Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
23. Tumbuh Benih Cinta


__ADS_3

Sejak mendengar pengakuan penolakan Arayyan yang tidak mencintainya, Tasya terlihat lebih pendiam dan tidak lagi seceria sebelumnya. Ia memendam rasa sakit hatinya sendirian tanpa ingin diketahui oleh sang ibu.


Di hadapan ibunya ia bersikap seperti biasa walaupun hatinya saat ini rasanya sudah remuk redam. Bagi Tasya kebahagiaan ibunya lebih penting daripada dirinya.


Berusaha sekuat mungkin untuk melupakan Rayyan sampai saat ini bukan membuat Tasya bisa melakukannya. Justru semakin ia melupakan semakin sakit itu menggerogoti hatinya.


"Maafkan aku hatiku, aku tidak bisa melupakan pria itu yang telah membuat aku jatuh cinta padanya." Lirih Tasya sambil menatap wajah tampan Rayyan dari ponselnya.


Sementara di luar negeri tepatnya di kota London, Tisha sedang menempuh pendidikannya dengan mengambil spesialisasi dokter bedah. Kuliahnya yang baru berjalan enam bulan ini, membuat ia sangat semangat menekuni dunianya hingga melupakan cinta pertamanya pada Rayyan.


Walaupun begitu ia tidak mampu menepiskan kerinduannya kepada ibu sambungnya dan juga adiknya tercinta Tasya. Tisha agak sulit menghubungi Tasya karena gadis itu sekarang terlihat sangat sibuk dengan membalas pesan singkat agar tidak diganggu oleh Tisha.


Tisha memaklumi sikap Tasya karena Tasya yang saat ini mengelola perusahaan peninggalan ayah mereka sendirian. Lagi pula Tasya tidak lupa terus menyokong hidup Tisha dengan mentransfer uang untuk kakaknya itu karena memang bagiannya Tisha.


Rangga yang baru pulang kerja mendapati Tisha yang sedang duduk termenung sambil menatap bunga bermekaran sambil merapatkan mantel ditubuhnya. Rangga mendekati Tisha dan ikut menghenyakkan bokongnya di bangku taman itu.


"Apakah kamu sedang menikmati kesedihanmu di malam yang dingin seperti ini?" Tanya Rangga.


"Saat merasakan kerinduan pada orang yang kita cintai, udara dingin mampu memberikan nuansa kehangatan saat tangan kita memeluk tubuh sendiri." Ujar Tisha.


"Apakah udara hangat tidak memberikan hal yang sama kepadamu bagaimana kerinduan yang kamu rasakan saat ini?"


Tisha membalikkan tubuhnya menghadap Rangga. Sepertinya Rangga sedang meledek dirinya tentang kata-kata yang sangat puitis yang barusan ia ucapkan.


"Kalau lagi musim panas, malah kegerahan yang kita rasakan. Di mana nikmatnya?" Sungut Tisha geram.


"Oh...! Jadi rindunya berlaku pada musim dingin saja?" Goda tangga makin membuat Tisha keki.


"Ihhh...! Nggak gitu juga kali. Issshhh..! Kamu ini menganggu saja. Sudahlah aku mau masuk." Ucap Tisha beranjak pergi namun tubuhnya di tarik oleh Rangga hingga Tisha jatuh pangkuannya Rangga.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak merindukan aku, Tisha? Apakah tidak ada namaku di hatimu sedikit saja? Mengapa kamu sulit sekali ditaklukkan sayang? Apakah ada lelaki lain sudah mengusai hatimu?" Tanya Rangga serentetan membuat Tisha menaikkan satu alisnya.


"Aku tidak menyukaimu Rangga." Ucap Tisha segera bangkit dari pangkuan Rangga.


"Tidak usah menyukaiku karena yang. butuhkan cintamu. Apakah kamu tidak mencintaiku?"


Rangga berjalan sambil merangkul bahu Tisha cuek." Aku juga tidak mencintaimu..!" Tangan Rangga di tepis oleh Tisha membuat hati Rangga begitu sakit.


"Tuan ...! Makan malamnya sudah siap." Ujar bibi Leli.


"Baik bibi kami akan segera ke meja makan." Sahut Rangga lalu menarik tangannya Tisha menuju ke ruang makan.


Keduanya menikmati makan malam mereka tanpa ada perbincangan serius dan keduanya sesekali melempar candaan lalu terkekeh bersama. Rangga mencoba mengerti perasaan Tisha yang belum bisa move on dari Rayyan.


...----------------...


Pagi itu Rangga terlihat terburu-buru berangkat kerja hingga melupakan proposal miliknya yang tertinggal di meja di ruang tamu.


Tisha segera menuju ke perusahaan milik Rangga untuk membawa berkas milik Rangga. Setibanya di perusahaan Rangga, Tisha melihat seorang wanita cantik dan sangat seksi dan tentu saja warga negara asli di kota itu.


Wajah bule dengan rambut pirang sedang menggoda Rangga dengan sengaja memperlihatkan dada sekangnya karena baju gadis itu mengenakan kemeja dengan dua kancing yang sengaja di lepas.


Tisha melihat Rangga sedikit menghindari gadis itu dengan tetap fokus pada laptopnya. Melihat itu Tisha mulai melancarkan aksi konyolnya untuk memberikan gadis itu pelajaran.


Tisha segera berdehem untuk menyadarkan gadis penggoda itu. Entah mengapa hatinya terasa panas melihat wanita itu berusaha merayu Rangga tepat di hadapannya.


"Ehmmm...!"


Sontak Rangga dan Michelle mendongakkan wajah mereka melihat kedatangan Tisha yang tersenyum menatap wajah tampan Rangga yang masih tersentak kedatangan Tisha.

__ADS_1


"Maaf saya menganggu mu, sayang!" Ucap Tisha terdengar mesra namun tidak dengan Rangga sedikit menatap wajah Tisha dengan pandangan rumit.


Untuk meyakinkan Michelle, Tisha mendekati Rangga yang berdiri menyambutnya dengan memberikan Rangga kecupan mesra dibibir Rangga.


"Sayang ..! Kamu ketinggalan berkatmu. Aku sengaja mengantarnya sebelum berangkat kuliah. Aku takut ini sangat penting untukmu jadi aku buru-buru mengantarnya." Ucap Tisha seraya memberikan berkas itu pada Rangga.


Rangga juga berpikir konyol sesaat untuk membalas Tisha dengan mengecup balik bibir Tisha sedikit agak lama membuat Tisha mencubit perut pria tampan itu untuk menghentikannya.


"Terimakasih baby!" Muuahhh.


Rangga segera menghentikan aksinya lalu merangkul pinggang ramping Tisha." Michelle..!" Kenalkan ini tunanganku Tisha. Sebentar lagi kami akan menikah." Ucap Rangga sambil tersenyum pada Tisha penuh makna.


"Michelle...!" Ucap Michelle seraya menyodorkan tangannya namun wajahnya terlihat muram.


"Michelle...! Di negaraku, pria tidak begitu menyukai perempuan yang terlalu fulgar memamerkan dada mereka. Itu bukan membuat mereka tertarik tapi membuat mereka sangat risih kecuali lelaki nakal yang memanfaatkan kesempatan untuk melihat sesuatu yang gratis. Sepertinya kamu bukan barang gratis bukan?" Sarkas Tisha membuat wajah Michelle terlihat memerah.


"Maaf nona Tisha, saat ini kamu sedang berada di negaraku, tata Krama seperti itu tidak berlaku di negara kami karena di sini semua orang bebas berekspresi termasuk penampilannya." Balas Michelle.


"Benar juga sih ini negaramu dan hal yang terbuka tidak menjadi tabu untuk kalian karena itu berlaku sesama kalian saja. Sayangnya, tunanganku ini berasal dari Asia tenggara di mana budaya ketimurannya masih dijunjung tinggi jadi, kamu tidak bisa menjadi obyek perhatiannya."


Sinis Tisha membuat Michella segera meninggalkan kabinet Rangga dengan wajah sangar.


Tisha tersenyum lalu melihat wajah Rangga yang terlihat mengulum senyumnya." Kenapa kamu senyum begitu?" Tanya Tisha sambil cemberut.


"Karena saat ini kamu sedang cemburu pada Michelle yang saat ini sedang menggodaku. Iyakan?"


"Sudahlah aku mau berangkat ke kampus. Aku sudah terlambat." Ucap Tisha menghilangkan malunya.


"Sampai ketemu di rumah cantik."

__ADS_1


Tisha menahan gejolak hatinya yang saat ini sedang berbunga-bunga namun ia masih enggan mengakui perasaannya pada Rangga.


Benih cinta itu telah tumbuh di hati Tisha kalau saat ini ia sangat mencintai Rangga.


__ADS_2