
Tepat pukul tiga pagi, Zahra terbangun. Ia membuka matanya dan tidak mendapati pria yang semalam mendekap erat tubuhnya.
Ia mencarinya ke setiap sisi ruangan kamar. Kamar mandi sampai ruang ganti. Tak bisa ia menemukan tuan muda Sasaga Corp itu.
"Ini sudah pukul tiga pagi. Dia bilang akan berangkat sebelum matahari terbit. Tapi dimana dia." batin Zahra
"Apa dia melarikan diri. Dia pasti berbohong pada ku. Pura- pura mau tanggung jawab. Hmm." pikiran Zahra sudah dipenuhi hal yang tidak- tidak.
"Kau itu bodoh sekali Zahra. Mana ada sih orang setampan dan sekaya Deon mau dengan mu. Ngaca dong. Kamu itu cuma gadis desa. Ga bisa dandan. Dan Deon, wanita sekelas Zifana saja sudah pernah ditiduri. Cantik, model terkenal, tapi ujung- ujungnya ga dinikahin."
"Harusnya kau tidak mudah termakan bujuk rayunya. Dia itu buaya. Pria mes*m yang selalu saja memaksa mu untuk memuaskan hasratnya."
"Dasar. Zahra bodoh."
Zahra terus terdiam dengan seribu pikiran yang tak menentu tentang Deon.
Dia merasa kecewa dan mengira dirinya terlalu lalai dan bodoh. Selalu saja luluh dengan perkataan Deon. Padahal sudah berulangkali ia merasa tertipu oleh tuan muda pewaris Sasaga Corp itu.
Dan tepat ketika setan- setan terus merasuk dalam pikiran Zahra, pintu kamar terbuka.
Terkejut bukan kepalang. Ketika ia menyadari Deon lah yang membuka pintu kamar dan mencium keningnya seketika.
"Kau sudah bangun sayang." ujar Deon
Zahra hanya bisa terdiam. Aneh sekali rasanya. Baru saja ia berpikir yang tidak- tidak. Rupanya pikirannya hanya ketakutannya saja selama ini.
"Ara. Kau baik- baik saja kan." kata Deon seraya tangannya meraba kening dan seluruh wajah Zahra. Takut kalau kalau Zahra demam. Ya, karena ekspresi Zahra yang hanya diam membisu.
"Ah. Aku baik- baik saja. Kau darimana." tanya Zahra
"Kau mencariku. Apa kau merindukanku." ledek Deon dengan senyum yang menyebalkan
"Tidak. Aku hanya kaget tak mendapati kau saat terbangun tadi."
"Ah. Rupanya kau sudah mulai terbiasa dengan ku. Bangun tidur tidak melihat aku saja langsung panik."
"Gak usah terlalu pede deh."
"Kau tak perlu malu- malu seperti itu. Kita akan menikah. Setiap hari kita akan tidur bersama."
"Hmm. Sudahlah. Aku mau siap- siap. Kita akan berangkat kapan." tanya Zahra mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan berangkat. Cepatlah jika kau mau bersiap- siap."
Lantas Zahra pergi meninggalkan Deon dan bergegas merapikan dirinya. Mencuci mukanya dan berganti pakaian.
Setelah dirasa siap. Ia segera mendekati Deon dan duduk tepat di sampingnya.
"Apa kau yakin dengan semua ini." tanya Zahra dengan sedikit keraguan
"Maksudmu."
"Dengan pernikahan kita."
"Kau itu bodoh. Kenapa harus tanya seperti itu." ujar Deon seraya menjentikkan jarinya di kening Zahra
"Aw. Sakit Deon." rintih Zahra
"Memangnya kau mau, melahirkan anak ini sendiri." kata Deon seraya mengelus lembut perut Zahra yang mulai terlihat membuncit
"Aku lebih baik melahirkan anak ini sendiri. Daripada aku menikah dengan mu, tapi aku merasa tersiksa nantinya."
"Hish." lagi- lagi Deon menjentikkan jarinya di kening Zahra. Dan Zahra hanya bisa meringis kesakitan
"Pikiran mu itu sudah dikuasai dengan hal yang tidak-tidak. Imajinasi mu sudah keterlaluan. Mana mungkin aku menyiksa wanita yang aku cintai." ujar Deon tegas dengan tatapan tajamnya
Deon menggandeng tangan Zahra menuju lantai bawah. Dimana disana sudah ada Al dan Kia, serta pelayanan lainnya menanti.
"Ayo berangkat sekarang." ujar Deon menginstruksikan pada para bawahannya
Bergegaslah mereka keluar dan menuju mobil masing- masing.
Mereka pergi dengan dua rombongan. Satu mobil ditumpangi Deon, Zahra, Al, dan Kia. Satu mobil berada di belakang sebagai pengawal untuk berjaga jika terjadi sesuatu.
Setelah dirasa semuanya sudah siap, Al mulai memimpin melajukan mobilnya.
Dengan hati- hati dan pasti. Mereka mengemudi melewati kota menuju sebuah desa yang harus ditempuh selama dua belas jam lamanya.
"Apa kau sudah tau dimana tempat tinggal orang tua ku." tanya Zahra
"Apa yang aku tidak tau tentang mu. Bahkan aku tau, jika kau tak akur dengan ibu tiri mu."
"Hmm. Dia. Aku benci sebenarnya bila harus bertemu dia."
__ADS_1
"Bagaimanapun dia wanita yang ayah mu cinta." jawab Deon
"Sudahlah. Lupakan saja. Kau tidak akan mengerti." pinta Zahra tak mau membahas lagi masalah ibu tirinya
"Tapi Deon. Aku benar-benar khawatir. Apa ini yang terbaik untuk ku." tanya Zahra lagi
"Maksudmu."
"Aku takut bertemu dengan ayah dalam keadaan perutku yang sudah membuncit ini." ujar Zahra
"Dan lagi. Pasti kedatangan ku hanya akan menjadi beban untuknya."
"Orang- orang di sekitar sana pasti akan menggunjing ku. Dan Ayah, pasti akan terkena imbasnya."
"Kau tenang saja. Aku akan membungkam semua mulut mereka." jawab Deon menimpali curahan hati Zahra
"Bagaimana kau bisa. Kau pikir kau super hero. Kau tidak tau saja mulut- mulut orang desa."
"Sudahlah Zahra. Hentikan semua imajinasi mu. Pikiran mu itu terlalu berlebihan."
"Ah. Kau terus saja begitu. Kau tidak tau saja bagaimana orang-orang di sana." gerutu Zahra kesal
Deon yang memandang wajah Zahra dipenuhi kekhawatiran dan murung, ia lantas menarik tubuhnya mendekat. Menenggelamkan wajah Zahra dalam pelukannya.
"Sebelum ini. Para bawahan ku sudah terlebih dahulu menemui keluarga mu. Mereka sudah tau keadaan mu. Bahkan mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan kita. Jadi kau tak perlu khawatir." hibur Deon
"Apa. Kau tidak sedang berbohong kan." sontak Zahra kaget dan melepaskan diri dari pelukan Deon
"Kau selalu saja tidak percaya pada ku."
"Tapi, mana mungkin."
"Tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang Deon kan."
"Hmm. Tapi aku belum percaya seratus persen perkataan mu sebelum kita sampai di sana."
"Oke. Kita buktikan saja sesampainya di sana."
"Hmm..."
Zahra memalingkan pandangannya dari Deon. Ia menyenderkan kepalanya ke jendela mobil. Berpikir, bagaimana Deon bisa melakukan hal seperti itu untuk dirinya. Apa cinta yang selama ini ia katakan adalah benar adanya. Dan, jika iya. Apa dirinya juga harus membuka hatinya untuk Deon.
__ADS_1
Rupanya, tanpa diketahui Zahra. Deon sudah mengirimkan rombongannya terlebih dahulu menuju kediaman orang tua Zahra. Setelah ia mendapat kabar hubungan Zahra dengan keluarganya yang kurang baik. Dan dapat dipastikan, jika ia tak mengirim rombongan terlebih dahulu untuk menyogok mulut- mulut mereka, mereka bisa saja melukai perasaan Zahra nantinya. Dan Deon tidak menginginkan itu.
Semuanya Deon lakukan demi kebaikan mental wanita pujaan hatinya yang kini tengah mengandung anaknya.