau masih dengan pria yang membawa mu pergi lampau hari."


"Iya. Aku masih dengan dia. Bahkan sekarang aku jadi tahanan nya."


"Apa kau bilang. Tahanan. Apa aku harus benar- benar lapor ke polisi."


"Ahh tidak tidak. Kau tidak perlu seperti itu. Aku baik- baik saja."

__ADS_1


"Benarkah."


"Tapi kenapa tadi kau bilang..."


"Tenang saja. Aku bukan dijadikan tahanan seperti di film-film ekstrem itu."


"Disini aku dilakukan dengan baik." terang Zahra


"Ahh syukurlah kalo begitu." ujar Nia


"Bagaimana kabar mu dan yang lain." tanya Zahra


"Semuanya disini kabar baik."


"Justru semuanya disini mengkhawatirkan mu."


"Hihi. Kalian benar- benar teman yang baik."


"Tolong sampaikan permohonan maaf ku pada yang lain ya."


"Ahh.. sudah sudah. Tidak papa. Yang penting adalah bahwa kau baik- baik saja di sana." ujar Nia


"Iya Nia."


"Aku sangat merindukan mu Nia." ujar Zahra


"Aku juga merindukan mu."


"Apa kau tidak akan kembali ke sini." tanya Nia


"Itu. Aku belum bisa pastikan."


"Kenapa begitu."


"Sebenarnya apa yang terjadi."


"Dan pria yang membawa mu pergi. Siapa dia." ujar Nia memberondong pertanyaan pada Zahra


"Ahh. Dia ya." mencoba menutupi


"Aku dengar. Dia adalah tuan muda dari Sasaga Corp."


"Haha. Benarkah begitu." pura- pura tidak tau


"Apa kau sungguh tidak tau."


"Ku rasa itu mustahil untuk seorang Zahra yang tukang kepo."


"Haha. Kau itu, lucu sekali."


"Apa kau sedang berusaha menutupi sesuatu yang telah terjadi pada mu." tanya Nia


"Ahh tidak. Tidak begitu."


Tok tok tok


Di tengah panggilan, tiba- tiba terdengar ketukan pintu dari luar kamar


"Ara. Buka pintu nya." rupanya Deon telah datang


"Astaga. Kenapa pria tidak waras itu bisa ada di sini." gumam Zahra


"Nia. Lebih baik telepon nya aku matikan dulu ya. Nanti aku akan menghubungi mu lagi." ujar Zahra


"Apa yang terjadi Zahra. Kau belum menjelaskan nya pada ku." ujar Nia dari seberang telepon


Mendengar Deon yang terus- terusan menggedor pintu, Zahra pun menutup panggilan nya dengan Nia. Ia bergegas membukakan pintu untuk nya.


"Hanya membuka pintu kenapa lama sekali."


"Sedang apa memangnya." tanya Deon sembari berjalan ke dalam kamar


"Bukan urusan mu." jawab ketus Zahra

__ADS_1


__ADS_2