
"Tuan ayo kita temui nona sekarang." ajaknya seraya melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Zahra kini berdiri dengan seorang pria.
Namun langkahnya terhenti karena tangan Al yang sigap menarik tubuhnya untuk kembali bersembunyi di balik tebing.
"Kau itu bodoh ya." makinya seraya menjentikkan jarinya ke kening Kia
"Aw. Sakit Tuan." gerutu Kia seraya menahan sakit di keningnya.
"Apa kau itu tidak bisa lihat ada orang lain di samping nona besar."
"Tentu saja melihatnya tuan."
"Lalu." tanya Al, tapi Kia hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Astaga. Benar saja nona besar bisa melarikan diri dengan mudahnya. Rupanya aku yang salah. Aku salah sudah merekrut diri mu yang bodoh ini." makinya dengan tanpa perasaan
"Ma, maaf tuan." ujar Kia lirih dengan menahan air matanya yang hampir jatuh itu karena makian Al yang begitu menusuk hatinya
"Kau itu bisa tidak sih berpikir dulu sebelum melakukan segala sesuatu. Coba saja sekarang kau hampiri nona di sana, apa kau pikir nona besar akan dengan mudah ikut pulang dengan mu. Yang ada kau palah ribut dengan orang-orang disana."
"I iya tuan. Maafkan aku." jawabnya dengan menundukkan kepalanya seolah menyadari kesalahannya
"Sudahlah, kau tunggu disini dan terus awasi mereka. Aku akan melakukan panggilan sebentar." ujar Al seraya berjalan sedikit menjauh dari Kia
"Baik tuan." jawab Kia yang segera memasang kedua matanya baik- baik untuk mengintai nona besarnya dengan seorang pria asing. Dalam hatinya berkata, "Jangan sampai aku teledor lagi. Aku sudah benar- benar bosan dengan makian pria dingin itu."
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di tempat lain, Deon yang sudah aktif bekerja karena tuntutan dari ke dua orangtuanya, terlihat meraih gawai yang bergetar di atas meja kerjanya.
"Hallo tuan." sapa seorang pria dari seberang telepon
"Ya. Ada kabar baik apa tentang anak ku." jawab Deon yang pernah berpesan sebelumnya, bahwa jangan pernah menghubunginya kecuali sudah menemukan keberadaan Zahra dan anaknya.
__ADS_1
"Nona besar sudah berhasil saya temukan, tapi nona enggan kembali bersama. Nona ingin jika tuan sendiri yang datang menjemputnya." ujar Al berbohong, karena ia seratus persen yakin bila nona nya tidak akan mau kembali dengannya, jadi ia pikir biarkan saja tuanya yang datang sendiri untuk membujuknya. Mungkin begitulah yang terbaik baginya.
"Katakan padanya, aku akan segera datang menjemputnya." jawab Deon dengan penuh semangat yang kemudian mematikan teleponnya sepihak.
Lantas, ia bergegas untuk pulang dari kantornya setelah sebelumnya mengabari asistennya untuk mengkondisikan kepulangannya ke negara bagian Asia itu.
"Deon. Kau mau kemana." teriak seorang wanita hingga menghentikan langkah kakinya
"Aku mau pulang. Ada keperluan mendesak." jawabnya dengan enteng dan langsung berjalan meninggalkan wanita itu sendiri.
"Keperluan mendesak. Jangan- jangan, terjadi sesuatu pada aunty atau uncle." gumamnya yang kemudian berlari menuju ruang kerjanya dan meraih gawai di atas meja kerja.
Ya, Sisilia Alexandra. Ia adalah gadis cantik anak dari sahabat ayah Deon. Sisilia begitu mencintai Deon, hingga akhirnya kedua orang tua mereka menjodohkannya. Namun sayang, Deon tak pernah menyukai gadis itu sedikitpun. Bahkan ia menolak mentah- mentah perjodohannya di depan Sisil dan juga kedua orang tua mereka.
Tapi Sisil yang sudah terlanjur dalam mencintainya, ia tak akan pernah rela melepaskan Deon begitu saja. Ia dengan liciknya selalu berusaha merayu kedua orang tua Deon Sasaga dengan tanpa perasaan malunya.
"Hallo aunty." ujarnya dengan gawai ditangannya
"Tidak apa- apa aunty, Sisil hanya ingin menanyakan kabar aunty juga uncle. Apa aunty dan uncle baik- baik saja." tanyanya dengan begitu penasaran
"Aunty baik- baik saja. Uncle juga baik- baik saja. Memangnya apa yang kamu khawatirkan." tanya ibu dari Deon yang merasakan keanehan dari pertanyaan Sisilia.
"Ah, baguslah kalo aunty dan uncle baik- baik saja, Sisil lega mendengarnya. Tapi yang jadi pertanyaan Sisil, Deon baru saja meninggalkan kantor dengan tergesa. Dia bilang akan pulang karena ada keperluan mendesak. Tapi kabar aunty dan uncle baik- baik saja. Memangnya Deon ada keperluan mendesak apa aunty." ungkapnya dengan tanpa rasa malunya
"Pulang. Deon nggak ngabarin aunty kalo mau pulang jam segini. Aunty juga nggak tau ada keperluan mendesak apa." jawabnya yang benar- benar belum tau apa yang terjadi pada anaknya
"Oh, yasudah aunty gak papa. Yang penting Sisil dah tau kabar aunty dan uncle."
"Ah, iya Sisil. Sebelumnya aunty sangat berterimakasih karena sudah perduli dengan keluarga aunty."
"Iya aunty, tidak apa- apa. Ya sudah, teleponnya Sisil tutup dulu ya. Sisil mau lanjut kerja. Aunty jaga kesehatan ya." ujarnya untuk mengakhiri panggilannya
"Iya Sisil."
__ADS_1
Sisilia pun mengakhiri panggilannya dengan perasaan yang sama sekali tidak memuaskan bagi dirinya.
"Aku harus tau apa sebenarnya yang terjadi. Nggak mungkin kan Deon terlihat buru- buru seperti tadi tanpa alasan. Pokoknya jangan sampai Deon pergi lagi. Ini kesempatan ku buat dapetin Deon. Deon itu hanya milik Sisilia Alexandra." ungkapnya dalam hatinya
Dan ia pun bergegas menghubungi seseorang untuk mencari tau keberadaan Deon dan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kau itu hanya milikku. Aku tak perduli berapa kali kau sudah menolak ku. Aku pasti akan membuat mu bertekuk lutut mengemis cinta dari ku." ujarnya dengan senyum sinis di bibirnya setelah mengakhiri panggilannya dengan seseorang
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sementara Deon akhirnya sampai juga di kediamannya. Dan sang ibu yang sudah menerima kabar dari Sisilia terlebih dahulu, ia langsung menghampiri Deon setelah melihatnya telah kembali.
"Deon. Benar saja kata Sisilia. Kenapa kau pulang diwaktu kerja. Apa ada sesuatu yang terjadi." tanyanya pada putra semata wayangnya
"Sisilia. Dia bilang apa pada mommy." tanyanya dengan santai
"Tadi Sisil menelepon menanyakan kabar mommy and Daddy. Katanya dia melihatmu pulang tergesa- gesa. Dia hanya mengkhawatirkan keadaan mommy and Daddy. Memangnya ada masalah apa." tanyanya lagi yang penasaran pada sikap putra semata wayangnya itu
"Cih, dia pandai sekali mencari kesempatan untuk merayu orangtuaku." ujarnya memaki
"Deon, jangan bicara seperti itu. Maksud Sisil baik kok. Cobalah kamu berpikir positif sedikit tentang Sisil."
"Dari dulu sifat dia memang begitu Mom. Dah lah, jangan percaya sama tutur katanya yang lembut, apalagi perhatiannya yang palsu. Setiap yang dia lakukan pada Mommy and Daddy itu karena ada maunya."
"Iya maunya dia kan hanya kamu. Dia sangat mencintaimu dari dulu sampai sekarang. Bahkan saat kamu tidak di sini pun, ia rela menunggu kepulangan mu. cobalah buka sedikit hatimu untuk pengorbanannya selama ini." kata sang ibu menasehati putranya itu
"Sudah lah Mom, Deon lagi males berdebat. Lagian Mommy itu belum tau siapa dia sebenarnya." jawabnya seraya meninggalkan sang ibu sendiri
"Deon, kau mau kemana." teriaknya melihat Deon memutuskan pembicaraan sepihak dan berlalu meninggalkannya
"Mau jemput cucu Mommy." jawabnya dengan enteng dan tanpa berbalik badan pada ibunya itu
Ia pun meninggalkan sang ibu dengan raut wajah yang begitu kebingungan karena tingkahnya.
__ADS_1