Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
9. Kesaksian Baby Tisha


__ADS_3

Shanaz dan Bara mendengar pengakuan baby Tisha saat bayi montok ini merengek pada ayahnya ketika ia sudah siuman.


Flash back


"Ayah ...Ayah...!" Panggil Tisha sambil mengucek matanya dengan punggung tangannya.


Bara seketika tersentak mendengar putrinya sudah bisa bicara dan kata pertamanya adalah menyebut namanya dengan panggilan ayah.


Kata pertama putrinya seperti anugrah terbesar dalam hidupnya. Karena ingin momen itu indah itu tidak terlewatkan begitu saja, Bara meminta suster untuk merekam pembicaraan mereka.


Tanpa di sadari Bara, rupanya baby Tisha mengadu pada ayahnya tentang perbuatan ibu kandungnya padanya.


"Sayang ..! Apakah ada yang sakit..?" Tanya Bara sambil duduk menatap wajah putrinya yang duduk juga menghadapnya.


"Unda Dia akal....ayah ...!"


"Bunda Widia nakalin Baby Tisha?" Tanya Bara memastikan ucapan putrinya.


Tisha mengangguk sambil mewek." Unda Dia endong Tisha teyus masukkin Tisha ke dalam kolam yenang ayah. Tisha elum ica yenang ayah ....hiks ...hiks ..!" Ucap baby Tisha sambil menangis.


"Tapi bunda Widia tidak bisa berjalan kakinya masih sakit, sayang." Ucap Bara.


"Unda Dia udah Ica alan ayah. Kakinya ndak akit agi." Ucap baby Tisha meyakinkan ayahnya atas perbuatan ibu kandungnya pada dirinya.


Suster yang menjadi saksi dari pengakuan baby Tisha tercekat mendengar bayi itu mengungkapkan kebenaran dari ibu kandungnya yang sengaja menenggelamkan tubuhnya.


"Terimakasih suster. Tolong rahasiakan ini dan aku ingin suster melakukan sesuatu untukku!" Pinta Bara.


"Melakukan apa Tuan?"


"Tolong kamu letakkan kamera tersembunyi untuk menjebak istriku agar aku bisa menangkap basah perbuatannya jika ia ingin mencelakai lagi putriku!" Pinta Bara.


"Baik Tuan. Kami akan mengaturnya agar kita bisa mengetahui apa yang terjadi dengan istri anda dan baby Tisha." Ucap suster Mila mau bekerjasama dengan Bara.


"Sekarang aku ingin membuat drama untuk meyakinkan istriku keduaku itu agar ia tahu saat ini aku sedang marah besar pada istri pertamaku." Timpal Bara.


"Baik Tuan."


Flash back off.


Shanaz merasa terharu melihat putri sambungnya itu telah menyelamatkan dirinya dari fitnah keji yang dilakukan oleh madunya itu.

__ADS_1


Sebagai pengacara, ia butuh bukti rekaman suaminya itu dan rekaman lainnya untuk mendukung alibinya di mana saat kejadian, ia sedang berada di kamarnya untuk mengambil tisu basah untuk putri sambungnya itu.


"Bagaimanapun caramu untuk menyingkirkan aku dari rumahku ini, tetap saja kau kalah Widia, karena putrimu sendiri yang akan mengirimmu ke penjara." Batin Shanaz sambil tersenyum penuh arti.


Shanaz merasa bodoh sendiri karena sempat meragukan cinta suaminya. Iapun akhirnya meminta maaf pada Bara yang sudah meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Bara ...! Aku minta maaf karena....-"


"Aku tidak butuh ucapan sayang, aku butuh maaf yang sesungguhnya darimu."Ucap Bara sambil membuka blazer milik Shanaz.


Shanaz tersenyum melihat tingkah suaminya yang sedang memanfaatkan momen ini untuk kesenangannya.


"Dasar mesum...!" Ledek Shanaz sambil membuka kemeja Bara dan bawahannya.


Keduanya berbaring dan mulai berciuman dengan penuh gairah hingga keduanya sudah tenggelam dalam arena permainan mereka yang diiringi orkestra terindah. Lenguhan dan erangan erotis yang tercipta dari Shanaz yang sedang dimanjakan oleh suaminya.


Pergulatan itu makin panas saat tubuh keduanya sudah menyatu dengan gerakan yang semakin gencar dilakukan oleh Bara membuat Shanaz menggelinjang nikmat dengan suara berat disertai kata-kata fulgar untuk membakar birahi suaminya.


...----------------...


Dreeett....


Bara mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari suster Mila.


"Ada apa suster?" Tanya Bara dengan perasaan gelisah.


"Tuan akan mengetahuinya sendiri setelah tuan tiba di rumah sakit." Ucap suster Mila terdengar kacau.


"Ada apa sayang? Telepon dari siapa?" Tanya Shanaz ikut panik melihat perubahan ekspresi wajah suaminya.


"Entahlah. Suster Mila 5idak menjelaskan penyebabnya dan aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada baby Tisha." Ucap Bara lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Baik. Aku ikut sayang." Ucap Shanaz.


"Tidak ..! Kita sedang bersandiwara untuk meyakinkan Widia bahwa hubungan kita saat ini sedang renggang.


Lebih baik temanin putri kedua kita karena dia lebih membutuhkanmu. Aku belum puas bercinta denganmu lagi dan nanti malam persiapkan dirimu." Ucap Bara.


Keduanya saling berciuman lalu Shanaz dan Bara segera mandi bersama. Tidak lama kemudian, Bara sudah rapi dan mencium putrinya begitu lama.


Entah mengapa ia merasa memeluk putrinya ini untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


"Kalau sudah besar kamu harus menjaga mami dan kakakmu Tisha. Jadilah putri ayah yang hebat seperti ibumu." Ucap Bara lalu mengecup lagi putrinya.


Entah mengapa saat Bara hendak melangkah dengan jarinya yang sengaja berada di dalam genggaman tangan putrinya, Baby Tasya tidak ingin melepaskan jari ayahnya. Ia makin menggenggam erat jari telunjuk ayahnya disertai tangis.


"Hei, malaikat kecil ayah! Kenapa tiba-tiba menangis. Ayah harus melihat kakakmu di rumah sakit, nanti kita main lagi, bagaimana sayang?" Goda Bara untuk menenangkan putrinya.


"Tinggalkan babynya sayang, sepertinya Tisha sedang membutuhkanmu." Ucap Shanaz lalu menggendong bayinya yang makin manja pada pada ayahnya.


"Aku akan segera kembali sayang. muaachhh." Bara melepaskan dua wanitanya lalu menuju mobilnya.


Ia membawa sendiri mobilnya menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, rupanya Widia sedang di tahan oleh pihak keamanan rumah sakit.


Suster Mila memberikan rekaman pada Bara bagaimana adegan Widia dan putri kandungnya. Bara melihat rekaman itu dan terhenyak saat Baby Tisha tidak mau di dekati Widia.


"Unda ahat.. Tisha Ndak mau di akitin unda agi." Teriak baby Tisha.


"Baby ..! Kamu bisa bicara sayang?" Tanya Widia merasa takjub.


"Unda masukin Tisha dayam kolam enang. Tisha akut Ama unda...hiks...hiks ..!" Ucap Tisha sambil menjauhi ibunya.


Bayi montok ini sangat trauma melihat ibunya yang jahat. Widia begitu ketakutan saat tahu putrinya mengingat semuanya.


Ia segera mengambil bantal sambil melihat ke kanan dan ke kiri hendak membekap putrinya dengan bantal tapi suster Milan sudah keburu membuka pintu kamar inap itu sambil berteriak menyadarkan Widia.


"Akhhhhhhhh....!" Teriak suster Mila histeris membuat Widia melepaskan bantal itu dan berlari keluar. Suster Mila berhasil menggagalkan rencana Widia untuk membunuh putrinya sendiri.


Suster Mila memeluk tubuh baby Tisha sambil menangis. Sementara itu dua satpam yang sudah di ajak kerja sama dengan suster Mila dan Bara langsung mengamankan Widia.


"Sayang ...! Kamu tidak apa...?" Tanya suster Mila pada baby Tisha yang menangis histeris membuat tubuh suster Mila bergetar hebat.


Ia segera melaporkan kejadian ini kepada Bara.


Flash back off.


Bara mendekati Widia lalu melayangkan tamparannya pada istri keduanya ini.


"Perempuan laknat...! Plakkkkk...! Apakah kamu sudah gila hingga ingin membunuh putrimu sendiri, hah?" Bentak Bara dengan wajah kelam.


"Bara ...! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Suster itu hanya salah paham padaku." Ucap Widia gugup.


"Apakah ini juga menurutmu salah paham Widia?" Tanya Bara sambil membuka rekaman obrolan dirinya dengan putrinya Tisha.

__ADS_1


"Tidak...tidak mungkin...!"


Widia menggelengkan kepalanya dengan cepat mengingkari pengakuan putrinya.


__ADS_2