Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
16. Pil Pahit


__ADS_3

Perang dingin yang ditebarkan oleh Shanaz pada putri sambungnya, membuat Tasya mulai curiga pada keduanya yang saling diam-diaman satu sama lain.


Tisha yang selalu menghindar ketika berada di rumah dengan mengabaikan makan bersama di meja makan. Ia lebih senang makan di luar daripada harus melihat wajah ibunya yang terlihat sangat angker baginya.


Seperti pagi ini Tisha sudah berangkat pukul enam pagi ke rumah sakit guna menghindari sarapan pagi bersama sebelum berangkat kerja. Otomatis Tasya dan ibunya yang menikmati sarapan pagi mereka sendirian tanpa mendengar celotehan Tisha saat menghadap di meja makan. Apa saja ia bahas di meja makan itu.


"Mami....!"


"Hmm...!


"Mengapa sekarang kak Tisha sekarang seakan menjauh dari kita? Kalau keluar rumah lebih awal pagi dan kalau pulang pasti kita sudah pada tidur. Apakah ada masalah mami?" Tanya Tasya.


"Kalau kerja di rumah sakit itu jadwalnya tidak tentu. Seperti yang dijalani kakakmu sekarang," ucap Shanaz terlihat dingin.


"Apakah mami sedang marahan sama kak Tisha?" Tanya Tasya seakan tidak percaya pada pengakuan ibunya.


"Kenapa harus marah? Apakah kamu melihat kakakmu berbuat salah pada kita?"


"Tidak ada mami, tapi Tasya merasa ada yang kalian sembunyikan dariku."


"Itu hanya perasaanmu saja. Bagaimana hubunganmu dengan Rayyan?"


"Entahlah mami. Dua seperti banyak menghindari aku. Setiap kali aku ke perusahaannya asistennya selalu saja mengatakan dia ada urusan penting di luar perusahaan. Tapi, Tasya lihat mobilnya masih terparkir di depan perusahaannya."


"Mungkin saja dia menggunakan mobil yang lainnya Tasya, bukankah Rayyan itu pemilik perusahaan?"


"Iya benar mami. Kenapa aku tidak berpikir ke arah situ. Tapi harusnya ia membalas pesanku kalau ia memang tidak bisa menerima panggilan dariku."


"Mungkin ada masalah perusahaan yang membuat ia tidak ingin di ganggu oleh urusan pribadi. Jika kamu mencintainya, kesampingkan perasaan mu dan mengertilah dirinya sesaat saja dengan begitu dia akan lebih menyukaimu daripada sebelumnya.

__ADS_1


Seorang pria tidak ingin dikekang ruang geraknya dan dia lebih membutuhkan banyak dukungan dan pengertian dari wanitanya." Imbuh Shanaz dengan bijak.


"Baik mami, aku akan mengikuti saran mami demi merebut hati si tampan."


"Semoga hubungan kalian baik-baik saja. Hari ini mami ingin bertemu dengan ibunya Arayyan guna membahas pertunangan kalian." Ucap Shanaz.


"Apakah harus dilakukan secepat itu mami? apakah Rayyan akan setuju?"


"Seorang anak akan lebih mendengarkan perkataan ibunya. Mau tidak mau anak akan menerima apapun yang disarankan ibunya demi kebahagiaannya."


"Baiklah mami. Tasya tunggu kabar baik dari mami. Tasya berangkat dulu." Ucap Tasya sambil mengecup pipi ibunya.


"Hati-hati sayang!"


Tidak berapa lama, Shanaz juga berangkat ke kantor firma hukumnya. Ia berencana untuk silaturahim ke rumah calon besannya untuk membicarakan pernikahan putrinya dengan Rayyan.


Ia tidak akan menerima kasus yang bertentangan dengan nuraninya karena akan berakibat buruk dengan pembelaannya.


Makanya Shanaz sangat berhati-hati saat menerima kasus bukan berdasarkan strata sosial seseorang yang membayarnya mahal tapi lebih kepada aduan mereka yang merasa teraniaya.


...----------------...


Nyonya Nia sibuk merangkai bunga segar yang dipetik di taman miliknya di dalam vas bunga yang cukup besar untuk di letakkan di ruang tamunya. Ia melihat mobil tamu melintas di pekarangan mansion miliknya dan turunlah Shanaz.


Ia memang mengenal Shanaz melalui televisi dan belum pernah bertemu secara langsung. Melihat kedatangan tamu kehormatan itu, membuat nyonya Nina tersentak bercampur bangga.


"Astaga...! Bukankah itu adalah pengacara kondang Shanaz. Kenapa dia tiba-tiba datang ke rumahku?" Lirih nyonya Nina segera merapikan merangkai bunganya.


"Assalamualaikum..!" Sapa Shanaz saat memasuki ruang tamu. Nyonya Nina menyambutnya dengan membalas salam Shanaz.

__ADS_1


Keduanya duduk di ruang tamu saling bicara basa-basi seperlunya. Pelayan menyiapkan teh herbal yang datang langsung dari China dengan harga yang sangat mahal untuk disediakan khusus tamu penting seperti Shanaz.


Akhirnya Nyonya Nina mulai kepo dengan kedatangan Shanaz ke kediamannya. " Mimpi apa saya semalam bisa kedatangan tamu istimewa hari ini ke gubuk saya." ucap nyonya Nina merendah.


"Begini jeng. Kedatangan saya ke sini berkaitan dengan hubungan putri saya dengan putra anda."


"Oh, jadi non Tisha itu putri anda, jeng? astaga..! Aku tidak menyangka gadis sebaik non Tisha adalah putri anda." Ucap nyonya Nina sambil tersenyum.


Deggggg...


Wajah Shanaz terlihat tercengang karena nyonya Nina bukan menyebut nama putrinya Tasya malah Tisha, putri sambungnya. Saat Shanaz ingin melakukan klarifikasi bahwa bukan Tisha yang menjadi kekasih Rayyan, tapi Tasya, namun mulutnya yang hampir mangap segera bungkam karena nyonya Nina ingin meneruskan perkataannya.


"Awal mula pasangan itu jadian, itu semua karena aku. Putrimu Tisha yang tidak dijodohkan dengan siapapun tiba-tiba tertarik pada pesona putraku saat keduanya bertemu di kamar inapku. Sejak saat itu, Rayyan mulai mendekati Tisha dan Tisha ternyata juga menyukai putraku. Selanjutnya hubungan mereka berjalan dengan baik.


Aku malah berniat untuk melamar putrimu Tisha dalam waktu dekat ini, tapi Tisha melarangku karena kesibukan anda mempersiapkan diri untuk dicalonkan sebagai ketua mahkamah agung. Dia ingin anda dilantik dulu menjadi ketua hakim, baru dia mau dilamar putraku Rayyan.


Wajah Shanaz yang awalnya cerah ceria dengan membawa segudang rencana, kini berangsur runtuh tak tersisa karena ia dan putrinya sudah salah paham pada Rayyan yang memang mengenal Rayyan duluan bukan putrinya Tasya.


Di tambah lagi Rayyan memang mencintai Tisha bukan putrinya, Tasya. Hatinya benar-benar hancur karena harapannya telah terbentur dengan kenyataan yang ada setelah mendengar sendiri uraian pertemuan antara Tisha dan Rayyan.


Untuk menutupi malunya, Shanaz segera pamit kepada nyonya Nina yang masih semangat membahas Tisha. Shanaz sedikitpun tidak berminat jika nyonya Nina terus menerus memuji putri sambungnya itu.


"Maaf jeng...! Saya ada janji dengan klien di kantor. Saya mau pamit dulu. Kedatangan saya hanya ingin mengenal lebih dekat ibunya Rayyan. Senang bertemu dengan anda hari ini." Ucap Shanaz buru-buru dan nyonya Nina hanya mengangguk bingung.


"Baiklah jeng." Hanya itu yang bisa nyonya Nina ucapkan karena Shanaz sudah kabur dan langsung masuk ke mobilnya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk Tasya. Pasti hatinya sangat sedih jika mengetahui kalau Rayyan mencintai Tisha bukan dirinya." Batin Shanaz yang harus menerima pil pahit ini.


Sementara di rumah sakit, pengunduran diri Tisha ditangguhkan sampai akhir bulan karena masih ada tugas yang belum terselesaikan oleh Tisha di rumah sakit itu.

__ADS_1


__ADS_2