Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
21. Panggil Penghulu


__ADS_3

Tisha memeriksa tubuhnya sambil melihat kancing celana jinsnya. Dan memegang dua cup aset berharganya dengan pengait yang belum terlepas serta memegang bibirnya.


"Apakah kamu sudah mengambil ciuman pertamaku. Bibir ini masih perawan. Belum terkontaminasi. Kamu tidak menyentuh bagian inikan? Tanya Tisha sambil menunjukkan dada sekangnya membuat Rangga ingin ngakak saat ini.


"Cih...! Apakah kamu kira aku memanfaatkan situasi apa, emang aku lelaki hidung belang." Batin Rangga sambil menatap wajah Tisha yang memerah menahan malu.


Seketika Rangga mendapatkan ide cemerlang untuk menjebak gadis ini.Ia ingin mengerjai Tisha dengan memasang wajah murung seakan sedang merasa bersalah.


Melihat wajah Rangga makin melebarkan mata Tisha yang merasa yakin kalau Rangga benar-benar telah menyentuhnya.


"Apakah kamu sudah menyentuhku Rangga?" Tanya Tisha dengan suara lirih.


"Maafkan aku Tisha. Aku juga laki-laki normal yang tidak bisa melihat bukit indah yang sedang naik turun memanggil ku untuk menyentuhnya." Ucap Rangga menahan tawanya.


"Apaaaa....!? Dasar laki-laki mesum..! Aku seharusnya tidak menerima tawaranmu tadi untuk tinggal di sini." Omel Tisha.


"Apakah aku harus memangil penghulu untuk menikahkan kita saja? Bagaimana? Semuanya sudah terlanjur Tisha. Aku tidak bisa menahan diriku. Aku telepon penghulu ya untuk mempersiapkan pernikahan kita." Ucap Rangga.


"No....no...! Aku sama sekali tidak mencintaimu. Kamu hanya merabanya kan, jadi aku anggap kamu hanya melecehkan aku. Sudahlah. Lebih baik aku pergi dari sini mumpung kamu belum memperkosaku." Ucap Tasya Tisha lalu keluar dari kamar Rangga.


Alih-alih menganggap jebakannya manjur pada Tisha , yang ada malah gadis itu mau hengkang dari rumahnya membuat Rangga panik sendiri.


Rangga segera menahan pergelangan Tisha. Ia tidak ingin Tisha meninggalkan rumahnya." Maafkan aku Tisha. Aku hanya bercanda padamu tadi. Tolong jangan diambil hati. Aku tidak menyangka kamu sangat serius menyikapinya.


Apakah kamu tidak mau jalan-jalan di pusat kota nanti malam?" Ucap Rangga untuk meredakan amarahnya Tisha.


"Apakah kamu ingin menyogok aku?"


"Yah.... namanya juga ikhtiar." Ucap Rangga cengengesan membuat Tisha akhirnya luluh.


"Baiklah. Setidaknya aku tidak merasa anak ayam kehilangan induknya saat berjalan di tengah kota sendirian. Tapi aku mau ke istana ratu Elizabeth. Apakah kamu mau mempertemukan aku dengan ratu Elizabeth?" Tantang Tisha membuat Rangga tertawa geli.


"Yang ada kita ditangkap oleh pengawalnya karena dianggap gila." Ucap Rangga.


"Ternyata kamu bukan orang yang berpengaruh di kota ini. Kamu bukan orang hebat yang bersentuhan dengan petinggi negara ini." Ledek Tisha lalu meninggalkan kamarnya Rangga.

__ADS_1


Rangga hanya menarik nafas panjang. Kelakuan Tisha yang rada aneh tapi justru sangat menghiburnya. Ia yakin Tisha sedang ingin membuatnya marah tapi ia berusaha untuk selalu mengutamakan sabar menerima ocehan Tisha yang ceplas-ceplos itu.


...----------------...


Ketika malam hari, Tisha sudah berpenampilan sangat cantik dengan berpakaian simpel dipadu Coat merah bata terlihat sangat anggun. Sepatu boot membungkus setengah kaki jenjangnya serta polesan makeup lembut.


Sementara Rangga juga sudah tampan menggunakan celana jins dan kaos di padu mantel hitam. Keduanya membuka pintu secara bersamaan.


Rangga memindai tatapannya ke tubuh Tisha. Tisha merasa risih diperhatikan Rangga terlalu berlebihan.


"Apakah baru kali ini kamu melihat wanita cantik?" Semprot Tisha.


"Sudah sering. Cuma nemu yang antik baru sekarang." Ucap Rangga sambil berlalu menuju mobilnya.


"Kamu pikir aku barang yang dipajang di museum?" Sungut Tisha sambil mengekor Rangga.


"Hampir seperti itu."


"Berarti tunggu aku mati, baru kamu pajang nanti di museum." Jawab Tisha sekenanya dan itu sangat membuat Rangga sesak.


"Apakah kamu tidak bisa bicara yang cukup logis?" Protes Rangga.


"Apakah aku tidak sopan?"


"Tidak enak dengarnya?"


"Manusia semuanya bakal mati dan aku akan datang menggoda mu seperti hantu." Ucap Tisha sambil membuat gaya yang menakuti Rangga.


"Tidak lucu." Omel Rangga.


Keduanya sudah masuk ke mobil. Rangga membawa mobilnya sendiri. Tisha menatap ponselnya mencari pesan atau email yang masuk. Tapi tidak ada satupun yang nyangkut di ponselnya kecuali sahabatnya Rahma dan pihak rumah sakit tempat.


"Apakah mami dan Tasya tidak mengkuatirkan tentang diriku? Apakah mereka menginginkan aku pergi? Pasti mereka merasa bahagia saat ini karena tidak ada lagi yang membuat mereka sakit hati." Batin Tisha menahan bulir bening yang mulai terbit lagi.


Tisha menatap keluar jendela untuk menghindari kontak mata dengan Rangga. Walaupun begitu, Rangga tahu gadis ini sedang sedih. Iapun membiarkan Tisha menikmati kesedihannya.

__ADS_1


Rangga memilih pusat perbelanjaan dan juga kuliner yang bertebaran di suatu tempat yang akan memanjakan lidah mereka. Tisha lebih senang menikmati makanan yang memiliki ciri khas Arab. Rangga mengajaknya makan kebab.


Saat masuk ke restoran Turki itu, Rangga bertemu dengan mantan kekasihnya yang sudah menggandeng pria lain. Wajah Rangga tampak mengeras melihat perempuan pengkhianat di hadapannya saat ini yang lebih memilih pria pengusaha bukan karena ketulusan cinta. Dan parahnya, pria itu adalah salah satu klien Rangga yang dikenalkan Rangga kepada mantan kekasihnya itu.


Saat berpapasan dengan Rangga dan Tisha, wajah Queen tersentak. Iapun menegur Rangga dengan gugup.


"Rangga...!" Sapa Queen.


"Queen...!" Balas Rangga sambil menatap wajah kekasih barunya Queen.


"Ini Alfredo. Kamu masih ingatkan Rangga klien mu Alfredo? kami baru bertunangan." Ucap Queen dengan bangga memamerkan cincin berliannya.


Tisha yang mengerti keadaan Rangga langsung mengambil tindakan. Ia memeluk lengan Rangga.


"Kenalkan aku adalah...-"


Rangga Menurunkan tangan Tisha dari lengannya dan menautkan kedua jemari mereka sambil berkata." Kenalkan ini adalah istriku Tisha. Kami baru menikah sebulan yang lalu." Ucap Rangga sambil menatap wajah cantik Tisha yang ikut bersandiwara.


Tisha dan Queen saling bersalaman, tapi Rangga tidak mengijinkan Tisha bersalaman dengan Alfredo. Alfredo adalah pria pengkhianat yang menjerat kekasihnya dengan kekayaannya hingga Queen mudah berpaling dari Rangga.


Queen terpana dengan kecantikan Tisha begitu pula tunangannya Alfredo. Rangga segera meninggalkan pasangan itu untuk mengambil tempat duduk di restoran itu menjauhi mantan kekasihnya.


"Kenapa kamu mengakui kita ini suami istri Rangga?"


"Apa bedanya antara nanti dan sekarang. Kamu akan menjadi Istriku Tisha."


"Jangan jadikan aku sebagai ajang balas dendam mu pada mantan kekasihmu itu. Lagi pula kenapa kamu terlihat benci sekali dengan tunangannya queen?"


"Alfredo adalah salah satu klienku yang menggunakan jasaku untuk membangun gedung perusahaannya. Aku yang telah memperkenalkan keduanya dan pada akhirnya dua mengumbat kekasihku juga. Berengsek...!" Umpat Rangga.


"Yang salah itu bukan Alfredo nya tapi Queen. Kalau ia sangat mencintaimu, Alfredo tidak bisa berbuat apa-apa.


Karena Queen nya terbujuk dengan rayuannya, otomatis Alfredo mendapatkan peluang itu terus menggodanya hingga keduanya bertunangan. Jadi semuanya karena masalah hati." Ucap Tisha.


"Sudahlah. Tidak usah membahas mereka. Perempuan itu sulit dimengerti, apa lagi mengajak mereka untuk setia." Wajah Rangga terlihat berkabut membuat Tisha merasa empati.

__ADS_1


__ADS_2