Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Perpisahan


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu. Zahra sudah mulai terbiasa hidup di tempat tinggal baru nya. Bahkan, ia terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.


Ya, semua itu berkat pelariannya yang berhasil. Ia pergi dari kehidupan Deon dengan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


Dan dalam hati kecilnya berharap, jangan sampai orang- orang itu menemukan keberadaannya.


Ia berharap, sekarang dan untuk selamanya. Memulai hidup baru yang lebih tertata. Bekerja untuk dirinya sendiri sembari menanti sang buah hati.


Dalam hatinya, nama Deon Sasaga, samasekali tak terbersit lagi. Yang ia pikirkan adalah, ia harus bisa menjadi orang tua tunggal bagi anaknya.


"Zahra. Cepat kau bersihkan telor- telor ini." ujar nenek Saimah sambil menyodorkan telor bebek yang sudah dipanen dalam ember


Zahra pun segera mengambil nya dan bergegas membersihkan telor- telor bebek seperti perintah nenek Saimah.


Nenek Saimah adalah nenek dari Nia dan juga Ryan. Ia seorang janda berumur 65 tahun. Dan sekarang, Zahra tinggal bersamanya. Ia bekerja membantu nenek Saimah. Berternak bebek, memanen telor bebek, dan memproduksi nya menjadi telor asin.


"Nenek, semuanya sudah aku bersihkan." ujar Zahra memanggil nenek Saimah yang masih terlihat berada di kandang


"Baik lah. Ayo kita membuatnya menjadi telor asin." ajak nenek Saimah sembari berjalan ke arah Zahra


Mereka pun melakukan kegiatan rutinitasnya dengan senang hati.


Nenek Saimah terlihat begitu menyayangi Zahra. Ia tidak memandang Zahra seperti orang asing. Justru ia menganggapnya seperti cucu nya sendiri, seperti Nia dan juga Ryan.


"Zahra. Berapa sekarang umur kandungan mu." tanya nenek Saimah dengan lembut penuh perhatian


"Ohh ini. Zahra lupa nek. Zahra gak tau sekarang umur berapa." jawab Zahra lugu


"Kau itu. Bagaimana bisa tidak memperhatikan anak mu sendiri."


"Maaf nek. Tapi bukan begitu maksud ku. Aku hanya tidak tau apa yang harus aku lakukan."


Nenek yang sudah tau duduk permasalahannya pun mencoba menenangkan Zahra dengan menepuk punggung tangan nya.


"Sudah lah. Kau jangan khawatir. Besok pagi, nenek ajak kamu ke puskesmas terdekat. Biar kamu tau bagaimana kondisi anak dalam kandungan mu itu." ujar nya


Merasa mendapatkan perhatian dari nenek, Zahra pun memeluk tubuh nenek yang berada tepat di sampingnya.


"Terimakasih nek. Nenek sudah menerima kehadiran ku dengan baik. Nenek juga begitu perhatian padaku dan juga pada anak ku." tutur Zahra

__ADS_1


"Sudah seharusnya memang, kita sesama manusia saling membantu dan menyayangi. Kau tak perlu sungkan." nenek Saimah yang notabene adalah seorang guru, ia pun mencoba memberi nasihat pada Zahra


"Baik nek. Terimakasih banyak."


🕗 Pagi berganti sore. Masih di tempat yang sama. Di sebuah desa di bawah kaki gunung. Zahra yang baru saja selesai mandi, mencoba merilekskan pikiran nya dengan menaiki bukit yang tak jauh dari tempat tinggalnya saat ini.


Ia duduk di sebuah bangku yang ada di sana. Dihirupnya udara dingin sore hari. Matanya memandang jauh ke depan tanpa batas. Dan hatinya pun dihinggapi perasaan damai.


"Sayang. Ibu di sini ada untuk mu. Kau tak perlu khawatir lagi. Aku Takan pernah meninggalkan mu." ujar Zahra Sembari mengelus perut yang terlihat mulai membuncit


"Zahra. Ternyata kau di sini." tiba- tiba suara seorang lelaki membuyarkan lamunan. Ia melangkahkan kaki nya mendekati Zahra yang seorang diri di sana


"Kau. Kenapa kau bisa disini. Sepertinya kau pulang lebih cepat dari jadwal mu." sapa Zahra yang merasa tidak asing padanya, yang ternyata dia adalah Ryan.


"Nenek memintaku agar segera pulang. Dia ingin aku mengantarkan mu ke puskesmas." ungkapnya


"Tapi itu kan masih besok pagi." ujar Zahra


"Apa aku tidak merepotkan mu." lanjutnya


"Tentu tidak. Aku dengan senang hati akan mengantar mu." jawab Ryan dengan senyum muncul di bibirnya


Hingga akhirnya, percakapan merekapun terhenti tatkala hari semakin gelap. Mereka berdua pun bergegas kembali. Berjalan berdua menyusuri jalan desa. Hingga akhirnya pun sampai kembali ke rumah.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Di tempat lain,


Deon yang masih juga belum mendapatkan semangatnya kembali, ia dengan terpaksa berkemas untuk kembali ke tempat kelahirannya.


Bukan karena tanpa alasan, namun itu semua adalah perintah dari ke dua orang tuanya yang harus di laksanakan.


Dan dengan langkah tertatih, ia pun berjalan meninggalkan semua kenangannya bersama Zahra.


Dalam hatinya masih sangat berat untuk kehilangan wanita pujaannya. Namun, tekad kuatnya tidak akan pernah menyerah. Ia berjanji akan segera kembali dan menemukan gadisnya kembali.


Ia pun segera berangkat ke bandara setelah semua persiapannya selesai. Ia pergi dengan raga yang terlihat tegar, namun lara yang dirasa dalam hatinya.


Dan hari itu, menjadi saksi bisu perpisahan dua insan yang menyedihkan.

__ADS_1


"Al. Kau ingat. Kau masih berhutang padaku. Kau harus segera menemukan Zahra dimana pun dia berada." ujar Deon pada Al yang ikut mengantarkannya ke bandara.


"Tentu tuan. Saya pasti akan menemukan nya." jawab Al menenangkan hati tuan nya


"Aku pegang omongan mu itu."


"Baik tuan."


"Dan ingat. Aku akan segera kembali ketika semua urusan ku di sana selesai."


"Kau jangan pernah berharap aku akan berlama- lama di sana."


"Tidak tuan."


"Aku mau, disaat kepulangan ku kembali kesini. Kau harus sudah menemukan keberadaan Zahra dan anak ku."


"Baik tuan."


"Dan satu lagi. Ingat perkataan ku ini baik- baik. Kau jangan pernah berfikir untuk memiliki hubungan dengan wanita manapun, jika kau tak bisa menemukan Zahra." ancam Deon dengan raut wajah serius dan mata yang seakan ingin lompat dari tempat nya


"Baik tuan. Saya mengerti." jawab Al dengan wajah lesu tertunduk.


Saat ini dan seterusnya, sebelum ia menemukan nona nya, ia harus memendam dalam- dalam perasaanya pada wanita yang dikasihi nya.


"Baguslah kalau kau mengerti."


"Ku harap, kau tidak akan mengulangi kesalahan mu. Atau kau tidak akan pernah bisa berhubungan dengan wanita manapun." imbuhnya


"Tidak tuan."


Percakapan mereka pun terhenti setelah seorang lelaki mendatangi mereka berdua.


"Tuan, penerbangan sudah siap." ujar pria pada Deon


"Baik lah. Ayo kita berangkat." perintah Deon yang langsung melangkahkan kaki nya menuju runway bandara. Dan ia pun segera terbang menggunakan pesawat pribadi keluarga nya menuju tempat kelahirannya.


Ia pun berpisah dengan Al di sana. Dengan meninggalkan sebuah ancaman bagi Al.


Al yang ikut merasakan patah hati karena ancaman tuan nya, ia pun kembali dengan perasaan yang sama sekali tidak nyaman. Ia gundah memikirkan bagaimana caranya agar ia sesegera mungkin bisa menemukan nona dan juga anak tuan nya. Agar ia bisa segera mengungkapkan rasanya pada wanita pujaannya, yang rupanya adalah Kia.

__ADS_1


__ADS_2