Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
14. Mengalah


__ADS_3

Saat weekend Keluarga Bara rupanya sedang memasak bersama di dapur. Shanaz meminta kedua putrinya untuk belajar memasak saat mereka sedang memiliki waktu senggang seperti ini.


Shanaz tidak ingin kedua putrinya buta dengan dunia wanita terutama bagian dapur. Shanaz ingin saat kedua putrinya sudah berumahtangga mereka bisa menyenangkan suami melalui masakan.


Keduanya memilih menu yang cukup sulit untuk di adu. Shanaz sebagai juri yang akan menilai masakan siapa yang menjadi juara hari ini.


Ketika sudah tahap plating, tiba-tiba ada tamu yang datang membuat Tasya yang sudah lebih dulu menyiapkan masakannya langsung berlari ke depan melihat tamu siapa yang datang saat ini.


"Biar aku saja yang membuka pintunya bibi Ima." Cegah Tasya sambil merapikan dandanan di depan kaca yang ada di ruang keluarga.


Ketika pintu rumah itu dibuka, betapa kagetnya Tasya ternyata yang datang adalah pangeran impiannya dengan membawa satu buket bunga. Tasya merasa sangat GR saat ini, kalau kedatangan Arrayan untuk menemui dirinya.


Arrayan sangat kaget saat mengetahui kalau Tasya tinggal di rumah yang sama dengan Tisha. Maklum ia tidak begitu tertarik untuk mencari tahu tentang Tasya.


"Arrayan...! Ini sebuah kejutan untukku. Silahkan masuk! Bagaimana kamu tahu kalau aku tinggal di sini? Apakah bunga itu untukku?" Tanya Tasya yang langsung mengambil bunga dari genggaman Rayyan.


Arrayan yang ingin mengatakan bahwa bunga itu untuk Tisha, urung mengatakan saat melihat Shanaz yang menghampiri mereka.


Shanaz juga ingin melihat siapa yang bertamu ke rumah mereka saat ini. Sementara Arrayan masih mencari seseorang yang ingin ia temui di dalam rumah itu sambil mengedarkan pandangannya di dalam sana.


"Mami.....!! Sini deh kenalin ini Arayyan yang aku ceritakan tempo hari. Dia adalah salah satu relasi perusahaan kita. Kita memiliki saham di perusahaan miliknya." Ucap Tasya.


"Kenalkan saya ibunya Tasya!" Ucap Shanaz terlihat ramah.


"Tasya...! Siapa yang datang Tasya?" Teriak Tisha dari dalam.


Tasya berlari ke dalam untuk memanggil Tisha." Kakak..! Coba tebak siapa yang saat ini bertamu ke rumah kita?"


"Hmm...! Presiden..?" Tebak Tisha asal.


"Yang serius dong kak...!"


"Terserahlah..! Yang penting bukan kekasih gue." Ucap Tisha lalu duduk di meja makan untuk mencoba hasil makanannya.


"UMM... GR..! Ini pangeran aku yang saat ini sedang mengunjungi aku dan dia juga membawa satu buket bunga anyelir untukku, kak." Ucap Tasya.

__ADS_1


"Ya sudah...! Temani saja kekasihmu. Aku mau makan sekarang. Lapar." Ucap Tisha sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Saat Tisha lagi asyik-asyiknya menikmati makanannya, tiba-tiba tamunya dibawa masuk oleh Shanaz ke dalam ruang makan untuk diajak makan siang bersama mereka.


"Tisha ....! Hentikan makannya dan kenalkan teman dekatnya Tasya !" Ucap Shanaz pada Tisha.


Tisha segera membalikkan tubuhnya hendak melihat wajah tamunya Tasya dan matanya langsung melebar saat melihat Rayyan. Hampir saja ia ingin menyemburkan makanannya saking syok nya melihat kedatangan Rayyan yang tiba-tiba muncul tanpa mengabarinya.


Iapun buru-buru mengambil minum dan meneguknya dengan cepat.


"Rayyan...! Kenalkan ini adalah kakaknya Tasya..!" Ucap Shanaz untuk memperkenalkan keduanya.


"Saya sudah menge....-"


Tisha langsung memberi isyarat pada Rayyan agar kekasihnya itu tidak membuka rahasia mereka karena ia tidak ingin melihat Tasya kecewa.


"Kenalkan saya Tisha, putri pertama mendiang ayahku Bara." Ucap Tisha sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Rayyan yang memandang Tisha dengan raut wajah bingung.


"Silahkan duduk nak Rayyan. Kebetulan hari ini kedua putriku sedang lomba memasak. Aku harap kamu yang akan menilai masakan siapa yang paling enak. Untuk saat ini aku tidak mau memberi tahu mu, masakan milik siapa yang ada di atas meja ini sebelum kamu mencobanya." Ucap Shanaz yang sudah duduk menghadap meja makan.


Mereka sama-sama mengucapkan doa dan mulai menikmati masakan pertama yang merupakan milik Tasya karena hiasannya sangat bagus. Ketika di makan ada bumbu yang ternyata ada yang kurang pas di lidah Rayyan.


Sementara masakan Tisha terlihat kurang rapi penataannya tapi semuanya sesuai di lidahnya Rayyan. Rayyan memberikan penilaiannya apa adanya. Mendengar masakannya kurang enak Tasya terlihat sedih tapi Shanaz memberi isyarat agar jangan menyerah.


Suasana menjadi kaku. Rayyan dan Tisha sibuk dengan pemikiran sendiri. Sementara Tasya dan ibunya yang paling bawel menceritakan apa saja yang menyangkut perusahaan dan masa kecil Tasya.


Sementara Rayyan tidak begitu respek karena kedatangannya hanya untuk Tisha bukan Tasya. Tisha juga tidak menyangka kalau pria yang diceritakan Tasya adalah kekasihnya sendiri. Demi ingin menyenangkan hati adiknya, ia rela mengalah dan itu sangat membuat Rayyan gusar.


Tidak berapa lama Rayyan akhirnya pamit karena ada urusan. Tasya yang mengantar Rayyan sampai ke mobil sementara Tasya mengurus piring bekas makan siang mereka tadi.


"Biar saya saja non yang membereskannya!" Pinta bibi Ima yang melihat perubahan ekspresi wajah Tisha terlihat sangat sedih saat ini. Tisha biasanya bisa menyembunyikan perasaan sedihnya tapi tidak untuk kali ini.


"Tidak apa bibi. Piringnya hanya sedikit. Saya bisa melakukannya." Ucap Tisha.


"Tidak perlu non. Ini sudah tugas bibi."

__ADS_1


Tisha akhirnya mengalah dan membersihkan tangannya lalu kembali ke kamarnya.


Tasya dan Shanaz berpelukan setelah Rayyan sudah meninggalkan rumah mereka." Ternyata apa yang dikatakan mami benar kalau dia akan menyatakan perasaannya di saat yang tepat.


Hari ini ia datang membawakan bunga untukku. Hanya saja dia terlihat pemalu sekali sampai pelit bicara begitu." Ucap Tasya penuh percaya diri.


"Ini adalah awal yang baik untuk hubungan kalian, Tasya. Berilah dia waktu beradaptasi dengan keluarga kita. Dia mungkin masih malu karena ada mami dan Tisha. Lain kali kalau mau pacaran di luar saja, jadi dia tidak sungkan bicara banyak denganmu." Ucap Shanaz.


Keduanya cekikikan dengan hati bahagia. Sementara Tisha sedari tadi menyeka air matanya di dalam kamar mandi. Saat mendengar pintu kamar dibuka, Tisha segera membersihkan wajahnya agar terlihat segar walaupun hatinya masih sedih saat ini.


Ponselnya ia matikan agar Rayyan tidak menghubunginya di saat ia masih berada di rumah. Tasya memeluk Tisha yang sedang membacakan buku kedokterannya.


"Kakak...! Bagaimana pendapat kakak tentang Arrayan?" Tanya Tasya dengan senyum mengembang.


"Baik." Ucap Tisha dengan senyum terlihat samar.


"Hanya baik...? Bukankah dia sangat tampan?" Tanya Tasya.


"Hmmm!" Ujar Tisha sambil membuka tiap lembar buku dengan menahan gemuruh dihatinya.


"Gantengan mana kak, antara Rayyan dan kekasih kakak itu? Kapan kakak akan mengenalkannya pada keluarga?" Tanya Tasya.


"Kami sudah putus."


"Ko secepat itu pacarannya?"


"Karena perbedaan prinsip yang begitu mencolok. Aku juga tidak begitu suka sih padanya." Ucap Tisha.


"Sayang sekali. Jika kakak masih jadian dengannya, aku ingin kita menikah di hari yang sama kak." Ucap Tasya dengan impiannya.


Deggggg....


"Itu tidak akan terjadi karena aku tidak mau melakukan pesta pernikahan di hari yang sama denganmu." Ucap Tisha.


"Kenapa kak?"

__ADS_1


"Karena aku ingin melanjutkan pendidikan ku di luar negeri." Ucap Tisha yang ingin memberikan kebahagiannya untuk Tasya dengan itu ia harus meninggalkan tanah air.


__ADS_2