Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Demian sampai di mansion keluarga Sasaga. Ia menerobos begitu saja tatkala para penjaga menahannya di gerbang untuk beberapa alasan.


"Tuan, hari ini tuan Jeven tidak menerima tamu," ujar salah satu penjaga


"Itu bukan urusanku," jawab Demian acuh dengan memaksa masuk area mansion Sasaga


"Tapi, tuan" cegah salah seorang penjaga


"Apa kau tak tau siapa aku?" Gertak Demian pada para penjaga


"Maaf, tuan. Tapi ini perintah," jawab salah satu penjaga


Jeven memang sengaja memerintahkan untuk tidak menerima tamu siapapun itu. Ya, demi kenyamanan dia bertemu dengan Deon.


"Aku ini Demian. Saudara dari tuanmu itu. Jangan macam-macam ya!" Kata Demian yang terus menggertak


"Tapi tuan melarang untuk siapapun datang hari ini,"


"Cih, manusia rendahan seperti kalian bisa bisanya melarangku," kata Demian geram


Demian yang geram, lantas mengambil ponselnya dan menelepon Jeven.


"Apa kau tidak akan menerima tamu paling dihormati di kota ini?" Kata Demian tatkala Jeven menjawab teleponnya


"Hahaha, seharusnya aku memberi tau fotomu pada semua para penjaga agar tak menahan lagi kedatanganmu," jawab Jeven


Mengetahui kedatangan Demian, Jevenpun memerintahkan ajudanya untuk membukakan gerbang bagi Demian.


Demian yang tak sabar, ia langsung saja masuk tatkala gerbang dibuka untuknya.


"Aku akan menemui Demian. Lakukan apapun yang aku katakan!" Pinta Jeven pada istrinya


Jevenpun pergi meninggalkan istrinya saat sedang bersantai bersama. Ia berjalan menuju ruang depan untuk menyambut kedatangan Demian.


"Rupanya aku kedatangan tamu tak diundang hari ini," ujar Jeven menyambut kedatangan Demian


"Seperti itukah caramu menyambut saudaramu?" Tanya Demian dengan menyembunyikan wajah tak senangnya pada Jeven


"Ah, iya. Marilah masuk. Akan aku hidangkan masakan terlezat untukmu!" Ajak Jeven pada Demian dengan wajah meledeknya


"Cih, aku datang kesini bukan untuk mengemis makanan darimu!" Jawab Demian mulai kesal


"Lalu? Katakan apa tujuanmu. Kau pasti tidak bisa berlama-lama disini kan?"


"Apa kau mengusirku?" Tanya Demian kesal


"Oh, samasekali tidak. Kau kan orang paling dihormati di kota ini. Kau pasti sibuk sekali. Bukankah begitu?" Tanya Jeven pada Demian dengan ekspresi meledek


"Dari dulu kau tidak pernah berubah. Selalu saja menganggap aku ini musuhmu," kata Demian


"Kau yang mengatakan itu kan?" Jawab Jeven


"Bukankah memang begitu?" Tanya Demian

__ADS_1


"Bukankah itu yang kau inginkan?" Jawab Jeven


"Cih, seharusnya kau menghormatiku. Aku ini lebih tua darimu!" Kata Demian memperingatkan Jeven


"Seseorang hidup di dunia ini akan mendapatkan timbal balik. Jika kau berbuat baik, orang lain pasti akan memperlakukanmu dengan baik, begitu juga sebaliknya. Aku yakin, orang sepertimu pasti sudah tau tentang ini tanpa aku harus jelaskan," ujar Jeven memberi sindiran pada Demian


"Lalu, apa begitu caramu memperlakukanku?"


"Cara seperti apa yang kau maksud?"


"Pernikahan anak semata wayangmu,"


"Haha, apa yang kau bicarakan ini?" Tanya Jeven berpura-pura


"Jadi, kau tidak akan memberitahu saudaramu ini?"


"Untuk apa aku memberitahu. Saudaraku yang satu ini adalah yang terhebat bagiku. Dia bahkan tau semua tentang keluarga. Bahkan, ada banyak hal yang kau ketahui sebelum aku mengetahuinya," sindir Jeven pada Demian


"Jadi, kau benar-benar belum tau?"


"Kau ini sedang bicara apa. Langsung saja pada intinya!"


"Bukankah seharusnya kau memberi kabar bahagia pada saudaramu ini. Ah, maksudku. Bukankah sebaiknya kau mengumumkan kabar bahagia ini?"


"Kabar bahagia apa yang kau maksud. Apa maksudmu kabar bahwa Tae Jin menarik kerjasamanya dengan Sasaga?" Ujar Jeven memancing Demian


"Apa? Aku tidak salah dengarkan?" Tanya Demian tak percaya


"Jadi, kabar bahagia seperti itu yang kau maksud?" Tanya Jeven


"Tapi, bukan itu yang aku maksud," lanjut Demian


"Lalu?" Tanya Jeven masih berpura-pura


"Aku dengar Deon akan menikah. Bukankah lebih baik kau umumkan kabar bahagia ini. Ini benar-benar tak baik, bahkan saudaramu harus tau kabar bahagia ini dari mulut orang lain," kata Demian


"Menikah? Kau bilang Deon akan menikah. Omong kosong apa ini," jawab Jeven kaget


"Jadi, kau tidak tau?" Tanya Demian girang


"Jika aku tau, pasti akan aku umumkan pada dunia kabar ini," terang Jeven


"Lalu, apa yang akan kau perbuat sekarang," tanya Demian penasaran


"Liyana, telepon Deon sekarang. Suruh dia datang kemari hari ini juga!" Teriak Jeven pada istrinya


Liyana yang sudah diwanti-wanti sebelumnyapun hanya bisa mengiyakan perintah suaminya. Tanpa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena memang Jeven maupun Deon sendiri belum menjelaskan padanya.


"Sialan anak itu. Lihat saja apa yang akan kau terima, Deon," ujar Demian


"Bukankah lebih baik untuk saat ini kau tidak mempercayakan Sasaga Corp pada Deon. Lihat saja tingkahnya. Dia bahkan bisa berbuat semaunya," ujar Demian mengompori Jeven


"Ucapanmu ada benarnya juga. Aku harus mempertimbangkannya kembali,"

__ADS_1


"Liyana, apa kau sudah menelepon Deon?" Tanya Jeven


Mendengar perntanyaan suaminya, Liyana lantas menghampirinya.


"Deon bilang tidak bisa. Dia sedang banyak urusan," jawab Liyana pada Jeven


"Banyak urusan. Jadi benar yang kau katakan itu, Demian?" Kata Jeven tak percaya


"Miris sekali. Kau harus mempertimbangkan lagi tentang pewaris untuk Sasaga," kata Demian terus mengompori


"Kau benar. Deon memang tidak pantas memegang Sasaga," kata Jeven menimpali ucapan Demian


"Hei, apa yang kau katakan itu. Apa kau sedang mabuk?" Tanya Liyana pada Jeven, ia benar-benar tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi


"Deon itu tidak pantas menjadi pewaris Sasaga, sayang," ucap Jeven pada istrinya


"Kau itu benar-benar gila ya. Jika bukan Deon, siapa yang akan kau tunjuk. Apa kau akan mengangkat anak orang lain dari jalanan?" Gertak Liyana pada Jeven


"Jika itu yang terbaik, aku bisa apa?" Tegas Jeven


"Hei, kau itu benar-benar sudah gila," caci Liyana pada Jeven


"Kau itu, apa kau datang kesini untuk membuat kerusuhan?" Kata Liyana lagi yang sudah geram seraya menunjuk Demian


"Hei, apa yang kau maksud. Saudaraku datang kesini baik- baik. Bisa-bisanya kau membentak dia?" Kata Jeven dengan suara yang tinggi pada istrinya


"Kau berteriak padaku? Apa dia sudah meracuni pikiranmu?" Balik Liyana berteriak pada Jeven


"Apa maksudmu. Kau terus menyalahkan saudaraku. Kau itu tidak tau apa-apa," ujar Jeven pada Liyana


"Kau. Kau itu benar-benar ya. Aku benci padamu," ujar Liyana dengan suara lantangnya dan berlalu pergi meninggalkan Jeven serta Demian


"Apa yang sudah kau lakukan pada istrimu. Kau tak bisa memarahinya begitu saja," kata Demian tatkala melihat adu mulut antara suami istri yang terkenal romantis itu


"Apa yang kau maksud. Dia begitu keras kepala," ujar Jeven


"Tapi sepertinya benar kata Liyana. Aku datang kemari hanya membuat keributan," kata Demian


"Sudahlah jangan pikirkan ucapan Liyana!" Pinta Jeven


"Kau tidak seharusnya seperti itu. Bicarakanlah baik- baik dengan istrimu!" Pinta Demian pada Jeven


"Sudahlah, biarkan saja dia," kata Jeven acuh


"Jangan begitu. Datangi istrimu. Dia pasti merasa sedih. Biar aku pulang sekarang," ujar Demian


"Ah, kenapa jadi begini. Kau jadi buru-buru mau pulang saja. Santai saja. Duduklah lebih lama disini,"


"Itu tidak baik untukmu. Datangi segera istrimu. Aku akan pulang sekarang," pamit Demian pada Jeven


"Baiklah kalo begitu. Aku juga tidak bisa terus memaksa orang yang punya kesibukan seperti kau ini,"


"Kau itu. Aku akan mengunjungimu lain waktu. Tapi, aku menyarankan padamu untuk mempertimbangkan lagi tentang pewaris Sasaga," ujar Demian sebelum melangkahkan kakinya pergi

__ADS_1


"Itu pasti, jangan khawatir," jawab Jeven


Mendengar jawaban memuaskan dari mulut Jeven, Demianpun melangkahkan kakinya pergi dengan perasaan riang.


__ADS_2