
Tasya segera menemui ibunya di kamarnya. Ia tidak sabar ingin berbagi cerita pada sang mami yang mengharapkan putrinya segera menikah.
Tasya memarkirkan mobilnya dengan asal. Ia segera berlari sambil menanyakan bibi Ima yang sedang membersihkan kaca jendela.
"Bibi Ima! Apakah mamiku sudah pulang?"
"Nyonya besar ada di kamarnya, non."
"Terimakasih ya bibi!" Ucap Tasya segera naik ke lantai dua menemui ibunya.
Pintu dibuka dengan cepat. Shanaz tersentak mendapati putrinya memanggilnya dan langsung memeluk tubuhnya.
"Ada apa dengan putriku terlihat sangat bahagia hari ini?" Tanya Shanaz sambil ikut nyengir.
"Mami...! Sebentar lagi mami akan punya menantu. Aku hanya ingin menikah dengannya dan akan seperti itu. Hanya dia yang ingin kuberikan hati dan jiwaku." Ucapnya dengan wajah berbinar.
"Apakah dia sudah menyatakan cintanya padamu, sayang?" Tanya Shanaz sambil menatap wajah cantik putrinya yang langsung terbenam senyum itu.
Tasya menggeleng." Ini hanya obsesi ku saja, mami. Bahkan pria itu hanya bersikap baik tapi tidak ada ucapan atau gesture tubuhnya yang memperlihatkan perasaan sukanya padaku." Ucap Tasya yang berubah sendu tidak seceria tadi.
Shanaz tidak ingin melihat putrinya menjadi sedih, iapun memberikan motivasi agar Tasya tidak menyerah begitu saja pada cintanya." Biasanya pria yang bersikap datar dan terkesan angkuh, selalu menyembunyikan perasaan sukanya.
Ia mungkin segan kepadamu agar tidak terlihat nakal atau lelaki yang suka gombal dengan cumburayu yang membuat perempuan muak dengan sikap tengil prianya. Bersabarlah sayang, mami yakin dia juga memiliki perasaan yang sama sepertimu." Ucap Shanaz menghibur putrinya.
"Semoga saja mami. Aku belum pernah merasakan hatiku berbunga-bunga seperti ini pada pria lain. Aku sangat menginginkannya mami, tapi bagaimana kalau dia sudah memiliki istri atau kekasih?"
Deggggg....
"Mami harap jangan masuk ke kehidupannya jika dia sudah memiliki istri karena itu tidak baik. Mami sudah merasakan sakitnya dikhianati. Jadi jangan berharap cintanya karena akan membuatmu terluka." Ucap Shanaz wajah cantik Tasya kembali muram.
"Aku ke kamarku dulu, mami."
"Iya sayang. Istirahatlah...! Jangan terlalu memaksakan diri untuk sesuatu yang belum pasti. Kamu harus menyelidikinya terlebih dahulu sebelum menjatuhkan pilihanmu kepadanya."
__ADS_1
"Baik mami." Ucap Tasya meninggalkan kamar ibunya.
Tidak lama kemudian, Tisha pulang sambil berdendang riang. Gadis ini selalu tampil ceria walaupun sangat lelah atau hatinya terasa sedih.
Baginya hidup hanya sekali. Tidak perlu tangisi takdir yang sudah terjadi. Cukup jalani kehidupan ini sebaik mungkin. Bersyukur dengan apa yang ada jauh lebih baik. Itu yang prinsipnya.
Kebetulan kedua gadis ini tidur di kamar yang sama. Mereka tidak ingin terpisahkan satu sama lain. Kamar itu sangat luas. Dua tempat tidur yang terpisah satu sama lain dengan dekorasi kamar persis kamar hotel bintang lima.
Tasya yang sudah mengganti piyamanya memperhatikan wajah Tisha yang terlihat ceria.
"Kamu habis dari mana, kak Tisha? Biasanya kamu pulang sebelum aku, apakah hari ini banyak pasien?"
"Aku habis kencan dengan si tampan." Ucap Tisha penuh misteri.
"Apakah ada yang menyukaimu?" Ledek Tasya karena tahu kalau Tisha adalah gadis yang sangat cerewet. Tidak ada yang betah padanya. Karena kalau bicara seperti rel kereta api yang tidak akan mau putus kalau tidak ditegur.
"Dia baik-baik saja. Malah ocehan ku di anggap nyanyian merdu." Ucap Tisha membayangkan bagaimana Rayyan tadi hanya mengulum senyum saat Tisha bicara apa saja padanya.
"Apakah dia tampan?" Tanya Tasya penasaran.
"Apakah kamu akan mengenalkan dia pada mami?"
"Nanti saja. Aku ingin dia lebih serius untuk melamar ku, dengan begitu aku akan menikah dan pergi dari rumah ini." Ucap Tisha terlihat serius.
Tasya akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Rayyan tadi pagi. Tisha mendengarkannya dengan baik.
Keduanya cekikikan di kamar mereka membicarakan lelaki yang sama yang saat ini membuat mereka bahagia. Hingga akhirnya keduanya lelah dan tertidur.
...----------------...
Usai pulang kerja, Rayyan sudah menunggu Tisha di depan rumah sakit. Tisha yang sudah merubah penampilannya tersenyum melihat wajah tampan sang kekasih yang mengangkat kedua lengannya hendak memeluk Tisha.
Dengan senang hati Tisha menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Rayyan. Rayyan mengecup kening Tisha dan keduanya keluar dari lobi itu dan langsung masuk ke mobil.
__ADS_1
"Kita mau ke mana sekarang?" Tanya Rayyan saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Enaknya mau ke mana?" Tanya Tisha balik membuat Rayyan berpikir cepat.
"Bagaimana kalau aku langsung ke rumahmu untuk melamarmu?"
"Serius kamu ingin melamar ku, Rayyan?"
"Tentu saja. Kalau kelamaan, nanti ada yang duluan merebut mu dariku. Jadi siapa cepat dia dapat." Ucap Rayyan serius.
"Aku mohon jangan sekarang. Kalau mendadak seperti ini mami akan marah. Lagi pula kelihatan mami saat ini sedang setress dengan pencalonannya sebagai hakim agung Tipikor Jakarta Selatan. Nanti saja kalau beliau sudah diangkat jadi hakim agung." Ucap Tisha.
"Bukankah dia hanya ibu sambung mu? Kenapa kamu begitu takut untuk menyampaikan keinginanmu untuk berumahtangga?"
"Aku hidup dibawah belas kasihan dari mami ku. Walaupun aku tidak mendapatkan keadilan di rumah itu, berkat cintanya aku dapat tumbuh besar dan mengeyam pendidikan karena cintanya yang besar kepadaku. Jadi sudah seharusnya aku berbakti pada beliau."
"Baiklah. Tidak apa. Lagi pula aku harus cerita kepada ibuku kalau aku serius ingin menikahi mu, dengan begitu ibuku akan menyiapkan diri untuk datang meminangmu secara resmi.
"Baiklah. Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kita nonton film bioskop saja?" pinta Tisha diangguki oleh Rayyan.
Sementara itu di rapat penting pemilihan hakim agung terjadi pro-kontra antara dua kubu lawan yang ingin menggagalkan rencana pengangkatan Shanaz sebagai hakim agung.
"Kenapa harus memilih nyonya Shanaz yang jelas-jelas memiliki rekam jejak yang tidak memenuhi syarat sebagai kandidat untuk menduduki posisi hakim agung?" Protes Tuan Hamzah.
"Rekam jejak apa yang kamu maksud?" Tanya ketua hakim tidak mengerti."
"Dia memiliki anak haram dari suaminya yang dibesarkannya selama ini dan mengklaim kalau putri pertamanya itu adalah putri kandungnya. Dia sedang menyimpan kebohongan besar rahasia keluarganya demi reputasi.
Jika kita memilih dia menjadi hakim agung, apakah mungkin dia akan bersikap adil pada terdakwa? setiap kali memutuskan hukuman." Sahut tuan Hamza.
Ketua hakim Haris mulai bimbang dengan keputusannya. Iapun menunda rapat itu untuk Minggu depan. Shanaz terlihat kecewa dan menahan geram karena ambisinya ingin menjadi hakim agung terhalang oleh masalalunya dan itu adalah karena putri sambungnya Tisha.
Tuan Hamza melirik Shanaz yang tidak peduli dengannya dan lebih memilih meninggalkan tempat gedung pengadilan itu.
__ADS_1
"Andai saja kamu menikah denganku Shanaz, aku rela mempromosikan dirimu sebagai kandidat kuat untuk menduduki posisi hakim agung." Gumam tuan Hamza yang sedang jatuh cinta kepada Shanaz.