
Hari sudah berganti hari lagi. Rasanya sangat cepat hari berlalu. Zahra terbangun dengan suasana tak semangat. Entah, mungkin karena seharian kemaren ia benar- benar merasa seperti tinggal seorang diri. Walaupun kenyataannya mansion yang ia tempati begitu banyak penghuni.
Ia beranjak dari ranjang nya. Mengambil handuk di ujung ruangan. Melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi. Ya, untuk kedua kalinya Zahra akan mandi di kamar mandi yang luas ini. Ia pun segera menenggelamkan tubuh nya di bathtub.
Menghilangkan segala rasa penat dan jenuh. Merefresh kan pikiran nya. Menata ulang tujuannya.
Ia pun mengingat tujuan awal nya untuk balas dendam. Jadi, seharusnya sekarang ia tak perlu repot-repot lagi memikirkan sikap Deon yang berubah menjauhinya.
Ia meneguhkan hati nya lagi. Dan ia pun akan segera memutuskan hari yang tepat untuk membawa pergi jauh anak nya dari kehidupan Deon.
🕗 Setelah hampir satu jam berendam, akhirnya Zahra pun menyudahinya. Setelah sebelumnya seorang pelayan datang meminta nya untuk segera menuju ruang makan.
Lantas, ia bergegas dandan dan memakai pakaian yang menurutnya pantas.
Ia pun turun menghampiri Deon, Al, dan Kia yang rupanya sudah berada di sana.
"Duduk lah di sampingku." ucap Deon dengan nada dingin mengisyaratkan agar segera bergabung dan duduk di sampingnya
Zahra pun segera duduk di samping Deon. Walau hati nya merasa gundah lagi karena sikap dingin Deon, namun ia tetap diam dan mencoba tetap tenang. Ia memakan hidangan yang sudah tersaji di depan nya. Walaupun memang dia sama sekali tak menikmatinya, tapi ia berusaha untuk menghabiskan nya.
Dan saat suapan terakhir akan masuk ke dalam mulut Zahra, seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka di meja makan.
Ia menyodorkan sebuah kertas kepada Deon, yang katanya adalah jadwal dan syarat untuk tes DNA.
Tak lama setelah Deon melihatnya, ia pun memberikan kertas di tangan nya pada Zahra.
"Kau datanglah ke Rumah Sakit sesuai jadwal. Nanti Kia akan menemani mu." ujar Deon menyerahkan secarik kertas. kemudian berlalu meninggalkan meja makan begitu saja.
__ADS_1
Zahra pun membacanya, dan benar saja dugaannya. Kertas di tangannya berisikan jadwal dan syarat DNA atas anak yang di kandungnya.
Seketika air mata rasanya ingin tumpah. Ia pun buru- buru berlari kembali ke kamarnya.
Ia menumpahkan air mata dan segala emosi yang bergejolak dalam dada nya. Ia benar- benar tak menyangka, ayah dari anak yang di kandungnya bisa berubah hanya dalam hitungan menit.
Lalu, apa sebenarnya arti dari perhatiannya selama ini. Bahkan, dua hari yang lalu, ia baru saja mengatakan cinta nya. Semuanya benar- benar masih dapat tergambar dengan jelas. Disaksikan senja di tepi pantai, bibir itu mengucapkannya tanpa ragu. Bahkan berulang kali ia mengulanginya. Memberikan isyarat, bahwa cintanya dan semuanya akan baik- baik saja.
Tapi apa yang terjadi kali ini. Bahkan Zahra yang ingin balas dendam pun malah dibuatnya patah hati.
Rasanya ingin sekali ia mencurahkan segala rasa yang berkecamuk dalam hati nya. Ia sangat membutuhkan sandarannya di tempat yang asing ini. Namun siapa? orang yang paling dekat pun kini tidak bisa dipercaya.
Zahra bangkit dari tempatnya tersungkur, diletakkannya secarik kertas di tangan nya. Di biarkan nya teronggok begitu saja di atas meja.
Ia melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi. Dibasuhnya wajah nya. Dibuangnya air matanya.
Lalu ia berjalan balik menuju lemari pakaian. Mengambil sehelai pakaian kemudian memakai nya.
Saat dirasa persiapan sudah selesai, ia pergi ke meja rias. Memoles sedikit wajah natural nya. Kemudian mengambil kertas yang dibiarkan nya tadi di atas meja. Ia meraihnya dan langsung merobeknya menjadi berkeping- keping.
Ia pun menegakan tubuhnya. Meneguhkan lagi hati nya. Menasehati lagi dirinya, bahwa jangan sampai ada air mata keluar lagi.
Setelah benar- benar siap. Ia pun berjalan keluar menuruni tangga. Ia berusaha tegar dan baik- baik saja, walau apapun yang akan terjadi.
Ia tidak salah dan ia tidak berbohong. Bahkan tentang kehamilannya, ia berani bersumpah di depan semua orang. Ini adalah anak Deon. Bahkan jika diminta, ia pun siyap bersumpah bahwa Deon adalah satu- satunya laki- laki yang pernah tidur bersamanya.
"Antar aku sekarang ke rumah sakit." ucap Zahra tegas tanpa ragu
__ADS_1
Mendengar suara Zahra, semua mata disana pun langsung tertuju padanya. Tak terkecuali Deon. Ia pun kaget bukan main.
Dilihatnya Zahra yang begitu tegas tak seperti biasanya. Apalagi riasan di wajah nya. Semua itu benar- benar akan membuat orang salah sangka bahwa itu bukan Zahra.
Tak mau menunggu lama hanya dengan tatapan orang- orang yang telah dianggapnya tak berguna, ia pun berlalu meninggalkan mereka.
Ia berjalan keluar yang juga diikuti oleh langkah Kia.
Sesampainya di luar, seorang sopir pun langsung membukakan pintu mobil untuk nya.
Zahra pun bergegas masuk dan duduk di bangku belakang tanpa ragu. Sedangkan Kia yang menemaninya, ia memilih untuk duduk di depan bersama sang sopir.
Mobil melaju dengan kecepatan standard. Namun, jarak rumah sakit yang dekat pun tak perlu di tempuh dengan waktu yang lama walaupun dengan kecepatan standard.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Zahra pun bergegas turun. Sedangkan sopir melajukan mobilnya menuju ruang parkir.
Kia yang juga ikut turun bersama Zahra, ia lantas membawa Zahra menemui dokter yang telah di tentukan.
Ia menuju sebuah ruangan. Diberikannya syarat- syarat yang diminta. Dan ia segera keluar sesaat setelah sang dokter mengijinkannya untuk menunggu di luar.
Zahra pun memuluskan rencananya. Tanpa sepengetahuan Kia, ia masuk ke kamar mandi. Mengganti pakaiannya lalu meninggalkan segalanya begitu saja di sana. Hanya sebuah kalung yang ia coba simpan di dalam sakunya.
Ia berjalan tanpa ragu melewati Kia yang sedang menunggunya. Selangkah demi selangkah, akhir nya ia bisa menjauh dari Kia.
Zahra pun berlari menuju seorang wanita yang melambaikan tangan nya. Rupanya wanita itu tak lain adalah Nia. Mereka pun masuk ke dalam mobil, lalu pergi meninggalkan rumah sakit tanpa seorangpun menyadarinya.
Ya, sebelum memutuskan pergi ke rumah sakit. Rupanya Zahra sudah berusaha menghubungi Nia terlebih dahulu. Ia menceritakan segala yang sedang terjadi pada dirinya. Dan akhirnya, Nia pun memutuskan untuk membantu Zahra kabur dari keegoisan Tuan CEO.
__ADS_1
Nia mengemudi dengan kecepatan maksimal. Ia berusaha untuk sesegera mungkin menjauh dari orang- orang suruhan Deon.
Ia melajukan mobil nya ke tempat jauh disana. Tempat yang sudah mereka sepakati sebelum nya. Tempat dimana mereka berharap, bahwa orang- orang egois itu tidak akan pernah menemukannya.