Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
18. Keberanian


__ADS_3

Shanaz membiarkan putri sambungnya itu pergi begitu saja dari rumahnya dengan menumpang sebuah taksi online. Di saat taksi itu keluar dari gerbang di saat yang sama, mobil Tasya masuk ke gerbang besar itu dengan perasaan tanda tanya besar, siapa gerangan yang ada di dalam taksi online tersebut.


Tasya turun dari mobilnya dan berdiri sesaat di depan mobil sambil mengambil ponselnya dari dalam tas kecilnya. Ia berjalan cepat menuju ke dalam rumahnya. Bibi Ima menyambutnya dengan membuka pintu utama.


"Bibi...! Siapa yang baru datang ke rumah kita?" Tanya Tasya penasaran dengan mobil taksi tadi.


"Oh itu, temannya nyonya besar non."


"Datang ke sini dengan mobil taksi?" Tanya Tasya sedikit heran karena teman ibunya tidak pernah datang dengan taksi ke rumah mereka.


"Kalau yang naik taksi barusan ...!" Bibi Ima meremas tangannya sendiri sambil menggigit sudut bibirnya terlihat gugup.


"Ada apa bibi? Kenapa wajah bibi terlihat cemas? Apakah ada masalah?"


"Yang pergi itu....-"


"Jangan lancang Ima! Ini bukan urusanmu." Bentak Shanaz membuat bibi Ima segera berlalu sambil mengucapkan maaf dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Maaf nyonya."


Shanaz menuruni tangga menghampiri putrinya dengan wajah tenang. Ia memaksakan diri untuk tersenyum namun wajah putrinya menatapnya dengan nanar.


"Ada apa mami? siapa yang baru saja pergi naik taksi? Apa... jangan-jangan itu kak Tisha?" Pekik Tasya melewati ibunya yang masih berdiri di ujung tangga.


"Kak Tisha... kak Tisha ...!" Teriaknya sambil membuka pintu kamarnya dan mendapati Tisha tidak ada di sana bahkan tempat tidurnya makin terlihat rapi. Di kamar mandi juga sama dan Tasya membuka pintu ruang ganti.


Di dalam sana ada berkurang dua koper dan sebagian baju Tisha sudah raib dari lemari begitu juga sepatu, tas, jam tangan dan beberapa perhiasan miliknya Tisha juga sudah di ambil Tisha hanya sebagian saja.


"Dia benar-benar pergi sekarang. Saudaraku itu tidak lagi menyayangiku. Akhirnya dia tidak kuat lagi menjalani ujiannya." Lirih Tasya sambil mengusap air matanya.


Tasya kembali ke tempat tidurnya menangisi kepergian kakaknya tercinta. Ia sudah curiga hari ini akan datang juga di mana kakaknya itu akan hengkang dari rumah ini karena ulah ibunya. Tasya enggan untuk bertanya pada wanita yang telah melahirkannya itu.


Diantara keduanya tidak bisa ia salahkan karena memiliki alasan masing-masing. Mengajak berdebat dengan ibunya juga hanya akan menghabiskan energi dan membuang waktu.


Tasya hanya bisa menangis bagaimana kelurganya sudah hancur sebelum ia hadir ke dunia ini.


"Kak Tisha...! Aku tidak bisa membelamu lagi. Aku harap kakak bahagia di manapun kakak berada. Jangan pernah lupakan aku, kak. Aku sangat mencintaimu." Ucap Tasya dengan suara terdengar parau.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Tisha tidak langsung ke bandara. Ia mampir ke rumah ketua hakim agung untuk menemui orang yang paling berpengaruh untuk karir ibunya.


Nampak banyak berderet mobil mewah yang terparkir di halaman rumah dinas ketua hakim itu. Tisha memberanikan dirinya masuk ke dalam sana. Ia di cegat oleh para penjaga dengan serentetan pertanyaan dari mereka.


"Maaf nona ..! Anda mau menemui siapa?" Tanya salah satu pengawal itu.


"Aku ingin bertemu dengan bapak hakim Husen Ibrahim."


"Maaf nona...! Apakah Anda sudah buat janji?"


"Belum. Tapi ibuku yang sudah buat janji dengan bapak Husein Ibrahim.


"Siapa nama ibumu?"


"Nyonya Shanaz Maharani."


"Maaf ...! Kami tidak bisa mengijinkan Nona masuk ke dalam karena beliau sedang ada meeting penting."


"Justru kedatangan saya berkaitan dengan meeting penting itu." Timpal Tisha dengan wajah garang.


Dengan secepat kilat ia mendaratkan tamparan keras pada pengawal tak beradab itu." Jaga mulutmu.... bajingan rendahan...!" Bentak Tisha sambil menunjuk wajah pria berengsek itu.


"Harusnya tangan lembut itu untuk membelai wajah Abang, cantik." Ucap mereka sambil menyeringai hendak melecehkan Tisha hingga ada suara keras yang sedari tadi mengawasi aksi Tisha untuk menghentikan para penjaga rumah dinas ketua hakim Ibrahim itu.


"Hentikan ...!" Teriak seorang pria tampan yang berjalan mendekati para penjaga itu.


Tisha menundukkan wajahnya dan hendak kembali ke mobil namun lengannya di tahan oleh Rangga.


"Apakah kamu mau ketemu dengan ayahku?" Tanya Rangga.


"Aku mau ketemu dengan ketua hakim."


"Iya, itu ayahku."


"Ayahmu tuan Husen Ibrahim. Tapi, di luar ia di kenal ketua hakim agung. Apakah sampai di sini, anda paham?"


"Apakah kamu masih mau ketemu dengan bapak ketua hakim atau mau berdebat denganku juga, hah? Kau ini cerewet sekali." Gerutu Rangga dengan tampang datarnya.

__ADS_1


"Iya, aku mau ketemu beliau. Kau ini sangat arogan. Untung saja wajahmu sangat tampan kalau tidak...-"


"Kalau tidak, kamu mau apa?" Tanya Rangga dengan menaikkan satu alisnya.


"Tidak ada apa-apa. Sure ..!" Tisha menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V dengan sedikit senyum.


"Baiklah. Kamu yang punya kepentingan di sini. Aku akan mengantarmu ke dalam. Setelah kamu bicara, baru aku pamit pada ayahku mau ke luar negeri." Ucap Rangga.


Keduanya masuk dan Tisha maju ke tempat meeting itu membuat diskusi alot diantara para pejabat itu berhenti bicara saat melihat wajah Tisha.


"Assalamualaikum, selamat malam...!" Ucap Tisha dengan sedikit mengangguk hormat.


"Saya adalah putri pertama dari nyonya Shanaz Maharani. Saya dengar kalian ingin menggeser posisi ibuku sebagai kandidat kuat untuk menempati posisi ketua hakim berikutnya karena rumor recehan dari orang-orang yang tidak ingin ibuku menempati jabatan bergengsi itu." Ucap Tisha dengan bibir bergetar.


Semua orang menatapnya dalam, menunggu perkataan Tisha selanjutnya. Tuan Husen Ibrahim beranjak dari tempat duduknya menghampiri Tisha yang sedang menahan kegundahan hatinya dengan mata berkaca-kaca.


"Sebenarnya, apa yang kamu ingin katakan, nak ...?" tanya tuan Husen Ibrahim.


"Ada yang mengatakan jika ibuku memiliki putri haram dari suaminya dengan wanita lain. Ia menyembunyikan kebusukan suaminya dengan mengakui putri dari pelakor itu sebagai putri kandungnya.


Untuk itu mereka memilih alasan kehidupan rumah tangga orang lain yang hancur agar posisi ibuku mudah di geser kan oleh orang-orang yang merasa dirinya tidak punya aib dalam hidupnya.


Apa kesalahan ibuku? Kenapa kesalahan ayahku ditimpakan kepadanya? lantas kehadiranku di dunia ini tidak punya pilihan lain yang terlahir dari seorang pelakor. Jika bisa memilih aku ingin dilahirkan dari dua cinta yang saling mencintai tanpa ada hati wanita lain yang tersakiti.


Mami Shanaz sudah memberikan kasih sayangnya padaku dengan menekan rasa sakitnya karena sebuah pengkhianatan ayahku. Kehadiranku membuatnya banyak menangis dan harus menanggung malu dan beban mental seumur hidupnya karena diriku yang terlahir sebagai putri dari seorang pelakor.


Tolong jangan hukum mami Shanaz karena dia sudah banyak menderita. Berikan haknya yang adil sesuai potensi yang dimilikinya untuk berdiri di depan ruang pengadilan demi untuk menegakkan keadilan seadil-adilnya." Ucap Tisha penuh harap sambil berurai air mata membuat semuanya terdiam.


Tuan Husein Ibrahim segera bertindak saat mendengar perkataan menyentuh dari Tisha yang sangat membela ibu sambungnya Shanaz.


"Terimakasih nak...! Kamu sangat hebat mengakui dirimu sebagai anak sambung ibumu di hadapan semua anggota rapat malam ini, hanya untuk membela hak ibumu. Aku akan segera menyelesaikan rapat ini untuk melakukan voting, doakan semoga nama ibumu terpilih malam ini. Kamu mau menunggu hasilnya?" Tanya tuan Husen Ibrahim.


"Tidak Tuan...! Saya yakin bapak ibu di sini adalah orang-orang terhormat dan terdidik secara lahir batin dengan memiliki intelektual tinggi.


Mereka akan menggunakan nurani mereka untuk memilih siapa yang pantas mereka pilih untuk menduduki kedudukan kehormatan itu." Ucap Tisha lalu pamit pada tuan Ibrahim segera ke bandara karena ia takut ketinggalan pesawat karena tiga jam lagi


pesawatnya akan berangkat.

__ADS_1


__ADS_2