
Zahra terbangun dengan keadaan bugar. Ia merasa semalaman tidur dengan nyenyak.
Dilirik nya kanan kiri ruangan, terlihat sangat rapih. Meja yang tadinya berantakan dengan foto- foto hasil USG pun sudah terlihat rapih. Bahkan terlihat sepiring roti panggang dan segelas susu.
Ia segera beranjak dari tempat tidur nya. Mencoba mendekati makanan yang ada di meja. Terlihat ada sebuah catatan kecil yang ditinggalkan seseorang.
Good morning My Sweety Girl
habiskan roti dan susu nya
jangan lupa minum obat nya ❤️
"Astaga. Pria itu." ia baru ingat bahwa semalaman Deon ada di kontrakan nya
"Apa yang sudah kau lakukan Zahra." ujar Zahra sembari mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
Tak lama, Zahra segera bergegas keluar kamar untuk mengecek apa Deon berbuat yang tidak- tidak semalaman. Tetapi setelah ia keluar, ia kaget mendapati setiap sisi ruangan nya sudah terlihat rapih.
Zahra hanya bisa terdiam tak percaya. Bagaimana seorang pria seperti Deon bisa melakukan hal seperti ini.
"Memang dia pria tidak waras." ujar Zahra dalam hati
Tak mau berpusing- pusing lagi, Zahra segera melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya. Keringat lengketnya sudah dirasa tidak bisa ditolerir lagi. Ya, karena kemaren sore dia tak sempat mandi.
"Pakaian ku." seru Zahra yang kebingungan
"Kemana semua pakaian kotorku." lanjut Zahra yang masih saja kebingungan.
Dicarinya ke segala sisi ruangan namun tak ia dapati yang dicari.
Seketika muncul di pikiran nya "ini pasti ulah pria itu." gerutu Zahra dalam hati nya
Kali ini ia benar- benar merasa kesal pada Deon. Ingin sekali rasanya segera menemui Deon dan menghantamkan jari- jarinya di wajahnya. "Sungguh lancang memang dia." ucap Zahra
Disaat sedang kesal- kesalnya, terdengar dering handphone nya. Lantas ia segera mengambil handphone dari atas ranjang nya. Dilihat nya layar hape nya. Terlihat panggilan dari nomor dengan nama 'love'.
Zahra kaget dan berfikir "sejak kapan aku punya teman nama nya Love."
Tapi karena rasa penasaran nya, akhir nya dia menjawab panggilan nya.
"Morning Sweet Girl."
Terdengar suara pria yang tak asing bagi nya. Siapa lagi kalau bukan tuan CEO.
Zahra menghela nafas panjang sebelum menjawab sapaan Deon. Ia berfikir "bagaimana bisa dia mengetahui nomor ku."
"Ara." panggil Deon dari seberang telepon
"Namaku Zahra bukan Ara." jawab Zahra malas
__ADS_1
"Ara kan nama kesayangan." goda Deon
"Hahaha. Apa lagi nama kesayangan." ujar Zahra
"Apa kau sudah menghabiskan sarapan mu." tanya Deon tanpa menjawab ujaran Zahra sebelum nya.
"Sudah." jawab Zahra berbohong
"Jangan bohongi aku ya. Cepat habiskan sarapan mu. Habiskan juga susu nya. Dan jangan lupa minum obat." perintah Deon
"Bagaimana kau bisa tau." ucap Zahra tak percaya
"Jangan pernah lagi bohongi aku. Cepat lah. Dan segera mandi jika sudah selesai." ujar Deon
"Oh ya satu lagi. Semua pakaian kotor mu sudah aku kirim ke tempat laundry. Kau tak perlu panik kehilangan bajumu yang tak seberapa itu." lanjut Deon
"Bagaimana kau bisa tau kalo aku membohongi mu. Dan bagaimana juga kau bisa tau aku kebingungan mencari pakaian kotor ku." tanya Zahra curiga
Namun baru saja selesai Zahra mengungkapkan kecurigaan nya, Deon mematikan panggilannya tanpa berpamitan.
"Ahh dasar pria tidak waras. Kenapa kau matikan panggilan tanpa menjawab pertanyaan ku." gerutu Zahra kesal
Zahra terlihat membanting hape nya ke atas ranjang. Raut kesalnya terlihat dari wajah polos nya.
Sedangkan Deon terlihat mengembangkan senyum di setiap sudut bibir nya. Sambil menatap layar pada laptopnya, ia merasa gemas pada kelakuan Zahra.
Ya. Rupanya bukan tanpa alasan Deon merapihkan setiap sisi ruangan di kontrakan Zahra. Namun dia sengaja merapihkan nya untuk mencari tempat yang aman dan pas memasang kamera tersembunyi.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di tempat lain, Nia terlihat sedang cemas. Pandangan nya terus saja tertuju pada layar hape.
"Angkat telepon nya Zahra." gumam Nia cemas
Rupanya bukan tanpa alasan Nia mencemaskan keadaan Zahra. Namun karena Zahra tak kunjung mengangkat panggilan nya sedari sore. Padahal Sekarang jam sudah menunjukan pukul 11 siang.
"Hallo kak bos." sapa Zahra mengagetkan Nia yang sedang mencemaskan nya
"Astaga Zahra. Darimana saja kau. Kenapa tak mengangkat panggilan ku." ujar Nia
"Apa kau baik- baik saja." lanjutnya sembari mengelilingi tubuh Zahra
"Aku benar- benar mencemaskan mu."
"Ahhh kak bos. Aku baik- baik saja." jawab Zahra
"Kenapa akhir- akhir ini kau terus mencemaskan ku." lanjut Zahra
"Apa aku tak boleh mencemaskan mu." jawab Nia dengan pertanyaan
__ADS_1
"Haha tentu saja boleh. Kenapa tidak. Aku senang jika ada yang mencemaskan ku." ujar Zahra sambil meraih kedua tangan Nia
"Terimakasih ya kak sudah peduli pada ku." lanjut Zahra berterima kasih.
"Ahh kau. Itu sudah sewajarnya harus aku lakukan. Kau adalah karyawan ku. Kau juga sahabat ku. Dan yang perlu kau tau, kau sudah seperti saudaraku." ujar Nia
"Makanya jangan terus terusan buat aku cemas. Kau ingat itu."
"Hihi. Baiklah, maafkan aku ya kak." peluk Zahra.
Nia pun membalas pelukan Zahra.
Disaat Zahra dan Nia masih berbincang, tiba- tiba datang seorang pria rapih dengan jaz Navy nya. Ia terlihat dibuntuti oleh beberapa ajudan yang menunggu nya di luar ruangan.
"Ara." panggil sang pria yang tak lain adalah Deon
"Kau. Bagaimana kau bisa datang kesini." gumam Zahra kesal
"Kemarilah." Deon meraih tangan Zahra dan mengajaknya duduk
"Kau memang tidak waras ya." ujar Zahra
"Kau yang tidak waras. Untuk apa kau datang kemari." jawab Deon sambil menjentikkan jarinya di kening Zahra
"Aww sakit." rintih Zahra
"Biar kau rasakan." ujar Deon
"Apa sih mau mu datang kemari." tanya Zahra
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Mau apa kau kemari."
"Lucu sekali kau. Jelas aku akan bekerja lah." jawab Zahra
"Dengarkan aku ya. Jangan pernah berbuat sesuatu tanpa seizin ku."
"Heh. Kau benar- benar gila ya. Siapa kau beraninya melarang-larang."
"Kenapa tidak. Aku adalah ayah dari dari janin yang kau kandung."
"Haha. Lagi lagi anak. Apa aku harus gugurkan saja anak ini. Agar tak seenaknya kau berbuat padaku."
"Kau."
"Beraninya kau berkata seperti itu." ujar Deon geram
"Lagian aku sama sekali tidak menginginkan anak ini dalam rahimku."
"Cepat ikuti aku."
__ADS_1
Deon menarik tangan Zahra keluar ruangan. Terlihat raut wajahnya yang menahan emosi.
Sedangkan Nia dan karyawan lain nya hanya bisa menatap kepergian Zahra yang mengisyaratkan bahwa dia akan baik- baik saja.