Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
25. Dia hanya bagian Masa lalu


__ADS_3

Keputusan untuk menikah dalam waktu dekat membuat Tisha harus mempersiapkan dokumen pribadinya agar bisa dipersunting oleh pangerannya yang seorang arsitek bangunan ini.


Tisha juga harus berbesar hati saat ibu sambungnya menolak untuk mengurus pernikahannya yang rencananya ingin menggelar pernikahannya di tanah air khususnya di ibu kota Jakarta.


Rangga berusaha menghibur sang istri walaupun sikap Tisha biasa saja. Usai melakukan resepsi pernikahan yang sederhana di kediaman suaminya, Tisha tetap terlihat ceria saat memasuki kamar pengantinnya yang sudah dihias seindah mungkin oleh IO wedding organizer yang ada di kota London.


Rangga mengajak Tisha untuk duduk sebentar sebelum melakukan ritual malam pengantin mereka." Apakah kamu sedih sayang?" Tanya Rangga yang langsung mendapatkan respon dari Tisha dengan gelengan kepalanya.


"Aku sudah tidak kaget lagi dengan sikap mami terhadapku, Rangga. Hatiku sudah kebal hingga perasaan sedih itu tidak mampu lagi menyentuh hatiku." Ujar Tisha dengan senyum khasnya pada Rangga yang saat ini merasa remuk hatinya.


"Kau milikku sekarang ini. Tidak ada lagi air mata di awal pernikahan kita. Tetaplah di sampingku dan lupakan bagian masa lalumu yang menyedihkan. Karena hanya ada cintaku seorang khusus untukmu, istriku, Tisha." Ucap Rangga.


Rangga memagut bibir ranum Tisha sambil menanggalkan gaun pengantin istrinya. Keduanya saling berciuman memberikan kehangatan diantara mereka dengan melepaskan masa lajang mereka saat ini.


Penantian Rangga untuk bisa memiliki Tisha, gadis keras kepala dan juga bersifat konyol. Benteng pertahanan Tisha akhirnya luluh lantak karena cinta tulus yang ditawarkan Rangga padanya.


Ia tidak lagi memikirkan mantan kekasihnya Rayyan. Tapi, Tisha tidak tahu kalau saat ini justru Rayyan sedang mencarinya di kota tersebut.


Pertempuran sengit di arena kasur itu demikian seru dan nikmat. Keduanya saling memberikan servis terbaik mereka untuk pasangannya.


Walaupun perdana untuk keduanya, tapi kepribadian mereka yang sudah dewasa mampu menaklukkan partner ranjang mereka. Senyum Rangga begitu puas saat melihat kegadisannya Tisha dipersembahkan gadis itu hanya untuknya seorang.


Setelah puas bertempur keduanya akhirnya terkapar saling berpelukan. Pujian Rangga pada Tisha yang membuatnya gila malam ini.


Sekilas Rangga melihat wajah Tisha seakan sedang menahan sakit pada bagian sensitifnya." Apakah sangat sakit sayang?"


"Kenikmatannya lebih dahsyat daripada sakitnya. Biasalah barang baru yang baru dipakai butuh penyesuaian." Ujar Tisha masih tetap konyol di momen seperti ini.


"Kau mau aku buat lebih sakit lagi, hmm?" Goda Rangga mendapatkan anggukan Tisha." Apakah masih sanggup?" Tantang Tisha membuat keduanya terkekeh.


Rangga merangkul tubuh polos Tisha." Sayang ....! Aku sangat bersyukur bertemu denganmu malam itu. Melihatmu pertama kali di rumah dinas ayahku adalah anugerah terbesar Untukku. Aku sangat takut kamu menolak cintaku. Tapi pada akhirnya Allah mentakdirkan kamu adalah istriku." Ujar Rangga penuh rasa syukur.

__ADS_1


"Aku yang harusnya berterimakasih kepadamu. Karena mu aku tidak perlu mengeluarkan biaya apapun selama tinggal di negara ini. Ternyata bukan hanya fasilitas saja yang kamu berikan kepadaku tapi kamu juga memberikan hati, jiwa dan ragamu padaku. Terimakasih Rangga sudah menjadikan aku wanita sempurna saat ini." Ucap Tisha terlihat serius.


"Aku memang sengaja memintamu tinggal denganku supaya tidak ada laki-laki lain yang berani mendekatimu." Ucap Rangga apa adanya.


"Ternyata kamu jahat." Sungut Tisha sambil mencubit pipi suaminya. Rangga terkekeh lalu mengecup lagi bibir Tisha.


"Kamu belum bisa dikatakan wanita sempurna karena kamu belum mengandung anakku, melahirkan mereka dan menyusui mereka.


Kalau kamu sudah mendapatkan anugerah itu dari Allah, maka kamu berhak mendapatkan predikat wanita sempurna." Imbuh Rangga.


"Kalau begitu aku harus lebih bekerja keras untuk mendapatkan predikat itu?" Tanya Tisha.


"Hmm!"


"Ayo kita mulai lagi. Aku berani bertaruh bulan depan aku sudah dinyatakan hamil." Ucap Tisha semangat.


"Kalau bisa seminggu sekali kita melakukan tes atas keberhasilan kerja keras kita." Timpal Rangga.


Pasangan kocak itu memiliki bentuk kasih sayang mereka dalam nuansa candaan namun sangat berkesan.


Sebulan kemudian, Tisha belum juga dinyatakan hamil. Tapi keduanya masih terus bersabar. Mereka justru menikmati bulan madu mereka dengan melakukan apa saja untuk memadu kasih.


Seperti lari pagi bersama di area taman, komplek bahkan di pantai sambil menikmati deburan ombak.


Tidak di sangka, pagi itu keduanya asyik lari pagi di pantai, tidak sengaja Rayyan bertemu dengan Tisha. Walaupun Tisha tidak melihat wajah Rayyan karena sibuk joging sambil bercanda dengan sang suami.


"Tisha ....! Tisha....!"


Rayyan yang belum mengetahui jika Tisha sudah menikah dengan Rangga menghampiri gadis itu dengan perasaan girang.


"Tisha...!"

__ADS_1


Rayyan meraih lengan Tisha membuat Tisha tersentak dan menghentikan langkahnya diikuti oleh Rangga.


"Rayyan...!" Sentak Tisha sambil menatap wajah suaminya lalu beralih lagi pada mantan kekasihnya itu.


"Tisha...! Aku sudah lama mencari mu. Syukurlah kita bisa bertemu disini." Ucap Rayyan sambil bernafas terengah-engah.


Walaupun begitu ia masih bisa tersenyum lega tanpa mempedulikan Rangga yang dikiranya hanya temannya Tisha. Rangga terlalu percaya diri kalau Tisha masih setia pada dirinya.


"Ehhmm..!"


Rangga menegur Rayyan dengan deheman. Tisha segera mengerti dan langsung memperkenalkan keduanya.


"Rayyan...! Kenalkan ini suamiku, Rangga. Dan Rangga ini Rayyan teman dekatnya Tasya." Ucap Tisha.


Duaaarrr....


Wajah Rayyan terlihat tercengang menatap wajah pasangan pengantin baru ini saling bergantian.


Ia kembali menatap wajah Tisha seolah tidak percaya apa yang dikatakan oleh Tisha karena selama ini Tisha pintar bersandiwara. Ia lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya dengan berkacak pinggang.


"Kamu hanya berbohong kan Tisha? Kamu hanya ingin membuat aku mengalah dan kembali lagi kepada Tasya. Aku sudah berkata jujur kepadanya bahwa kamu dan aku punya hubungan spesial dan dia tidak lebih sebagai relasi perusahaan ku saja." Ucap Rayyan.


"Sorry bung...! Istriku Tisha berkata sebenarnya dan lihat ini, kami sedang mengenakan cincin pernikahan kami." Ucap Rangga seraya memperlihatkan jarinya dan juga jari manis Tisha.


Bukan hanya itu saja, Rangga merengkuh pinggang ramping Tisha dan mengecup pelipis Tisha.


"Pernikahan kami baru berusia sebulan. Aku harap anda bisa menjaga sikap anda untuk bisa menjaga batasan mu sebagai mantan kekasih Istriku." Ucap Rangga penuh penekanan pada ujung kalimatnya lalu pamit pada Rayyan untuk meneruskan lagi berlari pagi.


Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar lalu memegang dadanya yang masih sangat syok mendengar ucapan Rangga.


"Tisha....! Secepat itukah kamu melupakan aku dan cinta kita? Apa salahku padamu? dimana kesalahan ku? Apakah karena rasa persaudaraan kamu dan Tasya hingga mengorbankan diriku yang tidak tahu apa-apa." Keluh Rayyan lalu duduk lemas di pinggir pantai.

__ADS_1


Rangga menautkan tangannya pada jemari Tisha yang terlihat diam seribu bahasa." Apakah kamu masih mencintainya, Baby?" Tanya Rangga lalu menghentikan langkahnya menatap wajah cantik istrinya yang sedang menahan tangisnya.


"Cintaku padanya telah terkikis habis tak tersisa karena kamu sudah menghuni di hati dan pikiranku. Dia adalah bagian masalalu ku dan kamu adalah masa depanku, pelindungku dan pemilik tubuhku secara utuh." Jelas Tisha meyakinkan suaminya.


__ADS_2