
Pelantikan Shanaz untuk menjadi seorang ketua mahkamah agung akhirnya usai pagi itu. Shanaz yang terlihat bahagia di temani oleh putri tercintanya Tasya.
Tasya memberikan satu buket bunga untuk ibunya sebagai ucapan selamatnya bagi sang bunda yang sudah berperan besar dalam menyelesaikan konflik hukum dengan berbagai kasus.
"Mami...! Selamat atas keberhasilan mami untuk mencapai posisi bergengsi ini. Akhirnya perjuangan mami tidak sia-sia." Ucap Tasya dengan wajah berbinar.
"Ini semua atas dukungan dan doamu juga sayang." Ucap Shanaz sambil mencubit dagu lancip putrinya dengan gemas.
"Tapi, mami yang sudah berusaha untuk bisa mencapai dititik ini." Ucap Tasya.
"Karena kamu juga punya peran penting dalam hidup mami hingga mami bisa meraih impian mami."
"Ada yang punya peran besar dalam karirmu ini, nyonya Shanaz." Ucap tuan Husen Ibrahim membuat Shanaz dan Tasya segera berbalik saat mendengar suara tuan Ibrahim.
"Tuan ..!" Shanaz segera menunduk hormat sambil tersenyum pada tuan Ibrahim yang menatap wajah Tasya.
"Siapa yang punya peran dalam karir saya ini, tuan Husein?" Tanya Shanaz masih dengan senyum mengembang.
"Putri pertamamu Tisha."
Deggggg...
Shanaz dan Tasya saling menatap dan kembali menatap wajah tuan Husen yang terlihat sedikit kecewa dengan Shanaz.
"Apakah tuan mengenal Tisha?"
"Karena dia menemui ku makanya aku mengenalnya. Hatinya sangat tulus dan ia rela merendahkan dirinya di hadapan kami mengakui kesalahan ibu kandungnya demi dirimu nyonya Shanaz.
Dia ingin kamu bisa menduduki posisi terhormat itu tanpa mengaitkan dirinya hanya sebagai putri seorang pelakor." Ucap tuan Husen membuat pijakan Shanaz sedikit goyah ditempatnya berdiri.
Tuan Husein memberikan rekaman video bagaimana Tisha mendatanginya untuk memohon kepada para pejabat yang sedang meeting untuk mengangkat salah satu dari tiga kandidat yang akan menempatkan jabatan ketua mahkamah agung menggantikan dirinya.
Shanaz dan Tasya menonton sebentar video Tisha yang sedang memperjuangkan hak ibu sambungnya. Tanpa terasa air mata Shanaz mengalir dengan sendirinya karena dendamnya kepada ibu kandungnya Tisha membuat Tisha pergi dari rumahnya.
"Putriku...!" Batin Shanaz lalu mengembalikan lagi ponselnya tuan Ibrahim.
"Terimakasih Tuan!"
__ADS_1
Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan pada tuan Husen." Putrimu Tisha memiliki jiwa yang besar. Jika aku jadi kamu, aku rela menukar putri kandungku hanya untuk mendapatkan putri sambung sepertinya."
Ucap tuan Hussein berlalu pergi begitu saja dari hadapan Shanaz dan Tasya yang masih syok usai melihat video rekaman Tisha.
"Mami....! Kasihan kak Tisha. Ke mana dia sekarang? Tasya sangat merindukannya." Ujar Tasya terlihat sendu.
"Dia akan pulang kalau dia sudah bosan berkeliaran di luar. Lagi pula dua sudah besar dan bisa mengurus dirinya sendiri." Imbuh Shanaz menyembunyikan kerinduannya kepada Tisha.
Keduanya sudah berada di mobil dan Tasya kembali ke perusahaannya setelah mengantar lagi ibunya ke kantor firma hukum miliknya.
...----------------...
Tasya sibuk dengan tugasnya dengan pikiran yang masih menggantung pada sosok Tisha yang saat ini membuatnya kembali melamun.
Tidak lama ketukan pintu dari asisten pribadinya yaitu tuan Eki sahabat ayahnya yang sampai saat ini setia mengelola perusahaan mendiang Baratayudha.
"Masuklah paman..!" Ucap Tasya dengan wajah sumringah saat tuan Eki memberikan beberapa berkas yang dibutuhkan tandatangan dari Tasya.
"Oh iya, tadi ada tamu yang datang mencari mu Tasya." Ucap Eki.
"Siapa paman?" tanya Tasya tanpa melihat wajah Eki karena sibuk menandatangani dokumen perusahaan.
Degggg..
Sesaat Tasya termangu sambil mengulum senyumnya." Apakah dia sedang merindukan ku?" Tanya Tasya lirih hingga terdengar oleh tuan Eqi.
"Apakah nona Tasya menyukainya?" Tanya tuan Eki penuh selidik.
Tasya terlihat malu-malu dan tuan Eki merasa iba pada Tasya. Iapun segera beranjak dari tempat itu. Tapi sesaat kemudian sebelum ia membuka pintu memiringkan sedikit tubuhnya dan berucap," Nona Tasya ....!"
"Iya paman!"
"Paman harap, jangan terlalu banyak berharap pada sesuatu yang belum pasti kalau kamu tidak ingin tersakiti."
"Apa maksud paman berkata seperti itu? "
"Kamu akan mengetahuinya sendiri nanti. Paman permisi." Ucap Eki sambil membuka pintu dan kembali ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Tasya terdiam sesaat dan deringan ponselnya membuatnya tersentak. Iapun meraih ponselnya yang ada di atas meja kerjanya dan melihat siapa yang telah menghubungi dirinya.
Ternyata Rayyan. Tasya menempelkan benda pipih itu ke kupingnya. Ia berharap Rayyan mengajaknya untuk bertemu namun Rayyan ingin menemuinya. di perusahaan Tasya.
"Nona Tasya ...! Aku ingin menyelesaikan beberapa urusan kerja sama perusahaan kita dan juga hal penting yang bersifat pribadi yang ingin saya klarifikasi kepada anda." Ucap Rayyan.
"Silahkan Rayyan! Saya tunggu." Ucap Tasya dengan wajah sumringah.
Hatinya saat ini berbunga-bunga dan ia segera merapikan dandanannya untuk menyambut lelaki pujaannya.
Beberapa saat kemudian, ketukan pintu itu terdengar nyaring dan Tasya langsung membukanya sambil tersenyum.
"Hei Rayyan...! Apa kabar!" Tanya Tasya sambil melebarkan pintu untuk mempersilahkan Rayyan masuk.
Rayyan terlihat datar dan duduk di sofa panjang. Tasya mengambil kopi yang sudah ia seduh sendiri lalu di berikan kepada Rayyan.
Rayyan membahas dulu sebentar proyek kerjasama mereka dan langsung masuk ke inti permasalahan pribadi antara hubungannya dengan Tasya yang hanya cinta sepihak.
"Nona Tasya ...! Kedatangan saya ke sini hanya ingin pamit kepada anda karena saya akan kembali lagi ke Amerika. Ada mimpiku yang beku terwujud yang masih membuat aku penasaran saat ini.
Proyek kerjasama kita bisa di teruskan oleh asisten saya dan saya berharap anda juga tidak menaruh perasaan anda pada saya yang terlalu berlebihan." Ucap Rayyan sedikit menjeda kalimatnya membuat Tasya menelan salivanya dengan gugup.
"Apa maksudmu Rayyan?"
"Begini...! Saya tidak tahu kalau anda adalah seorang gadis yang selalu terkecoh pada sesuatu yang belum jelas dengan menarik kesimpulan sendiri bahwa saya menyukai anda.
Kejadian beberapa waktu lalu saat saya datang ke rumah anda bukan untuk menemui anda melainkan untuk menemui Tisha." Ucap Rayyan tegas.
Duaaarrr.....
"Akibat kesalahpahaman ini, Tisha berani mengambil resiko dengan mengalah padamu karena kamu telanjur menyukaiku. Aku dan Tisha sudah menjalin hubungan duluan sebelum aku mengenalmu dan parahnya kalian berdua ternyata adalah saudara kandung.
Akibatnya hubunganku dengan Tisha terganggu dan sekarang gadis itu menghilang entah kemana karena ia tidak ingin melihatmu kecewa. Tapi ia tidak memikirkan perasaan ku demi mengutamakan perasaanmu.
Padahal kamu tahu sendiri Tasya, cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta hadir dari hati bukan karena ingin berkorban demi hidup seseorang." Ucap Rayyan panjang lebar membuat Tasya hanya bisa bergeming.
"Maafkan aku Tasya! Mungkin kedengarannya sangat sakit bagimu tapi aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu karena aku tidak mencintaimu." Ucap Rayyan begitu jujurnya membuat Tasya seakan tertampar karena sangat malu dengan perasaannya sendiri yang begitu percaya diri bahwa Rayyan menyukainya.
__ADS_1
Usai berkata seperti itu, Rayyan segera pamit kepada Tasya yang saat ini mematung di tempatnya dengan air mata yang sudah mengalir tanpa suara.