Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
19. Mengejar Cinta


__ADS_3

Usai menyampaikan unek-uneknya pada para jajaran pejabat mahkamah agung itu, Tisha segera beranjak pergi dari tempat itu. Rasa lega dan juga kesedihan bercampur menjadi satu saat ini.


Rangga yang menyaksikan sendiri bagaimana keberanian Tisha mau merendahkan dirinya demi cinta untuk ibu sambungnya. Tisha yang sudah berangkat ke bandara dengan taksi yang sama di susul oleh Rangga.


Setibanya di bandara, tanpa di duga Tisha dan Rangga rupanya mendapatkan nomor kursi yang sama beda huruf saat melakukan boarding pass. Tisha berjalan lebih cepat karena gate yang cukup jauh di terminal untuk keberangkatan luar negeri.


Tiba di ruang tunggu Tisha menghempaskan bokongnya sambil menutup wajahnya. Rasanya hatinya saat ini sedang di aduk-aduk kesedihan karena harus meninggalkan saudara dan ibunya.


Tisha tidak kuat menahan kesedihannya akhirnya menangis sendirian di ruang tunggu. Bukan hanya Tisha yang menangis, banyak penumpang lain yang sedang menangis karena berpisah dengan keluarga mereka terutama anak-anak muda yang harus menempuh pendidikan mereka di luar negeri.


Rangga yang melihat Tisha duduk agak menjauh dari penumpang lainnya, mengambil tempat duduk sebelah gadis itu sambil menyodorkan sapu tangannya.


"Pasti ingusmu banyak. Ini, lap lah dengan sapu tangan ini. Kamu sangat jorok." Ucap Rangga membuat Tisha mengangkat wajahnya sambil mengambil sapu tangannya Rangga.


Dengan serta merta, Tisha mengeluarkan ingusnya yang banyak untuk membuat Rangga kesal. Berharap Rangga menjauhinya.


"Sudah lega sekarang?" Tanya Rangga sambil tersenyum samar.


"Kenapa masih di sini? Sudah tahu aku jorok. Menganggu kesenangan orang saja." Gerutu Tisha.


"Mana ada orang lagi sedih itu bentuk suatu kesenangan. Kamu sedang berdendang atau menangis." Kesal Rangga.


"Ya, jelas saja menangis. Aku sedang menikmati kesedihanku, kamu malah menganggu kesenanganku."


"Sudahlah...! Sedihnya jangan lama-lama. Mata kamu sudah bengkak. Hidungmu makin merah dan mengembang. Kamu terlihat sangat jelek." Ledek Rangga.


"Biarin. Yang penting wajahku yang jelek bukan kamu."


Rangga sengaja menggoda Tisha agar gadis ini tidak menangis lagi." Kamu mau ke mana?" Tanya Rangga.


"Bukan urusanmu." Ketus Tisha.


"Gadis cantik itu nggak boleh terlalu galak. Nanti cantiknya luntur lho."


"Pergi saja sana. Aku ingin menangis lagi."


"Ternyata kamu sangat menggemaskan Tisha. aku suka gadis sepertimu." Batin Rangga.


Tidak lama operator maskapai penerbangan tujuan Jakarta-London mengumumkan pesawat akan segera berangkat. Penumpang di harapkan untuk segera memasuki pesawat dari pintu tujuh. Tisha dan Rangga kompak berdiri menuju tempat antrian pemeriksaan tiket pesawat oleh dua orang petugas maskapai pesawat tersebut.


"Kamu mau ke London juga?" Tanya Tisha.


"Iya. Aku bekerja di sana." Sahut Rangga.


"Kerja apa di sana?"


"Aku seorang arsitek bangunan."

__ADS_1


"Dan kamu sendiri mau apa ke London?"


"Mau melanjutkan pendidikan kedokteran. Mau mengambil spesialisasi bedah."


Setibanya di dalam pesawat keduanya masuk di kabin bagian kelas bisnis. Rangga membantu meletakkan koper kecil milik Tisha dan juga miliknya di atas bagasi.


Sementara Tisha mencari nomor tempat duduknya begitu juga Rangga. Keduanya sama-sama cekikikan saat mengetahui mereka bisa duduk sebangku.


"Ternyata kita berdua berjodoh." Ungkap Rangga.


Tisha tersipu malu, lalu memalingkan wajahnya ke jendela. Rangga sibuk memasang seat belt miliknya karena pramugari sedang memberikan instruksi cara penggunaan seat belt dan juga pelampung serta cup oksigen bila pesawat mengalami penurunan ketinggian beberapa ribu kaki dari permukaan bumi.


Pesawat sudah mengudara dengan kecepatan stabil. Para pramugari sibuk menawarkan makanan dan minuman untuk para penumpang. Rangga membuka lagi obrolan untuk menghilangkan kejenuhan.


"Apakah kamu sudah mendapatkan tempat tinggal di sana?"


"Belum. Mungkin untuk sementara aku menginap di hotel dulu baru mencari apartemen."


"Kalau mau, tinggal saja bersamaku. Aku tinggal dengan dua orang pelayan dan sopir serta satpam. Aku tinggal di rumah." Ucap Rangga.


"Tidak. Terimakasih. Aku mau tinggal sendirian. Ada orang lain malah membuatku risih. Seperti yang kamu bilang, aku ini orang yang jorok. Hidup semaunya dan pakaian ku sering ...! Sudahlah. Tidak usah di bahas. Tidak penting juga. Setidaknya aku mau tinggal sendirian. Tidak ada yang memarahi ku atau mengatai ku." Ujar Tisha.


"Apakah kamu tersinggung dengan apa yang aku katakan kepadamu tadi?"


"Sangat."


"Di maafkan."


"Kenalkan namaku Rangga. Aku harap kita bisa menjadi teman dan syukur-syukur bisa menjadi sepasang kekasih."


"Jangan terlalu banyak berharap! Kamu bukan pria idaman ku." Balas Tisha.


"Tidak apa. Sejalannya waktu, kamu pasti menyukaiku." Ujar Rangga.


"Buang-buang waktu."


"Ayolah. Tinggallah dengan ku. Aku punya empat kamar kosong di rumahku. Terserah kamu mau pilih yang mana."


"Kenapa banyak sekali kamarnya?"


"Aku persiapkan untuk anak-anakku kelak."


"Kamu tipikal ayah yang sempurna."


"Berarti kamu menyukaiku?"


"Suka, tapi bukan cinta."

__ADS_1


"Apa yang beda?"


"Menyukai bisa pada siapa saja termasuk teman, guru, tetangga dan lainnya. Tapi cinta cukup untuk satu orang karena manusia hanya punya satu hati." Ucap Tisha.


Saat sedang bicara, tiba-tiba pesawat mengalami guncangan hebat. Sontak saja Tisha langsung memeluk Rangga dan Rangga pun mendekap Tisha dengan erat.


Co-pilot mengumumkan saat ini sedang ada badai dan di harapkan semua penumpang untuk berdoa sesuai keyakinan mereka masing-masing.


Rangga membaca doa sambil menenangkan Tisha yang ketakutan dalam pelukannya.


"Tenanglah sayang ..! Jangan takut. Semua manusia akan menghadapi kematian." Ucap Rangga.


"Ini sangat menyeramkan Rangga." Ucap Tisha dengan bibir gemetar.


Tidak lama terdengar pengumuman kalau ada pasien yang akan melahirkan. " Tolong...! Apakah diantara kalian ada yang dokter?" Tanya pramugari.


Rangga melihat wajah Tisha yang masih terlihat pucat. " Apakah kamu bersedia membantu ibu muda itu melahirkan?"


"Dalam keadaan seperti ini?" Sentak Tisha tak percaya. Jangankan untuk menolong orang lain. Menolong dirinya sendiri saat ini saja, ia tidak bisa, malah masih ketakutan memeluk Rangga apa lagi menolong orang lain.


"Tisha ...! Kamu seorang dokter. Kamu harus bertanggungjawab dengan profesimu. Kamu sudah bersumpah untuk itu." Pinta Rangga.


"Auhhghtt....tolong bayiku! Aku tidak mau bayiku mati." Teriak wanita itu dari depan sana yang sudah sangat kesakitan.


"Tolonglah istriku. Siapa dokter di sini?" Pinta suami ibu hamil itu.


Tisha mengangkat tangannya secara perlahan dengan bibir gemetar. Rangga meyakinkan Tisha untuk berani menghadapi tantangan.


Akhirnya Tisha meminta Rangga menurunkan koper kecilnya karena peralatan medisnya ada di dalam koper itu. Tisha berjalan perlahan di bantu dua orang pramugari menuju ibu muda yang sedang mengalami kontraksi.


"Berapa usia kandungan mu?" Tanya Tisha berusaha tenang.


"Baru delapan bulan."


"Baiklah. Tolong beri aku selimut dan alkohol dan pisau atau gunting." Ucap Tisha sambil memeriksa keadaan pasien dengan stateskop miliknya.


Tisha memberikan instruksi kepada ibu hamil itu untuk mengejan. Dalam tiga kali mengejan, akhirnya bayinya bisa dilahirkan dengan lancar. Tisha memotong tali pusar bayi. Dan memberikan bayi itu pada pramugari. Ia mengurus ibu itu dengan rapi.


Tepuk tangan itu terjadi di dalam sana walaupun pesawat masih saja berguncang.


"Maukah kamu memberikan nama untuk putriku?"


Tisha menyanggupinya." Namanya Shanaz. Shanaz Maharani."


"Siapa dia bagimu?" Tanya ibu si bayi.


"Ibuku. Dewi penolongku." Ucap Tisha dengan berurai air mata membuat Rangga merasa sangat terharu.

__ADS_1


__ADS_2