Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
11. Mulai Berkurang


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa baby Tisha dan Tasya sudah masuk sekolah dasar.


Tisha yang berusia delapan tahun dan Tasya berusia tujuh tahun. Keduanya nampak akur sebagai saudara kandung beda ibu. Namun seiringnya waktu, Shanaz tidak begitu respek lagi dengan putri sambungnya itu.


Shanaz lebih memilih tidur berdua dengan putri kandungnya dan Tisha dibiarkan sendiri tidur di kamarnya. Shanaz mulai bersikap dingin pada Tisha sejak kecelakaan yang menimpa suaminya dan pada akhirnya suaminya meninggal setelah melewati koma selama tiga tahun.


Kesedihan Shanaz yang tidak bisa melupakan kecelakaan yang menimpa suaminya membuat Shanaz mulai mengurangi kasih sayangnya pada Tisha.


Seperti malam ini, Tisha tidak bisa tidur karena hujan deras yang terus mengeluarkan suara Guntur membuatnya ketakutan dan sembunyi di dalam selimutnya. Ia hanya bisa bergumam memanggil nama ayahnya.


Tidak lama suara guntur kembali menggelar membuat Tisha segera meloncat dari tempat tidurnya sambil memanggil mommy.


"Mommy ...hiks ..hiks .. Mommy...hiks .hiks . .!"


Tisha membuka pintu kamarnya Shanaz dengan cepat membuat Shanaz tersentak saat sedang menidurkan Tasya.


"Mommy ...! Tisha takut mommy. Tisha tidak bisa tidur." Ucap Tasya sambil terisak.


"Kemarilah ..!" Ucap Shanaz sambil mengangkat kedua tangannya menyambut Tisha.


Gadis kecil ini begitu semangat karena Shanaz kembali menyayanginya. Ia akhirnya tertidur dalam pelukan Shanaz .


Namun Shanaz segera mengangkat tubuhnya dan beralih tidur di sebelah putrinya Tasya." Maafkan mommy Tisha, melihat wajahmu yang mengingatkan aku pada ibumu Widia walaupun kamu sangat mirip dengan ayahmu. Karena ibumu yang telah membuat aku menjadi seorang janda saat ini."


Air mata Widia makin luruh dengan Isak tangis kembali menyergap hatinya. Rasa kehilangan yang mengigit kesepiannya membuat ia tidak bisa menerima kematian suaminya adalah bagian dari takdir.


Berapa bulan kemudian, undangan pembagian raport datang pada Shanaz yang mengharuskan dia meluangkan waktu untuk mengambil hasil belajar kedua putrinya itu.


Shanaz tenyata hanya mengambil milik putri kandungnya Tasya daripada milik Tisha yang sedari tadi menunggunya di kelas. Merasa ibunya tidak kunjung masuk ke kelasnya, Tisha berlari menuju kelas adiknya dan ternyata ibunya sedang terburu-buru berjalan keluar kelas Tasya membuat Tisha berlari sambil memanggil ibunya.


"Mommy.....! Mommy....! Mommy...!" Panggil Tisha dan Shanaz hanya melirik sekilas putri sambungnya itu dengan tetap melangkah ke mobilnya.

__ADS_1


Setibanya depan mobil Tisha memohon kepada Shanaz untuk mengambil raport miliknya.


"Mommy ..! Raport punya Tisha belum di ambil sama mami. Tolong ambil dulu mommy." Pinta Tisha sembari memelas.


"Mommy sangat buru-buru Tisha. Raport kamu akan diambil oleh pak Deni." Ucap Shanaz sambil memasang seat belt lalu meninggalkan putri sambungnya itu menelan kecewa.


Tisha melangkah dengan menahan air matanya yang hampir tumpah. Gadis yatim-piatu ini berusaha tegar dan terus berpikir positif kalau maminya sangat menyayanginya. Tidak lama kemudian, pak Beni datang dan mengajak Tisha untuk mengambil raport gadis kecil itu.


"Neng Tisha...!" Sapa pak Beni pada Tisha yang sedang melamun.


"Eh pak Beni. Mau ambil raport Tisha ya pak?" Tanya Tisha tersenyum hambar pada sopir pribadi mommynya ini.


"Iya non.. Nyonya saat ini sedang ada sidang dengan kliennya, jadi tidak bisa mengambil raport non Tisha." Ucap pak Deni agar Tisha tidak begitu sedih.


Sebenarnya pak Deni tahu betul kalau sikap nyonyanya sudah berubah pada Tisha sejak kematian tuannya. Hanya saja mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali menyaksikan ketidakadilan Shanaz pada Tisha membuat mereka hanya bisa mengelus dada.


"Baiklah pak tidak apa. Beginilah nasib seorang yatim-piatu, walaupun pahit harus tetap telan itu yang Tisha baca di sebuah artikel pak." Ucap Tisha yang sudah berpikir lebih dewasa dari usianya.


...----------------...


Tisha membawa raportnya pada Shanaz untuk menunjukkan hasil nilainya yang sangat memuaskan pada ibu sambungnya itu.


"Mommy...! Aku mendapatkan rangking satu, nilai ku sangat memuaskan, apakah mami ingin melihatnya?" Tanya Tisha dengan senyum tulusnya.


"Apakah kamu tidak melihat mommy sedang bekerja?" Sinis Shanaz yang sedang membaca berkas kasus klien yang sedang ia tangani.


"Aku hanya minta waktu mami satu menit untuk memberiku apresiasi tapi waktu mami terlalu berharga untuk sebuah kasus orang lain. Tidak apa mami, suatu saat nanti mami akan melihat bagaimana aku bisa membuat mami menyesal dengan perbuatan mami kepadaku." Ucap Tisha yang tidak tahan lagi dengan ibu sambungnya ini.


Iapun masuk ke kamarnya dan melemparkan raport miliknya di atas meja belajar. Tasya yang sedang main dengan bonekanya mengambil raport milik kakaknya. Ia melihat setiap angka yang tertera di dalam raport itu.


"Masya Allah. Kakakku ternyata sangat pintar, selamat ya kakak, nanti aku boleh tidak minta diajarin kak Tisha." Ucap Tasya sambil memeluk tubuh kakaknya dan mengecup pipi kakaknya.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih menyayangiku padahal aku hanya kakak tirimu." Ketus Tisha.


"Kita hanya beda ibu kakak, dan kita sedarah karena darah ayah kita yang telah mengalir di tubuh kita.


Entah kenapa, aku seperti mengingat pesan ayah yang mengatakan aku untuk menjaga kakak dan mami jika dia sudah tidak ada di dunia ini." Ucap Tasya membuat Tisha memeluk adiknya itu.


"Terimakasih Tasya. Karena kamu Aku bisa bertahan di rumah ini." Ucap Tisha pilu.


"Sampai kapanpun, kita tidak akan pernah terpisahkan kakak." Ucap Tasya dan keduanya menangis sambil berpelukan.


Karena ini liburan kenaikan kelas, Tisha dan Tasya bermain bersama sepanjang waktu. Kadang main sepeda atau nonton film kartu bersama sambil makan cemilan yang dibuat oleh Bibi Ima yang merupakan putri kandung dari bibi Anggi yang sudah meninggal tidak lama tuannya Bara meninggal.


Kedua anak ini saling bercanda dan saling timpuk dengan popcorn yang sudah mereka makan setengahnya.


"Bwee...! Kakak Tisha jelek kaya bebek." Ledek Tasya sambil menjulurkan lidahnya.


"Kamu juga jelek. Cantik juga kakak." Ucap Tisha sambil menimpuk adiknya dengan popcorn.


Tasya berlari menghindari timpukan kakaknya tidak sengaja terantuk undakan lantai yang sedikit tinggi hingga Tasya jatuh dan membuat dagunya berdarah tepat di saat Shanaz masuk ke rumah itu sambil berteriak menghampiri putrinya.


Tisha terlihat syok karena darah yang mengalir dari dagu adiknya cukup banyak. Melihat putrinya kesakitan membuat Shanaz murka dan membentak putri sambungnya itu.


"Apakah tidak cukup ibu kandungmu yang membunuh suamiku dan sekarang kamu ingin membunuh putriku juga, hah?"


"Mami...! Jangan marahi kak Tisha...! Semua ini salahnya Tasya." Ucap Tasya yang masih membela kakaknya di tengah kesakitan.


"Kenapa kamu masih menyayanginya Tasya?"


"Karena aku hanya punya kakak Tisha selain mami." Ucap Tasya membuat Shanaz tersentuh.


Glekkk...

__ADS_1


__ADS_2