
"Kia. Apa aku boleh keluar sebentar." tanya Zahra pada Kia yang sedang membereskan sisa sarapan
"Nona mau pergi kemana." tanya Kia
"Aku ingin bertemu seseorang."
"Kalo itu, lebih baik nona tanyakan saja pada tuan Deon."
"Aku, bertanya pada pria tidak waras itu. Sudah pasti lah dia tak mengijinkan."
"Kalo begitu, saya juga tidak bisa mengantarkan nona pergi. Karena semua yang saya lakukan harus ada izin dari tuan."
"Astaga. Kenapa sih dia itu suka sekali mengekang hidup orang lain."
"Itu juga pasti untuk kebaikan nona dan anak dalam kandungan nona."
"Tapi lama- lama aku bisa gila Kia."
"Baru dua hari saja disini, aku sudah merasa seribu hari terkurung."
"Ahhhh... rasanya ingin sekali aku melarikan diri." ujar Zahra kesal
"Jangan nona. Ku mohon jangan pernah berfikiran seperti itu." pinta Kia dengan serius
"Kenapa." jawab Zahra penasaran
"Tidak apa- apa nona. Saya hanya memberikan saran saja pada nona."
"Benarkah? tapi kau terlihat seperti sedang menutupi sesuatu dari ku."
"Tidak nona. Tidak ada yang sedang saya tutupi dari nona." jawab Kia berbohong.
Sebenarnya konsekuensi yang tertulis pada surat kontrak, jika Kia tak bisa menjaga Zahra dengan baik adalah dia akan di keluarkan dari Sasaga Corp dan dipastikan tidak akan ada perusahaan lain yang akan menerima nya.
"Hmm. Ya sudah." ujar Zahra
"Kia." lanjut Zahra
"Ya nona."
"Kenapa sih kamu mau bekerja sama orang tidak waras itu."
"Saya memang sudah dua tahun bekerja dengan tuan. Tapi sebelum disini, saya di tempatkan di anak cabang perusahaan Sasaga Corp."
"Benarkah. Berarti kau cukup betah ya bekerja dengan tuan mu itu."
"Sebenarnya tuan juga orang yang baik nona. Asal saja kita taat pada peraturan nya."
"Hemm.. Kau itu belum tau saja bagaimana sebenarnya kelakuan tuan mu itu."
"Ahh maaf nona jika memang seperti itu."
"Tuan mu itu, seperti singa yang siap menerkam kapan saja."
"Kau harus percaya padaku. Kau harus berhati- hati pada nya."
"Hihi. Iya nona." jawab Kia terkekeh mendengar penjelasan Zahra
"Kau tak percaya pada ku."
"Percaya nona."
"Kau itu. Lalu kenapa kau tertawa."
"Tidak nona. Saya hanya merasa lucu saja. Jika nona berada di dekat tuan, nona terlihat manja. Tapi jika berjauhan, sikap nona berubah 180 derajat."
"Apa benar begitu."
__ADS_1
"Iya nona."
"Hmmm." mendengar perkataan Kia, Zahra pun langsung berpikir "Apa benar yang dikatakan Kia. Hmm, tapikan itu memang sandiwara saja. Setelah pria tidak waras itu tergila- gila pada ku, aku akan meninggalkan nya. Jauh ke tempat dimana dia tidak bisa menemukan ku. Biar dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan masa depan."
"Nona." panggil Kia mengagetkan Zahra dari lamunan nya
"Apa nona baik- baik saja. Seperti nya nona sedang memikirkan sesuatu." lanjut Kia
"Tidak. Aku hanya memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk mengusir kebosanan ku hari ini."
"Lebih baik nona kembali istirahat saja. Tuan juga tak lama lagi akan pulang."
"Oh ya. Aku ingat sesuatu." tiba- tiba Zahra teringat pada seseorang yang pernah dekat dengan Deon
"Apa itu nona." jawab Kia penasaran
"Kau. Apa kau tau hubungan antara tuan mu dengan Zifana sebelumnya."
"Maksud nona."
"Kia. Kau jangan berpura- pura tidak tau."
"Apa nona merasa risih dengan nona Zifana."
"Ahh. Tidak juga. Hanya saja, aku penasaran sedikit."
"Tuan dan nona Zifana sudah tidak ada hubungan lagi. Nona tidak perlu mengkhawatirkan hal semacam itu."
"Apa. Mengkhawatirkan. Aku sama sekali tidak khawatir. Aku hanya ingin tau saja. Bagaimana tuan mu itu memperlakukan wanita sebelum aku." ujar Zahra
"Jauh berbeda nona." jawab Kia
"Maksud mu." tanya Zahra tak mengerti
"Tuan terlihat jauh perhatian terhadap nona dibandingkan dengan wanita- wanita sebelum nona."
"Tidak nona. Saya perhatikan, tuan benar- benar tulus mencintai nona."
"Hahaha. Kau sedang mencoba menghibur ku ya."
"Tidak nona. Aku berkata yang sebenarnya aku lihat saja."
"Haha. Tidak mungkin lah. Dia itu pria tidak waras. Mana mungkin bisa mencintai dengan tulus."
"Nona itu selalu tidak percaya pada tuan. Nanti nona kemakan lho sama ucapan nya sendiri."
"Ihhh Kia. Kamu palah nakut- nakutin."
"Bukan begitu nona. Tapi biasanya yang benci bakalan jadi cinta."
"Haha. Mana mungkin. Orang seperti tuan mu itu memang pantasnya untuk dibenci."
"Nona nona. Aku tidak tau pikiran nona. Di belakang tuan, nona seolah membenci. Tapi di depan nya, nona terlihat mesra dan serasi bersama tuan."
"Bukan begitu Kia, tapi..."
"Tapi apa nona."
"Ahh tidak tidak. Tidak apa- apa." Zahra langsung menutupi sandiwara nya. Dia tidak mau sampai orang lain tau bahwa dia sedang melakukan sandiwara terhadap Tuan muda dari Sasaga Corp
"Kau apa tidak bosan terkurung di ruangan ini." lanjut Zahra
"Tidak nona. Karena ini sudah menjadi tugas ku."
"Ahh kamu itu. Bisa- bisanya tidak bosan."
"Ya sudah lah. Aku mau tidur lagi saja."
__ADS_1
"Baik nona."
Zahra pun beranjak pergi meninggalkan Kia. Ia bergegas menuju ruang kamarnya dan membaringkan tubuh nya di atas ranjang.
🕗
Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Terlihat Deon yang sedang menunggu seseorang di lobby apartemen nya.
"Tuan. Maaf, aku membuat mu menunggu lama." ucap Al
"Bukan aku yang kau buat menunggu lama. Tapi Zahra. Dia pasti sangat bosan menunggu kehadiran ku." ujar Deon
"Maaf kan saya tuan. Ini resep dokter nya." ujar Al dengan memberikan resep obat di tangannya pada Deon
"Ya sudah. Kau kembali saja ke kantor."
"Baik tuan."
Tak mau menunggu lama lagi, Deon pun beranjak pergi meninggalkan Al yang juga akan kembali ke kantor.
Ia melangkah kan kaki nya dengan hati yang gembira. Tak sabar rasanya ingin menemui wanita yang telah menguasai hati nya.
"Ara. Bangun lah." ucap Deon membangunkan Zahra
"Kau. Kenapa kau sudah kembali." ujar Zahra
"Apa kau begitu kelelahan."
"Tidak."
"Lalu, kenapa Kia bilang kau tidur lagi setelah sarapan pagi tadi." tanya Deon
"Aku hanya bingung mau ngapain." jawab Zahra
"Apa sekarang kau masih bingung." tanya Deon
"Ihh. Singkirkan tangan mu." ujar Zahra sembari menyingkirkan tangan Deon yang hendak memeluk nya
"Diam lah. Kenapa kau terlihat galak sekali. Kau tidak ingat apa yang sudah kita lakukan semalam. Kau terlihat begitu sangat menikmati nya."
"Pria tidak waras. Pergi lah dari sini."
"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sisi mu."
"Kau. Apa yang akan kau lakukan." ujar Zahra sembari melepaskan tangan Deon yang sudah mencengkeram ke dua tangannya
"Bagaimana jika kita mengulangi kejadian semalam." bisik Deon licik di telinga Zahra
"Kau gila ya. Lepaskan aku." tendang Kia hingga mengenai pusaka Deon
"Awww aww.. apa yang sudah kau lakukan Ara." rintih Deon kesakitan
"Makanya jangan berani- beraninya berbuat senonoh pada ku."
"Lihat saja apa yang akan ku lakukan pada mu nanti." ujar Deon yang masih menahan sakit pada pusaka nya
"Kau. Tidak akan bisa."
"Apa kau bilang. Tidak ada yang tidak mungkin untuk ku." ujar Deon sembari menarik kerah baju Zahra
"Kau. Singkirkan tangan mu."
"Ini kan yang kau mau dariku."
"Ahhh. Lepaskan pria gila." teriak Zahra
Sejurus kemudian, Deon sudah menguasai seluruh tubuh Zahra. Mencium bibir nya dengan beringas bak singa kelaparan yang menangkap mangsanya.
__ADS_1