
Rangga melepaskan kepergian istrinya dengan begitu berat. Dengan menumpang pesawat komersial, Tisha pulang ke tanah air dengan membawa sejuta kerinduannya untuk adik dan ibu tercinta. Ia tidak peduli kehadirannya akan diterima atau tidak oleh ibu sambungnya, yang jelas ia ingin merasakan lagi berada di tengah keluarganya.
"Sayang ...! Apakah kamu yakin tidak bisa menunda kepulanganmu untuk sebentar saja, hingga kita bisa pulang bersama?"
Perasaan Rangga semakin berat melepaskan istrinya." Maafkan aku sayang! Kali ini, ijinkan aku pulang sendiri dan aku akan menunggu kepulanganmu di rumah ayah mertuaku. Bagaimana?"
Tisha meyakinkan suaminya untuk merelakannya pergi." Uhhhhmmm....! Tapi ini sangat berat." Ucap Rangga sambil memeluk istrinya dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Kenapa kamu jadi semakin manja sayang...hmmm?" Tisha mengusap punggung suaminya penuh kelembutan.
"Aku jalan dulu ya sayang...!" Tisha mengurai pelukannya lalu memagut bibir suaminya.
Keduanya akhirnya berpisah. Tisha yang tetap mengenakan celana jinsnya dengan blus warna jingga di padu mantel hitam serta sepatu boot hitam.
Entah mengapa Tisha juga merasakan ini adalah pertemuan mereka yang terakhir. Ia kembali membalikkan tubuhnya dan melihat suaminya belum beranjak pergi. Ia kembali berlari menghampiri suaminya yang sedang mengembangkan tangannya untuk menangkap tubuh sang istri.
"Kenapa jadi tidak enak begini?" Batin Tisha memeluk erat suaminya.
"Tisha ....! Ayo kita kembali ke rumah. Jangan pergi sendirian sayang. Tunggulah bersamaku. Pulang tidak pulang, Tasya tetap menemui ajalnya." Gumam Rangga lirih.
"Beda waktunya hanya sepekan, kita akan bertemu lagi." Tisha mendorong sedikit tubuh suaminya lalu berlari cepat menuju ruang tunggu keberangkatan.
"Kenapa kamu masih saja keras kepala sayang?" Suara Rangga terdengar serak menahan tangisnya dengan mata yang sudah memerah.
Sesampainya di dalam pesawat, Tisha mengirim pesan singkat untuk suaminya." Sampai jumpa lagi di Jakarta, aku menunggu kepulanganmu, wahai hidupku." Pesan itu diikuti emoticon hati.
"Jangan genit dengan penumpang yang lain. Aku sedang mengawasi ragamu dengan hatiku." Balas Rangga tidak kalah mesranya.
Pesawat mulai meninggalkan landasan pacu dengan meninggalkan kehidupan Mayang yang begitu manis dengan Rangga. Rangga akhirnya kembali ke kota tempatnya bekerja saat ini dengan menaiki kereta bandara.
"Tisha....Tisha ....Tisha ..!" Aku lebih baik meninggalkan kamu di kota lain daripada kamu yang meninggalkan aku seperti ini." Batin Rangga sambil menatap sendu wajah beku dalam wallpaper ponsel miliknya.
...----------------...
Setibanya di bandara, Rahma sang sahabat sudah menunggu kepulangannya. Kedua sahabat ini saling berpelukan setelah sekian lama berpisah.
"Apakah kamu sudah hamil Tisha?" Tanya dokter Rahma sambil memegang perut Tisha.
"Entahlah. Aku belum memeriksanya lagi. Bagaimana kondisi adikku Tasya?" Tanya Tisha saat mereka sudah berada di dalam mobil Rahma.
__ADS_1
"Masih sama saja Tisha. Sepertinya dia sedang menunggumu. Apakah kamu ingin pulang ke rumahmu?" Tanya Rahma.
"Lebih baik aku pulang ke rumah mertuaku. Aku sudah menikah dan kedatanganku ke rumah mami hanya sebagai tamunya." Ucap Tisha membuat Rahma memaklumi perkataan Tisha yang memang benar adanya.
Ketika turun tol, Tisha tiba-tiba pingin makan makanan kesukaannya. Rahma segera mencari kedai bakso. Keduanya mampir sebentar untuk makan. Setelah itu langsung ke rumah sakit untuk melihat Tasya.
"Apakah mami menjaga Tasya setiap hari, Rahma?"
"Iya ....! Tapi hanya saat pulang kerja hingga menjelang pagi. Setelah itu, bibi Ima yang menggantikan Tante Shanaz." Ucap Rahma.
Cek ..lek ..!
Dokter Rahma yang lebih dulu masuk ke kamar inap Tasya sekaligus memeriksa keadaan Tasya. Tasya tampak lemah menatap wajah dokter Rahma yang terlihat bahagia.
"Dokter lagi happy. Apakah sedang jatuh cinta?" Goda Tasya lirih.
"Happy itu nggak harus jatuh cinta, Tasya. Bisa saja ketemu sahabat lama yang ada di nun jauh di sana." Jelas Rahma sambil senyam-senyum membuat bibi Ima curiga.
"Apakah kak Tisha akan pulang ke Indonesia?" Tanya Tasya dengan wajah berbinar.
"Hmmm!"
"Hari ini. Dan sekarang dia sudah....-"
Tisha segera membuka pintu kamar inap Tasya secara perlahan sambil mengintip ke dalamnya. Tasya melihat wajah cantik kakaknya yang terlihat makin montok dan cantik.
"Kak Tisha ....!" Lirih Tasya sambil meneteskan air matanya.
"Tasya .....!" Tisha segera menghamburkan tubuhnya memeluk adiknya yang terlihat makin kurus. Keduanya menangis haru di ikuti oleh bibi Ima dan dokter Rahma.
"Kakak ...! Kenapa baru pulang? Apakah kakak tidak merindukan aku?"
"Tentu saja aku merindukanmu. Aku sedang menjalani program hamil jadi tidak bisa melakukan perjalanan jauh." Ujar Tisha memberi alasan.
"Apakah sekarang sudah hamil?"
"Belum. Makanya bisa pulang." Ucap Tisha sambil mencolek hidung adiknya.
"Apakah aku masih punya waktu untuk menunggu kehadiran keponakanku?" Tanya Tasya dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Saat ini kami sedang mencari donor hati untukmu. Semoga ada yang memberikan padamu dengan suka rela." Doa Tisha.
"Aaamiin."
Mereka akhirnya bisa ngobrol dengan tenang tanpa merasa cemas akan kedatangannya Shanaz.
Tiga hari kemudian, rupanya Rangga memiliki firasat buruk tentang istrinya. Ia mengajukan cuti kerja lebih awal dari pada jadwal yang seharusnya. Ia segera angkat koper berangkat ke bandara. Walaupun ia sering menghubungi istrinya melalui video call, rasa cemas itu benar-benar menghantuinya.
Rangga sengaja tidak ingin mengabari Tisha akan kepulangannya. Ia ingin menghampiri istrinya dengan pemantauan melalui GPS ponselnya Tisha.
Pagi itu, rupanya Tisha lupa kalau sudah masuk waktu weekend. Tisha hendak menggantikan bibi Ima agar bisa istirahat. Saat membuka pintu kamar inap Tasya, ternyata ada Shanaz yang membuat Tisha syok dan salah tingkah.
Mau tidak mau ia menghampiri ibu sambungnya itu yang saat ini sedang bersandiwara di depan putrinya Tasya.
"Mami....!" Sapa Tisha sambil cipika cipiki pada Shanaz yang terlihat sangat datar dengan senyum kepalsuannya.
Tidak ada pertanyaan yang di ajukan Shanaz pada Tisha layaknya anak dan ibu yang baru bertemu.
"Apa kabar mami!"
"Seperti yang kamu lihat. Aku sehat." Ucap Shanaz dingin.
"Tasya ...! Mami pamit dulu mau cari sarapan pagi nak. Nggak apakan kamu di temani sama bibi Ima?"
Shanaz sengaja menghindari Tisha. Namun Tisha merasa tidak puas. Ia juga ingin ikut dengan Shanaz. Ia kembali pamit pada Tasya.
"Mami...! Sebentar mami...! Aku ingin bicara dengan mami." Ucap Tisha sambil jalan mengekor punggungnya Shanaz yang tidak mempedulikan Tisha.
"Untuk apa kamu pulang? Kami tidak butuh kehadiran kamu. Kamu ada dan tidak juga, tetap saja putriku Tasya tetap sakit." Sinis Shanaz.
"Tapi mami...!"
Dreeett...ponsel Tisha berdering. Gadis ini menghentikan langkahnya untuk mengambil ponselnya dalam tasnya. Saat ingin menerima telepon dari sang suami ia melihat Shanaz tidak hati-hati menyebrang jalan hingga Tisha segera berlari menyelamatkan ibunya itu.
"Mammiiii.....! Awassssss....!"
"Tishaaaaaa.....!" Teriak Rangga saat mobil sedan mewah yang dibawa oleh seseorang hendak menyambar tubuh Tisha dan Shanaz.
"Brakkkkkkk......!"
__ADS_1