
Deon keluar ruangan yang juga diikuti tuan Jeven.
"Ingat, anak Daddy tak akan pernah mengecewakan Daddy." kata tuan Jeven mengingatkan putra semata wayangnya
"Daddy tak perlu khawatir." jawab Deon
"Deon langsung jalan ya Dad." lanjutnya
"Jalan. Mau kemana. Kan baru sampai." sahut Mommy Liyana yang mendengar ucapan Deon
"Deon ada urusan penting Mom." jawab Deon memeluknya yang kemudian berjalan meninggalkannya
"Deon. Tunggu." ujar Mommy Liyana berusaha menghentikan langkah Deon
Namun, Deon yang sudah tak punya banyak waktu, ia sama sekali tak menghiraukan ucapan Mommy nya. Ia tetap melangkah dan bergegas menyelesaikan segala tugasnya.
"Kau. Sebenarnya apa masalah mu hah. Selalu saja kau membebani anak semata wayang ku dengan hal hal mu yang menyebalkan itu." gerutu Mommy Liyana pada suaminya yang masih berdiri di sana
"Lihatlah. Karena kau, anak ku tak menghiraukan lagi ucapan ku. Bahkan, dia jauh- jauh datang kemari hanya untuk pergi tanpa makan bersama ku terlebih dahulu." lanjutnya terus menggerutu
"Sudahlah sayang. Anak kita sudah dewasa. Sudah ada tanggungjawab di pundaknya yang harus ia pikul." jawab tuan Jeven dengan nada santainya
"Daripada kau cemberut seperti itu, lebih baik temani aku minum teh di taman belakang."
"Kau terlihat lebih tua dari umur mu saat cemberut seperti itu." lanjut tuan Jeven meledek istrinya yang sedang tak mood perasaannya itu
"Kau benar-benar ingin aku pukul ya." jawab Mommy Liyana seraya berusaha mengejar langkah suaminya yang sudah meninggalkannya terlebih dulu
"Makanya jangan suka marah- marah. Garis kerutan mu akan cepat bertambah." ujar tuan Jeven
"Ish. Kau." ujar Mommy Liyana seraya memukul bahu suaminya itu
"Tapi kau terlihat lucu jika sedang merajuk seperti itu."
"Ish. Bahkan kau sama sekali tak tersenyum saat mengatakannya. Apa itu benar-benar lucu bagimu."
"Tentu saja sayang ku." kata tuan Jeven yang langsung meraih tangan istrinya dan menggandengnya menuju taman belakang.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di sisi lain, Deon bergegas menemui seseorang yang tengah menantinya sedari tadi.
"Sudah lama." sapa Deon
"Sekitar tiga puluh menit aku menunggumu."
"Kau begitu antusias untuk bertemu denganku."
__ADS_1
"Bukan begitu, aku hanya sedang tidak terlalu sibuk"
"Baiklah, aku harap kau tidak akan merengek pada Pamanku setelah mendengar kabar ini."
"Aku tak sabar mendengarkan. Mari kita buktikan ucapan mu."
"Lusa aku akan menikah. Jangan katakan pada siapapun kabar ini. Hanya kau yang ku beritahu kabar spesial ini."
Sontak Sisilia kaget tak bisa berkata apa- apa. Dalam pikirannya banyak bayangan suram.
"Kau kaget." tanya Deon melihat ekspresi tak biasa pada Sisilia
"Wanita mana yang berani merebut hatimu dariku."tanya Sisil tak percaya
"Kau pasti sudah tau siapa itu."
"Apa maksudmu."
"Aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk orang yang suka berpura- pura."
"Tidak Deon, tidak mungkin." Sekarang Sisilia mengerti, bahwa sebenarnya Deon tau jika ia menugaskan mata- matanya untuk mengintai Deon dan juga Zahra.
"Silahkan saja lakukan semua yang kamu mau. Tapi, sedikit saja wanita ku tergores karena mu, aku tidak akan tinggal diam." tutur Deon dengan nada sedikit mengancam
"Kau bercanda kan. Aku sudah mengenalmu sedari dulu. Bahkan, orangtuaku dan orangtuamu setuju menjodohkan kita."
"Itu hanya kemauan mu dan orangtuamu."
"Kubur semua khayalan mu."
"Ini tidak mungkin. Kau hanya milikku. Hanya milikku." teriak Sisil meronta
Tapi Deon tak peduli. Ia terlanjur jijik melihat tingkah Sisilia. Ia pun pergi meninggalkan Sisilia yang masih terus meneriaki namanya.
"Deon, kau hanya milikku. Hanya milikku. Kau tau berapa lama aku harus menunggumu." teriak Sisil semakin menggila
"Tidak bisa. Ini tidak boleh terjadi. Jika aku tidak bisa mendapatkan Deon, maka wanita manapun tidak akan pernah bisa memilikinya." batin Sisilia penuh amarah
Ia benar-benar tak bisa menerima keputusan Deon. Bagaimanapun, Deon adalah cinta pertamanya. Ia tak bisa melepaskan Deon begitu saja. Baginya, cinta Deon hanyalah miliknya.
Ia pun pergi meninggalkan cafe dengan wajah murkanya. Ditemuinya ayahnya, dan diadukan semuanya.
"Daddy. Katakan padaku yang sejujur jujurnya." ucap Sisilia seketika bertemu dengan ayahnya
"Hei. Ada apa ini. Kenapa datang- datang dengan wajah muram seperti ini." tanya Demian tak mengerti
"Apa aku ini kurang cantik. Jawab dengan jujur Dady." rengek Sisilia
__ADS_1
"Siapa yang bilang. Anak Daddy tentu sangatlah cantik." ujar Demian menenangkan Sisilia yang terus merengek
"Benarkah. Kalo begitu, aku harus menyingkirkan seseorang." ucap Sisilia dengan sirat wajah yang terlihat begitu banyak menyimpan dendam
"Siapa yang kau maksud." tanya Demian lagi yang masih tak paham maksud putri angkatnya
"Deon."
"Deon. Daddy tidak salah dengar kan." tanya Demian memastikan
"Tidak Daddy. Saat ini, aku benar - benar ingin menyingkirkannya." jawab Sisilia menegaskan
"Bagus. Akhirnya mata dan hatimu itu terbuka juga. Memang tidak seharusnya kau mencintainya. Mereka adalah musuh kita."
"Maksud Daddy." tanya Sisilia tak mengerti. Karena yang ada dipikiran Sisilia adalah menyingkirkan wanita yang dekat dengan Deon, bukan menyingkirkan Deon.
"Mereka adalah musuh sejati keluarga kita. Sampai mati, sebelum kita bisa merebut Sasaga Corp, maka mereka adalah musuh."
"Lalu, apa maksud dari perjodohan itu." tanya Sisilia tambah tak mengerti dengan maksud ucapan Demian
"Itu hanya trik. Jika kau ingin melenyapkan Deon, Daddy akan dukung kamu sepenuhnya."
"Apa, jadi selama ini. Kenapa Daddy tega memanfaatkan perasaanku." ujar Sisilia kesal dalam hatinya
"Andai anak bodoh ini bisa melenyapkan Deon, ini akan mempermudah urusanku. Aku tak perlu mengotori tanganku sendiri untuk menyingkirkan para keparat itu." batin Demian
"Daddy dukung keputusanmu. Dan setelah semuanya selesai. Daddy berjanji akan mencarikan ganti yang lebih segala-galanya dari Deon." bujuk Demian
"Tapi aku tidak akan menyingkirkan Deon, Daddy."
"Apa. Lalu apa mau mu." ucap Demian dengan raut wajah kagetnya mendengar ucapan Sisilia
"Lusa, Deon akan menikah dengan wanita yang tengah mengandung anaknya. Aku ingin menyingkirkan wanita itu, bukan Deon." ujar Sisilia lalu meninggalkan Demian yang sudah terlihat murka padanya
"Dasar anak bodoh." umpat Demian mengiringi kepergian anak angkatnya itu
"Bagaimana bisa aku mengangkat anak bodoh, tak berguna seperti dia. Sial sekali aku ini." batin Demian
"Tapi menikah. Apa benar Deon akan menikah. Kenapa tidak ada kabar datang. Aku harus mencari tau."
Demian pun bergegas keluar. Menaiki mobilnya dan melaju ke suatu tempat.
"Ayo ke kediaman Jeven." perintah Demian pada supirnya
"Baik, tuan."
"Aku akan datang membawa kabar baik untukmu Jeven." batin Demian merencanakan sesuatu
__ADS_1
"Tidak mungkin kan kau sudah tau kabar gembira ini. Aku akan memberikan kejutan yang Takan pernah terlupakan seumur hidupmu."
"Dan kau Deon. Anak tengil. Lihat saja setelah ini. Apa kau masih mampu bertahan di atas takhta mu itu. Sungguh kau tidak pantas."