Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
20. Jatuh Cinta


__ADS_3

Rangga membantu Tisha berdiri usai menolong sang ibu yang baru melahirkan itu. Air mata Tisha yang masih mengalir menatap sang ibu yang sedang menggendong bayinya dengan rasa bahagia.


"Baby Shanaz ...! Semoga kamu bisa menjadi seperti Bu dokter cantik itu sayang." Ucap ibu itu sambil tersenyum pada Tisha.


"Terimakasih dokter." Ucap sang ayah bayi pada Tisha.


Pesawat yang mulai tenang itu seiring kelahiran sang bayi, ketika ayahnya mengundangkan azan pada telinga putrinya.


Rangga mengajak Tisha kembali ke tempat duduk mereka. Rangga memberikan Tisha minum untuk menenangkan gadis itu yang sedang mengalami ketegangan hebat malam ini dengan menolong ibu melahirkan di tengah badai yang mengguncang pesawat yang mereka tumpangi.


"Apakah perasaanmu sudah lebih baik?" Tanya Rangga saat Tisha meneguk minuman air putih itu sampai habis.


"Ketakutan kini menjadi kebahagiaan. Tangis bayi itu yang memberikan energi tersendiri untukku. Dia penyemangat ku." Sahut Tisha sambil tersenyum.


"Lalu aku apa untukmu?"


"Kamu masih dalam masa uji coba. Nilai mu masih minim untuk bisa mendeskripsikan perasaan ku padamu." Ujar Tisha.


"Kau ini pelit sekali." Sungut Rangga kesal.


"Tidak usah kuatir, bukankah masih banyak waktu untuk melakukan penilaian padamu?"


"Berarti kita masih bisa bertemu lagi?"


"Semoga saja begitu karena kamu adalah orang yang mungkin aku repot kan terus menerus nantinya." Imbuh Tisha dengan sifat konyolnya.


Rangga sedikitpun tidak tersinggung dengan sikap Tisha yang terlihat cerewet dan apa adanya. Gadis ini tidak begitu tergila-gila dengan sesuatu yang bisa membuat si pria takluk padanya.


Untuk sejenak, wajah Rayyan bisa ia tepis kan dalam pikirannya. Cinta yang belum terlalu dalam itu mampu ia robohkan dan saat ini Tisha seakan membangun benteng dengan memperlihatkan sifat konyolnya pada Rangga.

__ADS_1


Mungkin tidak ingin terluka atas nama cinta atau beban masa lalu orangtuanya yang membuatnya jadi minder. Apa lagi Rangga ikut mendengarkan pengakuannya bahwa dia tidak lebih dari seorang anak pelakor yang dibesarkan oleh istri pertama ayahnya.


Setelah menempuh perjalanan panjang, pesawat itu akhirnya mendarat di bandara setempat. Rangga tetap memaksa Tisha untuk tinggal di rumahnya.


"Baiklah. Begini saja, kamu menginap saja di rumahku untuk sementara waktu. Jika kamu tidak betah, kamu boleh pergi dari rumahku dan mencari tempat tinggal sendiri, bagaimana?" Tanya Rangga yang sudah dijemput sopir pribadinya.


Tisha terdiam sejenak. Akhirnya iapun menerima tawaran Rangga." Baiklah. Semoga kamu betah tinggal bersama ku." Ucap Tisha lalu masuk ke mobil Rangga tanpa peduli, Rangga mempersilahkan dirinya masuk ke mobil.


Rangga hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tisha yang sedikit tomboi. Mobil itu bergerak menuju pemukiman yang sangat asri.


Rumah di situ tidak ada pagar pembatas di depannya. Bentuknya cluster tapi terlihat sangat aman. Rupanya Rangga memperkerjakan pelayan dari Indonesia.


Tisha melihat keadaan rumah Rangga yang sudah membuatnya jatuh cinta. Mungkin dia seorang arsitek, jadi rumahnya unik sendiri. Di halaman belakang rumah itu memiliki taman yang cukup luas.


Yang menariknya ada pohon apel yang begitu banyak buahnya. Tisha tidak sabar untuk memetik. Saking ngilernya ia sampai tidak mendengar ucapan Rangga padanya. Matanya tertuju pada pohon apel itu.


"Aku tidak budek. Apakah kamu tidak bisa bicara pelan padaku? Kayak berada hutan saja?" Sungut Tisha kesal.


"Barusan kamu jadi orang budek. Apakah kamu tidak pernah makan apel?"


"Aku sering makan apel tapi aku tidak pernah makan apel yang langsung di petik dari pohon. Apakah aku boleh mengambilnya?" Tanya Tisha sudah tidak sabaran.


"Kamu bisa mengambilnya nanti, bereskan dulu barang bawaan mu." Titah Rangga yang sudah membawa koper milik Tisha ke kamar yang bersebelahan di kamarnya.


Tanpa mempedulikan permintaan Rangga, Tisha sudah kabur dari hadapannya dan sekarang dia sudah duduk bertengger di atas pohon sambil menikmati buah apel segar yang sangat manis membuatnya tertawa sendiri.


"Astaga...! Masih ada spesies sejenis dirinya yang hidup di jaman sekarang?" Gumam Rangga sambil menggelengkan kepalanya gemas melihat tingkah Tisha yang hidup seenaknya.


Rangga masuk ke kamarnya untuk berendam di air hangat yang sudah ia siapkan. Ia membiarkan Tisha berbuat seenaknya di rumahnya.

__ADS_1


Puas menikmati apel, Tisha baru turun dari pohon itu dan masuk ke kamarnya. Tapi ia malah masuk ke kamar yang salah. Ia malah masuk ke kamar milik Rangga.


Karena kelelahan belum tidur semalaman di pesawat, Tisha langsung tidur di kasur empuk itu. Aroma terapi yang ada di dalam kamar itu mampu menenangkan pikirannya saat ini.


Sementara di dalam sana, Rangga masih asyik berendam sambil menikmati lagu. Sekitar satu jam kemudian, Rangga baru bangkit dan melilitkan handuk di tubuhnya sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


Saat membuka pintu kamar mandi, betapa kagetnya Rangga melihat Tisha sudah tidur di tempat tidurnya membuat Rangga mengernyitkan dahinya.


"Dasar gadis ceroboh! Tadi lagi di jelasin di mana kamarnya malah kabur begitu saja, sekarang malah masuk ke kamarku. Untung tadi dia tidak masuk ke mandi dulu kalau tidak si junior langsung merespon." Lirih Rangga lalu masuk ke ruang ganti untuk mengenakan baju santai.


Untuk membuat Tisha pelajaran, Rangga sengaja ikut tidur di sebelah Tisha." Biarlah nanti gadis ini akan meminta aku untuk menikahinya kalau aku tidur dengannya." Rangga menyeringai lalu tidur bersebelahan dengan Tisha yang sudah terlelap.


Baru saja Rangga ingin memejamkan matanya, terdengar Tisha bergumam sambil memanggil nama Shanaz. Rasanya alam bawah sadarnya merasa sangat tersiksa.


"Mami .....! Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan cintamu? Apakah aku harus mati dulu baru kamu ucapkan cintamu padaku? Mami, apakah aku tidak penting dalam hidupmu? Mami ..mami ..mhiks....hiks!" Ucap Tisha terlihat memelas pada Shanaz.


Lagi-lagi Rangga hanya merasa sesak mendengar rengekan Tisha yang terlihat sangat merindukan kasih sayang ibu sambungnya.


Rangga meraih tubuh Tisha untuk masuk dalam pelukannya. Ia tidak tega mendengar rintihan Tisha yang menyiksa batin gadis itu.


"Aku mungkin tidak bisa memberikan cinta yang tulus seorang ibu untukmu Tisha, tapi aku berjanji akan memberikan cintaku padamu seutuhnya." Ucap Rangga sambil mencium kening Tisha yang sudah terlelap lagi dalam pelukannya.


Tidak berapa lama, Tisha merasakan tubuhnya sulit untuk bergerak namun aroma maskulin dari tubuh Rangga membuatnya merasa curiga kalau saat ini dia sedang berada dalam pelukan seseorang. Tisha mengerjapkan matanya dan benar saja matanya sudah membentur dada bidang Rangga yang membuat ia syok. Dengan kesal ia segera mendorong tubuh Rangga dengan kasar sambil berteriak.


"Apa yang kamu lakukan bodoh? Kenapa kamu malah tidur di kamarku, apakah kamu ingin berbuat mesum padaku?" Teriak Tisha yang sudah berdiri di samping ranjangnya Rangga.


Rangga menyipitkan matanya sambil bergumam, ini kamarku Tisha. Justru kamu yang datang ke kamarku untuk berbuat mesum padaku." Ujar Rangga lalu kembali tidur.


"What....??"

__ADS_1


__ADS_2