
Akhirnya sampailah mereka di kediaman orang tua Zahra. Ya, setelah melakukan perjalanan selama dua belas jam. Melewati banyak batas kota, hingga menerobos jalanan desa yang penuh lubang.
Mereka turun dari mobil. Dan masyarakat serta keluarga Zahra terlihat riuh menyambut kehadiran mereka.
Tak terkecuali ibu tiri dan saudara-saudara tiri Zahra. Mereka ikut menyambut kehadiran Zahra dan juga Deon dengan ramah.
"Ini aneh sekali. Apa sebenarnya yang sudah dilakukan Deon pada mereka." batin Zahra ketika melangkahkan kakinya menghampiri mereka
"Zahra sayang, kau semakin cantik saja." ujar ibu tirinya menghambur memeluk Zahra begitu saja
"Ah. Kau bisa saja." jawab Zahra merasa canggung
Tak lupa juga di sana ada beberapa orang yang datang menghampirinya dan mengalungkan beberapa kalung bunga padanya dan juga Deon.
"Ayo. Ayo sayang. Masuklah. Ajak suami mu masuk juga." ujar ayah Zahra dengan senyum lebarnya
"Apa. Suami." batin Zahra kaget
"Astaga. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Deon pada mereka. Barangkali Deon main dukun." Batin Zahra lagi
Zahra pun hanya bisa mengikuti kemauan ayahnya. Berjalan masuk dengan tangan yang terus bergandengan dengan Deon.
"Silahkan duduk nak." ayah Zahra mempersilahkan Deon dan juga Zahra duduk
Sedangkan ibu tiri dan para saudara tiri Zahra, mereka langsung pergi ke belakang dan repot mengeluarkan setiap hidangan yang ada.
"Benar-benar aneh. Bagaimana Deon bisa melakukan semua ini." Zahra terus membatin tak percaya.
Ya, perlakuan mereka berubah terhadap Zahra seratus persen berubah. Yang biasanya ibu tiri dan saudara-saudara tirinya berbuat jahat, sekarang palah seperti menganggap dirinya tamu kehormatan.
"Bagaimana nak. Apa keadaan mu baik- baik saja." ucap ayah Zahra memulai obrolan
"Iya yah. Zahra sehat. Zahra baik- baik saja." jawab Zahra
"Bagaimana dengan ayah. Apa ayah baik- baik saja selama ini." tanya Zahra balik pada ayahnya
"Ayah baik- baik saja. Apalagi dengan kedatangan mu hari ini. Ayah lebih baik dari biasanya."
__ADS_1
"Ah, ayah. Ayah membuat Zahra canggung."
"Tak perlulah kau canggung. Masa iya anak sama orang tua sendiri canggung."
"Hehe." jawab Zahra yang kelewat canggungnya dengan meringis
"Oh ya. Bagaimana acara kalian." tanya ayah Zahra yang membuat Zahra bingung seketika
"Itu. Akan kami laksanakan Minggu depan. Dan kami harapkan, anda bisa hadir di sana." jawab Deon seketika
"Oh ya ya. Minggu depan ya. Ayah pasti akan datang untuk hari pernikahan anak kesayangan ayah ini."
Deg
"Apa. Jadi, pernikahanku hanya tinggal menghitung hari lagi. Kenapa Deon tak pernah mengatakannya padaku. Dan ayah, bagaimana dengan mudahnya ia setuju."
"Sebenarnya apa sih yang sudah terjadi. Baru saja di luar ayah menyebut Deon suami ku. Tapi sekarang membicarakan hari pernikahan ku. Benar-benar aneh."
"Dan lagi. Kenapa ayah sama sekali tak mengomentari perut buncit ku ini. Apa memang tidak terlihat. Hmm."
Zahra terus disibukan dengan keanehan yang terjadi. Ia terus berpikir, apa sebenarnya yang sudah terjadi pada keluarganya dan masyarakat di sini.
"Deon. Aku merasa canggung di sini. Aku merasa ayah dan lainnya tidak seperti biasanya." bisik Zahra pada Deon yang berada tepat disampingnya
"Kita akan segera pergi jika kau ingin." ucap Deon
"Baiklah. Kita akan pergi setelah ini." pinta Zahra
Kerinduan berubah jadi kecanggungan. Rasanya Zahra palah ingin cepat pergi dari kediaman orangtuanya.
"Ayah. Boleh aku melihat kamar ku sebentar." ujar Zahra meminta izin pada ayahnya
"Tentu saja boleh. Masuklah. Ibu dan saudara mu sudah membereskannya kemarin." jawab ayah Zahra mengizinkan
"Hish. Apa lagi coba. Membersihkan kamar ku. Kesurupan kali mereka." batin Zahra seraya kakinya melangkah menuju kamarnya yang berada di ruang belakang
Tak disangka, ketika ia hampir masuk ke dalam kamarnya, saudara dan ibu tirinya menyapa.
__ADS_1
"Zahra. Kau itu beruntung sekali. Mendapatkan lelaki tajir melintir seperti itu." ucap salah satu saudara nya
"Zahra itu bukan beruntung. Tapi dia pandai merayu. Lihat saja. Perutnya sudah membuncit sebelum menikah. Hahaha." sindir saudara yang lainya
"Heh Zahra. Jangan pikir kita berbuat baik pada mu karena tulus ya. Andai saja pria tampan itu tak memberi kami uang, mana mungkin kami mau menghidangkan makanan untukmu. Cuih." ujar ibu tirinya seraya membuang ludah tepat di depan Zahra
"Oh. Jadi karena uang. Dih, kasian banget sih kalian. Cuma gara- gara uang mau saja jadi pelayan ku." jawab Zahra spontan
"Heh. Maksudmu apa. Kau lancang sekali ya. Beraninya menjawab perkataan ibu." ujar saudaranya kesal
"Kalian itu miris sekali. Biar kalian hina aku, tapi lihat. Hidup kalian tak lebih bahagia dariku. Bahkan, kalian mau saja disogok untuk meladeni ku. Haha." Zahra terus memberontak. Ia benar-benar merasa kesal, hingga mengeluarkan kalimat- kalimat yang spontan tapi bisa membuat ibu dan saudara tirinya merasa rendah.
"Kau itu ya. Benar-benar lancang."
Salah satu saudaranya mendekat dan hampir saja menampar pipi Zahra. Namun segera dihalau oleh tangan Deon yang rupanya sedari tadi berada di sana mengikuti Zahra.
"Yang dikatakan Ara memang benar. Kalian tidak perlu tersinggung." ujar Deon pada ibu dan saudara tiri Zahra
"Ayo pergi dari sini." pinta Deon pada Zahra.
Ia pun keluar menggandeng tangan Zahra dengan amarah. Bagaimana tidak. Mereka benar-benar keterlaluan. Setelah diberikan uang dengan jumlah yang banyak sebagai syarat untuk menyambut Zahra dengan baik, nyatanya mereka tetap berbuat kurang ajar pada Zahra.
"Deon. Pelan- pelan." ujar Zahra yang tak bisa mengimbangi langkah kaki Deon
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan keluarga mu. Mereka sangatlah picik." ujar Deon yang sudah dipenuhi amarah.
Deon terus membawa keluar Zahra dan mengisyaratkan pada Al agar segera kembali ke kota.
"Deon. Biarkan aku berpamitan pada ayah." ujar Zahra meminta izin pada Deon sebelum kembali ke kota
Zahra pun berjalan mendekati ayahnya yang terlihat bingung.
"Ayah. Sebenarnya apa yang sudah terjadi. Seharusnya ayah marah pada Zahra. Tapi ayah memang sudah berubah setelah kepergian ibu. Ayah terdiam hanya karena uang. Sebenarnya, jika memang ayah mau marah pada Zahra. Zahra terima yah. Zahra memang salah. Tapi ayah palah sebaliknya. Dan Zahra merasa begitu canggung. Seperti Zahra mendatangi orang tua lain saja."
"Maafkan atas kelakuan Zahra dan juga Deon yah. Zahra pamit." ujar Zahra pamit pada ayahnya
Hanya itu saja yang bisa Zahra katakan pada ayahnya. Begitu besar rasa kecewanya. Kecewa pada ayah dan kesal pada kelakuan Deon.
__ADS_1
Bisa- bisanya ia menggelontorkan uang hanya untuk menutup mulut orang- orang.