
Sahabat akrab Tisha yang bernama Rahma, sangat menyayangkan keputusan Tisha untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri secara mendadak.
"Apa yang terjadi kepadamu, Tisha ? Mengapa kamu terlihat terburu-buru ingin meninggalkan tanah air hanya untuk melanjutkan pendidikan mu?" Tanya Rahma saat keduanya sedang makan malam di sebuah kedai makanan.
"Aku sudah merencanakan ini sejak lama, mungkin kamu saja yang terlalu berlebihan menganggapnya ini mendadak." Sahut Tisha sambil mengaduk bakso di mangkuknya.
"Ini sepertinya bukan kamu Tisha. Aku rasa kamu sedang melarikan diri seakan kamu begitu takut terluka. Makanya kamu menjadikan pendidikan sebagai alasan untuk bisa kabur dari tanah air." Kata Rahma.
"Huuuuhh...sok tahu kamu." Tisha cekikikan tapi air matanya sudah tercekat di kerongkongannya hingga ia segera menahannya dengan senyum yang masih mengembang.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Rayyan, Tisha ? Apakah dua menyakiti mu, hmm?"
"Tidak... Rahma! Rayyan pemuda yang sangat baik. Hanya saja saat ini aku sudah buat kesepakatan dengannya untuk mengambil pendidikan menjadi dokter spesialis bedah. Aku ingin belajar memegang pisau bedah." Ucap Tisha.
"Kamu tidak sedang membohongi aku, bukan?"
"Rahma .....sayang. Apakah aku terlihat pembohong selama ini?" Godanya sambil cengengesan.
"Cih ..! Kau ini paling pintar bersandiwara. Aku tahu kamu mau menangis. Menangis saja Tisha...!" Ucap Rahma gemas pada sahabatnya yang selalu mengalah demi kebahagiaan orang lain.
"Sudahlah. Aku mau pulang saja. Aku rasa saat ini ibu dan adikku sedang menungguku makan malam." Ucap Tisha buru- buru masuk ke mobilnya.
"Hati-hati Tisha!" Rahma melambaikan tangannya pada sahabatnya itu saat benda mewah itu mulai meninggalkan dirinya yang masih mematung.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu Tisha. Memang tidak mudah terlahir dari seorang ibu pelakor, karena ke manapun kamu pergi, mereka akan terus menghinamu.
Jika seorang suami sangat kuat imannya dan tidak tergoda godaan wanita, mungkin tidak akan ada pelakor di muka bumi ini karena yang menjadikan wanita seorang pelakor adalah sang pria berengsek itu sendiri yang ingin terlihat keren dengan dua wanita yang sedang memperebutkan dirinya.
Dasar pria...! Andai saja aku bisa hamil tanpa ada laki-laki yang menyentuhku, mungkin aku tidak ingin mengenal pria." Gumam Rahma lirih.
__ADS_1
Di mansion milik Shanaz, janda dari Baratayudha ini sedang menerima tamu yaitu tuan Hamza yang ingin memerasnya." Nyonya Shanaz, jika kamu menginginkan posisi sebagai ketua hakim agung aku bisa membantumu mewujudkannya, tapi..?"
Tuan Hamza sengaja menjeda kata-katanya sambil menatap wajah Shanaz yang menatapnya dengan tatapan datar.
"Apa yang kamu inginkan dariku, tuan Hamza?"
"Asalkan kamu mau menjadi istriku. Aku akan berikan kekuasaan itu padamu dan meyakinkan mereka bahwa putrimu Tisha bukanlah anak haram suamimu." Ucap tuan Hamzah sambil menyeringai mendekati Shanaz yang langsung bangun menghindari tangan tuan Hamzah yang ingin membelai rambutnya.
"Tolong jaga sopan santun anda tuan Hamzah...!" Ketus Shanaz membelakangi tuan Hamzah yang terus mendekatinya.
"Bukankah sudah lama anda hidup seorang diri tanpa sentuhan seorang suami...?" Rayu tuan Hamzah.
"Mamiku tidak membutuhkan sentuhan lelaki bajingan sepertimu sebagai suaminya...!" Bentak Tisha yang sejak tadi sengaja menguping pembicaraan tuan Hamzah dan ibu sambungnya ini.
"Tisha ...! Masuk ke kamarmu...!" Titah Shanaz sambil menghunus tajam pada Tisha yang sedang menantang tuan Hamzah.
"Cih...! Rupanya ini tampang anak pelakor?" Decih tuan Hamzah sinis.
"Kenapa kamu tidak menjaga kedua putrimu yang saat ini sudah jadi sugar baby pengusaha hebat bernama Tuan Rio dan tuan Ivan?" Tisha mengambil ponselnya dan memperlihatkan kepada tuan Hamzah yang terlihat pucat.
"Siapa yang lebih hina, tuan Hamzah? Kamu punya segalanya tapi putrimu tidak lebih dari seorang pelacur murahan." Balas Tisha sengit.
"Tisha ....! Siapa suruh kamu ikut campur urusan orangtua. Masuk kamarmu.... cepat!" Bentak Shanaz.
"Tapi mami, dia sudah melecehkan harga diri mami. Merasa paling terhormat tapi kelakuan putrinya lebih dari seorang pelakor. Ngaca dulu tuan kalau mau ngatain orang.
Mamiku tidak butuh dukungan pria berengsek sepertimu. Kau sibuk mengurus moral orang lain, tapi moral putrimu sendiri kau biarkan hancur.
Mamiku sangat cerdas dan memiliki integritas tinggi. Ia tidak butuh dukungan siapapun termasuk anda, tuan Hamzah. Keluar dari rumahku atau aku akan meminta satpam untuk menyeret mu keluar dari rumah ini, cepattt...!" Teriak Tisha berapi-api membuat wajah tuan Hamzah terlihat pucat.
__ADS_1
"Aku akan memastikan ibumu tidak akan mendapatkan ambisinya untuk mendapatkan posisi jabatan itu karena memiliki anak haram sepertimu." Ancam tuan Hamzah sambil masuk ke mobilnya.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan! Dan aku tidak akan segan menyebarkan video syur putrimu di konten YouTube..!" Tisha balik mengancam walaupun ia tidak memiliki itu kecuali foto-foto mesra milik putrinya Hamzah dengan sugar Daddy-nya.
Tuan Hamzah segera keluar dari rumah Shanaz yang hanya berdiri mematung di tempatnya melihat Tisha berdebat sengit dengan tuan Hamzah.
Sepeninggalnya tuan Hamzah. Tisha berjalan seperti biasa menuju kamarnya. Shanaz yang tidak suka urusannya diikut campur oleh Tisha mencegah putrinya ini masuk ke kamarnya.
"Puas kamu mempermalukan aku di depan tamuku, hah?" Pukas Shanaz sengit.
"Aku sedang melindungi kehormatan mami. Aku tidak mempermalukan mami. Mami tidak terima pembelaan ku karena aku bukan Tasya, bukan? Coba kalau Tasya yang melakukan hal yang sama seperti aku lakukan pada mami, mungkin saat ini mami akan memeluknya penuh kasih.
Beginilah jadi anak pelakor, apapun yang diperbuat olehku tidak ada nilainya di hadapan mami." Ucap Tisha sambil menahan air matanya yang hampir tumpah.
"Aku tidak butuh pembelaan mu. Jangan harap hatiku tersentuh dengan apa yang kamu lakukan, Tisha. Aku menerimamu di rumah ini karena terpaksa, karena saat itu kamu masih bayi.
Perempuan mana yang rela merawat anak pelakor dari suaminya, hah? Kau datang ke rumahku hanyalah sebuah kesalahan besar dalam hidupku." Sarkas Shanaz.
"Aku tidak butuh terimakasih dari mami. Tugasku sebagai putrimu yang wajib melindungi ibunya dari orang jahat seperti tuan Hamzah itu. Karena kebesaran hati mami lah aku bisa tumbuh besar dengan menikmati fasilitas yang mami berikan padaku.
Itulah bagian rasa syukur ku kepada mami, dengan mengusir bajingan itu dari rumah ini. Kalau sikapku ini masih tetap salah menurut mami, aku minta maaf.
Aku juga mau pergi dari rumah ini, agar bayang-bayang ibuku tidak memicu dendam mami yang mami timpakan kepadaku.
Hiduplah dengan tenang bersama putri kandungmu. Aku akan pulang ke rumah ini, jika dendam mami sudah berakhir." Ucap Tisha lalu masuk ke kamarnya.
Gadis ini mengeluarkan kopernya dari ruang ganti yang sudah ia kemas beberapa Minggu yang lalu.
"Sudah saatnya aku pergi dari rumah ini. Maafkan aku ayah...! Tisha sudah lelah mengemis cinta pada mami..!" Ucap Tisha sambil menatap foto ayahnya yang sedang menggendongnya saat masih kecil.
__ADS_1