
Keriuhan mencekam di antara kerumunan orang-orang yang sedang melihat keadaan dua wanita yang baru saja di tabrak oleh sebuah mobil mewah. Rangga mendorong orang-orang yang melihat istrinya untuk menjauhi istrinya yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari kepala belakang dan juga bagian intinya.
Dari pihak rumah sakit yang mengetahui kecelakaan itu segera mengevakuasi korban. Rangga sendiri yang mengangkat tubuh istrinya ke atas brangkar dan langsung di bawah ke rumah sakit tempat Tisha dulu pernah mengabdi di rumah sakit itu.
"Tisha ...! Sayang...! Ku mohon bertahanlah untukku sayang..!" Lirih Rangga saat berada di dalam ruang IGD bersama Tisha.
Kebetulan Tisha ditangani langsung oleh sahabatnya dokter Rahma. Rasa syok-nya dokter Rahma saat mengetahui kalau korban tabrakan yang baru saja mereka dengar adalah Tisha dan nyonya Shanaz.
Dokter Rahma juga makin syok saat mengetahui ternyata Tisha sedang hamil. Ia pun memberitahukan hal itu pada suami sahabatnya itu.
"Tuan Rangga...!"
"Iya dokter....!"
"Apakah kamu belum tahu kalau Tisha sedang hamil?" Tanya dokter Rahma membuat syok Rangga.
"Apa....? Istriku hamil?"
"Iya tuan Rangga. Tisha sedang hamil tiga Minggu. Dan kami tidak bisa menyelamatkan janinnya." Ucap dokter Rahma sendu.
"Dokter Rahma...! Pasien makin kritis. Saturasi nya terus menurun." Ucap dokter Rika yang terus mengawasi keadaan Tisha.
Dokter Rahma segera menghampiri Tisha yang sedang membuka matanya. Ia ingin bicara dengan dokter Rahma.
"Tisha ....! Apa yang sakit?" Tanya Rahma begitu Tisha membuka cup oksigennya.
"Tolong lakukan sesuatu untukku, Rahma!"
"Apa Tisha ?"
"Waktuku tidak banyak lagi, dokter Rahma. Aku mau kamu memberikan hatiku untuk Tasya."
__ADS_1
Duarrr....
"Tisha ...! Jangan berkata seperti itu. Aku tahu. Kamu pasti kuat. Aku mohon...!" Pinta dokter Rahma menolak keinginan sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaan mamiku? Aku ingin bertemu dengan mami. Tolong pertemukan aku dengannya!" Pinta Tisha kekeh dengan keinginannya.
"Baiklah. Tunggu sebentar Tisha!" Ucap dokter Rahma sambil mengusap air matanya.
Rahma menemui Shanaz yang sedang terbaring lemah namun masih dalam keadaan sadar. Rahma menyampaikan keinginan terakhirnya Tisha. Nyonya Shanaz begitu syok mendengar permintaan putri sambungnya itu.
"Apa...? Tisha ingin memberikan hatinya untuk Tasya?"
"Iya nyonya..! Karena keadaan Tisha sudah tidak bisa lama bertahan. Dan meminta ku untuk segera persiapkan Tasya dan dirinya melakukan donor hati sekarang juga." Ucap dokter Rahma.
Namun nyonya Shanaz tidak mudah percaya pada Tisha yang ingin memberikan ginjalnya kepada Tasya. Keduanya di pertemukan dengan mendekatkan brangkar mereka.
Dengan nafas terengah-engah, Tisha menyambut ibunya." Mami...! Mami tidak usah merasa sedih lagi. Tisha siap memberikan hati Tisha untuk Tasya." Ucap Tisha dengan wajah pucat seperti kapas.
"Untuk apa kamu melakukan itu, gadis bodoh? Kamu masih punya banyak kesempatan untuk hidup bahagia dengan suamimu. Berhentilah bicara omong kosong!" Ucap Shanaz terlihat melemah.
"Kamu kira, mami suka semua ini, hah?" Apapun yang kamu korbankan untuk mami, mami tidak akan pernah mencintaimu, Tisha. Mami sangat membencimu." Ucap Shanaz lalu meminta suster untuk kembali lagi dirinya ke tempat semula.
Sementara itu Tisha tidak bisa bertahan lagi membuat dokter Rahma meminta persetujuan Rangga untuk menandatangani pernyataan untuk mendonorkan hati istrinya untuk Tasya.
"Tidak...! Aku tidak akan pernah memberikan hati istriku pada siapapun. Tidak akan pernah." Teriak Rangga tidak setuju.
Dokter Rahma meminta Rangga untuk masuk menemui Tisha yang sudah tidak berdaya lagi." Lihatlah saturasi nya yang hanya berjumlah lima puluh saja, itu berarti Tisha sedang menghadapi ajalnya. Dia tidak kematiannya sia-sia Rangga, tolong tandatangani ini.
Penuhi permintaan terakhirnya. Setidaknya hidupnya masih berguna untuk adik kandungnya." Pinta dokter Rahma setengah mendesak Rangga yang sangat berat melakukannya, namun ia tidak mampu menolak permintaan itu.
Akhirnya Rangga memenuhi permintaan Tisha dan meninggalkan rumah sakit karena ia juga ingin melenyapkan dirinya juga.
__ADS_1
Shanaz melihat kedua putrinya sudah berbaring sejajar. Ia segera mendekati putri sambungnya Tisha.
"Sampai detik ini, aku tidak pernah membencimu, putriku Tisha. Aku mencintaimu anakku, Tisha. Hanya saja aku sulit mengakui dirimu sebagai putriku karena keangkuhanku yang tidak ingin dilecehkan oleh orang di luar sana karena aku telah merawat putri dari pelakor.
Aku telah bertentangan dengan batinku sendiri. Maafkan aku putriku." Ucap Shanaz menangis tersedu-sedu di hadapan Tisha yang saat ini sedang menghadapi ajalnya.
Dokter Rahma menangis saat melihat Tisha siap dibedah oleh dokter lainnya untuk mengambil hatinya Tisha, namun di cegah oleh Shanaz.
"Stop....! Jangan ambil hati Tisha tapi ambillah hatiku untuk putriku Tasya." Pinta Shanaz yang kini juga mulai melemah.
Melihat itu dokter Rahma dan tim dokter lainnya mulai kebingungan. Siapa yang harus mereka ambil hatinya duluan. Dokter kembali melakukan diskusi sesaat lalu memutuskan untuk mengambil hati Shanaz untuk putrinya sendiri.
"Tisha masih bisa kita selamatkan dengan cara yang lain. Sementara hati Tasya bisa dapatkan dari ibunya." Ucap dokter Aminarti.
"Wahai kedua putriku...! Kalian adalah mataku yang harus melengkapi penglihatan ku. Jika satu penglihatan ku hilang, maka setengah kehidupanku terlihat gelap.
Dan jika aku ingin melihat kesempurnaan cinta Allah kepadaku, kalian berdua adalah sumber kekuatanku. Tetaplah hidup rukun untuk saking menjaga satu sama lain, wahai dua mataku yang sangat berharga." Batin Shanaz lalu tidak sadarkan diri.
Operasi pengangkatan hati segera di lakukan. Hati Shanaz segera diberikan kepada Tasya dan Tisha diberikan lagi obat-obatan yang bisa menunjang lagi kehidupannya.
Di sisi lain, Rangga yang hanya duduk di sudut ruangan menanti jasad istrinya yang sebentar lagi akan di dorong keluar oleh suster yang pastinya akan menuju ke kamar mayat.
Tidak lama kemudian, tubuh Tisha di pindahkan kembali ke ruang ICU untuk mendapatkan kembali perawatan intensif. Melihat tubuh istrinya keluar dari ruang operasi, Rangga buru-buru menghampirinya.
"Dokter. ...! Apa yang terjadi dengan istriku?"
"Nona Tisha masih memiliki harapan hidup. Jadi kami tidak jadi mengambil hatinya untuk di donor kan kepada Tasya." Ucap dokter Rahma.
"Alhamdulillah, ya Allah! Terimakasih dokter. Terus bagaimana dengan nasib ibu mertua saya, dokter?"
"Nyonya Shanaz sangat mencintai kedua putrinya. Justru keadaannya lebih parah daripada Tisha dan nyonya Shanaz bersedia mendonorkan hatinya kepada putrinya, Tasya.
__ADS_1
Rangga memegang kepalanya sambil berjalan mundur. Ia tidak menyangka kalau dukanya kembali menyapa. Ia yang belum sempat memperkenalkan diri sebagai suami dari putrinya Tisha.
"Maafkan aku ibu mertua tercinta, karena mu, maka aku bisa. memiliki Tisha menjadi istriku."