Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
10. Kecelakaan


__ADS_3

Widia tidak mampu lagi berkutik. Tubuhnya gemetar ketakutan saat melihat wajah suaminya yang sudah tidak bisa lagi di katakan tenang.


"Maafkan aku Bara...! Aku khilaf. Aku... waktu itu hanya ingin menjebak Shanaz agar kamu membencinya. Dengan begitu aku bisa bersatu lagi denganmu seperti sebelumnya.


Aku pikir dengan aku bisa memberikanmu anak, cintamu makin besar padaku, nyatanya kamu malah menjauhiku dan tidak sudi lagi berbagi ranjang denganku dan itu membuatku sangat frustrasi."


"Dengan cara membunuh anakmu ..?" Tanya Bara sambil mencengkram kuat kedua pipi Widia membuat gadis ini sangat kesakitan karena tidak mampu melawan suaminya.


Bara mendorong wajah Widia hingga kepalanya membentur tembok. Widia meringis kesakitan. Ia sudah pasrah apa yang dilakukan suaminya padanya asalkan ia tidak dijebloskan ke penjara.


"Tempat yang baik bagimu adalah penjara yang akan mampu memberimu pelajaran." Ucap Bara lalu menarik tubuh Widia membawanya ke mobil.


"Bara ku mohon jangan lakukan itu padaku! Kamu boleh menghukum aku apa saja tapi jangan mengirim aku ke penjara!" Pinta Widia dengan wajah yang terlihat sudah sangat pucat.


"Kalau begitu kita ke Bandara. Aku akan kembalikan kamu ke keluargamu." Ucap Bara ketika sudah berada di dalam mobil.


Widia terlihat makin tertekan. Pasalnya dia tidak ingin lagi balik ke keluarganya yang selalu melecehkan dirinya karena menikahi bara yang berstatus suami orang. Ketika sudah berada di jalan tol ke arah Bandara, rupanya hujan badai disertai kilat petir begitu terlihat menakutkan kala malam mulai menjelang magrib.


Bara tidak ingin menunda niatnya untuk memulangkan lagi istri keduanya itu ke daerah Sumatra." Apakah itu berarti kamu ingin menceraikan aku, Bara ?" Tanya Widia sambil terisak.


"Itu sudah pasti Widia. Tinggal bersama mu sangat mengerikan. Kamu sudah tega bunuh anakmu sendiri apa lagi anakku dari Shanaz, itu yang membuat aku tidak bisa memaafkanmu.


Jika kamu berdebat dengan Widia, mungkin aku tidak akan ikut campur urusan kalian karena kalian memiliki kedudukan yang sama sebagai istriku, tapi kalau sudah menyangkut darah daging ku, maaf Widia, aku tidak bisa memaafkan kamu sekalipun kamu memohon dengan penuh penyesalan hingga air matamu berganti darah sekalipun." Ucap Bara tegas.


"Jika kamu bisa adil, aku tidak akan berbuat nekat seperti itu Bara. Kamu yang telah mendorong aku untuk berbuat jahat." Kilah Widia tidak ingin disalahkan oleh suaminya.


"Sekarang kamu masih cari alasan untuk membenarkan tindakanmu ini, apakah kamu lupa bahwa aku sangat mencintai Shanaz, sampai matipun aku tetap mencintai Shanaz, kamu mengerti....-"


"Baraaaaa.....awassssss!"


Bara hampir menabrak mobil di depannya karena terhalang dengan jarak pandang diatas jalan to yang mulai berkabut.

__ADS_1


Ia membanting pagar pembatas hingga keluar jalur membuat mobil itu terguling di jalur sebelahnya. Sontak kecelakaan itu tidak dapat terelakkan. Kendaraan lain memelankan laju kendaraannya hingga menciptakan macet yang cukup panjang saat memasuki area bandara.


Mobil patroli jalan tol menghampiri lokasi kejadian untuk di amankan. Polisi lainnya bertindak cepat untuk kendaraan lain segera melaju seperti biasa untuk mengurangi kemacetan.


Mobil ambulans segera mengevakuasi dua korban. Widia meregang nyawa di lokasi kejadian sementara Bara dalam keadaan kritis.


...----------------...


Tangis Baby Tasya sedari tadi tidak ingin berhenti membuat Shanaz kewalahan menangani putrinya.


"Ya Allah sayang. Kenapa kamu dari tadi nangis terus. Di luar hujan deras tapi tangis kamu tidak terhenti. Sudah di kasih ***** tapi masih aja mau nangis." Keluh Shanaz yang ikut gelisah.


"Apakah perutnya sudah dikasih minyak telon, non?" Tanya bibi Anggi yang sudah pengalaman nanganin bayi.


"Sudah bibi, tapi Baby nya lagi kolokan aja nih." Ucap Shanaz.


"Apakah nona sudah telepon den Bara?"


"Kadang bayi punya firasat sendiri kepada orang yang ia cintai terutama kedua orangtuanya yang salah satunya tidak ada di hadapannya." Ucap bibi Anggi.


"Benar juga bibi, perasaan aku juga nggak enak, rasanya nafasku dari tadi sesak banget. Sepertinya ada yang mengganjal di sini." Ucap Shanaz lalu memberikan putrinya pada bibi Anggi.


Baru saja Widia hendak memencet nomor kontak suaminya, tiba-tiba ada telepon masuk dari kepolisian.


"Apakah benar ini keluarga tuan Baratayudha?"


"Benar. Saya istrinya. Ini dari mana, ya?"


"Maaf nyonya! Kami dari kepolisian mengabarkan suami anda mengalami kecelakaan lalulintas bersama dengan seseorang wanita yang bernama Widia. Sekarang korban sudah di bawa ke rumah sakit Mekar sari daerah Jakarta Selatan." Ucap polisi itu, lalu mengakhiri panggilannya.


Shanaz begitu syok dengan dengkul yang hampir mau terlepas dari tempatnya. Air matanya luruh sambil berjalan mengambil tas kecilnya. Bibi Anggi yang melihat itu merasa sudah tidak enak.

__ADS_1


"Non, ada apa?" Tanya bibi Anggi.


"Bara dan Widia kecelakaan bibi." Ucap Shanaz lirih.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun." ucap bibi Anggi turut sedih.


"Tolong jaga baby Tasya bibi! Shanaz mau ke rumah sakit dulu. Bara di rawat di rumah sakit yang sama dengan dengan baby Tisha." Ucap Shanaz mengecup kening putrinya yang sudah terlelap karena karena kelelahan menangis.


"Baik nona. Hati-hati di jalan! Lebih baik di antar sama pak Beni, nona karena di luar masih hujan deras." Ucap bibi Anggi.


Shanaz hanya mengangguk sambil melangkah gontai. Setibanya di rumah sakit. Bara sedang menjalani operasi pada kepalanya karena mengalami pendarahan internal. Sementara jasad Widia sudah berada di kamar mayat tapi, Shanaz tidak memperdulikannya. Ia meminta pihak rumah sakit untuk mengurusi proses pemakaman Widia dan membayarkan semua biaya kepengurusannya.


Ia menghampiri kamar baby Tisha yang saat ini tidak berhenti menangis. Putri pertama suaminya ini baru berhenti menangis ketika sudah berada di dalam dekapan ibu sambungnya.


Suster Mila yang bertugas menjaga baby Tisha mengatakan kalau baby Tisha sudah boleh dibawa pulang karena dokter sudah memeriksa lagi kondisi bayi montok itu.


Beberapa jam kemudian, Shanaz menemui dokter Mayang yang telah melakukan operasi pada Bara.


"Bagaimana keadaan suami saya dokter?" Tanya Shanaz sambil menggendong baby Trisha yang tidur dalam dekapannya.


"Saya belum bisa memutuskan keadaan Tuan Bara selanjutnya. Apakah dia nanti mengalami koma atau lupa ingatan atau juga kematian." Ucap Dokter Mayang apa adanya.


Deggggg....


"Apakah saya bisa menemui suamiku dokter?" Tanya Shanaz yang sangat merindukan suaminya saat ini.


"Silahkan nona! Tapi jangan lama-lama karena ini ruang ICU takut menganggu pasien lain." Ucap dokter Mayang lalu meninggalkan Shanaz dan putrinya sendirian di kamar Bara.


Shanaz mengecup pipinya Bara. Tangisnya tertahan melihat tubuh itu yang baru saja bercinta dengannya kini sudah terbaring tak berdaya.


"Hiduplah untuk aku dan kedua putrimu sayang. Aku tidak bisa membesarkan mereka tanpa kamu ada disisiku." Bisik Shanaz lirih.

__ADS_1


__ADS_2