
Baby Tisha segera ditangani oleh dokter. Widia, Shanaz dan Bara nampak gelisah menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Walaupun terlihat jahat, rupanya Widia tidak ingin putrinya sampai meninggal. Ia mulai mencari cara untuk mengintimidasi Shanaz.
"Semua ini gara-gara kamu. Andai saja kamu tidak menyuapi putriku dekat dengan kolam renang, putriku tidak mungkin akan jatuh di kolam renang itu. Kasihan putriku yang malang." Ucap Widia sambil menangis.
"Kamu tahu betul terakhir aku meninggalkan Tisha di mana, mengapa tiba-tiba saja ia sudah berada di kolam renang padahal ia belum bisa berjalan. Jika ia merangkak, belum tentu secepat itu sudah sampai di kolam renang." Balas Shanaz yang tidak menerima tuduhan Widia begitu saja.
"Tidak usah mangkir Shanaz. Aku jelas-jelas melihatmu membawa Tisha menjauhiku dan kamu mengajaknya duduk dekat dengan kolam renang dan kamu sengaja meninggalkannya sendirian karena ingin melihat keadaan putrimu. Kamu ingin membunuh putriku supaya Bara lebih mencintai putrimu dari pada putriku bukan?"
"Kamu kira aku gila, hah? Aku meninggalkan dia karena ada dirimu untuk mengawasinya. Dan aku ke kamar hendak mengambil tisu basah untuk membersihkan tangan dan mulutnya Tisha karena makan sendiri."
"Lihatlah dirimu, kau meminta aku mengawasi putriku dengan kakiku yang masih lumpuh dan kau dengan tega membiarkan putriku makan sendiri tanpa ingin menyuapinya?
Hah... di mana- mana sulit mendapatkan Ibu tiri yang baik untuk mengurus anak tirinya. Bahkan ibu tiri sanggup membunuh anak tirinya yang jadi penghalang kebahagiaan dua dan suaminya." Tuduh Widia.
"Apakah otakmu itu sudah dirasuki setan hingga menuduhku tanpa bukti? Apakah kamu ingin menjebak aku? pekerjaanku berhubungan dengan dunia hukum, jadi otakku masih waras untuk tidak berpikir picik seperti otakmu yang hanya setengah tiang itu." Sarkas Shanaz.
"Diammmmm....! Apakah kalian tidak bisa diam di saat genting seperti ini, hah?" Bentak Bara pada kedua istrinya yang sama-sama merasa benar.
"Shanaz itu pintar memutar balikkan fakta karena lidahnya sudah terlatih untuk itu, makanya ia bisa meyakinkan dirimu dibandingkan aku yang awam akan dunia hukum." Ucap Widia dengan ekspresi seorang ibu yang teraniaya saat ini.
"Karena aku mengerti hukum, makanya aku tahu bagaimana aku bertindak." Kilah Shanaz.
"Cih, polisi saja bisa menjadi oknum kalau otaknya lagi eror, apalagi pengacara sepertimu yang justru mengusai dunia hukum jadi kamu tahu caranya bagaimana untuk membunuh tapi tidak terlihat seperti pembunuh." Sinis Widia sengit.
Shanaz menggertakkan giginya, menahan kemarahannya pada perempuan ular ini. Ia tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk berdebat dengan Widia si otak kumbang ini. Tidak lama, dokter keluar menemui keluarga Baby Tisha.
"Bagaimana dengan putri saya dokter?" Tanya Bara dengan wajah cemas.
Shanaz yang ikut nimbrung dengan suaminya, malah di sela Widia yang langsung histeris ketika melihat dokter hanya terbungkam.
"Hanya satu orang saja yang bisa menemui pasien." Ucap dokter yang tidak mau menjelaskan keadaan baby Tisha pada mereka.
"Biar saya saja dokter! Saya ibu kandungnya." Ucap Widia dengan air mata berlinang.
__ADS_1
"Tidak ..! Biar saya yang menemui putriku." Ucap Bara tegas lalu masuk ke dalam ruang IGD.
"Awas loe ya...! Kalau terjadi sesuatu kepada putriku, aku akan menyeretmu ke penjara!" Ancam Widia.
Shanaz malah sibuk menghubungi seseorang dengan santainya tanpa mempedulikan Widia yang terus menghujatnya.
Setengah jam kemudian, Bara keluar langsung mendorong tubuh Shanaz.
"Apa yang kamu lakukan pada putriku, hah? Aku tidak akan memaafkanmu. Dasar munafik!"
Shanaz menatap wajah Bara yang memerah dengan mulutnya setengah terbuka. Antara percaya dan tidak ia melihat Bara begitu mudahnya menuduhnya telah membunuh putri tirinya.
Plakkkkk....
"Kalau hanya ingin membunuhnya, tidak perlu menunggu Tisha besar." Ucap Shanaz dengan wajah nyalang.
Bara menyeret lengan Shanaz sambil sumpah serapah.
"Sekarang kamu pulang! Aku tidak ingin melihat wajah munafik mu itu lagi." Ucap Bara penuh penekanan pada kalimatnya.
Bara kembali ke kamar inapnya Tisha yang sudah dipindahkan oleh perawat.
Widia tersenyum puas penuh kemenangan karena rencananya akhirnya berhasil untuk bisa menyingkirkan Shanaz dari hidupnya Bara.
"Satu langkah sudah selesai, Shanaz. Sebentar lagi kamu akan membusuk di penjara dan rumahmu akan menjadi milikku, apa lagi Bara, dia hanya milikku seorang." Ucap Widia sambil menyeringai licik.
Widia pulang ke mansion miliknya. Ia menurunkan koper dan meminta bibi Anggi mengurus baju bayinya.
"Nona Shanaz mau ke mana?"
"Aku lebih baik pergi dari rumah ini, bibi. Suamiku tidak lagi mempercayai aku. Jadi untuk apa apa aku harus berada di sini." Ucap Shanaz sambil menangis.
"Kalau non Shanaz pergi, maka wanita ular itu akan merayakan kemenangannya karena telah berhasil menyingkirkan anda dari rumah ini karena itu yang ia inginkan." Ucap bibi Anggi membuat Shanaz terdiam.
Tidak lama baby Tasya menangis. Bayi yang berusia tiga bulan ini seakan sedang mencari Pabrik susu milik ibunya. Shanaz mengambil bayinya lalu memberikan put*ngnya pada bayinya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian pelayan yang lain berlari menuju kamar majikannya.
"Non Shanaz ..! Tuan pulang." Ucap Lisa.
"Biarkan saja! Aku mau pergi dari rumah ini." Ucap Widia yang sudah bersiap-siap memakai kain gendongan untuk membawa pergi putrinya.
Bara sudah berdiri di depan pintu. Bibi Anggi segera keluar dari kamar Shanaz. Begitu juga Shanaz yang langsung bangun ingin keluar dari kamarnya.
Bara merasa sesak melihat wajah sembab istrinya dengan hidung terlihat memerah.
"Kamu mau ke mana, sayang?" Tanya Bara yang langsung membelit pinggangnya Shanaz.
"Lepaskan aku, Bara! Apa pedulimu." Tatap Shanaz menghunus tajam pada Bara yang langsung membekap mulutnya dengan ciuman hangat.
"Ummm!" Shanaz meronta dalam pelukan suaminya karena takut putrinya sesak. Shanaz memukul bahu Bara dengan kencang karena nafasnya sudah terasa sesak.
"Aku terpaksa melakukannya ini, sayang. Aku mohon kamu harus percaya kepadaku!" Ucap Bara.
"Percaya apa...?"
"Aku sudah mendapatkan bukti kejahatan Widia."
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa kamu mendapatkan bukti kejahatan Widia?" Tanya Shanaz tidak mengerti.
"Ini adalah kesaksian dari baby Tisha." Sahut Bara.
"Mana mungkin dia bisa bersaksi? Bukankah baby Tisha sampai saat ini belum bisa bicara. Mengucapkan satu kata saja dia belum bisa apalagi menjadi saksi." Ucap Shanaz.
"Kamu ingin dengar kesaksian putri pertama kita?" Tanya Bara.
"Maksudmu kamu merekam kesaksian Baby Tisha dengan ponselmu?" Tanya Shanaz sambil mengusap air matanya.
"Iya sayang...! Sekarang dengarkan ini ..!" Ucap Bara lalu menyalakan rekaman suara baby Tisha yang ternyata sudah bisa bicara.
Shanaz membekap mulutnya seakan tidak percaya saat melihat dan mendengar kesaksian putri sambungnya itu.
__ADS_1
"