Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
24. Sepakat Menikah


__ADS_3

Rangga meyakinkan dirinya kalau pilihan hatinya jatuh pada Tisha. Tanpa. menunggu jawaban dari Tisha, Rangga meminta ayahnya untuk melamar Tisha pada ibu sambungnya Tisha yaitu Shanaz.


"Apakah putrinya sudah siap menikah denganmu, Rangga?" Tanya tuan Husen Ibrahim.


"Belum ayah. Tapi kalau Rangga sudah. mengantongi restu dari ibunya Tisha, Rangga segera melamar Tisha, ayah." Ucap Rangga antusias.


"Baiklah. Ayah akan meminang Tisha pada ibunya. Ayah senang kamu memilih Tisha sebagai menantu ayah. Tisha gadis yang sangat bijaksana, gadis seperti itulah yang cocok menjadi pendamping hidupmu, Rangga." Ucap tuan Ibrahim dengan wajah berbinar.


"Jika ibunya tidak setuju, aku menikahinya ayah. Aku sudah mengamati sifat Tisha selama enam bulan ini. Aku ingin membahagiakannya karena ia sudah kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya sejak ia masih kecil." Lanjut Rangga.


"Ayah akan berjuang untukmu nak, lebih baik menikahlah di sana dan tidak usah pulang ke Indonesia. Tisha hanya butuh wali hakim yang akan menikahkan dirinya. Biar ayah yang menyusul kalian ke London. Segera tentukan tanggal pernikahan kalian saat Tisha sudah setuju menikah denganmu." Ucap tuan Husen Ibrahim.


"Baik ayah. Terimakasih atas dukungan dan restu ayah pada kami berdua. Semoga ayah selalu sehat." Ucap Rangga haru.


"Kalian berdua harus sehat juga sampai hari pernikahan." Imbuh tuan Husein Ibrahim.


Antara ayah dan anak ini mengakhiri pembicaraan mereka. Rangga segera toko perhiasan yang ada di Mall untuk mencari perhiasan. Ia ingin membeli cincin untuk melamar Tisha.


Cincin berlian keluaran baru yang masih limited edition. Rangga juga sudah memesan tempat di restoran mewah yang ada di kota London. Siang ini ia memang kau merayakan hari ulang tahun Tisha sekaligus melamar gadis yang akan genap berusia 23 tahun hari ini.


Sementara itu, di kampus Tisha yang baru menyelesaikan ujiannya melangkah gontai sambil membaca ucapan dari adiknya Tasya.


"Selamat ulang tahun untuk kakakku tercantik. Aku bersyukur memiliki mu sebagai saudaraku di dunia ini. Kebahagiaanmu adalah segalanya bagiku. Aku harap kakak mau balikkan sama Rayyan karena dia sangat mencintaimu.


Maafkan aku yang sudah salah paham atas perhatiannya. Aku sangat malu padamu dan juga merasa sangat bersalah pada kak Tisha. Karena aku kakak harus mengalah dan pergi dari rumah.


Sampai kapanpun aku tetap mencintaimu saudaraku. Jagalah mami jika suatu saat nanti aku yang akan mendahuluimu." Tulis Tasya membuat hati Tisha terenyuh.


Rangga memperhatikan Tisha yang terus menyeka air matanya. Rangga menarik nafas panjang dan menghampiri Tisha saat gadis itu sudah mendekat tempat parkir.

__ADS_1


"Tisha ...! Panggil Rangga membuat Tisha tersentak dan buru-buru berbalik sambil mengusap air matanya.


"Tidak usah berbohong sayang, aku sedari tadi sudah melihat kamu menangis. Baca pesan dari siapa?"


"Kenapa kamu selalu saja kepo. Lagian kamu tidak ada kerjaan datang ke sini?"


"Kerjaan ku hanya menggoda kamu. Apakah itu dari seseorang yang sangat penting?" Tanya Rangga penasaran.


"Begitulah." Ucap Tisha hendak masuk ke mobilnya.


"Mobilmu biar pak Rully yang bawa kamu ikut mobil aku saja."


"Emang kita mau ke mana, baby?" Tanya Tisha saat sudah berada di dalam mobil.


"Ikut saja dulu, nanti kamu akan tahu sendiri baby." Rangga tidak sabar lagi menunggu untuk melamar kekasihnya.


Mobil mewah itu sudah masuk ke halaman restoran. Rangga merengkuh pinggang Tisha dan masuk ke restoran itu dan di dalamnya sudah di sambut beberapa pelayan yang membentangkan spanduk yang menyatakan perasaannya Rangga.


Tisha membekap mulutnya saat membalikkan tubuhnya Rangga sudah menyerahkan cincin berlian dengan satu buket bunga untuk kekasihnya.


"Jadilah ibu dari anak-anakku dan temani lah aku sampai akhir hidupku. Jika dunia ini hanya kasih ibu yang kau harapkan dan tidak pernah kamu dapatkan, aku rela memberikan duniaku dengan cinta tak terbatas hingga maut memisahkan kita." Ucap Rangga membuat Tisha kembali menangis haru.


Tisha memberikan tangannya pada Rangga untuk disematkan cincin oleh kekasihnya itu." Aku siap memarahi mu jika kamu sedikit saja mengurangi kadar cintamu padaku. Aku akan mencekik mu jika kamu tidak membantuku untuk mengurus anak-anakku." Ucap Tisha dengan gaya konyolnya.


Walaupun begitu air matanya tetap mengalir dengan senyum masih mengembang di bibirnya. Itulah yang disukai Rangga dari Tisha. Gaya konyolnya yang tidak ingin orang lain apakah saat ini hatinya sedang sedih atau bahagia.


Beberapa pelayan yang menyaksikan kebahagiaan ini bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada pasangan ini.


Keduanya sedang menikmati makan siang mereka. Tisha merasa ada yang kurang sempurna dari penampilannya hari ini.

__ADS_1


"Harusnya kamu bilang mau ajak aku makan siang dan mau melamar ku, setidaknya aku bisa pakai gaun yang bagus untuk menerima lamaran mu." Sungut Tisha.


"Nanti malam juga bisa sayang. Kamu bisa berdandan cantik karena kita akan makan malam di rumah kita." Ucap Rangga sambil membenahi rambut gadisnya.


"Sayang ...! Kenapa setiap laki-laki kalau bertemu dengan wanitanya selalu memperbaiki rambut wanitanya?" Tanya Tisha sambil memasukkan setiap potongan puding coklat ke dalam mulutnya.


"Kalau memperbaiki mobil kelamaan sayang." Sahut Rangga dengan candaan.


"Kamu paling bisa mencairkan suasana, padahal aku tidak lagi merasa sedih." Ucap Tisha sambil terkekeh.


"Aku tidak ingin lagi melihatmu menangis kecuali tangis kebahagiaan Tisha." Balas Rangga.


"Insya Allah...!" Janji Tisha pada tunangannya.


Sementara di kediaman Shanaz, tuan Husein Ibrahim sedang menyampaikan niat baiknya pada Shanaz untuk meminang putri sambungnya itu.


Shanaz mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan mantan ketua hakim itu. Ia sebenarnya cukup kaget bagaimana bisa putranya tuan Husein Ibrahim bisa mengenal Tisha dan sekarang menjalin hubungan serius dengan Tisha dan bahkan mengajak putri sambungnya itu untuk menikah.


"Saya harap anda tidak keberatan jika putri anda menjadi pendamping hidup putra saya Rangga." Ucap tuan Ibrahim penuh wibawa.


"Yang penting anaknya saja. Saya sebagai orangtuanya hanya memberikan Restu saya pada Tisha." Ujar Shanaz sedikit menekan rasa cemburunya pada Tisha yang selalu beruntung dalam kisah asmara.


Sementara putrinya Tasya tidak bisa menemukan kebahagiaan lain selain memikirkan seorang pria yang sudah menolaknya karena Tisha.


"Semoga kamu tidak perlu kembali ke tanah air dan tetap bersama dengan Rangga karena kami tidak membutuhkanmu, Tisha." Batin Shanaz penuh kedengkian pada putri sambungnya itu.


"Kalau begitu, apakah anda mau mengurus pernikahan anak-anak kita?" Pancing tuan Ibrahim.


"Mungkin Tisha ingin menikah di luar negeri dan saat ini saya juga sangat sibuk, sepertinya saya tidak bisa mengurus pernikahan mereka." Shanaz menekan setiap kalimatnya sebagai bentuk penolakan.

__ADS_1


Tuan Husen Ibrahim sudah menduga apa yang dikatakan oleh calon besannya ini.


__ADS_2