
Beranjak dewasa kedua putrinya Bara sudah mulai mengenal cinta. Kecantikan Tisha dengan wajah yang mirip dengan ayahnya namun gadis ini tumbuh dengan sikap yang sedikit cerewet sementara adiknya Tasya tumbuh sebagai gadis cantik yang sangat lembut kepribadiannya.
Keduanya memilih profesi yang berbeda. Tisha memilih untuk menjadi seorang dokter dan Tasya memilih untuk mengelola perusahaan perusahaan ayahnya sebagai seorang pebisnis. Perpaduan kedua sifat mereka tidak lantas membuat mereka menjauh melainkan mereka makin dekat dan saling bergantungan satu sama lain.
Sekarang Tisha sibuk dengan dunia sebagai dokter yang harus mengurus berbagai pasien dengan tingkat kecerewetan saat ditangani olehnya.
Seperti malam ini seorang ibu yang terus saja mengoceh untuk dirawat inap sementara dia tidak mengalami sakit.
"Maaf nyonya...! Aku tidak menemukan sama sekali penyakit ditubuh anda. Sebaiknya anda pulang dan istirahat di rumah." Ucap Tisha saat melakukan visit di kamar pasien yang sudah tiga hari berada di rumah sakit.
Merasa kebohongannya terbongkar, nyonya Nina akhirnya mengalah dan mengakui kalau ia lakukan ini untuk mencari perhatian putranya agar menetap di Jakarta dan tidak lagi bekerja di luar negeri karena perusahaan suaminya membutuhkan putranya yang tergila-gila ingin menjadi seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan buku di Amerika.
"Dokter...! Apakah anda sudah punya kekasih?" Tanya nyonya Nina saat ia bersiap-siap untuk pulang.
"Belum nyonya."
"Kalau begitu, apakah kamu mau menjadi kekasih putraku?" Tawar nyonya Nina to the poin.
Tisha tersenyum lalu menghembuskan nafasnya menghadapi pasiennya yang cerewet ini.
"Aku tidak ingin dijodohkan oleh siapapun nyonya. Aku ingin merasakan bagaimana jatuh cinta pada pandangan per..-"
Cek..lek..
Pintu kamar inap VVIP milik nyonya Nina terbuka. Masuklah seorang pria yang sangat tampan dengan senyum tersungging di bibirnya sambil menatap wajah ibunya yang menyambutnya dengan gembira.
Tisha salah tingkah sendiri melihat wajah tampan putranya nyonya Nina. Iapun segera pamit kepada nyonya Nina untuk kembali ke ruang kerjanya.
Tisha tersenyum samar pada putranya nyonya Nina saat ingin melangkah keluar, namun langkahnya di cegah oleh Arrayan.
"Sebentar dokter ...! Bagaimana keadaan ibu saya?" Tanya Rayyan.
"Bisa kita bicara berdua saja diluar sebentar, Tuan?" Tanya Tisha sambil melirik nyonya Nina.
"Silahkan dokter..!"
__ADS_1
Rayyan keluar duluan diikuti dokter Tisha mengekornya dari belakang.
Nyonya Nina mengerlingkan matanya sambil mengangkat jempolnya ke arah dokter Tisha saat gadis cantik ini menutup pintu kamarnya. Tisha mengerti apa yang diinginkan wanita paruh baya itu padanya untuk membohongi putranya.
"Maafkan saya Tuan! Saya harus menyampaikan berita yang tidak mengenakkan ini pada anda." Ucap Tisha sengaja menjeda ucapannya.
"Maksud dokter apa ya?"
"Jantung ibu anda tidak akan bertahan lama karena kondisi usianya yang membuat jantungnya trus bekerja keras dan sewaktu-waktu akan mengalami serangan jantung mendadak dan anda akan kehilangan kesempatan untuk membahagiakan beliau di masa tuanya." Ucap dokter Tisha penuh didramatisir membuat Rayyan terlihat sedih.
"Jadi apa yang harus saya lakukan dokter?"
"Tetaplah disampingnya sampai ia puas mendapatkan perhatian dan kasih sayang anda sampai menjelang wafatnya." Lanjut dokter Tisha dengan wajah sendu.
"Baiklah dokter, saya tidak akan pernah mengejar mimpi saya dan saya bersedia untuk membahagiakan ibu saya dengan keinginan beliau terhadap saya." Ucap Rayyan terlihat lesu.
"Kenalkan saya dokter Tisha. Semoga anda tidak menyesal dengan keputusan anda untuk merawat ibu anda karena mimpi anda bisa di raih kapan saja anda mau tapi membahagiakan seorang ibu adalah jalan anda untuk meraih kesuksesan karena doanya lebih mustajab daripada ikhtiar anda tanpa diridhoi oleh beliau." Ucap dokter Tisha panjang lebar.
Rayyan menatap wajah cantik dokter Tisha secara teliti. Ia baru menyadari kalau dokter itu sangat cantik.
"Apakah Aku bisa mengajak anda kapan-kapan untuk minum kopi, dokter Tisha?"
Keduanya sambil menukar kartu nama. Dokter Tisha kembali ke ruang kerjanya sementara Rayyan kembali ke kamar ibunya yang sudah siap pulang hari itu.
Rayyan mendorong kursi roda ibunya menuju lobi di mana sopir pribadi ibunya sudah menjemput keduanya. Disaat yang sama, dokter Tisha juga masuk ke mobilnya membuat Rayyan berhenti sesaat untuk melihat penampilan gadis cantik itu tanpa jas putihnya. Rambutnya tergerai indah dengan celana jeans membungkus bokong indahnya terlihat sangat seksi.
"Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar kencang seperti ini? Apakah kamu mencintainya?" Tanya Rayyan sambil merasakan jantungnya.
Mobil Tisha berlalu dengan cepat dan Rayyan masuk ke mobilnya di sambut pertanyaan oleh ibunya.
"Apakah kamu menyukai dokter Tisha, Rayyan?"
Spontan saja pertanyaan itu makin mempercepat detakan jantung Rayyan.
"Sepertinya begitu bunda." Ucap Rayyan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Bunda sangat mendukung hubungan kalian sayang. Bunda sudah jatuh cinta padanya saat pertama kali bertemu dengannya. Walaupun dia gadis yang cerewet tapi kelihatannya dia sangat baik Rayyan." Ucap nyonya Nina.
"Kalau dua jahat, dia tidak pantas jadi dokter bunda. Bisa jadi pasien banyak mati ditangannya." Ucap Rayyan cuek.
Beberapa hari kemudian, Rayyan sudah bergabung lagi dengan perusahaan ayahnya yang dikelola oleh saudara sepupunya Ghifar.
Ghifar yang tahu diri menyerahkan kembali tampuk kekuasaannya pada Rayyan dan bersedia menjadi asisten pribadinya Rayyan.
"Selamat datang lagi saudaraku. Hari ini ada relasi perusahaan Brata yang ingin bergabung dengan perusahaan kita. Sebentar lagi dia akan datang karena saya sudah buat janji untuk kalian berdua."
Ucap Ghifar sambil menyodorkan beberapa berkas kerjasama kedua perusahaan itu.
"Berapa persen saham miliknya di perusahaan kita?" Tanya Rayyan.
"Sekitar dua puluh lima persen Rayyan."
"Baiklah."
Sesaat kemudian ada telepon dari resepsionis yang mengabarkan ada tamu dari perusahaan Barata ingin bertemu.
"Suruh dia temui saya di ruangan Presdir." Titah Ghifar.
"Silahkan ikut saya nona Tasya!" Ucap salah satu resepsionis itu mengantarkan tamunya ke ruang kerjanya tuan Ghifar.
Tidak lama keduanya sudah berada di depan pintu ruang kerja Ghifar. Ghifar menyambut sendiri kedatangan Tasya.
"Rayyan..,! Kenalkan ini adalah nona Tasya putri dari pemilik perusahaan Barata group dan Nona Tasya ini adalah bos pemilik perusahaan ini." Ucap Ghifar memperkenalkan keduanya.
Tasya terlihat terpesona dengan ketampanan Rayyan hingga ia termangu sesat sebelum dipersembahkan duduk oleh Rayyan. Sikap Rayyan tetap ramah pada Tasya.
"Silahkan duduk nona Tasya!" Titah Rayyan membuyarkan lamunan Tasya yang menatapnya tanpa berkedip.
"A..iya..! Terimakasih tuan Rayyan!" Ucap Tasya sambil menghenyakkan bokongnya disofa putih itu.
"Kalau begitu saya bisa tinggalkan kalian berdua karena masih banyak pekerjaan yang saya harus tangani." Ucap Ghifar meninggalkan keduanya.
__ADS_1
"Terimakasih tuan Ghifar." Ucap Tasya.
Keduanya langsung terlibat obrolan mengenai kerjasama perusahaan mereka.