Terpaksa Mengandung Anak Tuan

Terpaksa Mengandung Anak Tuan
Salah Mengira


__ADS_3

Pagi sudah kembali. Zahra terlihat sudah bersiap untuk pergi ke puskesmas seperti yang sudah dijadwalkan oleh nenek Saimah.


"Nenek. Dimana Ryan." tanyanya sembari mencari- cari keberadaan Ryan.


"Dia ada di rumah tetangga depan. Sebentar lagi dia kembali. Hanya mengantarkan telor asin pesanannya."


"Emm. Baik lah nek, aku akan menunggunya."


"Apa kau sudah siap untuk berangkat ke puskesmas."


"Tentu saja nenek. Aku sudah siap."ujarnya sembari memperlihatkan tas yang ditentengnya


"Baguslah. Sampai sana nanti, kau ceritakan semua keluhan yang kau rasa pada dokter yang memeriksanya." ujar nenek Saimah menasehati Zahra


"Baik nek." jawab Zahra


"Zahra. Apa kau sudah siap." tanya Ryan yang sudah kembali. Ia berjalan mendekati Zahra yang terlihat duduk menanti nya


"Sudah dong. Ayo kita berangkat." jawab Zahra


"Kau terlihat semangat sekali hari ini."


"Tentu. Ini karena aku akan bertemu dengan anak ku."


"Bertemu dengan anak mu. Kau bukan akan melahirkan hari ini kan." sahut Ryan dengan mengernyitkan dahi nya bingung


"Haha. Kau itu konyol sekali. Maksudku bertemu anak ku lewat gambar USG. hehe." ujar Zahra sembari terkekeh mendengar jawaban polos Ryan


"Sudah sudah. Sekarang kalian berangkat. Makin siang, nanti ngantrinya makin panjang." ujar nenek Saimah mengingatkan mereka berdua


"Baik lah nek. Aku akan mengantarnya sekarang." ujar Ryan


"Baik nek. Kita akan berangkat sekarang." ujar Zahra


Mereka pun berjalan menuju luar rumah. Menaiki mobil yang terparkir tepat di halaman.


Ryan mengemudikan mobil nya dengan hati- hati. Ia terlihat sangat lihai dengan jalanan yang berliku- liku. Mungkin karena sudah terbiasa melewati jalanan nya.


🕗 Setelah setengah jam mereka menempuh jalanan berkelok- kelok, akhirnya sampai lah di sebuah puskesmas.


Ryan turun dari mobil yang diikuti oleh Zahra. Mereka langsung berjalan ke arah loket pendaftaran.


"Zahra. Kau tunggu lah disini. Aku akan mencarikan kau minuman dan camilan. Kau pasti akan bosan menunggu nomor antrian mu di panggil." ujarnya sembari menyodorkan sebuah kertas bertuliskan nomor antrian


"Sepagi ini sudah dapat nomor antrian 21." celoteh Zahra dengan wajah cemberut nya. Ia pun mengizinkan Ryan untuk pergi mencari sesuatu yang bisa di makan.

__ADS_1


🕗 Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya nomor antrian Zahra di panggil. Zahra pun segera masuk ke dalam ruangan yang sudah di tentukan.


"Pak suami. Ayo ikut masuk saja." teriak salah satu perawat ke arah Ryan


"Aku." jawab Ryan yang kebingungan. Untuk memastikan bahwa perawat tadi tak salah memanggil orang


"Iya bapak. Silahkan masuk menemani istri bapak."


Ryan pun masuk mengikuti instruksi perawat tadi. Sesampainya di dalam ruangan, ia melihat Zahra yang sudah berbaring di atas ranjang pemeriksaan.


Rupanya perawat tadi sudah salah mengira jika Ryan adalah suami dari Zahra. Padahal Ryan hanya membantu mengantarkan Zahra untuk memeriksa kandungan nya.


"Pak, Bu. Ini perkiraan putri bapak dan ibu akan lahir di bulan September."


"Tapi ini hanya perkiraan. Bisa jadi nanti anak yang ibu kandung terlahir maju dari tanggal perkiraan, tapi bisa jadi juga mundur dari tanggal perkiraan."


"Yang penting, bapak harus selalu rutin untuk membawa cek kandungan ibu setiap bulan nya ya pak." ujar dokter yang memeriksa Zahra sembari memperlihatkan gambar kandungan Zahra.


Zahra dan Ryan pun hanya mengangguk anggukan kepalanya pertanda mengerti.


Dan dokter, segera mencatat kondisi kandungan Zahra di dalam buku pink. Tak lupa ia memberikan Zahra vitamin untuk di minum sampai pemeriksaan berikutnya.


"Haha. Tak ku sangka. Mereka mengira bahwa kau adalah suami ku." gelak tawa terdengar dari bibir Zahra setelah keluar dari ruang pemeriksaan


"Hahahaha. Itu tandanya kita memang terlihat seperti pasangan yang serasi."


Zahra memukul keras lengan Ryan dengan tas yang ditentengnya.


"Jangan berkhayal kau. Aku ini sedang mengandung."


"Memang nya salah? Aku juga bisa menjaga mu dan anak mu kelak." celoteh Ryan


"Sudah lah. Kau itu terus-menerus bercanda."


"Ayo kita pulang saja." ajak Zahra sembari menarik tangan Ryan menuju parkiran.


Mereka pun mengendarai mobil nya kembali ke tempat tinggal nenek Saimah.


"Zahra. Apa kau tidak ingin sesuatu." tanya Ryan menghilangkan kesunyian dalam mobil


"Maksud mu."


"Emm. Maksud ku. Biasanya kan orang hamil sering pengin ini pengen itu. Ngidam gitu."


"Apa kamu ga ada keinginan sesuatu sama sekali." tanya Ryan

__ADS_1


"Kalo aku pengen. Apa kamu mau mengantarkan ku."


"Tentu saja. Kenapa tidak. Mumpung sekarang lagi di luar, ayo cari sesuatu yang kamu pengen." jawab Ryan dengan semangat menggebu


"Haha. Kenapa jadi kamu yang kelihatan semangat gitu sih." ujar Zahra melihat Ryan justru lebih semangat dari dirinya


"Hehe. Maksud ku biar kita bisa jalan- jalan berdua."


"Dih pede jalan- jalan berdua."


"Hah. Emang kamu mau ngajak siapa. Kamu punya kenalan di sini." tanya Ryan kebingungan


"Yeay. Bukan begitu. Maksud ku anak dalam kandungan ku ini. Jadi bertiga bukan berdua, huh." seru Zahra sambil menepuk pundak Ryan


"Owalah hehe. Kirain aku siapa."


"Emang Dede bayi mau kemana sih." tanyanya sambil mendekatkan wajah nya pada perut buncit Zahra


"Ihh. Apaan sih. Nyetir nyetir aja. Fokus ke jalan depan. Aku ga mau sampai ada kejadian yang tak diinginkan." ujar Zahra sembari mendorong tubuh Ryan menjauh


"Iya iya. Santai aja kali. Aku dah terbiasa bawa mobil. Ga usah khawatir."


Zahra pun memalingkan pandangannya ke arah kaca samping tempat duduknya. Sambil mulutnya komat- Kamit mengatai Ryan yang sok gaya itu.


"Ehh ini jalan kemana." ujar Ryan


"Terserah kamu." jawab Zahra dengan masih memalingkan pandangannya dari Ryan


"Kok jadi terserah sih."


"Iya terserah lah. Aku kan ga tau daerah sini." sewotnya


"Ya udah deh. Kalo gitu kamu pengen makan apa. Nanti aku ajak kesana."


"Terserah kamu juga."


"Dih. Kok terserah aku lagi sih. Ya udah, kita balik aja."


"Heii.." teriak Zahra kesal


"Apa." sahut Ryan


"Ahh sudah lah. Lagian mau apa dan kemana aku juga tidak tau. Tak apa kalo mau pulang." jawab Zahra dengan perasaan sedih nya. Dalam hatinya ingin sekali pergi ke suatu tempat yang bisa menentramkan perasaan nya. Tapi kalo ditanya di mana tempatnya, ia benar-benar tak bisa menjawab. Hasilnya hanya bisa pasrah mau dibawa kemana dia.


Alhasil, Ryan yang melihat sedih di raut wajah yang disembunyikan oleh empunya pun berinisiatif untuk membawanya ke suatu tempat. Ia mengemudi mobil nya menjauh dari jalan tempat tinggal nya.

__ADS_1


"Kau tidak jadi membawaku pulang." tanya Zahra saat sadar bahwa jalan yang ditempuh berbeda dari jalan menuju tempat tinggalnya saat ini


"Kau tenang saja. Aku tidak akan berbuat macam-macam pada ibu hamil." ledek Ryan. Dan Zahra pun hanya berdecak sembari memalingkan pandangannya dari Ryan.


__ADS_2