Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Kepercayaan Zahra


__ADS_3

Matahari sudah terbenam sempurna. Dan drama antara Deon juga Zahra telah usai.


Kini keduanya terlihat berbaikan. Zahra terlihat sudah luluh dan percaya pada Deon.


Mereka berdua melangsungkan makan malam. Dengan Zahra yang duduk tepat di samping Deon.


Para pelayan yang melihatnya pun ikut senang. Seolah merasakan apa yang dua sejoli itu rasakan.


"Kau makanlah yang banyak." ujar Deon seraya menaruh beberapa lauk pauk di piring Zahra


"Sudah. Sudah cukup. Aku akan kekenyangan jika kau terus menerus menaruh makanan di piring ku." ujar Zahra yang kewalahan melahap setiap makanan di hadapannya


"Kau perlu makan banyak, Ara."


"Sudah banyak makanan yang masuk dalam mulut ku. Kau saja yang makan. Aku kenyang." ungkap Zahra menolak ketika Deon menyodorkan sepiring makanan lagi untuknya


"Baiklah kalau kau sudah kenyang. Tapi habiskan dulu makanan yang ada di piring mu itu."


"Iya. Akan aku habiskan." jawab Zahra


"Setelah ini kau harus istirahat. Besok sebelum fajar, aku akan membangunkan mu. Kita akan berangkat menuju kediaman orangtuamu sebelum matahari terbit."


"Baiklah. Aku paham itu." ujar Zahra menganggukkan kepalanya


"Apa kau merasa senang saat ini."


"Tidak juga."


"Kau tidak senang akan bertemu orangtuamu."


"Hanya ayah."


"Iya. Bertemu ayah mu. Apa kau tidak merasa senang."


"Tidak. Justru aku merasa takut."


"Kenapa begitu. Harusnya kau senang. Kau sudah lama tidak bertemu dengannya kan."


"Iya karena itu. Sudah lama tidak bertemu. Pulang- pulang perut sudah buncit. Hmm. Entah apa yang akan ayah lakukan padaku." ungkap Zahra dengan raut wajah sedih


"Kau tenanglah. Aku akan menemanimu. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya." ujar Deon meyakinkan Zahra


"Baiklah. Kali ini aku percaya padamu tuan muda."


"Kau memang harus percaya padaku. Karena aku tak pernah berbohong pada mu."


"Iya, tuan muda."


"Ya sudah. Kau sudah selesai makan kan. Sekarang istirahat lah."


"Baik."


Zahra beranjak dari duduknya dengan ditemani Deon menuju kamarnya.

__ADS_1


Sesampainya di kamar.


"Apa kau akan tidur di sini juga." tanya Zahra pada Deon


"Tentu saja. Ini kan kamar ku." jawabnya


"Sudahlah. Tidur saja sana. Aku tidak bisa menemanimu tidur sekarang. Aku masih ada urusan." lanjut Deon


"Lagian siapa yang minta ditemani tidur. Pergilah sana." ketua Zahra


"Hish. Ingat. Tengah malam aku akan kembali. Jangan kau kunci pintu kamarnya. Aku tak mau menunggumu membukakan pintunya." pinta Deon


"Baik tuan muda Deon Sasaga." ujar Zahra dengan wajah meledeknya


Deon pun pergi meninggalkan Zahra setelah mewanti- wanti nya.


Ia berjalan menuruni anak tangga menuju ruangannya bekerja.


Terlihat di sana sudah ada Al dan beberapa ajudannya.


"Bagaimana kerja kalian hari ini." ujar Deon mengawali


"Lapor tuan. Mata- mata tuan Demian sudah kami temukan. Tapi mereka tetap tidak mau membuka mulut mereka." ungkap salah seorang ajudan


"Seharusnya tuan tidak melarang kami melakukan kekerasan pada mereka. Jika begitu, mungkin mereka mau membuka mulut mereka dan mengatakan apa tujuan mereka." sambung salah seorang lainnya


"Itu tidak perlu. Kita semua sudah tau apa tujuan Demian sedari dulu. Adalah menjatuhkan Sasaga Corp." ujar Deon


"Mulai sekarang. Kita ikuti saja permainan Demian." ujar Deon


"Maksud tuan. Kita hanya akan diam saja."


"Kita akan buat Demian yang hancur dengan permainan nya sendiri." ungkap Deon


"Baik tuan. Kita mengikuti arahan tuan." jawab para ajudan


"Dan kau Al. Bagaimana kesiapan untuk besok." tanya Deon pada Al


"Semuanya sudah siap tuan. Kita akan berangkat sebelum matahari terbit. Seperti yang tuan mau." jawab Al


"Semua barang bawaan dan oleh- oleh untuk keluarga nona juga sudah kami siapkan seperti yang tuan mau." lanjut Al


"Tapi saya hanya membawa dua rombongan saja untuk berjaga tuan. Mengingat kondisi nona dan tempat tinggal nona yang di kampung. Saya khawatir akan mengundang kerumunan sesampainya di sana. Dan pastinya nona yang akan kena imbasnya." lanjut Al terus menerangkan


"Baik. Kerja yang bagus." jawab Deon menimpali penjelasan Al


"Kalian semua sudah bekerja dengan baik hari ini. Kalo begitu, sekarang istirahat lah." ujar Deon menyudahi pembicaraan nya dengan para bawahannya.


"Baik tuan. Terimakasih banyak tuan." ujar para ajudan serentak


Mereka pun membubarkan diri. Dan Deon kembali menuju kamarnya untuk beristirahat.


Sesampainya di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Astaga. Gadis bar- bar. Tidak mungkin kau tidak mengunci pintunya kan. Hmm. Sayangnya aku punya banyak serep setiap pintu di mansion ini." ujar Deon dengan menyunggingkan bibirnya


Lantas, ia segera membuka pintu dengan kunci serep yang sudah ia bawa sebelumnya.


Ia berjalan masuk ke dalam kamar. Melepas sebagian pakaian nya dan langsung membaringkan tubuhnya tepat di samping Zahra yang terlihat sudah tertidur.


Tapi rupanya.


"Kau. Bagaimana kau bisa..." kaget Zahra saat dirinya sadar ada orang lain di sampingnya.


Ia langsung bangkit dan duduk terheran- heran memandangi pria di depan matanya itu.


"Kau tak perlu kaget seperti itu. Aku adalah pemilik tempat ini. Dan aku punya banyak kunci serep setiap pintu di sini." ujar Deon yang bodoh amat dengan ekspresi Zahra. Ia tetap membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya


"Hish. Jika kau punya kunci serep setiap pintu di sini. Kau pasti juga punya banyak ruang kosong untuk ditempati kan. Kenapa kau harus tidur di sini juga." ujar Zahra


"Ini adalah kamarku." jawab Deon dengan santainya


"Baiklah. Kalo begitu biar aku saja yang cari tempat lain." ujar Zahra yang akan beranjak dari tempat tidurnya. Namun segera di hentikan oleh Deon.


"Lepaskan tanganku." ujar Zahra pada Deon yang mencoba menghalangi nya untuk pergi


"Kau mau kemana." tanya Deon


"Mencari kamar lain."


"Tidak ada kamar kosong di sini."


"Benarkah. Kamar dulu yang pernah aku tempati di sini." tanya Zahra


"Sudah aku jadikan gudang."


"Kau berbohong." ujar Zahra yang hendak bangkit. Tapi lagi-lagi di halau oleh Deon


"Sudahlah. Kau tidur di sini saja. Ini sudah malam. Besok kau harus bangun sebelum matahari terbit. Kau ingat itu kan."


"Tentu saja aku ingat. Tapi aku tak mau tidur seranjang dengan mu." jawab ketus Zahra


"Kenapa. Kau pasti akan merasa lebih hangat tidur dengan ku kan."


Blugg...


"Dasar mesum." ujar Zahra dengan melempar satu buah bantal tepat mengenai Deon


"Gadis bar- bar. Cepatlah tidur. Tidak usah banyak drama. Tidur dengan ku itu menyenangkan." ujar Deon meledek Zahra yang terlihat cemberut


"Aku tidak mau tidur seranjang dengan mu. Lebih baik cepat lepaskan tanganku. Atau aku tidak akan tidur sampai pagi." ancam Zahra


Tapi, alih- alih Deon melepaskan tangannya. Ia palah menarik tangan Zahra dan menenggelamkan tubuh Zahra dalam pelukannya.


"Diam dan cepatlah tidur. Aku tidak akan melepaskan mu." ujar Deon pada Zahra


Zahra pun hanya bisa pasrah. Memberontak pun, dirinya tidak akan bisa lepas dari dekapan tubuh kekar Deon.

__ADS_1


__ADS_2