Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
26. Menunggu Hari


__ADS_3

Kebahagiaan Tisha dan Rangga saat merayakan kelulusan Tisha yang sudah menyandang gelar dokter spesialis bedah. Keduanya memilih restoran untuk makan malam di tempat tersebut.


Sepuluh bulan pernikahan mereka membuat keduanya tidak patah arang untuk terus ikhtiar agar bisa mendapatkan momongan.


Sementara di Jakarta, Shanaz harus mengigit jarinya sendiri kala putri tercintanya tiba-tiba pingsan saat hendak berangkat kerja. Tasya yang saat itu sudah berpakaian rapi, terlihat anggun dengan blazer abu yang


dikenakannya. Tasya berjalan menuju meja makan di mana Shanaz sedang menunggunya sarapan.


"Assalamualaikum mami!" Sapa Shanaz sambil menarik kursinya, namun sesaat kemudian ia merasakan ulu hatinya sangat sakit hingga ia harus menahannya dengan kedua tangannya sambil meringis kesakitan.


"Mami...! Ini sangat sakit." Ucap Tasya dengan keringat dingin menghiasi wajah pucatnya.


Shanaz segera bangkit ingin melihat keadaan putrinya yang tiba-tiba pingsan." Tasya ...!" Teriak Shanaz yang mendapati putrinya sudah jatuh terjerembab di lantai dengan darah keluar dari hidungnya.


Beberapa pelayan ikut mendekati Tasya dan membantu nyonya Shanaz membawa putrinya ke sofa ruang keluarga. Bibi Ima segera menghubungi dokter tapi dicegah oleh Shanaz yang meminta untuk mengirimkan ambulans ke rumahnya.


"Bibi....! Sepertinya keadaan Tasya sangat parah. Sebaiknya kita langsung bawa ke rumah sakit tempat Tisha bekerja." Ucap Shanaz.


"Iya Nyonya Shanaz! Andai saja ada non Tisha di sini, mungkin non Tisha langsung memeriksa keadaan non Tasya dan kita tidak perlu panik seperti ini." Ucap bibi Ima terlihat sendu.


"Tidak usah bahas gadis itu di rumah ini, bibi. Kita harus fokus pada kesehatan Tasya." Ucap Shanaz yang terlihat sangat kuatir pada putrinya.


Tidak lama kemudian, mobil ambulans pun datang. Petugas ambulans memasang selang oksigen pada Tasya lalu membawa gadis itu ke rumah sakit di temani oleh ibunya Tasya.


Setibanya di rumah sakit, Tasya di sambut oleh dokter Rahma yang merupakan sahabat akrabnya Tisha. Selama masa pemeriksaan dengan mengambil sampel darah untuk mengetahui gejala penyakit yang di idamkan oleh Tasya.

__ADS_1


Rahma meminta bagian patologi untuk mempercepat melakukan penelitian pada pada sampel darah Tasya. Beberapa menit kemudian, hasil dari lap bagian patologi keluar. Rahma segera membaca hasil tes itu dengan mulut melebar.


"Hahhh ... astaga! ini sangat mengerikan." Gumam Rahma lirih.


Ia segera menemui nyonya Shanaz yang sedang mendampingi putrinya di ruang IGD." Nyonya...! Apakah kita bisa bicara sebentar?" Ucap dokter Rahma dengan wajah murung.


Shanaz segera masuk ke ruang kerja Rahma dengan mendengarkan penjelasan Rahma sebaik mungkin." Maafkan saya nyonya Shanaz kalau penyampaian informasi tentang penyakit yang dialami nona Tasya akan membuat Anda syok." Ucap Rahma dengan menatap wajah Shanaz yang sudah berubah sedih.


"Sampaikan saja dokter! Saya siap mendengarkan hal terburuk sekalipun tentang putriku." Ujar Shanaz yang sudah siap batinnya mendengar penjelasan dokter Rahma.


Dokter Rahma menyerahkan laporan hasil lab pada nyonya Shanaz sambil menjelaskan apa isinya dari laporan itu yang dipenuhi dengan penjelasan secara klinis dan juga rentetan berupa kalimat latin yang tidak ia mengerti.


"Aku tidak tahu apakah nona Tasya sudah mengetahui penyakit yang dideritanya sebelumnya ataukah memang ini baru pertama kalinya dia mengunjungi rumah sakit dalam keadaan penyakitnya yang sudah parah." Ucap dokter Rahma sedikit berbelit-belit membuat Shanaz juga sedikit gregetan.


"Mengapa tidak jelaskan langsung pada intinya saja dokter?" Intonasi suara Shanaz mulai tinggi dengan tatapan intimidasi menciptakan aura yang terlihat sangat mencekam.


"Tidak....ini tidak mungkin. Putriku Tasya tidak ....-" Shanaz tidak bisa melanjutkan kata-katanya selain bangkit berdiri menghampiri lagi putrinya yang masih tergolek lemah.


"Putriku...! Apakah kamu ingin meninggalkan mami juga seperti ayahmu, nak?" Tanya Shanaz sambil meratap di sisi putrinya.


Dokter Rahma hanya menarik nafas berat karena sedikit banyak ia mengetahui kehidupan keluarga ini. Tidak lama, Tasya mulai siuman sambil mengerjapkan matanya menatap wajah sembab ibunya sambil menggenggam tangannya.


"Mami...! Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Tasya lirih.


"Sejak kapan kamu menderita sakit ini Tasya? Mengapa kamu harus merahasiakan kepada mami, sayang?" Desak Shanaz bercampur sedih dan kecewa secara bersamaan.

__ADS_1


"Jika aku beritahu mami, pasti kesehatan mami akan terganggu dan Tasya tidak mau mami jatuh sakit." Sahut Tasya lembut.


"Untuk apa kamu memikirkan orangtua ini yang sudah lama hidup di dunia. Setidaknya mami harus tahu keadaanmu. Dengan begitu kita bisa cari solusinya bersama." Ujar Shanaz sambil berurai air mata.


"Mami ...! Waktuku sudah hampir habis. Aku mohon panggil lagi kak Tisha untuk kembali ke Indonesia agar ia yang akan menggantikan diriku untuk menjaga mami." Timpal Tasya.


"Tidak ....! Mami tidak membutuhkan dirinya. Mami butuh kamu nak untuk menemani mami sampai ajal mami tiba." Imbuh Shanaz.


"Kenapa mami keras kepala dan sangat kejam pada kak Tisha yang tidak salah apa-apa. Ia hanya korban dari perselingkuhan ayah dan ibunya. Kenapa dendamnya pada kak Tisha, mami?" Protes Tasya.


"Tolong Tasya! Jangan bahas tentang Tisha. Mami hanya ingin kamu sembuh nak?" Ucap Shanaz.


"Apakah mami tidak sadar, kalau dendam mami itu membuat hatiku juga terasa sangat sakit? Tasya merasa sangat serba salah harus memilih diantara kalian. Karena kalian berdua sangat berarti dalam hidupku setelah ayah." Ucap Tasya mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia pendam.


Shanaz terlihat diam karena tidak tahu lagi mau berkata apa. Apa yang diucapkan putrinya tidaklah salah. Hanya dirinya saja yang belum bisa memaafkan putri sambungnya, Tisha.


Sementara itu dua suster siap memindahkan Tisha ke kamar inap. Shanaz mengikuti brangkar putrinya berjalan bersama dua suster memasuki pintu lift menuju ke kamar inap VVIP milik Tasya yang sudah dipersiapkan.


Di sisi lain, dokter Rahma menceritakan tentang keadaan Tasya yang saat ini menderita penyakit serius.


"Apakah kamu yakin Tasya tidak bisa mendapatkan perawatan intensif untuk kesembuhannya?" Tanya Tisha cemas.


"Andai saja ada, itu hanya memperpanjang umur Tasya bukan mengobatinya sampai sembuh." Ujar dokter Rahma serius.


"Baiklah. Aku akan segera pulang ke Jakarta begitu mendapatkan ijin dari suamiku." Sahut Tisha.

__ADS_1


"Cepatlah pulang Tisha! Sebelum keadaan Tasya semakin memburuk." Pinta dokter Rahma setengah mendesak Tisha.


"Insya Allah. Semoga perjalanan kami lancar sampai tiba di Indonesia. Jangan beritahu mamiku kalau aku akan pulang ke Jakarta." Ucap Tisha sambil menahan air matanya yang hampir tumpah.


__ADS_2