Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
27. Pamit..!


__ADS_3

Saat ini Rangga sedang berada di luar kota karena mengawasi salah satu pembangunan proyek yang sedang ia tangani saat ini. Sementara, Tisha sudah tidak sabar untuk menunggu suaminya pulang agar ia bisa pamit pada pemilik hatinya itu untuk menengok sang adik yaitu Tasya.


Karena ingin mendapatkan ridho suaminya, Tisha menyusul suaminya ke luar kota di mana saat ini suaminya sedang bicara pada para staffnya di suatu tempat tidak jauh dari proyek pembangunan gedung perusahaan milik seseorang. Tisha tidak memberitahukan kedatangannya pada Rangga. Ia ingin memberikan kejutan pada suaminya itu.


"Maaf pak ..! Apakah saya bisa bertemu dengan tuan Rangga?" Tanya Tisha pada seorang sekuriti proyek itu.


Sekuriti itu memindai matanya pada penampilan Tisha yang sangat cantik menurutnya." Anda ini siapanya tuan Rangga?" Tanya sekuriti itu.


"Saya adalah kekasihnya. Saya ingin meminta pertanggungjawabannya tuan Rangga yang sudah menghamili saya." Tutur Tisha dengan segala kekonyolannya penuh dramatis.


"Tunggu sebentar, nona! Saya akan menyampaikannya kepada tuan Rangga, apakah dia bersedia menemui anda atau tidak." Ucap sekuriti itu pada Tisha yang pura-pura menyeka air matanya.


Sekuriti itu membisikkan kata-kata Tisha pada Rangga yang sedang mendengarkan dirinya dengan serius.


"Tuan ...! Ada seorang gadis cantik yang datang ke sini untuk bertemu dengan anda karena ia mengaku kalau sudah menghamilinya."


"Gadis siapa? Apakah otaknya sudah tidak waras mengatakan aku menghamilinya. Mungkin gadis itu salah orang." Bantah Rangga sengit.


"Tapi gadis itu tidak salah menyebut nama anda Tuan."


"Siapa namanya?"


"Aku lupa menanyakan namanya tuan."


"Baiklah. Suruh gadis itu ke sini! Aku ingin melihat tampangnya yang mengaku-ngaku kalau aku yang telah menghamilinya." Ucap Rangga kesal.


"Baik Tuan." Sekuriti itu kembali lagi di pos penjagaannya untuk menemui lagi Tisha yang menyambutnya dengan senyum.


"Nona ..! Anda diminta oleh tuan Rangga untuk menemuinya di lokasi proyek."


"Terimakasih pak. Aku akan ke sana. Jalan mana yang harus aku lewati?"

__ADS_1


"Lurus saja dari sini setelah itu anda bisa mengambil arah kanan dan bisa kelihatan tuan Rangga sedang ada meeting dengan staffnya." ucap bapak sekuriti itu.


Tisha segera menyusuri jalan menuju lokasi proyek yang tentu saja saat ini ia juga sudah pakai helm proyek dan juga dilengkapi rompi untuk keamanan dirinya.


Tisha berjalan sambil mengendap di belakang suaminya yang sedang bicara pada stafnya. Tisha meletakkan satu jarinya pada bibirnya agar staf suaminya tetap bersikap tenang mengikuti instruksi suaminya tanpa terganggu kehadirannya.


Tisha memeluk punggung suaminya dengan melingkari tangannya pada pinggang Rangga. Menyadari perbuatannya Tisha, Rangga pura-pura tidak mau membalikkan tubuhnya dan membiarkan Tisha mengeratkan pelukan pada tubuhnya. Para stafnya Rangga mengulum senyum mereka melihat tingkah pasangan ini.


Sampai penjelasannya Rangga selesai dan para staffnya membubarkan diri, Tisha baru melancarkan rayuan mautnya pada suaminya.


"Apakah kamu tidak ingin bertanggungjawab atas anak yang aku kandung ini, sayang?"


"Apakah benar kamu saat ini sudah mengandung anakku?" Tanya Rangga pura-pura cuek.


"Kali ini sudah benar tuan Rangga, kalau aku sedang hamil anakmu." Ucap Tisha serius tapi Rangga merasa Istrinya sedang becanda karena tidak ada bukti otentik yang menunjukkan kalau saat ini Tisha sedang hamil.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan bertanggungjawab atas kehamilan anda nona Tisha, tapi dengan syarat kamu harus melayaniku." Ucap Rangga frontal.


Di dalam hotel pertempuran sengit sedang berlangsung seru di mana pasangan ini saling melepaskan kerinduan mereka yang sudah satu pekan ini berpisah karena tugas suami.


Demi mendapatkan ijin dari suaminya, Tisha melayani suaminya benar-benar semaksimal mungkin hingga Rangga tidak bisa diberi kesempatan untuk bernafas. Rangga benar-benar menikmati permainan ini hingga akhirnya keduanya terkapar dengan penuh yang sudah mengalir di berbagai titik tubuh mereka.


"Kenapa sekarang permainan istriku makin ganas saja di tempat tidur?" Seloroh Rangga sambil tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang sedang mengatur nafasnya agar kembali stabil.


"Aku nggak kenal sama istrimu yang ganas itu. Emangnya siapa dia?" Tanya Tisha dengan wajah jutek.


"Itu....gadis yang mengaku kalau aku sudah menghamilinya." Sahut Rangga.


"Cih...! Dia hanya gadis liar yang membuat aku ingin menghabisinya karena sudah merebut suamiku yang super tampan ini." Ucap Tisha.


"Uhhhhmmm! Sepertinya ada yang sedang merayuku karena ada maunya." Sindir Rangga.

__ADS_1


"Iya sayang. Apakah aku boleh minta ijin pulang ke Indonesia?" Tanya Tisha.


Mendengar permintaan istrinya, wajah Rangga berubah kelam." Apakah kamu masih punya urusan di tanah air? Bukankah aku adalah keluargamu dan juga walimu?" Protes Rangga.


"Aku tahu sayang, kamu pasti tidak suka aku menengok keluargaku, tapi kali ini, adikku Tasya sedang sakit parah dan usianya tidak lama lagi. Aku tidak mau merasakan penyesalan seumur hidupku, jika tidak sempat bertemu dengannya." Ucap Tisha dengan wajah sedih.


Deggggg....


"Apa...? Tasya sakit? Sakit apa?"


"Kangker hati. Kangkernya tidak bisa disembuhkan kecuali mendapatkan donor hati. Tapi itu juga agak sulit didapatkan walaupun aku tahu keluargaku dapat membeli hati itu dengan mudah karena kami tidak kekurangan uang, namun tidak semua orang akan menjual organ tubuhnya itu kecuali dari orang-orang yang berhati mulia yang dapat menyumbangkan organ tubuhnya demi kepentingan orang lain." Ucap Tisha menahan kesedihannya.


Bagi Rangga, tidak masalah jika keinginan istrinya untuk bertemu lagi dengan adik kandungnya itu, karena Tasya tidak bersalah dalam hal ini. Tapi tidak dengan nyonya Shanaz, walaupun sebagai ibu mertuanya yang merupakan ibu sambung istrinya, itulah yang membuat Rangga keberatan melepaskan kepergian istrinya untuk kembali ke Indonesia.


"Baiklah. Kalau begitu, kamu boleh pulang ke Indonesia, nanti setelah pekerjaanku selesai aku akan menyusulmu ke Jakarta karena aku tidak mau kamu akan meninggalkan aku dalam waktu lama." Imbuh Rangga.


"Iya sayang. Aku harap bisa segera hamil dalam waktu dekat," ucap Tisha.


"Aamiin. Semoga saja sayang. Jika kamu hamil di bulan ini, perhitunganku kamu akan melahirkan tepat di bulan Ramadhan. Nama apa yang paling bagus selain ramadhan dan Ramadani saat di bulan bulan puasa?" Tanya Rangga serius.


"A ..ya ..! Aku tahu sayang, nama yang pantas untuk diberikan kepada anak kita." Ucap Tisha sambil menunjukkan satu jarinya pada Rangga.


"Siapa ..?" Tanya Rangga serius.


"BUKBER DAN SAHUR." Ujar Tisha antusias.


Rangga menahan rasa gemasnya pada istrinya yang terus saja bersikap konyol saat ia ingin serius.


"Kamu harus aku hukum baby, sampai kamu tidak bisa berjalan besok pagi." Ucap Rangga yang kembali berhasrat pada istrinya.


"Bukankah ada kamu yang akan menggendong aku sayang." Ucapan Tisha terhenti kala Rangga sudah kembali membenamkan wajahnya diantara pahanya.

__ADS_1


"Ssssttt....Rangga!" Desis Tisha dengan lenguhan panjang.


__ADS_2