Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Perjalanan Kembali


__ADS_3

Dengan rasa amarah, akhirnya Deon membawa kembali Zahra ke kota.


Niat awal untuk bersilaturahmi juga membicarakan acara pernikahan rupanya menjadi hal yang tak mudah. Ya, karena tipikal keluarga Zahra yang begitu picik.


Akhirnya perjalanan jauh yang ditempuh pun hanya membuahkan kekecewaan.


"Deon. Aku kecewa." ujar Zahra dalam perjalanan kembali ke kota


"Sudahlah. Lupakan saja mereka. Kau tak perlu menemui mereka lagi."


"Bukan hanya itu. Aku kecewa pada mu."


"Kenapa aku. Aku mengecewakan mu karena apa." tanya Deon tak mengerti


"Kenapa kau menyuap mereka."


"Aku tidak menyuap. Mereka yang meminta."


"Apa kau mau bilang ayah yang meminta uang dari mu." tanya Zahra tak percaya


"Bawahan ku datang ke kediaman orangtuamu. Mereka bermaksud baik. Mereka sampaikan kabar akan hadirnya kita. Dan juga, mereka ceritakan tentang kehamilan mu dan hari pernikahan kita. Agar mereka tak syok dan palah mencaci maki mu. Mereka hanya ingin memberi pengertian saja. Semuanya untuk kebaikan kamu."


"Karena tak mungkin juga kau tak datang meminta izin pada ayah mu."


"Tapi, mereka palah meminta syarat berupa uang. Dan tentunya, aku, sebagai lelaki yang mencintaimu mengiyakan semuanya. Itu demi kamu."


"Tapi mereka benar-benar picik. Sudah dapat uang. Masih saja berani mencaci mu."


Deon menerangkan semuanya yang sebenarnya terjadi.


Zahra hanya bisa terdiam lesu mendengarnya. Ayahnya benar- benar berubah.


"Lalu dengan orang-orang lainya di sana. Bagaimana bisa mereka menyambut kedatangan ku." tanya Zahra lagi


"Itu, aku tidak tau."


"Kau benar-benar tidak tau." tanya Zahra curiga


"Aku tidak tau, Ara."


"Berapa uang yang kau berikan pada keluarga ku."


"Kau tak perlu mengerti itu."


"Aku perlu tau. Jawab pertanyaan ku Deon." pinta Zahra


"Lima milyar."


"Apa. Lima milyar." Zahra syok mendengar nominal yang diucapkan Deon. Ia tak bisa percaya. Tubuhnya lemas seketika.


"Ara. Kau kenapa. Kau tidak apa- apa kan. Jangan membuat ku khawatir." ujar Deon khawatir melihat wanita pujaannya lemas pucat seketika


"Al. Cepat cari rumah sakit terdekat." teriak Deon pada Al

__ADS_1


"Baik tuan." jawab Al


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya masih belum bisa percaya saja." ujar Zahra lirih pada Deon


"Sudahlah. Kita tidak perlu bahas masalah ini lagi. Aku tak mau terjadi apa- apa pada mu."


Deon membaringkan tubuh Zahra dengan memangku kepalanya. Membiarkan Zahra tenang dan beristirahat.


"Cepat Al. Cari rumah sakit terdekat." perintah Deon lagi pada Al


"Tuan. Aku sudah mencarinya. Tapi jaraknya lumayan jauh. Hanya ada di kota tuan." jawab Kia seketika setelah melihat letak rumah sakit paling dekat lewat maps


"Astaga." gerutu Deon


"Berapa jam lagi kita akan sampai kota." tanya Deon


"Sekitar dua jam, tuan." jawab Kia


"Apa. Dua jam. Ini tidak baik Al. Cepat cari jalan tercepat." ujar Deon panik.


"Tuan. Ini jalan satu-satunya yang bisa kita lewati untuk sampai di kota."


"Ah. Tak seharusnya kita kemari. Sial." gerutu Deon yang semakin kesal


"Tuan. Tenang tuan. Saya akan berusaha agar cepat sampai di kota." ujar Al menenangkan tuannya seraya terus mengemudi


Akhirnya Deon pun hanya bisa pasrah. Di pandangnya wanita dalam pangkuan nya. Pucat dan terlihat sangat lemas.


"Ara. Bertahanlah." bisik Deon pada Zahra


"Baiklah. Istirahat lah. Tidur lah. Aku di sini akan menjaga mu." ucap Deon pada Zahra.


Dibelainya lembut wajah dan rambut Zahra. Dipandang nya terus tanpa berkedip. Hingga akhirnya, Zahra tertidur pulas di pangkuan nya.


...****************...


Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, sampailah mereka di sebuah rumah sakit di kota.


Segera mereka turun dan membopong masuk Zahra yang masih terlihat lemas.


Sesampainya di dalam, dokter langsung memberikan tindakan yang terbaik untuk Zahra.


Diperiksanya setiap kondisi Zahra dan juga kandungan nya.


"Suami atas nama ibu Zahra." Dokter memanggil


Deon yang menanti di luar ruangan langsung bangkit mendekati sang dokter.


"Masuklah pak." pinta dokter pada Deon


Lantas dokter memberikan penjelasan tentang keadaan Zahra sebenarnya.


"Ibu Zahra tidak apa-apa. Tapi anda harus tetap menjaganya agar tidak sampai kelelahan." ujar dokter menerangkan

__ADS_1


"Kandungan ibu Zahra juga baik- baik saja. Usia sudah masuk trimester ke dua. Sudah menginjak usia lima bulan." ucap dokter lagi


"Syukurlah dokter. Saya lega mendengarnya." ujar Deon yang merasa sedikit lega mendengar penjelasan dokter


"Tapi terus dijaga istrinya ya pak. Harus banyak-banyak istirahat."


"Baik dokter. Saya pasti akan menjaganya."


"Dan ini resep yang harus bapak ambil." kata dokter seraya menyerahkan selembar catatan resep pada Deon


"Baik dokter. Terimakasih banyak."


"Sama- sama pak. Bapak dan ibu bisa pulang sekarang." ujar dokter mempersilahkan


Deon pun membantu Zahra bangun dari tempat pemeriksaan.


"Terimakasih banyak dokter." ujar Zahra sebelum keluar dari ruangan


"Sama- sama Bu. Istirahat yang cukup ya." jawab dokter dengan senyum ramahnya


Akhirnya Deon membawa kembali Zahra ke mobilnya. Setelah sebelumnya meminta Al untuk membayar perawatan tadi dan juga menebus resep yang sudah diberikan oleh sang dokter.


"Deon. Terimakasih." ujar Zahra pada Deon


"Kau tak perlu berterimakasih. Sudah seharusnya aku melakukannya."


Senyum mengembang di bibir Zahra ketika mendengar perkataan Deon yang terlihat begitu tulus. Ini adalah senyuman pertama kalinya yang Deon dapatkan.


"Kau terlihat lebih cantik jika tersenyum begini." puji Deon pada Zahra


Deg...


Berdegup kencang jantung Zahra mendengar pujian Deon.


"Kenapa jantungku berdegup sangat kencang." batin Zahra seraya tangannya memegang dadanya


"Aku mencintaimu, Ara." ujar Deon dengan tatapan matanya membuat Zahra malu


"Ini. Sudah kesekian kalinya Deon bilang cinta. Tapi perasaanku. Apa aku juga mencintainya." batin Zahra lagi yang bingung dengan perasaannya sendiri


"Ara. Apa kau juga mencintaiku." tanya Deon pada Zahra yang sedari tadi terdiam.


Pertanyaan yang sangatlah membuat Zahra bingung. Ia tak tau harus menjawab apa.


Jantungnya saat ini berdegup kencang. Tapi pikirannya, masih dibayangi kelakuan Deon yang sangatlah membuatnya benci.


"Aku tau. Tak mudah untukmu mencintai ku. Tapi aku akan menunggumu." ujar Deon meyakinkan


Zahra hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Lama sekali aku tak mendengar ungkapan cinta dari seorang pria. Aku sudah tidak punya siapa- siapa. Apa sebaiknya aku katakan saja kalo aku mencintainya. Tapi hatiku, aku takut hanya akan terluka." batin Zahra yang tak bisa menjawab pernyataan cinta Deon


"Tuan. Ini resepnya." tiba- tiba suara Al membuyarkan lamunan Zahra

__ADS_1


Rupanya Al sudah selesai membayar dan juga menebus resep dokter untuk Zahra.


Ia dan juga Kia lantas masuk ke mobil, dan melanjutkan perjalanan kembali.


__ADS_2