Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
15. Ketahuan


__ADS_3

Adu mulut pun terjadi saat Rayyan menemui Tisha di rumah sakit. Tisha yang saat itu sedang makan siang di kantin rumah sakit dikagetkan dengan kedatangan Rayyan yang sudah duduk di hadapannya.


"Apa maksudmu menyuruhku untuk diam dan menerima semua ucapan tidak masuk akal dari ibu dan adikmu yang menganggap aku sedang mengunjunginya?"


"Aku mohon Rayyan. Aku tidak tahu kalau pria yang selama ini diceritakan oleh Tasya adalah dirimu. Dia sangat tergila-gila kepadamu dan aku tidak mau mengecewakan dirinya." Ucap Tisha.


"Harusnya kamu yang meluruskan kesalahpahaman ini. Aku mencintaimu. Aku lebih dulu mengenalmu dan menyukaimu. Hubungan kita sudah terjalin menjadi sepasang kekasih."


"Kita hanya sepasang kekasih bukan sepasang suami-istri. Kenapa kamu begitu panik seakan hubungan kita sudah sangat jauh. Kita masih taraf perkenalan tidak lebih." Sahut Tisha sambil menekan perasaannya agar tidak mudah goyah dihadapan Rayyan.


"Ada apa denganmu Tisha? Kenapa kamu harus mengalah pada adikmu dan membuat dia percaya kalau aku menyukainya?"


"Tasya gadis yang baik. Walaupun terlihat manja, ia sangat bijak. Aku mohon cobalah membuka hatimu untuknya!"


"Tidak...tidak ..tidak...dan tidak! Aku menyukaimu dan aku sangat mencintaimu. Memang kita belum terlalu dekat. Tapi aku merasa bahwa kamulah wanita pilihanku. Kamu bicara begitu karena kamu memikirkan kebahagiaan Tasya bukan dirimu. Iyakan?"


"Aku mohon mengertilah keadaanku. Aku hanya anak tiri ibuku di rumah itu. Selama ini aku dan Tasya tumbuh bersama dibawah asuhan ibuku. Jika aku mengambil sesuatu yang sangat disayangi Tasya, maka ibuku akan menderita. Aku seakan menjadi perusak kebahagiaan mereka. Tolonglah mengerti posisi ku di rumah itu, Rayyan." Pinta Tisha sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Terserah...! Aku tidak peduli dengan permintaanmu karena aku punya pemikiran sendiri tentang Tasya. Aku tidak punya hati dengannya. Jangan memaksaku pada sesuatu yang tidak aku sukai." Ucap Rayyan dengan wajah yang terlihat kelam.


Ia segera meninggalkan Tisha dan Tisha menyusulnya Rayyan. Dia tidak mau Rayyan menyakiti Tasya.


"Rayyan... Tunggu!"


Tisha menarik tangan Rayan menuju taman rumah sakit. Keduanya kembali terlibat adu mulut. Tisha terlihat setengah memohon pada Rayyan. Tapi kelihatannya Rayyan tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Jika kamu memaksaku untuk mencintai Tasya dan menikahinya, lebih baik aku kembali ke Amerika. Aku tidak mau memilih satu diantara kalian berdua kalau memang itu sangat menyakitkan untuk kalian."


"Aku tidak merasa tersakiti Rayyan. Aku rela cinta kamu untuk Tasya."


"Apakah kamu mencintaiku, Tisha? Apakah kamu hanya ingin mempermainkan aku sama seperti kamu membohongi aku dengan mengatakan ibuku sakit keras karena Jantungnya yang tidak kuat lagi? seperti itukah cara kamu untuk membohongi orang lain termasuk aku, hah?"


Deggggg..


Mata Tisha melebar mendengar kedoknya terbongkar saat ini. Ia tidak menyangka kalau Rayyan sudah tahu tentang kesehatan nyonya Nina.


"Sial...! Apakah nyonya Nina sendiri sudah jujur pada putranya tentang kebohongan yang aku buat. Kalau tahu aku yang bakal di tertawain Rayyan, seharusnya aku perlu berbohong untuknya. Ini sangat memalukan." Umpat Tisha dalam menahan geram pada nyonya Nina.


Rayyan kembali melanjutkan langkahnya. Rupanya dari kejauhan tampak Shanaz yang sedang memperhatikan Tisha dan Rayyan sedang bersitegang. Iapun segera mendekati keduanya dengan mengendap perlahan-lahan agar tidak terlihat oleh pasangan itu.


Lagi-lagi Shanaz salah paham dengan Tisha saat ia melihat adegan terakhir Tisha memeluk tubuh Rayyan dari belakang.


Ia membekap mulutnya. ia merasa kalau Tisha sedang merayu kekasih putrinya." Berengsek kamu Tisha..! Tidak cukupkah ibumu mengambil tempatku di hati suamiku dan sekarang kau tega membalas kebaikanku dengan meniru perbuatan ibumu padaku?" Geram Shanaz sambil mengepalkan kedua tangannya menahan bulir yang hampir menetes di pipinya.


Rayyan melepaskan tangannya Tisha dari pinggangnya dan langsung pergi meninggalkan Tisha yang hanya bisa menangis seorang diri. Selama ini Tisha mampu menahan kepedihannya namun sayang, cinta tidak mampu membuatnya untuk terus berpura-pura terlihat tegar di hadapan orang lain.


"Maafkan aku Rayyan...! Aku bisa apa di dalam rumah itu. Mungkin rela menyerahkan nyawaku sekalipun, jika itu bisa membuat mami dan Tasya bahagia." Lirih Tisha sambil mengemas air mata di pipinya.


Belum saja Tisha meredakan kepedihannya, tiba-tiba Shanaz sudah muncul di hadapannya dan langsung menampar Tisha tanpa ingin bertanya terlebih dahulu.


"Apakah ini caramu membalas kebaikanku kepadamu, hah?" Bentak Shanaz membuat Tisha terperanjat sambil mengusap pipinya yang terdorong dari jari lentik ibu sambungnya itu.

__ADS_1


"Mami...!"


"Jangan memanggilku mami karena kamu bukan putriku!" Seru Shanaz sengit.


"Mami, coba dengarkan Tisha dulu. Ini tidak seperti yang mami duga. Aku dan Rayyan hanya teman biasa?"


"Teman....? Kamu bilang begitu karena sudah ketangkap basah oleh mami bukan? Kamu ingin mengambil hak putriku yang jelas-jelas Rayyan sudah lebih dulu jatuh cinta pada Tasya." Ucap Shanaz terus memojokkan Tisha.


"Mami....! Bagaimana aku harus menjelaskan pada mami kalau aku...-"


"Diam....! Tutup mulutmu itu. Kau selama ini pintar bersandiwara sama seperti mendiang ibumu. Memang seorang anak sifatnya tidak jauh dari ibu kandungnya." Umpat Shanaz.


"Iya mami. Katakan sebanyak apapun yang ingin mami katakan kepadaku. Percuma saja aku meminta mami untuk mendengarkan aku.


Karena stigma buruk ibuku sudah melekat erat bahkan mendarah daging di hati dan pikiran mami, sehingga mami sedikitpun tidak melihat cela kebaikan dalam diriku." Ucap Shanaz lalu segera berlari meninggalkan Shanaz yang masih belum puas memaki dan mencela putri sambungnya, Tisha.


"Kurangajar. Aku selama ini hanya memelihara ular di dalam rumahku yang saat ini sedang mematuk lagi tubuhku." Geram Shanaz .


Awalnya kedatangan Shanaz ingin bicara dengan Tisha untuk menentukan hari pertunangan Tasya dan Arrayan. Bagi Shanaz, Tisha memiliki banyak ide cemerlang untuk membuat pesta pertunangan Tasya karena Tisha termasuk gadis yang sangat kreatif atau lebih tepatnya bisa disebut seorang IO wedding. Itulah bakat Tisha selain menjadi seorang dokter profesional.


Niat itu menjadi surut, kala melihat Tisha yang sedang mengemis cinta kepada Rayyan. Kesalahpahaman Shanaz kepada putri sambungnya ini yang membuat ia telah mempermalukan dirinya sendiri didepan Tisha yang berusaha mengalah demi kebahagiaan adiknya Tasya.


Tisha dan Rayyan menjadi korban dari dilema cintanya Tasya yang terlalu percaya diri kalau Rayyan menyukainya.


Tisha terpaksa mengirimkan surat pengunduran dirinya dari rumah sakit itu. Ia ingin pergi jauh agar ibunya tidak berpikir buruk terus padanya dan ia berharap dengan kepergiannya ke luar negeri memberi kesempatan Rayyan mengenal Tasya lebih jauh.

__ADS_1


"Maafkan aku Rayyan. Aku mencintaimu tapi aku sanggup menyingkirkan perasaan cintaku padamu demi mendapatkan pengakuan cinta mami padaku bahwa aku tidak seperti ibu kandungku." Batin Tisha.


__ADS_2