Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
7. Hadiah Terindah


__ADS_3

Shanaz melahirkan putri


pertamanya dalam keadaan sehat. Wajahnya yang cantik mewarisi wajah ibunya. Rasa bahagia Bara yang kini memiliki dua orang putri tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


Bayi keduanya diberi nama Tasya.


Shanaz mengurusi bayinya dan juga baby Tisha secara bersamaan. Shanaz tidak ingin baby Tisha iri pada adiknya. Rupanya kebahagiaan Shanaz tidak disukai oleh Widia saat melihat Bara lebih lengket dengan wanita saingannya itu.


Walaupun ada di rumah, tetap saja Bara tidak mempedulikan dirinya." Apakah karena aku telah menghubunginya di hari persalinan ku yang membuat ia sangat marah?" Tebak Widia.


Bara yang baru saja lewat depan Widia membuat Widia mencegatnya dengan cara licik. Widia pura-pura menjatuhkan dirinya dari kursi rodanya untuk mendapatkan perhatian dari sang suami.


"Augttt...!" Pekik Widia sekencang mungkin hingga Bara spontan memanggil namanya.


"Widiaaaa.....!" Panggil Bara menghampiri istri keduanya itu.


Widia tersenyum samar. Ia ingin terlihat seperti orang kesakitan. Hatinya bersorak saat Bara mulai mengangkat tubuhnya.


"Pelan-pelan sayang! Pinggangku sangat sakit." Ucap Widia dengan air mata buayanya.


"Apakah kita ke rumah sakit saja, Widia?"


"Tidak usah Bara. Tolong bawa aku ke kamarku." Ucap Widia.


"Baiklah." Bara membawa Widia ke kamarnya. Widia mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Merasakan aroma tubuh Bara yang sangat dirindukannya.


Bara membaringkan tubuh Widia dan membuat bantal yang lebih tinggi agar Widia merasa nyaman.


"Istirahatlah..! Kalau butuh sesuatu panggil saja pelayan. Jangan jalan-jalan sendirian di luar dengan kursi roda. Untung tadi ada aku yang bisa melihatmu. Kalau kamu sendirian, bagaimana kamu bisa menolong dirimu sendiri?" Ucap Bara.


"Apakah kamu mencemaskan aku sayang?" Tanya Widia.


"Kamu ibu dari Tisha dan kamu tanggung jawabku. Jadi ku mohon jangan terlalu menyusahkan aku karena Shanaz lebih membutuhkan aku saat ini." Ucap Bara.


"Sial..! Kenapa wanita itu yang harus jadi prioritasnya." Umpat Widia dalam hatinya.


Bara bergegas berdiri hendak meninggalkan Widia. Namun tangannya di tarik Widia.

__ADS_1


"Tinggalkan sebentar saja denganku, Bara. Aku juga sangat membutuhkanku. Apakah karena aku lumpuh kamu tega meninggalkan aku?" Tanya Widia sendu.


"Tolong mengertilah posisiku di rumah ini Widia. Kamu sangat tahu aku sangat mencintai..-"


"Shanaz..! Cih...! Jika dia menjadi orang yang sangat berharga untukmu, kenapa memilih bersama denganku?"


"Karena aku sangat menginginkan anak. Dan kamu bersedia memberikan hadiah terindah itu untukku." Ucap Bara membuat Widia berbunga-bunga.


"Aku juga bisa memberikan putra untukmu, Bara. Sentuh lah aku, sayang. Aku sangat merindukanmu, Bara!" Pinta seraya mendekati wajah Bara untuk mengecup bibir seksi milik Bara.


Wajah Shanaz tiba-tiba muncul di benak Bara seakan mengancam dirinya untuk tidak boleh menyentuh Widia.


"Maafkan aku Widia..! Aku sedang kelelahan." Ucap Bara lalu meninggalkan kamar Widia.


"Bagaimana kamu bisa menyentuh istri pertamamu itu sementara dia masih menjalani masa nifasnya." Sindir Widia sinis.


"Aku sama sekali tidak berhasrat saat ini karena hatiku sedang bahagia mendapatkan hadiah terindah dari Allah selama masa penantian ku bisa mendapatkan anak yang lahir dari rahim Shanaz." Imbuh Bara.


Degggg....


"Mengapa waktu cepat membuat hati Bara berubah drastis." Widia menahan dadanya yang terasa sangat sakit.


Bara kembali ke kamarnya Shanaz untuk melihat bayinya dan juga Shanaz. Di dalam sana, Shanaz nampak terlelap di sebelah bayinya dan baby Tisha tidur di sebelah adiknya yang dihalangi dengan bantal guling.


Bara berbaring di sebelah tubuh Shanaz dan mengecup bahu Shanaz sesaat dan ikut tidur bersama istri dan dua putrinya.


...----------------...


Selama Widia tinggal bersama dengan Shanaz dan Bara, tidak sekalipun Widia memberikan perhatiannya pada sang putri.


Ia lebih asyik mengurus dirinya sendiri dan menyusun rencana jahatnya untuk membuat Bara membenci Shanaz atau membuat Bara menceraikan Shanaz.


Kelicikan Widia menjadikan Shanaz harus bersikap waspada madunya ini. Pengalaman Shanaz sebagai pengacara yang sudah memiliki jam terbang tinggi, yang mengurus berbagai kasus pembunuhan cinta segitiga dalam rumah tangga membuat dirinya selalu meminta pelayan untuk ikut mengawasi perilaku Widia.


Hari ini Shanaz mengakhiri masa cutinya. Ia kembali beraktivitas sebagai pengacara untuk menangani kasus klien yang sedang naik banding.


Sebelumnya itu, Shanaz harus mengurus putri sambungnya Tisha yang sudah mulai belajar makan sendiri. Usia Tisha sudah satu tahun lebih tapi gadis kecil ini belum bisa berjalan apa lagi untuk berbicara apapun.

__ADS_1


Padahal Shanaz sudah mengajarkan putrinya ini untuk mengucapkan beberapa kosa kata sederhana. Dari kata ayah, mami, bunda dan Ade.


"Sayang...! Apakah kamu tidak ingin memanggil mami atau menyebutkan mami. Coba katakan mami...!"


Ucap Shanaz sambil melihat mulut Tisha mengulangi perkataannya.


Tisha hanya menggelengkan kepalanya kalau ia tidak bisa menyebutkan apa yang di katakan oleh Shanaz.


"Baiklah. Tidak apa sayang, kalau Tisha belum mau bicara. Tisha adalah putri mami yang sangat cerdas tidak mungkin tidak bisa bicara." Ucap Shanaz menghibur putrinya.


"Oh, jadi kamu sengaja mengajarkan putriku agar pintar bicara sepertimu biar bisa membolak-balikkan fakta yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar, begitu kan keahlian mu?" Sarkas Widia.


Shanaz hanya merotasi mata jengah mendengar sindiran tak bermutu dari Widia.


"Kalau kamu merasa mampu melatih putrimu untuk bicara, kenapa bukan kamu yang melakukannya? mungkin dengan ibu kandungnya, ia bisa bicara lebih cepat daripada aku. Tapi aku juga kuatir jika kamu yang mengajarkan Tisha berbicara, bisa saja suatu saat nanti dia akan belajar merayu suami orang lain untuk menjadi miliknya." Balas Shanaz tidak kalah sengitnya.


"Kauuu...!" Geram Widia.


Shanaz hendak mengambil tisu basah di kamarnya yang lupa ia bawa untuk membersihkan mulut dan tangannya Tisha.


Saat Shanaz masuk ke kamarnya, Widia melihat ke sana ke mari di mana tidak ada satupun pelayan karena sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Melihat keadaan lengang, Widia segera bangkit dari kursi rodanya menghampiri putrinya yang sedang menyusun puzzle kesukaannya.


Widia mengangkat tubuh putrinya menuju ke kolam renang yang agak jauh dari mereka mereka duduk.


Wanita gila ini dengan teganya menyeburkan anaknya ke dalam kolam. Ia kemudian berlari lagi ke ke kursi rodanya sambil berteriak-teriak minta tolong.


"Tolong....! Tolong...! Tolong...!" Teriak Widia membuat semua penghuni rumah menghampiri Widia termasuk Shanaz .


"Ada apa nyonya...?" Tanya Bibi Anggi yang baru pulang dari pasar.


"Putriku kecebur di kolam renang." Ucapnya dengan gagap.


"Tishaaaa...!" Pekik Shanaz histeris.


Shanaz segera berlari menyelamatkan Baby Tisha yang sedang megap-megap dengan pakaian yang sudah rapi.

__ADS_1


__ADS_2