
Demian yang telah mendengar kabar tentang Deon dari anak angkatnya itu, ia lantas menghubungi mata- matanya untuk menyelidiki kabar itu.
Ia bahkan menyewa beberapa orang ahli dalam hal mata- mata di negara bagian Asia itu untuk terjun langsung mengawasi gerak- gerik Deon setibanya di sana.
"Lihat saja Jeven. Jika semua kabar ini adalah benar adanya, aku Takan sungkan- sungkan untuk menjatuhkan mu dan merebut Sasaga Corp dari genggaman mu." ujar Demian setelah memerintah para anak buahnya untuk menyelidiki kebenaran tentang pewaris tunggal Sasaga Corp itu.
Sasaga Corp adalah pecahan dari sebuah perusahan yang sedang berkembang saat itu. Pencetusnya adalah kakak beradik yang tak lain adalah ayah dari Tn. Demian dan juga ayah dari Tn. Jeven Sasaga.
Sebenarnya pembagian perusahaan itu sudah dibagi secara benar dan juga disetujui oleh kedua pihak. Namun para klien perusahaan terdahulu lebih memilih ke pihak Sasaga Corp yang saat itu juga sudah diwariskan pada Tn. Jeven Sasaga. Hingga masalah itu membuat kedengkian di hati Tn. Demian yang tak terima bila perusahaan bagian keluarga Sasaga lebih maju dari perusahaan keluarganya.
Dan mulai saat itu lah Tn. Demian memendam dendam kesumat pada keluarga Sasaga. Ya, karena ia berpikir bahwa keluarga Sasaga sudah menghasut para klien terdahulu. Dan melupakan ayah Demian yang juga berjasa atas keberhasilan perusahaan yang terdahulu. Dalam pikirannya, jika Sasaga Corp maju, Alfa Corp juga harus maju. Namun, semua itu tak pernah ia terima. Sampai detik ini pun, Sasaga Corp tetap lebih unggul dari Alfa Corp. Hal itu lah yang terus memacu dirinya untuk balas dendam dan merebut alih kekuasaan Sasaga Corp.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan udara selama berjam- jam, akhirnya sampai juga tuan muda di negara bagian Asia. Tempat dimana ia mendapat kabar keberadaan Zahra dan juga buah hatinya.
Tak mau berlama-lama, ia segera menelepon Al untuk memintanya share lokasi dimana Zahra berada.
Ia pun segera menaiki mobil dan meminta ajudannya untuk mengantar di titik Al berada.
Mobil pun melaju dengan cepat. Melewati batas kota hingga masuk pedesaan. Hingga tak terasa perjalanan sudah ditempuh selama lima jam lamanya.
"Tuan. Apa tuan sadar dengan mobil berwarna hitam di belakang kita." seru salah satu ajudan pada tuannya itu
"Maksudmu. Apa mereka sedang mengikuti kita." jawab Deon pada ajudannya
"Saya belum tau pasti tuan. Tapi seingat saya, mobil itu terus di belakang kita setelah melewati batas kota." terang ajudannya
"Sudahlah lupakan saja. Paling hanya orang yang pulang kampung saja." jawab Deon acuh
Mendengar jawaban tuannya, para ajudan pun hanya diam. Tapi dalam diam, mereka tetap waspada dalam menjaga tuannya.
Terkadang tuan mereka memang seperti acuh tak acuh pada dirinya sendiri. Apalagi ditambah kondisi sekarang yang sedang dimabuk cinta. Tentu saja dia tak mau memikirkan hal lainnya selain cintanya itu.
Kring kring..
Terdengar suara telepon berbunyi. Rupanya panggilan dari Al pada salah satu ajudannya.
__ADS_1
Ajudan itu pun segera mengangkat teleponnya dan menyalakan speaker agar tuannya dapat ikut mendengarkan percakapan.
"Sudah sampai mana kau. Lama sekali sudah aku berdiri di sini. Apa kau tidak bisa menyetir." maki Al pada ajudan itu dengan tanpa memikirkan kalau saja panggilannya terdengar oleh tuannya.
"Sebentar lagi akan sampai. Kau harus lebih bersabar. Itu juga bisa untuk melatih otot-otot kaki mu." jawab ajudan dengan sedikit meledek
"Hei. Kau gila ya. Cepat kemari atau aku akan menghajar mu jika kau sampai di sini." maki Al lagi yang tambah geram mendengar jawaban ajudan itu.
"Aku yang akan menghajar mu sesampainya di sana, jika kau terus mengeluh bodoh." ujar Deon yang ikut geram mendengar pernyataan Al itu
"Tu. Tuan. Bukan begitu. Maksud saya tadi hanya bercanda." jawab Al gugup setelah tau jika tuannya ikut mendengarkan percakapan dengan sang ajudan
"Tetap di situ dan tetap berdiri sampai aku datang." ujar Deon
"Baik tuan." jawab Al pasrah.
Panggilan pun terputus. Dan Al masih harus tetap berdiri di tempat ia mengawasi Zahra. Sedangkan Kia, ia kembali ke dalam mobil untuk bergantian beristirahat.
"Butuh waktu berapa lama lagi kita akan sampai di sana." tanya Deon pada para ajudannya
"Tidak lama tuan. Hanya setengah jam." jawab ajudannya menerangkan
"Ckk. Wanita bodoh itu. Apa tidak ada tempat lain yang bisa dia tuju." gumam Deon lirih
...****************...
Di tempat lain. Demian sedang menerima panggilan dari seseorang. Rupanya itu adalah mata- mata yang ia sewa untuk membuntuti Deon sesampainya di negara Asia.
Dan benar saja. Mobil hitam yang mengemudi tepat di belakang kendaraan Deon adalah mata-mata dari Demian.
"Bagaimana keadaan di sana." tanya Demian
"Kami masih membuntuti mobil mereka tuan." jawab mata- mata Demian
"Apa kau sudah tau akan kemana mereka pergi."
"Sejauh ini kami belum tau tuan. Tapi tempat yang dituju sangat masuk dalam pedesaan." jawab mata- mata itu menerangkan
__ADS_1
"Baiklah. Terus saja ikuti mereka. Dan laporkan jika ada kemajuan."
"Tuan. Mereka sudah sampai tuan." ujar mata- mata itu gugup pada Demian yang ingin segera mengakhiri panggilannya
"Apa itu benar."
"Benar tuan. Tuan Deon baru saja turun dari mobilnya."
"Video dan sambungkan pada ku." ujar Demian yang penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Deon
"Baik tuan."
mata- mata itu pun segera melaksanakan perintah dari tuannya. Ia segera mengambil kamera dan mengintai Deon dari kejauhan.
Di sana terlihat Deon yang turun dari mobilnya lantas mendekati seorang pria yang terlihat menunggunya sedari tadi.
Namun sayang. Baru saja ia mengambil Video, keberadaan mereka terlihat oleh para ajudan Deon yang sedari perjalanan tadi semakin waspada.
Mereka merampas kamera mata- mata Demian dan menginterogasinya. Sayangnya mata- mata Demian yang cukup setia tetap tak mau jujur siapa tuan mereka.
Lantas para ajudan Deon yang tak mau ada keributan yang akan mengganggu suasana hati tuannya pun melepaskan para mata- mata itu.
Mata- mata itu segera pergi meninggalkan Deon dan para ajudannya dengan bergegas.
Lantas mereka yang gagal mengintai Deon pun segera mengabari tuanya kembali.
"Hallo tuan."
"Kenapa Video nya terjeda. Siapa yang tadi Deon temui." tanya Demian tanpa basa- basi
"Maaf tuan. Ajudan tuan Deon mengetahui keberadaan kami. Kami pun harus putar balik."
"Bodoh. Bodoh sekali kalian." ujar Demian dengan amarahnya
"Aku membayar mahal kalian hanya untuk kebodohan ini." ujar Demian lagi dengan suara yang memekik di telinga
"Maaf tuan. Kami berjanji tidak akan mengecewakan tuan lagi. Nanti akan kami cari tahu lagi siapa yang tuan Deon temui barusan." jawab mata- mata itu dengan setengah ketakutan
__ADS_1
Dan Demian yang sudah terlanjur memuncak amarahnya, tak mau lagi mendengar penjelasan tak penting dari mata- matanya itu. Ia pun segera mematikan panggilannya dengan merasakan sesak pada dadanya.