Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Bertemu Kembali


__ADS_3

Setelah perjalanan yang cukup lama hingga membuat Zahra tertidur lelap, akhirnya sampai juga mereka di sebuah tempat.


"Zahra, bangunlah. Kita sudah sampai." ujar Ryan membangunkan Zahra dari tidurnya. Lantas Zahra yang mendengar suara Ryan, ia pun terbangun. Seketika Ia tercengang setelah membuka ke dua matanya.


"Pantai." sorak Zahra bahagia


"Kau suka." tanya Ryan


"Tentu saja. Aku benar-benar mengagumi seluruh pantai yang ada di dunia ini." sahut Zahra


"Kalo begitu cepatlah turun." ajak Ryan yang sudah berdiri di samping pintu mobil. Lantas Zahra pun turun dan berlari menuju arah pantai.


"Kau. Kenapa kau berlari." teriak Ryan yang mengikuti Zahra dari belakang.


"Kau harus berhati- hati." lanjutnya


Namun Zahra yang terlanjur girang, ia tak menggubris teriakan Ryan sama sekali. Justru ia melangkahkan kakinya lebih cepat menuju ombak.


"Kau terlihat bahagia sekali." ujar Ryan yang sudah berdiri tepat di samping Zahra


"Entah. Diri ku selalu merasa damai saat melihat pantai."


"Apa ada sesuatu yang spesial di masa lalu mu tentang pantai." tanyanya seraya menghadang ombak yang menghampiri


"Aku juga tidak tau. Tapi."


"Tapi apa." tanya Ryan penasaran


"Ah, tidak tidak. Tidak ada apa- apa kok." jawabnya Zahra


"Dimana dia sekarang. Ah, aku rasa dia tidak mencari ku. Jika dia mencari ku, seharusnya sudah menemukan ku. Harusnya tidak sulit bagi seorang dia kan." ujar Zahra dalam hatinya


"Zahra. Hei, kau melamun." tanya Ryan membuyarkan lamunan Zahra


"Ah. Aku tidak apa- apa." jawabnya seraya pergi meninggalkan Ryan. Ya, karena Ryan pasti akan menanyakan apa yang sedang dipikirkannya.


"Ya Tuhan. Bagaimana bisa kau memikirkan orang gila itu Zahra. Seharusnya kau bahagia karena terbebas. Dan lagi, kau pasti sudah berhasil membalaskan dendam nya. Ya, seharusnya ia merasakan sakit karena kepergian anak ini kan." ucapnya lagi seraya membelai lembut perut buncitnya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Sementara di tempat lain, Kia dan juga Al yang mendapat kabar terbaru Zahra setelah menyadap telepon Nia, merekapun tengah dalam perjalanannya untuk menjemput sang nona mereka.


"Tuan, apakah benar ini jalan menuju tempat nona sekarang." tanya Kia pada Al yang sedang fokus mengemudi


"Tuan." panggilnya setelah ia merasa Al belum juga menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Apa kau ragu pada ku. Jika kau ragu, aku akan menurunkan mu. Biar kau mencari jalan yang kau maksud itu." jawab Al dingin


"Ah, bukan begitu maksud ku tuan. Tapi." jawab Kia dengan ragu


"Kenapa harus ada tapi."


"Sudah tidur saja. Kau tidak perlu berkomentar lagi." jawab Al ketus


"Hish. Kenapa galak banget sih." ujar Kia dalam hatinya


Dan tanpa berpikir panjang, Kia pun segera memalingkan pandangannya dari Al. Ia tak mau berurusan lagi dengannya. Dan memilih memejamkan matanya seperti yang diperintahkan Al. Karena itu adalah hal yang tepat baginya, daripada harus terus berhadapan dengan pria dingin seperti Al.


Sedangkan Al, ia terus fokus mengemudikan mobilnya dengan sesekali melihat peta agar tak salah jalan.


🕗 Namun baru saja Kia memejamkan matanya, Al menghentikan laju kendaraannya dan memarkirkan mobil tepat di bawah tebing.


Kia yang mengetahuinya sontak bangun dan bersikap siaga, apa lagi saat Al hendak mendekat menyentuh tubuhnya.


"Kau mau apa." teriaknya seraya mendorong tubuh Al menjauh


"Kau sudah gila ya. Beraninya kau mendorong ku." bentak Al


"Kau. Kau yang gila. Aku sudah tau pikiran mesum mu itu." sahut Kia


"Haha. Kau pikir aku mau dengan wanita bodoh seperti mu."


"Ya, kau bodoh. Jika kau tidak bodoh tidak mungkin aku harus blusukan ke tempat terpencil ini."


"Ma, maafkan aku tuan. Aku memang bodoh, tidak seharusnya aku lalai saat menjaga nona."


"Cepat lepaskan sabuk pengaman mu." ujar Al seraya tangannya meraih sabuk pengaman yang terpasang di tubuh Kia


"A, apa kita sudah sampai tujuan tuan." tanyanya dengan nada ragu


"Perjalanan masih lumayan jauh. Aku hanya ingin beristirahat sebentar."


"Ohh." ujar Kia lirih seraya menganggukkan kepalanya.


"Ayo cepat turun." pinta Al sembari tangannya membuka pintu mobil untuk segera turun


Mereka berdua pun turun. Dan Kia berjalan mengikuti Al dari belakang menuruni tebing.


"Pantai. Indah sekali tuan." sorak Kia takjub hingga tak sadar bahwa tangannya memeluk lengan Al


"Kau." ujar Al seraya memandang lekat wajah gadis di bawah bahunya itu

__ADS_1


"Ma, maaf tuan. Aku tidak sengaja." kata Kia dengan gugup dan segera melepaskan pelukannya


"Tidak apa- apa jika kau menginginkannya." ujar Al seraya menarik tangan Kia yang ingin melepaskan lengannya.


Akhirnya mereka pun turun ke bibir pantai dengan tangan Al yang menggandeng tangan Kia.


"Ada apa dengan pria dingin ini. Apa dia sudah kerasukan penunggu tempat sini." umpat Kia dalam hatinya sembari berjalan dan terus memandang tangan yang digandeng erat oleh Al.


"Apa kau grogi." ungkap Al


"Hah. Ma, maksud tuan." ujar Kia gugup


"Tangan mu seperti balok es."


Kia yang mendengar ucapan Al, lantas ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Al. Namun, lagi- lagi Al tidak mengijinkannya untuk terlepas.


"Apa kau tidak pernah bergandengan tangan dengan pria sebelumnya." tanya Al


"Hah." ujar Kia yang merasa kaget mendapat pertanyaan semacam itu dari pria dingin seperti Al


"Aku sudah tau jawabannya."


"Maksud tuan." tanya Kia kebingungan


"Lihat wajah mu. Memerah seperti tomat."


"Apa." lantas Kia menundukkan wajah yang katanya seperti tomat itu. Ia benar-benar merasa malu saat ketahuan dirinya sedang menahan grogi di hadapan pria dingin yang sedang menggandeng tangannya.


"Haha. Kau itu lucu sekali." ujar Al seraya tertawa terbahak-bahak


"Hah. Apa yang terjadi dengan dirinya. Dia tertawa. Sumpah seumur hidupku, ini baru pertama kalinya melihat pria dingin tertawa seperti itu. Apa dia benar-benar sudah kerasukan." pikir Kia dalam hatinya


Al yang melihat reaksi Kia saat dirinya tertawa pun langsung menghentikan tawanya dan melepaskan tangan Kia dari genggamannya.


"Cepat lah kau jalan di depan." pinta Al


"Hish. Pria aneh." umpat Kia dalam hatinya. Namun, ia tetap saja menuruti perintah Al dan segera berjalan di depan Al.


Akhirnya mereka pun sampai di bibir pantai. Al memilih duduk dan memandang ombak yang menghampiri. Sedangkan Kia memilih untuk menyusuri tepi pantai seraya berpose dengan kamera hapenya.


Namun, saat sedang asyik mengambil gambar dengan hapenya, ia melihat seorang wanita yang persis seperti nona nya. Lantas ia pun berlari kembali pada Al untuk memberi tau apa yang baru saja ia lihat.


"Tuan. Aku melihat nona Zahra di sana." teriak Kia dari kejauhan


Lantas Al yang mendengarnya langsung berlari ke arah Kia dan memintanya untuk menunjukan keberadaan wanita itu.

__ADS_1


"Akhirnya kita bertemu kembali nona." ujar Al saat melihat wanita itu


__ADS_2