Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Kehadiran Tuan Muda


__ADS_3

"Dimana Ara dan anak ku." tanya Deon tanpa basa-basi setelah bertemu dengan Al


"Nona ada Tuan. Dia masih di rumah seberang jalan." jawab Al gugup


"Apa maksud mu. Apa kau sama sekali belum menemuinya?"


"Itu. Aku tidak berani tuan." jawab Al lagi dengan perasaan yang semakin gugup


"Kalian itu bodoh atau apa hah. Bisa- bisanya belum menemuinya." maki Deon seraya menunjuk pada Al dan juga Kia yang terlihat mengeluarkan keringat panas dingin


"Maafkan kami Tuan." ujar Kia mewakili permintaan maaf tanpa berani memandang wajah geram tuannya


"Sudahlah. Aku tidak mau menghabiskan sisa tenagaku untuk kebodohan kalian. Cepat antar aku menemui Ara sekarang." pinta Deon seraya menghela napas panjangnya


"Baik tuan." ujar Al seraya mempersilahkan tuan mudanya itu untuk berjalan di depannya.


Al pun mengantarkan tuan muda ke tempat dimana Zahra tinggal saat ini. Tak jauh. Hanya berjalan beberapa langkah saja.


Tok tok tok


Al mengetuk pintu rumah Zahra tinggal. Dan tak lama, munculah seorang wanita dengan rambut yang dijepit secara asal-asalan.


"Kau." benar-benar tak mampu mengeluarkan sebuah kata.


"Hai Ara." ujar Deon dengan pandangan genit pada pujaan hatinya itu


Ara yang tak percaya dengan hadirnya Deon di depan matanya hanya bisa mematung bisu.


Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Lelaki yang dipercaya takan mungkin ia temui lagi dalam hidupnya, nyatanya sekarang sedang berdiri tegap di depannya.


"Apa aku sedang berhalusinasi." ujar Zahra dalam hatinya seraya mencubit lengan tangannya


"Hei. Apa yang kau lakukan gadis ku." Deon segera menghentikan tangan Zahra yang terlihat sedang mencubit lengan tangannya sendiri


"Ah. ternyata aku tidak sedang berhalusinasi. Pria gila ini." ujar Zahra lagi dalam hatinya


Seketika ia pun berteriak ketika menyadari bahwa Deon benar- benar nyata di hadapannya.


"Pria gila. Kau." teriaknya melotot sembari jari telunjuk mengarah pada wajah Deon


"Santai Ara. Kau pikir aku pasti tidak akan menemukan mu kan." ujar Deon pada Ara seraya menyunggingkan senyum kemenangannya

__ADS_1


"Dasar pria gila." umpat Zahra


Tak berselang lama, keluarlah nenek Saimah dan juga Ryan yang sempat mendengar teriakan Zahra tadi.


"Nak. Siapa yang datang. Kenapa kau berteriak dan tak menyuruhnya masuk." ujar nenek Saimah sesampainya depan pintu


"Wow. Ramai sekali. Tamu dari mana. Kenapa gak diajak masuk Ra." celetuk Ryan


Spontan Zahra pun menyikut lengan Ryan yang berdiri tepat di sampingnya.


"Kalo boleh tau. Anak- anak kesini mencari siapa ya. Dan ada keperluan apa." sambung nenek Saimah yang penasaran dengan kedatangan Deon dan juga para ajudannya ke kediamannya


Mendengar pertanyaan dari sang pemilik rumah, Deon pun mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya.


"Salam nek. Saya Deon. Suami dari Zahra." jawab Deon seenaknya


"Lah kok engga diajak masuk. Zahra." tanya nenek Saimah lagi pada Zahra yang palah terlihat membeku setelah mendengar jawaban Deon


"Ayo ayo masuk nak." ajak nenek Saimah pada Deon dan para ajudannya


Deon pun masuk ke dalam rumah mengikuti nenek Saimah. Sedangkan Zahra, masih saja mematung tak percaya dengan jawaban dan juga sikap Deon. Pria yang dianggapnya gila selama ini.


Ya, bukan karena apa. Karena selama ini, yang Ryan tau Zahra memang mengandung, tapi belum menikah. Dan juga, setelah beberapa bulan melalui kebersamaan mereka, rupanya Ryan menaruh hati pada Zahra.


"Nak Deon. Mau minum apa." tanya nenek Saimah dengan ramahnya


"Tidak perlu repot-repot nek. Seadanya saja." jawab Deon dengan senyum ramahnya juga


"Zahra. Kenapa kau masih diam saja di situ. Ayo cepat masuk, temani nak Deon duduk." panggil nenek Saimah saat melihat Zahra masih diam mematung di teras rumah


Zahra yang mendengar panggilan nenek Saimah, lantas membalikan badannya dan segera masuk menemui Deon yang sudah terduduk di ruang tamu.


Sedangkan nenek Saimah masuk ke dalam dengan mengajak Ryan untuk membuat suguhan bagi para tamunya.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini." ketus Zahra pada Deon


"Panggilan hati." jawab Deon


"Cih. Permainan apa lagi ini." ujar Zahra setelah mendengar jawaban Deon. Ia pun seketika memalingkan pandangannya


"Apa kau tak merindukan ku." tanya Deon pada Zahra seraya matanya terus memandang liontin yang dikenakan oleh Zahra

__ADS_1


"Rindu. Haha. Apa aku tidak salah dengar. Kau tanya apa aku rindu kamu. Memangnya siapa kamu. Ngaca dulu sana deh." jawab Zahra kesal pada pertanyaan konyol Deon


"Bisa- bisanya ya dia tanya seperti itu. Memang tidak waras." gerutu Zahra lirih


"Em. Aku bisa dengar." kata Deon seraya melirik gadisnya itu


Bodoh amat!


Zahra acuh saja pada Deon. Ia belum tau saja kalo Deon melihat liontin yang ia kenakan. Sebuah liontin yang sengaja Deon berikan untuknya di hari pertama mereka bertemu dan tidur bersama.


"Lagi pada ngobrolin apa ini. Nenek Dateng kok langsung pada diem." sapa nenek Saimah mengagetkan Deon dan juga Ara.


Ia berjalan mendekat dengan membawa sebuah nampan berisikan teh hangat dan juga camilan.


"Nenek seharusnya tidak perlu repot-repot nek. Zahra sudah terlalu merepotkan nenek." ujar Zahra seraya membantu menurunkan nampan di tangan nenek Saimah


"Tidak nak. Nenek tidak pernah merasa direpotkan. Kehadiran kamu di sini buat nenek senang." jawab nenek Saimah yang begitu ramah nan lembut hati


"Ah. Zahra terharu nek. Nenek begitu baik selama ini pada Zahra. Bahkan menganggap Zahra layaknya keluarga sendiri." ujar Zahra yang merasa terharu atas kebaikan hati sang nenek yang begitu menyentuhnya


"Saya juga mau mengatakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada nenek karena sudah menjaga wanita saya sekaligus anak dalam kandungannya." ujar Deon ikut menimpali perbincangan Zahra dan nenek Saimah


"Ah. Iya iya. Kalian berdua ini. Palah membuat nenek jadi canggung saja." ujar nenek Saimah yang lagi lagi dengan senyum ramahnya


"Ayo- ayo di minum dulu teh hangatnya." lanjut nenek Saimah


"Baik nek."


Dan mereka pun mengobrol dengan hangatnya sembari menyeruput teh dan juga menikmati hidangan yang tersedia.


Hingga tak terasa waktu telah bergulir dengan cepat.


Deon pun mengatakan tujuan utamanya datang ke tempat nenek Saimah. Ya, tak lain ingin membawa pulang Zahra serta anaknya.


"Nenek. Sebelumnya saya benar-benar berterimakasih karena sudah menyambut saya dengan begitu baik. Ditambah lagi, nenek sudah sangat dengan baiknya mau menjaga Zahra." ujar Deon di selingi dengan napas panjang


"Tapi kedatangan saya kemari yang sebenarnya adalah untuk membawa pulang kembali Zahra bersama saya nek." lanjutnya


"Apa." sontak Zahra berteriak kaget mendengar pernyataan Deon yang dianggapnya tidak waras ini


"Mengajak ku kembali setelah apa yang kau lakukan pada ku selama ini. Apa kau tidak bercermin dahulu sebelum datang kemari. Memang tidak ada otak." gumam Zahra dalam hatinya

__ADS_1


__ADS_2